AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
30. Mendominasi



Silvi menatap tajam pada Sasa saat mendapat pengaduan dari putrinya, Sakila.


"Maaf bi, Sasa nggak sengaja mematahkannya." Sasa hanya bisa menundukkan kepalanya dengan tangan yang memiliki ujung seragam yang masih melekat di tubuhnya. Sebuah boneka tergeletak di lantai dengan tangan yang terpisah.


Akmal yang baru saja dari dapur datang dengan langkah terburu-buru saat mendengarkan teriakan dari Sakila.


"Bibi Silvi, ada apa?"


"Lihat apa yang di lakukan adik kamu, sudah bibi bilang kan jangan pegang mainan Sakila, semua mainan Sakila itu mahal. Kalau sudah rusak kayak gitu bagaimana!?" ucap Silvi dengan penuh amarah.


"Sasa pasti tidak sengaja, bi."


"Dasar anak nakal, bukanya tanggung jawab malah membela adiknya yang nakal, terus saja bela biar tambah nakal adik kamu tuh."


Kamal yang baru saja datang segera masuk ke dalam rumah saat mendengar keributan.


"Ini ada apa?" tanya Kamal dengan tangan yang membawa dua buah koper traveling milik Sasa dan Akmal yang baru saja ia ambil dari rumah Nina.


Melihat kedatangan Kamal, Sakila segera berlari dan memeluk sang ayah,


"Ayah, boneka Kila dipatahin sama Sasa."


"Sasa pasti nggak sengaja, iya kan Sasa?" tanyanya pada putri kecilnya yang masih menunduk.


Sasa pun menganggukkan kepalanya sambil menangis, terlihat sekali saat ini ia tengah ketakutan.


Kamal pun berjalan menghampiri putrinya itu sambil menggendong putrinya yang lai, tangannya terulur dan mengusap pipi Sasa,


"Jangan menangis sayang, ayah nggak marah."


"Terus saja manjakan mereka mas, lama-lama jadi nggak punya tanggung jawab kalau terus mas manjakan." protes Silvi tidak suka.


"Biar akmal ganti bi, Akmal punya tabungan." ucap Akmal dengan polosnya.


"Sudahlah sayang, mereka masih anak-anak. Tidak baik kalau kita meributkan hal-hal kecil seperti ini." ucap Kamal segera menengahi agar tidak terus terjadi keributan membuat Silvi melipat kedua tangannya kesal sambil membuang muka, ia pun memilih duduk di sofa dari pada semakin kesal karena suaminya masih membela anak tirinya itu.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja, nanti biar ayah belikan mainan buat kalian."


"Benar ayah?" tanya Sakila antusias.


"Iya dong."


"Berarti kita ke mall?" tanya Sakila memastikannya lagi.


"Iya, ya udah Sakila siap-siap sama mama ya."


Kamal pun segera menurunkan Sakila dari gendongannya, dan gadis kecil itu seperti bola bekel dengan cepat bergelinding dan berpindah tempat.


Setalah Sakila pergi, Kamal berjongkok di hadapan Sasa yang masih menunduk,


"Sasa nggak suka ayah aja jalan-jalan?" tanya Kamal pada putrinya itu.


"Suka, tapi Sasa minta maaf, Sasa benar-benar nggak sengaja. Tadi Sasa pengen pinjem tapi tiba-tiba Kila mengambilnya, Sasa terkejut jadi bonekanya tertarik." Sasa berusaha menjelaskan pada sang ayah.


"Iya sayang, ayah mengerti. Nanti kita beli mainan yang lebih bagus ya," ucapnya sambil mengusap kepala Sasa kemudian meninggalkan kecupan singkat di sana, kemudian ia menoleh pada sang putra, menguap bahu putranya,


"Akmal juga mau kan? Sudah lama kan Akmal tidak beli mobilan? Kemarin ayah lihat ada mobil tamia terbaru."


"Akmal mau,"


"Baiklah, kalau begitu biar ayah bantu siap-siap ya. Ini baju ganti kalian."


...***...


Kini mereka berlima sudah berada di salah satu pusat perbelanjaan. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia dengan tiga anak yang imut-imut.


"Mas, nanti aku istirahat di food court aja ya, kakiku capek kalau harus jalan terus."


"Iya, tapi yang dekat sama Playground aja ya sayang. Aku mau ajak anak-anak bermain di Playground."


"Terserah mas."


Akhrinya tujuan utama mereka adalah Playground.


Silvi memilih duduk di food court yang ada di samping Playground hingga ia masih bisa mengawasi anak-anak nya dari jauh, sedangkan kamal menemani anak-anaknya bermain.


