AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
8. Benar-benar Berakhir



“Maaf ya aku terlambat.” Ucapnya dan suara itu terasa masih begitu membuat jantungnya bergetar, suara yang ingin selalu ia dengar setiap ia ,membuka mata hingga terlelap kembali. Tapi keberadaannya di depan gedung ini membuat harapannya pupus, suara itu akan semakin menjauh dari kehidupannya.


“Nggak pa pa mas,” Nina menundukkan pandangannya hingga sesekali jilbabnya yang menjuntai ke depan menutup sebagian wajahnya.


‘Kalaupun harus menunggu lebih lama lagi dan mampu membuat mas bertahan aku pasti akan lakukan mas,’ ia berharap Kamal tidak melihat matanya yang mulai berair.


“Ayo masuk,” ajak Kamal dan Nina pun berjalan mendahului Kamal bahkan tanpa menatap kearah pria itu, tapi tiba-tiba tangannya di genggam oleh pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan itu. Perlakukan kamal masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah dari pria itu. Hanya waktu saja yang di berikan olehnya yang berkurang. Mungkin karena status mereka yang berbeda, dan sekarang Nina tidak bisa protes.


Hingga sebuah palu yang di pukulkan ke meja menandakan mereka benar-benar sudah berbeda status. Rasanya campur aduk, begitulah yang tengah dirasakan leh Nina saat ini. Hingga sebuah pertanyaan besar masih menggantung di kepalanya perihal pembahasan yang sempat ia bicarakan dengan Mita trempo hari tentang alasan pria itu sampai tega menceraikannya.


“Nin,” langkah cepat bercampur lari kecil membuat Nina menghentikan langkahnya,


“Ini milikmu,” kamal menyerahkan sebuah map, itu sertifikat cerai miliknya, “Kamu meninggalkannya di ruang sidang tadi.”


‘Ahhh iya, kenapa bisa lupa sih,’ keluh Nina dalam hati. Ia tidak pernah menyangka di usianya yang masih sangat muda sudah menjadi seorang janda. Usianya masih dua puluh depan tahun bulan depan, tapi panggilan janda sudah melekat padanya.


Memang apa salahnya menjadi janda? Memang tidak ada yang salah, hanya saja di lingkungan kita apalagi Nina yang orang kampung pastilah akan mendapat tanggapan negative dari masyarakat.


Sepertinya memilih untuk tetap tinggal di kota setelah statusnya sebagai janda cukup menguntungkan baginya. Ia tidak perlu mendengar nyinyiran tetangga tentang statusnya.


“kok malah bengong?” tanya Kamal saat Nina tidak segera mengambil mapnya.


“Nggak pa pa mas, makasih ya.” Akhirnya masp berwarna biru tua itu berpindah ke tangannya, “Mau langsung ke tempat kerja atau ke_,”


“Maaf ya beberapa hari ini aku masih sibuk,” dengan cepat Kamal menyambar ucapan Nina.


Nina pun tersenyum masam, ia benar-benar tidak menyangka Kamal akan seperti itu. Bagaimana kesibukannya bisa mengalahkan rasa sayangnya pada anak-anak padalah ia pikir Akmal dan Sasa pasti akan sangat senang jika Kamal menyempatkan diri untuk menjemput mereka di sekolah.


“Nggak pa pa mas, lagi pula mereka juga sudah mulai terbiasa tanpa keberadaan mas,”


“Nin,” Kamal terlihat menyesal.


“Nggak pa pa mas, sungguh.” Walaupun mengatakan hal itu, tapi hatinya benar-benar sakit. Tapi mau bagaimana lagi, ia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri.


“ Aku dengar kalian pindah kontrakan ya? Kenapa?” semenjak Nina dan anak-anaknya pindah, Kamal belum pernah mengunjungi anak-anaknya.


“Nggak pa pa mas, pengen ganti suasana aja.” Nina tidak mau Kamal tahu jika alasan utamanya pindah adalah ingin melupakan kenangan yang pernah ada di dalam rumah itu,berada di rumah itu tanpa Kamal membuatnya sedih.


“Padahal aku pikir di kontrakan kita paling strategis loh Nin.”


“Aku sudah dapat yang lebih strategis kok mas, ya udah mas sudah waktunya jemput anak-anak. Assalamualaikum.” Nina memilih berlalu begitu saja meninggalkan Kamal yang masih berdiri di tempatnya.


