
...Mungkin aku bukan ibu yang sempurna bagi anak-anak ku, tapi percayalah aku akan selalu ada untuk mereka saat dunia memusuhinya...
...🌺🌺🌺...
Berkali-kali Nina mengerjapkan matanya saat melihat siapa yang tengah berdiri di depan gedung perkantoran itu.
"Ngapain mas Kamal ke sini?" gumamnya pelan sambil kembali melanjutkan langkahnya.
"Mas Kamal bagaimana bisa tahu aku di sini?" tanyanya tanpa basa basi.
"Aku cari kamu."
"Kan bisa di rumah."
"Di rumah kosong, kata satpam. Kamu kerja di sini, makanya aku ke sini. Kamu kerja jadi apa di sini?"
Kamal mengamati seragam office girl yang dikenakan oleh Nina,
"Kamu hanya office girl?"
"Yang penting halal mas."
"Baiklah, sepertinya kita harus bicara di tempat yang lebih enak."
"Nggak usah mas, di sini saja. Soalnya saya mau jemput anak-anak."
"Biar anak-anak aku yang jemput sekalian mau aku ajak nginep di rumah aku."
"Ya nggak bisa gitu dong mas,"
"Kenapa nggak bisa? Mereka anak-anak ku juga, jadi kamu nggak berhak buat nglarang-nglarang."
"Aku nggak nglarang maaaas, cuma gini loh mas, kalau mas nggak ngomong dulu sebelumnya, takutnya anak-anak nggak suka."
"Itu cuma alasan kamu aja, anak-anak bakal suka tinggal sama ayahnya. Jadi dua hari ke depan Akmal sama Nina akan tinggal sama saya dan Silvi."
"Baiklah, terserah mas saja."
"Ya sudah, saya jemput anak-anak dan nanti sore aku akan datang buat ambil baju anak-anak."
Kamal pun meninggalkan Nina begitu saja, Nina hanya bisa menahan kesal dan menatap sebal pada pria egois itu. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana dulu bisa sangat jatuh cinta pada pria itu, bahkan ia rela mencintai sendirian bertahun-tahun. Dan nyatanya cinta sendirian itu akan tetap cinta sendirian.
Ternyata keributan mereka tengah diperhatikan oleh seorang pria yang baru turun dari mobilnya.
Pria itu pun segera menghampiri Nina,
"Apa yang terjadi?"
Pertanyaan itu seketika mengejutkan Nina,
"Pak Dirga? Apa pak Dirga sudah lama?"
"Baru beberapa menit yang lalu, kamu belum jawab pertanyaan saya tadi."
"Ahh iya pak, dia mantan suami saya." ucap Nina sambil melirik pada pria ini yang baru saja masuk ke dalam mobilnya.
"Ohhhh," Dirga tidak mau bertanya terlalu jauh, rasanya tidak pantas menanyakan urusan pribadi karyawannya secara detail.
"Bukankah sekarang waktunya jemput anak-anak kamu?"
"Sudah di jemput sama mantan suami pak, kalau begitu saya permisi pak. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Nina pun kembali masuk ke dalam ruangan, sedangkan Dirga masih menatap mobil yang baru saja meninggalkan halaman kantor nya.
***
Sasa dan Akmal sudah menunggu di depan gerbang sekolah, beberapa temannya sudah di jemput dan mereka tengah menunggu jemputan.
"Kakak, kakak, itu mobil ayah." Sasa bersorak senang saat melihat mobil yang begitu familiar itu berhenti tepat di depan sekolah.
Tapi ekspresi berbeda justru di tunjukkan oleh Akmal, ia tampak tidak sesenang Sasa.
Kamal pun turun dari mobil dan menghampiri mereka,
"Sasa, Akmal, sini."
"Kakak, ayo itu ayah." ajak Sasa sambil menarik tangan Akmal, sang kakak.
"Bentar dek, tunggu ibuk."
"Tapi Sasa kangen sama ayah, kak." rengek Sasa.
"Iya kak,"
Dengan penuh cinta Akmal menggandeng tangan sang adik menemui sang ayah.
"Anak ayah!" Kamal segera mengendong Sasa begitu dekat.
"Ayah, Sasa senang hari ini ayah jemput Sasa sama kakak."
"Ayah juga seneng, maaf ya ayah nggak pernah jemput. Kan ayah sibuk kerja buat kalian juga."
Kemudian Kamal sedikit berjongkok dan menatap Akmal dengan tangan kanan yang masih menggendong Sasa,
"Bagaimana sekolahnya kak? baik?"
"Baik," jawab Akmal dingin.
"Hari ini kalian nginep di rumah ayah ya, pumpung ayah lagi libur." ucap Kamal, ia tahu Sasa hanya akan nurut pada Akmal.
"Horeee, Sasa mau ayah!" Sasa begitu senang karena ia memang sangat merindukan ayahnya.
"Nggak, Akmal harus tanya ibuk dulu." ucap Akmal dengan tegas, meskipun usianya masih delapan tahun tapi Akmal adalah anak yang mempunyai pendirian, ia selalu menuruti apa yang dikatakan oleh ibunya.
"Kakak...., tapi Sasa mau tinggal sama papa."
"Enggak dek, ibuk pasti cemas cariin kita. Adek mau, ibuk cemas?"
Sasa pun menggelengkan kepalanya kemudian turun dari gendongan sang ayah,
"Sasa mau sama ibuk aja yah, kasihan ibuk kalau cemas." ucap Sasa dengan polosnya.
"Ibu sudah mengijinkan kalian tinggal dua hari sama ayah." bujuk Kamal.
"Akmal nggak percaya."
"Ya sudah kalau nggak percaya, biar ayah telponin ibuk."
Kamal pun segera merogoh saku celananya, mengambil benda pipih itu dari sana kemudian melakukan panggilan pada seseorang,
"Hallo, Nina."
"Ya mas, ada apa?"
"Ini anak-anak mau bicara sama kamu." ucap Kamal, kemudian menyerahkan benda pipih itu pada Akmal.
"Tanya sama ibuk, kak!" pinta Kamal pada putranya itu San akmal pun mengambil alih benda pipih itu kemudian menempelkannya pada daun telinganya.
"Assalamualaikum, ibuk."
"Waalaikum salam, nak. Ada apa?"
"Apa benar ibuk sudah ngijinin Akmal sama Sasa tinggal dua hari di rumah ayah?"
"Iya kak, kan ayah lagi libur. Nggak pa pa kan?"
"Tapi kan buk, buku pelajaran Akmal ada di rumah yang buat besok sama lusa, baju ganti Akmal dan Sasa juga."
"Tadi ayah sudah bilang sama ibuk kalau ayah mau ambil baju ganti di rumah saat ibuk sudah pulang kerja. Pokoknya Akmal baik-baik jaga adek di rumah ayah ya, jangan merepotkan mama Silvi, janji!"
"Iya Bu."
"Ya udah, ibuk kerja dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam,"
Akmal pun mengembalikan benda pipih itu setelah sambungan telpon terputus,
"Bagaimana, sekarang percaya kan sama ayah?"
Akmal pun mengangukkan kepala pasrah dan ikut dengan ayahnya masuk ke dalam mobil.
Di tempat lain, Nina hanya bisa menghapus air matanya yang hampir saja jatuh. Dua hari ini mungkin akan menjadi hari yang panjang baginya. Pasalnya ini untuk pertama kalinya ia jauh dari anak-anak.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...