Meskipun bermain bersama-sama tampak Sakila mendominasi, ia selalu merebut apapun yang di pegang oleh Sasa ataupun Akmal, Bahkan saat Sasa bermain membuat istana pasir dengan akmal, Sakila merengek memaksa Akmal untuk menemaninya bermain.


"Aku nggak mau, main aja sendiri." tolak Akmal.


"Ayolah kak, Kila nggak bisa bermain sendiri."


"Sama ayah saja, aku sama Sasa. Jadi sana jangan ganggu." Akmal hendak mendorong Sakila tapi belum sampai tangannya menyentuh tubuh anak itu, anak itu sudah lebih dulu terjatuh karena tergelincir bola.


"Aughhhh, sakitttty!"


"KILA!!!" teriak Kamal dan Silvi bersamaan, mereka pun berlari mendekati Sakila dan membantunya bangun.


"Akmal tidak melakukan apa-apa bi, sungguh. Kila jatuh sendiri."


"Pintas sekali kamu berbohong, memang kamu pikir bibi nggak lihat dari sana."


Akmal hanya bisa diam, tidak aka ada gunanya membela diri. Sasa yang terkejut hanya bisa memeluk tubuh kakaknya.


"Sudah-sudah, Kila jangan menangis lagi ya. Kila mau apa?"


"Kila mau main bola sama kak Akmal, tapi kan Akmal nggak mau."


Kamal pun beralih menatap putranya itu, tapi kini tatapannya terlihat kesal. Ternyata Kamal juga menyalahkan akmal atas kejadian tadi membuat Akmal menunduk,


"Akmal, minta maaf sama Kila!" perintah Kamal.


"Baik yah."


Akmal pun mengulurkan tangannya pada Kila,


"Maafin kakak ya."


Kila pun mengangguk, meskipun ia tahu jika Akmal sebenarnya tidak bersalah tapi ia tidak mau mengatakannya pada siapapun.


"Kakak mau temenin Kila main kan?"


Akmal pun tidak punya pilihan lain, Sasa hanya bisa mengalah dan ia bermain sendiri sedangkan Kamal sibuk dengan ponselnya.


Silvi yang sudah reda dengan kemarahannya, ia pun kembali ke tempat duduknya, memakan cemilannya kembali.


"Silvi?" sapaan seseorang berhasil mengalihkan perhatian Silvi.


"Hana?"


"Iya, sudah lama banget ya kita nggak ketemu,"


"Duduk, duduk!" Silvi menggeser kursi kosong di sampingnya, "Sama siapa?"


"Anak gue, ngomong-ngomong gue denger Lo balik kampung setelah cerai, kok bisa di sini lagi?"


Silvi pun tersenyum, "Iya, gue udah nikah lagi."


"Cepet banget, sama siapa?" tanya wanita bernama Hana itu penasaran.


Silvi pun menunjuk ke arah Kamal,


"Wisss pinter ya Lo cari laki, dapatnya tambah bening aja."


"Ya gitu lah, itu cinta pertama gue Han."


"Setia banget loh, oh iya anak Lo mana?"


"Itu yang main bola." tunjuk Silvi pada Sakila yang tengah asyik bermain bola.


"Yang cowok itu juga anak Lo?" tanya Hana penasaran pada Akmal.


"Bukan, itu anak suami gue."


"Jadi suami Lo duda juga?"


"Iya." ucap Silvi memberi jeda, "Duda dua anak."


"Anaknya tinggal sama Lo juga?"


"Enggak sih, tapi karena suami gue lagi libur jadi anak-anak nya nginep di rumah gue."


"Nggak pusing Lo ngurus tiga anak sekaligus, kalau gue mah ogah."


"Pusinh sih, tapi mau gimana lagi. Gue nggak bisa nolak kemauan suami gue."


"Lo harus tegas sama suami Lo, jangan sampai suami Lo keterusan."


"Keterusan, maksudnya?"


"Ya keterusan, awalnya cuma di ambil pas libur, lama-lama ambil hak asuh dari istrinya. Lo tahu kan gua juga baru aja cerai dari suami baru gue, itu juga gara-gara kayak gitu. ya ogah lah gue suruh ngurus anak orang, emang dia pikir gue baby sitter apa."


"Gitu ya," Silvi menatap anak-anak yang tengah bermain. Memang benar tidak ada salahnya yang di katakan oleh temannya itu, belum sampai satu hari saja ia sudah pusing karena berisik apalagi nanti di tambah perutnya yang semakin besar, trus dia melahirkan. Rasanya tidak akan sanggup.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...