AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
45. Dia lebih perhatian



"Mas bagaimana dengan hak asuh anak-anak, apa mas benar-benar ingin mengambil hak asuh anak-anak?" tanya Silvi yang sudah berada dalam pelukan Kamal. Mereka sepertinya baru saja berolah raga ranjang, bahkan mereka belum memakai sehelai benangpun selain selimut yang menutupi tubuh mereka.


Tangan Silvi tengah bermain-main di dada bidang suaminya, sejenak hamil Silvi memang lebih manja. Apalagi saat ini perutnya sudah lebih berisi.


"Mas pikir nggak perlu lah, Nina juga butuh anak-anak. Lagi pula kamu sebentar lagi juga lahiran, pasti repot kalau harus ngurus tiga anak sekaligus sama bayi juga."


"Nggak pa pa mas, nanti kita bisa sewa baby sitter. Lagi pula kan cutinya juga nggak lama."


"Biar aku pikirkan lagi deh, kamu tidur ya."


"Nggak bisa tidur kalau nggak di elus sama mas," ucapnya dengan begitu manja.


"Manja sekali istriku."


Untuk kesekian kali, ponsel Kamal berdering. Kamal kembali melirik dan melihat siapa yang tengah melakukan panggilan padanya.


"Nina lagi sayang, kayaknya penting."


"Paling juga kehabisan uang. Besok aja lah mas, tidur dulu aja."


"Kalau soal anak-anak bagaimana?"


"Nggak mungkin lah. Paling si Nina mau ngeluh nanti. Biarin aja mas, Silvi nggak bisa-bisa tidur kalau kayak gini."


"Baiklah, tidurlah. Mas akan menemanimu."


****


"Bagaimana bisa di hubungi?" tanya Dirga saat melihat Nina hanya mondar mandir dan sibuk dengan ponselnya. Pasalnya sedari siang Akmal terus merancau memanggil-manggil ayahnya.


"Nggak bisa pak, bagaimana ini?"


"Kalau boleh, ijinkan saya menemani Akmal malam ini saja." ucap Dirga dengan ragu.


Nina pun segera menatap atasannya itu,


"Maksud saya, kasihan Sasa kalau harus menginap di sini. Insyaallah Akmal aman sama saya, ajaklah Sasa pulang dan tidur di rumah. Besok pagi kamu bisa ke sini setelah mengantar Sasa sekolah."


"Tapi pak_,"


"Saya ikhlas, pulanglah."


"Tapi saya tidak bisa tenang jika meninggalkan Akmal di sini. Nina tidur di sini saja."


"Baiklah, tapi ijinkan saya tetap menemani Akmal melewati masih kritis ini ya."


Dengan berat Nina pun mengangukkan kepalanya. Ia sudah berhutang banyak pada pria di depannya itu, ia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Akmal jika tidak ada Dirga.


"Temani saat tidur di sofa, biar aku temani Akmal ya." ucap Dirga lagi sambil menunjuk sofa besar itu.


"Baik,"


Sasa memang terlihat sangat mengantuk tapi ia tidak bisa tidur kalau tidak di temani ibunya.


Dirga pun duduk di kursi yang ada di samping ranjang Akmal, tanganya terus menggengam tangan Akmal, terlihat di wajahnya kalau dia begitu mencemaskan Akmal.


Nina sesekali memperhatikan pria itu, bagaimana telatennya Dirga merawat Akmal membuatnya terharu.


Bagaimana bisa seseorang yang tidak memiliki ikatan apapun bisa sesayang itu sama Akmal, kenapa ayah yang seharusnya berada di samping putranya di saat seperti ini dia malah mengabaikannya ...,


Nina tahu, telpon Kamal berdering, panggilannya masuk. Kalau tadi sedang sibuk. Seharusnya saat selesai dengan kesibukannya ia bisa balik menghubunginya. Tapi bahkan hingga larut malam, pria itu tidak berniat menghubunginya.


Kembali Nina di buat cemas dengan biaya rumah sakit. Nina sesekali memperhatikan ruangan tempat Akmal di rawat, jelas sekali jika ruangan itu bukan ruangan kelas tiga atau kelas satu tapi itu ruangan VIP.


Bagaimana aku membayarnya nanti, ini pasti sangat mahal. Belum lagi biaya perawatan dan obat Akmal.


Nina semakin tidak bisa tidur membayangkan banyak hal. Dan saat ia melirik pada pria yang duduk di samping putranya itu, ternyata ia juga masih terjaga.


