
Seketika mata wanita itu melebar, "Saya masuk sendiri." pikirannya sudah membayangkan yang tidak-tidak hingga akhirnya sampailah ia di depan kamar yang pintunya terbuka hingga ia melihat Dirga yang tengah tidur bersama anak-anak itu.
Bibirnya yang sudah terbuka seketika terkatup kembali saat Dirga memberi isyarat pada wanita yang sudah berjasa melahirkannya dengan menempelkan jari telunjuknya di d 4epan bibirnya pertanda untuk tidak mengeluarkan suara.
"Mama tunggu di depan." ucap wanita itu lirih, tapi masih bisa di dengar oleh Dirga.
Perlahan Dirga meninggalkan tempat tidur dan memastikan anak-anak itu tetap tidur dengan nyenyak. Dengan langkah yang di buat pelan, ia mulai keluar dari kamar dan menyusul sang mama di luar rumah, di teras samping sembari menatap kolam renang.
"Ada apa mama ke sini?" tanyanya yang berdiri sejajar dengan sang mama.
"Seharusnya mama yang bertanya, ada apa denganmu?"
"Maksud mama?"
"Apa hubunganmu dengan anak-anak itu? Atau jangan-jangan tentang gosip itu benar adanya?"
Hehhhhh
Dirga menghela nafas panjang, ia memilih untuk duduk di kursi rotan berwarna putih berbentuk bundar cekung di belakangnya dan melipat sebelah kakinya di atas kakinya yang lain.
"Mama terlalu kejauhan kalau mikir."
Wanita itu pun ikut berbalik dan duduk di kursi yang sama seperti yang di duduki Dirga,
"Siapapun Ga, siapapun akan berpikir seperti itu jika kamu melakukan hal itu. Tidak terkecuali mama Ga."
"Berarti mama nggak mengenal Aga."
"Harus butuh berapa tahun lagi buat mama bisa kenal sama kamu. kamu tuh jangan lupa, mama lah yang sudah melahirkan kamu. Mama tahu apa yang sedang kamu pikirkan, bahkan mama lebih faham kamu dari pada kamu sendiri. Aga mama tidak ni pernah memperjuangkan sebegitu mati-matian jika mereka tidak berharga untuk di miliki."
"Ihhh mama sok tahu nih," Dirga sengaja membubuhi ucapannya dengan sedikit candaan.
"Mama memang tahu, sejak kapan kamu tertarik untuk menjadi pengacara?"
Ahhhh ternyata mama benar-benar tahu ....
Dirga terdiam, ia memang tidak bisa bohong soal apapun dengan mamanya.
"Ternyata Wulan memang tidak begitu berharga seperti yang mama duga," gumam wanita itu pelan tapi masih bisa di dengar oleh Dirga.
"Kenapa jadi bawa-bawa wanita itu sih ma, nggak ada hubungannya sama sekali. Itu hanya masa lalu, lagipula dia juga tidak pantas untuk di perjuangkan. Bagiku dia hanya sebagian dari perjalanan hidup Aga, nggak lebih."
"Lalu bagaimana dengan janda itu?"
"Ma_,"
"Mama bertanya serius!"
"Aga akan menikahinya ma." ucap Dirga dengan suara lirih dan pasti. Tidak ada keraguan dalam ucapannya.
Wanita itu pun segera berdiri dari duduknya dan menyambar hand bagnya yang sempat di letakkan di atas meja,
"Mama pergi." ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Dirga yang masih tetap di posisinya bahkan tanpa mengubah apapun, posisi tangannya masih sama lengkap dengan ekspresi nya itu.
Ia tahu apa yang akan di lakukan ini pasti akan membuat banyak pihak ribut, tapi ini hidupnya dan ia berhak untuk menentukannya sendiri.
***
Setelah dua jam berjuang, akhirnya Mita berhasil melahirkan bayi laki-laki nya dengan selamat.
Bahkan ia tidak bisa membedakan antara tangis haru bahagia dan tangis kesedihannya hari ini.
"Dok, dok, biarkan saya masuk, saya suaminya." suara ribut-ribut terdengar dari luar.
"Itu mas Bram, Nin." ucap Mita dengan suara lemas sambil menggenggam tangan Nina.
"Dok, biarkan dia masuk dok. dia benarbduami teman saya." ucap Nina menyampaikan pada dokter yang menangani Mita dan akhrinya Bram di persilahkan untuk masuk.
Ia segara memeluk sang istri begitu diperbolehkan masuk, dengan mata yang berkaca-kaca meminta maaf karena tidak bisa menemani di saat tersulit sang istri.
"Maaf kan aku sayang, maaf."
"Enggak mas, mas Bram nggak salah. Ini memang jauh dari perkiraan hpl. Jadi jangan salahkan mas Bram."
Bram pun mengusap air matanya, menciumi wajah istrinya dengan penuh cinta.
"Mama dan papa juga lagi jalan ke sini. mereka juga begitu menyesal karena harus ke luar kota secara bersamaan dan ninggalin kamu sendiri di rumah."
"Emmmm, Mita jadi nggak enak."
Setelah cukup lama mengobrol, akhrinya Bram dan Nina diminta untuk keluar lebih dulu karena ibu dan bayinya harus segera di bersihkan.
"Nin,"
panggilan dari Bram membuat Nina menoleh ke belakang, Bram tengah berjalan ke arahnya.
"Makasih banyak ya. Aku nggak tahu harus membalasnya dengan apa. Tapi kamu boleh minta apa saja sebagian hadiah. Apa saja."
"Nggak mas, kalian sudah sangat baik padaku dan anak-anak, itu lebih dari cukup."
"Ayolah, sungguh mintalah sesuatu sebagai hadiah biar aku dan Mita merasa lega."
"Kalau aku pikirkan nanti bagaimana , mas?"
"Baiklah, tapi berjanjilah kamu akan memintanya."
"Nina tidak meminta apapun selain di ijinkan untuk pulang dulu, dan insyaallah saya janji akan kembali besok untuk menengok Mita." ucap Nina .
"Baiklah, maaf aku tidak bisa mengantar. Tidak pa pa kan? Atau aku harus menghubungi seseorang?"
"Enggak mas, Nina pulang sendiri."
Setelah mengucapkan salam. Nina pun bergegas pergi tanpa berpamitan pada Mita, ia hanya memberi salam pada sahabatnya itu.
***
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @ tri.ani.5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...