AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
32. Ikatan batin



Nina duduk terdiam di kamar anak-anaknya, ini baru beberapa jam saja berlalu dalam hidupnya tanpa anak-anak di dekatnya. Rasanya begitu berat, jika ia egois ingin rasanya mengambil anak-anak nya dari sang ayah. Tapi ia tidak bisa melakukan itu, ayahnya juga punya hak yang sama.


"Apa kalian baik-baik saja?" gumamnya sambil menatap foto kedua anaknya yang tersimpan di galeri ponselnya, sesekali senyum hambar merekah saat memutar kembali video anak-anak yang sempat ia ambil di moment-moment tertentu.


Berkali-kali ia mengetikkan pesan dan berkali-kali juga ia menghapusnya tanpa sempat ia kirim.


"Nggak deh, bagaimana kalau aku malah ganggu kebersamaan mereka, anak-anak pasti sangat senang bisa bersama ayahnya."


Di lantai atas, tampak pria yang baru saja datang itu tengah menikmati coklat panasnya di balkon.Tapi manik matanya terus fokus pada lantai bawah yang terlihat lampunya masih menyala.


"Apa mereka belum tidur?" gumamnya, biasanya jam seperti ini lampu sudah mati.


"Tapi aku tidak melihat mereka tadi sore. Mereka tidak ke sini," gumamnya lagi, "Apa mereka sakit?"


Tiba-tiba perasaan cemas itu menghinggapinya, pasalnya dua malaikat kecil itu semenjak hari itu tidak pernah absen menemuinya saat pulang sekolah atau saat ibunya tidak ada di rumah.


Dirga meletakkan cangkir coklat panasnya di tepian balkon, dengan langkah cepat kaki jenjangnya menuruni tangga, beruntung ia hanya memakai sendal rumahan hingga tidak menimbulkan suara langkah kaki saat turun.


Ia sudah berdiri di depan pintu samping, pintu yang tepat mengarah ke ruang keluarga. Walaupun itu rumahnya sendiri, tapi ia tidak bisa langsung masuk begitu saja. Ada orang lain di dalam sana.


Baru saja tangannya menggantung di udara saat berniat mengetuk pintu, lampu tiba-tiba di matikan membuat Dirga mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu.


"Mungkin mereka memang belum tidur tadi," gumamnya pelan dan segera kembali lagi ke atas.


***


Pagi ini ada yang berbeda dari kegiatan Nina, ia tidak begitu sibuk tapi hal itu malah membuatnya bingung. Biasanya saat pagi hari ia sudah seperti bola kasti yang berlarian kesana kemari menyiapkan banyak hal, mulai dari keperluan anak-anak nya, menyiapkan sarapan, dan bersih-bersih rumah atas juga.


Meskipun terlihat santai, tapi beberapa kali Nina menghela nafas. Ia bingung harus melakukan apa dulu, seolah jadwalnya tiba-tiba berantakan setelah semua aktifitas paginya tertanam setiap hari harus berubah dalam satu hari.


Biasanya, setelah sholat subuh Nina langsung masak dan membangunkan anak-anaknya, menyiapkan seragam untuk mereka tapi kini bahkan untuk memasak saja malas.


Setelah memastikan penghuni atas pergi, Nina pun mengantarkan gorengan yang sempat ia buat pagi ini ke lantai atas. Meskipun mungkin akan di makan saat sudah dingin, nina seolah tidak peduli karena hari ini ia berencana untuk tinggal di rumah Mita saja selama anak-anaknya di rumah Kamal.


Sebenarnya jika suami Mita ada di rumah, Nina juga tidak menerima permintaan Mita untuk menginap di sana, tapi karena yang meminta suami Mita sendiri untuk menemani sang istri selama ia tinggal ke luar negri, akhirnya Nina pun setuju.


Dirga sengaja berangkat lebih pagi karena dia akan mengantar Bram untuk ke bandara.


"Makasih ya bro udah mau antar."


"Gue yang harusnya makasih, karena Lo udah mau gantiin gue."


"Ya mau gimana lagi, temen gue ini CEO yang sangat sibuk."


"Lo bisa aja."