Meskipun berada dalam satu ruangan, mereka bahkan tidak saling mengobrol satu sama lain.


Ini terasa begitu aneh bagi Nina, yang ia tahu pria itu adalah atasannya dan tiba-tiba menjadi pemilik rumah tempatnya tinggal.


Ini kebetulan macam apa?


Tapi Nina begitu bersyukur di sana seperti ini Allah mengirim seseorang untuk sedikit meringankan bebannya.


Hingga perlahan Nina terlelap karena ia tidak bisa lagi mengendalikan rasa kantuknya.


Sepertinya baru sebentar dan ia merasakan seseorang memanggil-manggil namanya, perlahan Nina membuka matanya yang terasa berat dan ternyata Dirga sudah berdiri di sampingnya yang tengah tidur. Dengan cepat Nina bangun dalam posisi duduk.


"Iya, ada apa pak?"


"Sudah azan subuh, aku sholat dulu ya."


Dirga pun kemudian meninggalkan Nina dan anak-anak nya. Nina merasa baru tidur beberapa menit saja tapi setelah melihat jam dinding ternyata ia sudah tidur hampir dua jam.


Melihat Sasa yang masih tertidur pulas, Nina pun perlahan berdiri dan berjalan menghampiri Akmal. Ia melihat keadaan Akmal, meskipun masih terlihat pucat tapi badan Akmal tidak sepanas kemarin.


Nina pun memutuskan untuk ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Beruntung selalu ada mukena di dalam tasnya jadi ia tidak perlu ke mushola rumah sakit untuk sholat.


Saat Dirga kembali, ia masih mendapati Nina yang tengah sholat. Dirga pun memilih duduk di samping Sasa yang masih tertidur pulas.


Segera Nina menyelesaikan sholatnya dan melipat kembali mukena juga sajadahnya memasukkannya ke dalam tas,


"Kalau pak Dirga mau pulang..Pak Dirga pulang dulu aja."


"Nggak pa pa, saya sudah meminta Radit untuk mengantar laptop dan berkas-berkas penting ke sini. Lebih baik kamu saja yang pulang buat antar Sasa sekolah."


"Tapi pak_,"


"Ini perintah dari atasan." ucap Dirga sambil sibuk dengan ponselnya, bahkan sekalipun tidak menatap ke arah Nina.


"Baik pak."


Akhirnya Nina pun mengajak Sasa untuk pulang, dan menyiapkan segala keperluan Sasa juga tidak lupa menyiapkan sarapan untuk Dirga juga akmal, berharap Akmal bisa memakan masakan dari rumah.


Baru saja menutup pintu hendak mengantar Sasa ke sekolah, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Nina ingat sekali dengan mobil yang sudah menemani perjalanan keluarganya selama empat tahun terakhir sebelum akhirnya semua hanya menjadi kenangan.


"Mau berangkat ya sayang?" sapa Kamal pada putrinya.


"Iya ayah."


"Kakak kemana? Kok cuma adek sama ibuk?" tanya Kamal setelah tidak mendapati Akmal bersama mereka.


"Kakak masuk rumah sakit ayah."


Seketika Kamal menatap ke arah Nina,


"Nina sudah berusaha menghubungi mas, jadi jangan salahkan Nina."


"Kamu kan bisa kirim pesan." keluh Kamal kesal tapi Nina memilih diam karena ia malas untuk menanggapi ucapan Kamal.


"Ya udah Sasa mau ayah antar?"


"Horee naik mobil." sorak Sorai dari Sasa.


"Kita sekalian ke rumah sakit."


"Nina naik motor saja."


"Ribet banget sih jadi orang," keluh Kamal kesal.


"Iya buk, sama ayah saja." rengek Sasa.


"Enggak dek, ibuk pakek motor ya."


"Sasa juga mau paken motor sama ibuk." Sasa segera menarik tangan Nina membuat Kamal semakin kesal.


"Kamu sengaja, suka seperti ini?"


Hehhhh


Akhirnya Nina hanya bisa menghela nafas kesal.


"Baiklah, ibuk juga naik mobil sama Sasa."


"Horee."


Kamal puh membukakan pintu mobil untuk Nina dan Sasa.


"Nina di belakang aja mas,"


"Kamu pikir saya sopir. Duduk di depan sama Sasa dan saya."


Nina pun hanya bisa mengalah, ia sedang banyak masalah dan berdebat dengan Kamal malah akan menambah masalah baginya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...