
Persis seperti permintaan bosnya, kini Nina sampai kembali di kantor tepat jam empat sore. Ia sudah tidak lagi memakai seragam office girl nya, ia sudah berganti dengan tunik long motif dipadukan dengan rok plisket polos senada dengan warna jilbab segi empat yang ia pakai. sebenarnya penampilannya begitu sederhana tapi tampak begitu cocok di tubuh Nina membuat pria yang tengah menunggunya di depan lobi kantor itu cukup terkesima.
"Maaf pak, saya terlambat sepuluh menit." ucap Nina sambil mengatupkan kedua tangannya tapi tidak ada respon dari pria itu,
"Pak,"
Akhirnya panggilkan kedua itu berhasil menyadarkannya,
"Ah iya maaf, bagaimana? Sudah siap?" tanyanya balik.
"Sudah pak."
"Baiklah, ayo."
Pak Dirga pun mengajak Nina menuju ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari lobi. Nina mengamati sekitar, tidak ada siapapun di dekat mereka ataupun di dalam mobil,
"Silahkan masuk!" ucap Dirga sambil membukakan pintu penumpang di samping kemudi, tapi Nina ragu untuk masuk, berkali-kali ia memastikan sesuatu,
"Ada apa?" tanya Dirga.
"Kata pak Dirga ada yang lain juga? Mereka di mana?" Nina mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Oh iya, saya belum mengatakannya padamu ya?" tanya Dirga dan Nina pun mengangukkan kepalanya, "Karena ini salah satu event perusahaan dengan kolega jadi mereka harus datang lebih awal untuk membantu persiapannya."
"Lalu saya?" tanya Nina karena jika mereka berangkat lebih dulu, seharusnya Nina juga.
"Sebenarnya tadi saya ingin meminta kamu untuk pergi duluan sama yang lain, tapi ternyata kamu sudah mengajukan untuk mengurus anak-anak kamu dulu."
"Dan aku pikir anak-anak tentu jauh lebih penting."
"Dari pada kamu nanti di acara tidak fokus, lebih baik kamu memastikan anak-anak kamu aman baru kita pergi bersama."
Mulut Nina sampai terbuka mendengar ucapan bosnya yang panjang kali lebar, pria dingin itu bisa menjadi begitu hangat dan pengertian.
"Ya sudah sekarang sudah bisa masuk kan?" tanya Dirga lagi.
"I_iya pak."
Nina pun segera masuk dari pada terus terkesima dengan sikap atasannya itu.
Setelah memastikan Nina masuk, Dirga pun menyusul masuk melalui pintu yang berbeda.
Ini masih jam empat sore, jalan begitu macet karena waktunya orang untuk pulang kerja.
Sepanjang jalan, tidak ada percakapan hingga Dirga menghentikan mobilnya di tepi jalan,
"Sudah sampai pak?" tanya Nina memastikan.
"Belum, saya harus melakukan sesuatu sebentar. Tidak pa pa kan kalau aku tinggal sebentar di sini?"
"Iya pak, nggak pa pa."
Akhirnya Dirga pun keluar dari mobilnya dan meninggalkan Nina sendiri, tapi manik mata Nina tidak henti memperhatikan pria itu, ia cukup penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh pria itu, hingga matanya membulat sempurna saat membaca sekilas plang yang ada di pintu masuk,
'Masjid darul mustofa'
Sekali lagi Nina mengulangi bacaannya dan ternyata memang ia tidak salah baca, itu memang sebuah masjid. Terlihat sekali dengan bentuk bangunannya yang terlihat menonjol dibandikan dengan bangunan yang lain membuat rasa penasaran Nina semakin memuncak.
"Ngapain pam Dirga masuk masjid?" gumamnya, jika dilihat dari penampilannya, Dirga jauh dari kata religi. Ia tidak pernah lepas memakai kemeja dan celana panjang lengkap dengan jasnya khas pria kantoran.
Tapi ia tidak bisa mengobati rasa penasarannya dengan menyusul ke dalam karena ia harus menjaga mobil atasnya, selain itu ia juga tengah berhalangan. Percuma saja jika menyusul, ia tidak akan bisa masuk ke dalam masjid.