Obrolan mereka terpaksa terhenti tepat di kampung merah, seorang anak kecil tengah menghampiri mobil mereka dengan gitar kecilnya dengan alunan lagu sebisanya membuat Dirga membuka kaca mobilnya.


Untuk ayah tercinta


Aku ingin bernyanyi


Walau air mata


Di pipiku


Ayah dengarkanlah


Aku ingin berjumpa


Walau hanya dalam


Mimpi


Bram mengeluarkan selembar uang pecahan dua puluh ribu dan memberikannya pada anak itu,


"Nggak sekolah ya dek?" tanyanya sebelum anak itu pergi.


"Enggak om, terimakasih om."


"Kasihan sekali anak-anak seperti itu. Harusnya mereka masih sekolah sekarang, bermain bersama teman-temannya, tapi mereka sudah harus berjuang mencari uang sekedar untuk makan."


"Hehhhh, mau bagaimana lagi. Itu salah orang tuanya sih kalau aku bilang, coba orang tuanya lebih bertanggung jawab pada anak-anaknya, pasti anak-anak jalanan juga nggak akan ada."


"Memang sih, beberapa orang masih menganggap menghidupi anak itu hal yang sepele padahal menghidupi anak itu bukan hanya sekedar memberi makan, apalagi di jaman sekarang, pendidikan bahkan jauh lebih penting."


"Cie, yang calon jadi bapak, bijak bener. Kayaknya udah matang banget nih persiapannya untuk calon baby."


"Ya begitulah, setidaknya asuransi pendidikan penting di jaman sekarang. Kalaupun kita tidak bisa memberi modal uang yang melimpah, setidaknya kita bisa menjamin pendidikan mereka yang terbaik."


"Iya pak dosen." sahut Dirga dengan candaan, memang selama ini ia tidak pernah berpikir sampai ke situ karena memang ia yang masih berstatus sebagai lajang. Tapi membicarakan anak-anak membuat fikiran Dirga tiba-tiba tertuju pada Sasa dan Akmal.


"Istri Lo sahabatnya Nina kan?"


"Iya, kenapa tiba-tiba tanya?"


"Enggak pa pa, gue cuma mau tanya soal Sasa dan Akmal, mungkin loh tahu."


"Wissss, udah pdkt aja nih sama anaknya."


"Apaan sih, nggak gitu. Hanya aja kemarin mereka nggak ke atas, aku pikir apa mereka sedang sakit atau apa!?"


"Ohhhh, itu. Lo tanya sama orang yang tepat. Jadi kemarin memang mereka di ajak ayahnya, makanya nanti Nina mau nginep di rumah buat nemening istri gue dari pada di rumah sendiri."


"Ohhhh, pantes aja."


Apa pria yang ribut sama Nina kemarin itu ya ...., batin Dirga sambil mengingat keributan di depan kantornya kemarin siang.


***


"Ayah, bisa nggak kalau hari ini akmal sama Sasa pulang?" tanya Akmal dengan ragu sebelum turun dari mobil saat mobil sudah berada di depan sekolah.


"Kenapa? Akmal nggak betah tinggal sama ayah?"


"Nggak gitu yah, hanya saja_,"


"Ayah hanya satu Minggu di rumah, ayah sudah janji sama ibu kalian mau bawa kalian dua sampai tiga hari."


"Baiklah, Akmal mengerti yah. Akmal masuk dulu." Akmal pun akhrinya hanya bisa pasrah, ia tidak mungkin membantah ayah.


Yang membuatnya tidak nyaman di rumah itu bukan ayah, selagi ayahnya masih bersikap baik, Akmal masih bisa menahannya.


"Nanti ayah jemput ya." ucap Kamal sebelum meninggalkan pelataran sekolah.


Di tempat lain, Silvi juga baru saja memasuki sekolah tempatnya mengajar. Seorang teman menghampirinya,


"Katanya mau ijin karena suami pulang, kok masuk?"


"Males ah, di rumah ribut terus."


"Kenapa?"


"Belain anaknya terus, kan jadi kesel akunya."


"Kamu kali yang terlalu mengekang suami kamu,"


"Kamu kok jadi nyalahin aku sih, nggak ngasih solusi yang baik. Males ah ngomong sama kamu," ucap Silvi kesal kemudian berlalu begitu saja meninggalkan rekan gurunya itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig@tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...