“Waalaikum salam,”


Rasanya begitu sakit saat pria yang ia anggap begitu mencintai anak-anaknya nyatanya mengabaikan mereka, Nina pergi dengan rasa kecewa. Ia tidak bisa berharap banyak dari pria yang sudah delapan tahun menjadi suaminya itu.


***


“Buk, ayah nggak pulang lagi ya?” tanya Akmal.


“Iya buk, padahal kan Sasa sudah terlanjur berjanji sama Keisa kasih kejutan di hari ulang tahunnya.” rengek Sasa, memang beberapa hari ini Sasa tengah menyiapkan kado. Kini Nina tahu kado itu untuk siapa, rupanya minggu ini anak dari Lastri tengah berulang tahun.


“Iya buk, kasihan adek. Apa kakak telpon ayah aja ya buk , biar ayah pulang terus ngajak kita ke rumah mbah kakung.”


“Tapi kan ayah waktu itu sudah janji akan ngajak kita ke rumah mbah kong lagi saat Keisa ulang tahun.”


Nina menghela nafas, ia memejamkan matanya sambil memijat pelipisnya yang terasa nyut-nyutan. Ia tidak bisa dikit-dikit menghubungi mantan suamianya itu, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan anak-anak.


“Gini aja deh, ke rumah mbah kung nya sama ibuk aja gimana?” walaupun tidak yakin bisa mengedari sepeda mtor sendiri dengan perjalanan yang cukup jauh tapi ia juga tidak mungkin memakai kendaraan umum, pasalnya ia harus gantik-ganti kendaraan beberapa kali untuk sampai ke desa tempat orang tua Kamal tinggal.


“Naik apa bu?” tanya Akmal sambil memperhatikan wajah sang ibu.


“Naik motor gimana? Tapi mungkin nanti agak lama, Kak.” Nina mencoba meminta pendapat pada anak sulungnya, ia tahu Akmal pasti bisa mengerti.


“Kalau ibuk capek gimana?” tanya Akmal lagi.


“Nanti kita bisa istirahat sebentar lalu melanjutkan lagi perjalanan, bagaimana?”


Tampak Akmal ragu, ia terus memandangi ibunya dengan tangan yang beberapa kali ia gunakan untuk menggaruk dagunya yang sebenarnya tidak gatal,


“Baiklah, tapi kalau capek ibuk benar akan istirahat kan?”


“Iya, sayang.”


***


Nina dan anak-anaknya saat ini tengan berada di sebuah toko mainan yang lumayan besar, mereka tengah mencari kado untuk keisa, keponakan Kamal.


“Adek mau pilih sendiri atau ibuk yang pilihkan?” tanya Nina pada Sasa yang tengah berjalan di sampingnya dengan tangan yang terus di gandeng oleh Nina.


“Jadi adek boleh pilih sendiri?” tanya Sasa bersemangat dan Nina pun mengangukkan kepalanya.


“Horeeee!!!!” sorak sorai keluar dari mulut Sasa dan Akmal.


“Ya udah, adek biar sama Akmal aja ya buk.” Akmal mengambil alih pergelangan tangan Sasa.


“Kakak yakin?”


“Iya buk, ibuk duduk saja.”


“Baiklah.”


Akmal pun segera menggandeng tangan sasa dan mengajaknya berjalan menyusuri lorong diantara rak-rak yang berisi mainan sedangkan Nina memilih duduk di kursi tunggu sambil sesekali mengawasi gerak-gerik anaknya. Sepertinya Akmal tahu jika ibunya capek karena perjalanan jauh, mereka sudah setengah perjalanan untuk sampai di desa. Dua jam sudah Nina berkendara dan masih menyisakan sekitar satu setengah jam lagi jika ia tidak istirahat lagi nantinya. Ia berangkat dari kota setelah sholat subuh agar sedikit lengah jalanannya dan mereka sengaja berhenti untuk membeli oleh-oleh sekalian mengajak anak-anaknya sarapan.


Beruntung ia sempat buat surat ijin mengemudi saat masih menjadi istri Kamal, jadi sekarang ia tidak perlu was-was saat melakukan perjalanan jauh sendiri seperti ini.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari


...Follow akun Ig aku ya...


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...