Hingga sepuluh menit kemudian pria itu tampak keluar dari masjid, wajahnya juga tampak lebih segar dengan rambut yang sedikit basah.
Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, yang pertama benar dia baru saja sholat dan kemungkinan yang kedua karena dia mengantuk karena kecapekan hingga memutuskan untuk istirahat sejenak dan membasuh wajahnya agar lebih segar.
"Nggak pa pa, pak."
Dirga pun masuk dan kembali melakukan mobilnya, sekarang jalanan sudah mulai lengah hingga mobil bisa berjalan sedikit lebih cepat di bandingkan tadi.
Dan akhirnya mereka sampai juga di basemen sebuah gedung. Benar saja sesampai di sana Nina bisa melihat beberapa rekan kerjanya yang tengah sibuk menyiapkan acara.
"Pak saya turun sekarang ya, saya mau bantu-bantu mereka."
"Baiklah, nanti segera cari saya kalau acara sudah mulai."
"Baik pak."
Nina pun segera turun dari mobil dan bergabung dengan yang lain. Ia menawarkan bantuan untuk yang lain juga.
hingga tepat jam tujuh malam, acara pun di mulai. Nina baru tahu kalau kolega bisnis Dirga adalah teman lama Dirga yang baru pulang dari Australia dan hendak membuka usaha di Indonesia.
Sebenarnya Nina sengaja menghindar dari Dirga, ia merasa tidak enak jika terlalu dekat dengan pria lajang itu.
Tapi ternyata, seseorang memanggilnya. Sepertinya ia seorang pelayan,
"Permisi, ada nona Nina ada di sini?" pertanyaan membuat teman-teman kerja Nina yang kebetulan tengah menikmati hidangan pesta bersama sontak menoleh pada Nina,
"Ceilehhh, jadi nona sekarang." goda beberapa dari mereka membuat Nina semakin merasa malu tapi segera ia mengabaikannya dan berdiri dari tempatnya,
"Saya Nina, mas." jawab Nina segera.
"Tuan Dirga sudah menunggu anda di sana," ucap pelayan itu sambil menunjuk ke arah meja utama dan seketika nyali Nina menciut saat melihat jejeran orang-orang penting berada di sana.
"Mas yakin, pak Dirga panggil saya?" sekali lagi Nina memastikan, siapa tahu ada kesalahan.
"Iya, nona. Mari saya antar ke sana."
"Tidak perlu mas, biar saya ke sana sendiri. Terimakasih."
Sesekali Nina mengatur nafasnya, mencoba meredam degup jantungnya yang semakin tidak beraturan. Hingga akhirnya langkah Nina harus terhenti tepat di samping tempat duduk Dirga.
"Maaf pak, pak Dirga memanggil saya?"
"Ahhh iya, ini dia. Duduklah!" pinta Dirga sambil menepuk kursi kosong di sampingnya sepertinya sengaja di kosongkan untuk Nina karena yang lainnya tampak penuh. Termasuk sisi kanan Dirga yang di isi oleh sekretaris utama Dirga.
"Kenalkan, ini Nina. Dia yang punya gorengan."
Mendengar Dirga memperkenalkan dirinya, Nina pun kembali berdiri dan membungkukkan badan.
"Wow ternyata masih muda ya, senang berkenalan dengan kamu. Saya Wilson."
Nina hanya bisa tersenyum, ia tidak tahu harus menanggapinya bagaimana selain tersenyum karena ternyata Wilson tidak jauh beda dengan Dirga, walaupun tampak dari luar begitu dingin nyatanya mereka sangat hangat.
Di tempat lain,
Silvi sudah tidak sabar menunggu kedatangan suaminya. Hari ini seharusnya sang suami pulang. Ia pun menunggu si teras setelah memastikan putranya tidur.
Tidak lupa ia juga memakai baju terbaiknya, sebuah baju tidur yang setengah transparan berwarna merah dengan belahan dada yang rendah.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...