
Sidang berakhir, dan Nina yang begitu terharu sampai memeluk Dirga,
"Terimakasih, mas. terimakasih." berkali-kali Nina mengucapkan terimakasih pada Dirga, ia tidak tahu bagaimana nasib dirinya dan anak-anak jika tidak ada pria sebaik Dirga.
Dan tanpa Nina sadari, seseorang yang tengah terduduk lesu itu tidak luput memperhatikannya. Tangannya kembali mengepal sempurna, ingin rasanya menyeret Nina pergi dari sana.
"Ayo mas, pergi dari sini!" tiba-tiba Silvi menarik tangan Kamal,
Ternyata bukan hanya Kamal yang kesal, Silvi tidak kalah kesal melihat kebahagiaan Nina dan suami barunya.
Setelah di luar, tiba-tiba Kamal menghentikan langkahnya.
"Tunggu!" ucapnya pelan dan penuh penekanan.
"Ada apa lagi mas? Mas Kamal mau lihat Nina bahagia di atas penderitaan mas Kamal, dia benar-benar nggak tahu diuntung."
"Bisa diam dulu tidak!" bentak Kamal, ia sudah merasa kesal dan harus di tambah dengan Omelan Silvi yang semakin membuat kepalanya ingin pecah.
"Mas Kamal membentak aku, tega sekali sih mas." keluh Silvi dengan nada rendah membuat Kamal merasa bersalah.
Hehhhh ....
"Maaf ya, mas bukan bermaksud ingin membentak. Sebaiknya kamu masuk ke mobil dulu ya, aku ingin bicara sebentar sama Nina."
Silvi pun menganggukkan kepalanya pasrah, ia tahu saat ini suaminya sedang tidak bisa di ajak bicara baik-baik. Ia harus menunggu hingga kemarahannya reda barulah ia akan bicara pada suaminya itu.
"Kita keluar sekarang? Kasihan anak-anak nanti nunggu lama." ucap Dirga sambil melepas pelukan Nina dan Nina pun mengangukkan kepalanya.
Dirga pun menggandeng tangan Nina mengajaknya keluar. Tapi sekalian lagi langkah mereka harus terhenti karena Kamal menghadang mereka.
"Kita harus bicara." ucap Kamal dan Nina menoleh pada Dirga untuk meminta pendapat pria itu.
Dirga pun mengangukkan kepalanya setuju, "Aku tunggu di mobil ya." ucap Dirga, ia tahu mereka butuh bicara berdua.
Tapi Nina segera menahan tangan Dirga,
"Tidak pa pa, aku melihatmu dari sana." ucap Dirga sambil mengusap puncak kepala Nina dengan penuh cinta dan Kamal pun mengalihkan tatapannya ke tempat lain. Ia terlalu sakit untuk menyaksikan hal itu.
Akhirnya Nina hanya bisa mengiyakan dan kini tinggal Nina juga Kamal di sana.
Mereka hanya saling diam untuk beberapa saat hingga Nina memulai bicara.
"Ingin bicara apa mas?" tanya Nina dingin, ia masih merasa kesal dengan pria yang menjadi ayah dari anak-anaknya.
"Sasa dan Akmal anak ku juga, jadi _,"
"Aku tahu mas, aku juga tidak mungkin menghalangi mas Kamal untuk bertemu dengan anak-anak." ucap Nina dengan cepat sebelum Kamal menyelesaikan ucapannya.
Nyatanya delapan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk bisa saling mengenal, untuk memahami satu sama sama lain.
"Terimakasih karena kamu mau mengerti."
"Hmm," Nina memilih mengakhiri ucapanya, "Saya harus segera menjemput anak-anak, Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Nina pun segera berlalu menyusul Dirga yang sudah menunggunya di mobil.
"Maaf ya mas, sudah menunggu lama."
"Nggak pa pa." Dirga pun segera menghidupkan mesin mobilnya setelah memastikan Nina masuk dan duduk.
Perlahan mobil meninggalkan halaman parkir pengadilan.
Jalanan mulai padat karena saatnya ini jadwal anak sekolah pulang dari sekolah. Jarak yang cukup jauh ke sekolah dan juga jalanan yang macet mereka baru sampai di sekolah satu jam kemudian.
"Nggak pa pa dek, lagi pula kan kita di temenin sama pak satpam." Akmal segera menyahut agar ibunya tidak merasa bersalah.
"Maaf ya, ibuk sama papa Aga tadi ada urusan Sampek siang." ucap Dirga segera menakup kedua pipi putri kecilnya, "Tapi sebagai gantinya, kita akan jalan-jalan." ucap Dirga dengan semangat.
"Ye ye ye, aku mau jalan-jalan." Sasa bersorak gembira.
Sebenarnya Dirga memang sudah menghubungi satpam sekolah Akmal dan Sasa untuk menjaga mereka sebelum mereka datang.
"Baiklah putri kecil papa, kita siap-siap." Dirga pun langsung mengendong tubuh mungil Sasa dan membawanya masuk ke dalam mobil sedangkan nina menggandeng tangan Akmal dan menyusul mereka.
Setengah jam kemudian, mereka sampai juga di sebuah taman hiburan.
"Wahhhh, ini apa pa?" tanya Sasa yang belum pernah pergi ke taman hiburan.
"Ini namanya taman hiburan, di sana kita bisa memesan tiket terusan dan menaiki semua wahana. Bagaimana, apa kalian suka?" tanya Dirga pada Sasa dan Akmal.
"Papa Aga sering ke sini ya?" tanya Akmal yang Tidka kalah terkesima.
"Sering, dulu pas waktu kecil."
Dirga pun memesan empat tiket terusan agar semua bisa ikut bermain.
"Aku mau naik itu." ucap Sasa bersemangat sambil menunjuk pada sebuah ayunan raksasa.
"Ayo, kita naik." ajak Dirga pada Nina dan dengan cepat Nina menolaknya.
"Nggak, aku nggak mau. Ibuk nungguin di sini aja ya. kalian mainnya sama papa Aga. Ibuk takut."
"Yahhhhh." ucap Sasa dan Akmal serentak.
"Maaf."
"Tidak pa pa sayang, kan ada papa Aga."
Akhrinya mereka bertiga pun naik satu permainan ke permainan lain dan Nina hanya sebagai penoton dan sesekali mengabadikan moment indah itu.
"Selfi yuk buk." Nina begitu terkejut saat tiba-tiba Dirga menempelkan dagunya ke bahu Nina dan mengganti mode kamera ponsel Nina menjadi kamera depan.
"Senyum." sekali lagi Nina hanya bisa mengikuti instruksi Dirga.
"Sekali lagi, sekarang pakek wajah imut."
Mereka pun bak remaja yang tengah kasmaran. Mengambil beberapa pose Selfi lucu dan Nina ternyata begitu menikmatinya. Ia tidak menyangka jika ternyata pria yang selama ini menjadi bosnya tidak sekaku yang ia pikirkan.
"Ihhh papa Aga curang. Masak Sasa sama kak Akmal nggak di ajak sil Selfi." protes sasa.
"Sini dong ikutan." Dirga pun melambaikan tangannya dan kini Sasa juga Akmal bergabung bersama mereka. mereka pun mengambil foto bersama berlatarkan taman hiburan. Mereka tampak begitu bahagia.
"Kita main lagi ya buk." ucap Sasa setelah selesai Selfi.
"Iya, tapi nggak sampai magrib ya."
"Siap ibuk."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
@tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