
Kini Dirga dan Nina memilih menunggu anak-anak yang tengah bermain di salah satu kursi.
"Minumlah, kamu pasti haus." ucap Dirga sambil menyerahkan sebotol minuman kemasan yang baru saja ia buka segelnya. Dirga tidak melihat Nina membeli sebotol minuman pun untuk dirinya sendiri. Ia terus sibuk mengurusi minuman untuknya dan anak-anak hingga lupa mengurus dirinya sendiri.
"Terimakasih." Nina pun menerima botol itu sambil tersenyum tipis, ia tidak menyangka juga ia akan diratukan oleh orang yang sama sekali tidak pernah terpikirkan dalam benaknya akan menjadi suaminya setelah melepaskan pernikahan pertamanya.
Nina pun kembali menatap ke anak-anak yang tengah asyik bermain,
"Mereka bahagia sekali mas, rasanya moment seperti ini tidak ingin cepat berlalu."
"Hemmm, aku juga. Memberikan ruang positif di hidupku. Sepertinya sesuatu yang tumbuh di hatiku saat melihat senyum mereka."
Kembali mereka saling diam untuk beberapa saat.
"Apa sebelumnya kamu tidak pernah mengajak anak-anak ke taman hiburan? Maksudnya Meraka begitu bahagia." tanya Dirga saat teringat dengan perkataan Sasa sebelum masuk ke taman hiburan tadi. Sasa dan Akmal begitu senang saat mereka tahu akan di ajak ke taman hiburan.
Hehhh ...., Nina menghembuskan nafasnya kasar, seperti ia baru saja melepaskan beban beratnya.
"Awalnya ingin sekali mengajak ke taman hiburan, beberapa teman Sasa dan Akmal ada yang mengajak saat ada taman hiburan yang baru di buka. Tapi aku selalu menolaknya,"
"Kenapa?" Dirga cukup penasaran dengan alasan Nina menolak pergi ke taman hiburan. Kalau soal materi jelas tidak akan menjadi masalah karena tiket masuk ke taman hiburan tidak lebih mahal dari pada seporsi makanan yang ada di restauran.
"Aku selalu menunggu mas Kamal mengajak kami ke sini. Saat mas Kamal pulang, aku selalu mengutarakan keinginan anak-anak untuk pergi ke taman hiburan dan jawabannya sama, nanti saat sudah ada waktu panjang tapi ternyata kesempatan itu tidak pernah ada." Nina sampai menunduk saat menceritakan hal itu, ia baru menyadari ternyata selama menjadi istri Kamal ia bahkan tidak pernah tahu dunia luar, dunianya hanya mengurus rumah, anak-anak dan suami.
Bodohnya aku selama ini .... , batin Nina menyesal.
"Kenapa tidak pergi sendiri?" tanya Dirga kemudian. Ia sengaja ingin memiliki sesuatu yang tidak ia tahu tentang sang istri, agar kedepannya ia mudah memahami sang istri.
Nina pun menatap ke arah Dirga, "Mas lihat kan," ucapnya sambil meregangkan kedua lengannya, "aku tidak berani naik permainan apapun. Dulu saat kecil aku sudah pernah mencobanya dan akhirnya berujung ke rumah sakit." Nina berusaha a menjelaskan panjang lebar.
"Kok bisa?" Dirga benar-benar tidak percaya, orang seberani Nina ternyata miliki tekatutan terhadap sesuatu.
"Nina fobia ketinggian mas."
"Oh pantas aja, baiklah aku tidak akan memaksa untuk naik sekarang, biarkan aku yang akan terus temani anak-anak bermain, jadi jangan khawatirkan apapun lagi."
"Terimakasih ya mas."
***
"Masuklah dulu, aku dapat telpon dari kantor." ucap Kamal saat mobil mereka sampai di rumah. Silvi yang sudah menahan mulutnya untuk tidak bertanya sedari tadi pun harus ia tahan lagi sampai Kamal selesai bicara dengan seseorang di ponselnya.
"Iya mas." ucap Silvi pasrah dan ia pun meninggalkan Kamal sendiri.
Segera Kamal menerima telpon itu setelah Silvi pergi. Itu sudah panggilan ke sekian kali dari tempatnya bekerja. Tidak biasanya mereka menelpon beberapa kali seperti itu.
"Iya hallo."
"...."
"Hahhh, kok bisa?" Kamal begitu terkejut, ia sampai menginginkan suaranya karena kabar itu.
"....."
"Baiklah aku akan ke sana sekarang."
"Astaghfirullah, kenapa aku bisa lupa sih." gerutunya saat tidak menemukan dompet di saku celananya dan bensinya harus segera di isin.
Kamal pun kembali masuk, ia melewati Silvi yang tengah berada di ruang keluarga bahkan tanpa menyapanya membuat Silvi penasaran.
Mas Kamal kenapa?
"Kamu di sini dulu ya Kila." ucapnya pada sang putri yang ternyata juga baru saja pulang dari sekolah.
"Iya ma."
Silvi dengan langkah cepat segera menyusul Kamal ke kamar.
"Ada apa mas? Kenapa buru-buru sekali?" tanyanya begitu sampai di kamar apalagi saat melihat Kamal tampak kebingungan.
"Kamu lihat dompetku?"
"Oh itu, semalam aku taruh di lemari."
Dengan cepat Kamal menuju ke lemari, ia memeriksa isi dompetnya, "Uangnya kemana?" tanya Kamal begitu kesal saat tidak mendapati uang dari dalam dompetnya.
"Silvi ambil mas, kemarin aku harus bayar arisan. Kan uang yang mas kasih kemarin sudah habis."
Sial ....
walaupun kesal tapi ia tidak bisa marah dengan Silvi, saat ini Silvi tengah mengandung anaknya.
"Aku harus ke dermaga, ada masalah di sana." ucapnya sambil memakai jaketnya.
"Mendadak sekali."
"Nggak usah tunggu aku, mungkin aku akan lama." ucap Kamal sambil berlalu meninggalkan Silvi, bahkan tanpa mencium keningnya.
"Mas Kamal ada apa sih sebenarnya!?" tanya Silvi yang penasaran karena wajah Kamal terlihat begitu gusar.
***
"Ini upah kamu bulan ini dan juga pesangon kamu. Maaf kami harus melakukan pengurangan karyawan karena beberapa kapal berpindah ke PT sebelah."
"Tapi pak, kenapa harus saya? Saya sudah bekerja di sini hampir lima belas tahun."
"Tidak hanya kamu, bahkan yang sudah bekerja di sini selama dua puluh tahun saja juga terkena PHK. Maaf tapi ini keputusan dari atasan, jadi saya tidak bisa berbuat apa-apa."
Kamal terduduk lemas di samping mobilnya. Apa yang ia capai selama ini tiba-tiba lenyap dalam sekejap.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
@tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