AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
22. Kedatangan Silvi



Nina melakukan tugasnya seperti biasa, tapi ada yang aneh hari ini. Biasanya atasannya sudah datang jam seperti ini, tapi hingga jam dua siang bosnya belum datang, padahal ia sudah menyiapkan kopi dan gorengan seperti biasanya.


Karena sudah satu jam lebih atasannya tidak juga datang, terpaksa Nina mengganti kopi yang sudah dingin itu dengan yang baru.


Nina pun kembali ke pantry, ternyata di pantry teman-temannya tengah mengobrol sambil minum kopi. Karena jam-jam seperti ini adalah jam santai.


"Kenapa di bawa kembali Nin?" tanya salah satu temannya.


"Bos belum datang, jadi mau aku buatkan yang baru aja, kasihan kalau minum kopi dingin." ucap Nina sambil meletakan cangkir yang berisi kopi yang sudah dingin kemudian mengambil panci dan siap merebus air.


"Sini biar aku minum aja," salah satu rekan prianya pun segera menyerobot kopi dingin itu dan meminumnya.


"Kamu tuh keadaan Tok," keluh temannya yang lain, "Oh iya, aku denger-denger pak bos tadi meeting on line sih, mungkin nggak bakal ke kantor hari ini."


"Ohh, gitu ya." timpal Nina, "Apa aku nggak usah buatin kopi aja ya?"


Baru saja teman-teman nya hendak memberi pendapat tiba-tiba sekretaris bos datang mencari Nina,


"Nina di sini?"


"Iya pak, saya." dengan cepat Nina menyahut.


"Oh iya, hari ini bos nggak ke kantor jadi nggak perlu di sediain gorengan sama kopi, bos akan ada meeting dengan klien di luar."


"Baik pak."


"Ya sudah itu saja."


Nina pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk membuat kopi dan untuk gorengan yang sudah terlanjur dibuat, Nina pun membagikan kepada teman-temannya.


***


Beberapa hari terakhir, terlihat anak-anak Nina tampak kembali ceria membuat Nina penasaran.


Nina tengah duduk di sofa sambil melipat pakaian sedangkan anak-anak nya tengah duduk di bawah Dnegan beralaskan tikar, mereka tengah mengerjakan tugas.


"Ibuk baru saja mendapat telpon dari guru kalian, kata guru kalian nilai kalian naik lagi." ucap Nina dan berharap Akmal ataupun Sasa segara bercerita.


Terlihat Sasa hendak bercerita rapi Akmal segera memberi kode pada adiknya agar tidak bercerita,


"Kaaak!" Nina juga menyadari apa yang di lakukan putranya itu.


"Nggak ada apa-apa buk, mungkin memang pelajarannya mudah makanya kita nilainya bagus. Iya kan dek?"


"Iya buk, pelajarannya mudah banget buk, Sasa gambar sama belajar baca. Kan Sasa sudah bisa baca,"


"Baiklah, ibuk percaya. Tapi kalau ada yang ingin adek ataupun kakak ceritakan sama ibuk, ibuk tunggu ya."


"Siap ibuk."


Akhrinya Nina menepis rasa curiganya, ia berusaha untuk percaya dengan anak-anaknya. Lagi pula perubahannya juga bagus jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan.


Tiba-tiba ponsel Nina berdering membuat perhatian Nina teralihkan, ia melirik pada ponsel yang ada di sampingnya dan ada mantan suaminya yang melakukan panggilan.


Sebenarnya begitu malas mengangkat telpon dari pria itu jika mengingat apa saja yang sudah pria itu lakukan padanya dan anak-anaknya juga tapi masih ada tanggung jawab pria itu yang masih harus dia penuhi sebagia seorang ayah membuat Nina tidak bisa mengabaikannya.


Dengan malas tangan Nina mulai meraih benda pipih itu dan menggeser tanda terima, perlahan menempelkan benda pipih itu pada daun telinganya.


"Assalamualaikum, mas."


"Waalaikum salam, Nin. Bagaimana kabar kamu?"


"Nggak usah basa basi lah mas, mas mau apa telpon nina?"


"Kamu kok ngomongnya gitu sih, jangan lupa ya meskipun kita buka suami istri tapi aku masih bapak dari anak-anak kita loh."


"Syukurlah kalau mas ingat."


"Nina!!! Kamu jangan buat aku emosi ya."


Hehhhh ...., Nina menghela nafas kasar. Ia sengaja tidak meninggikan suaranya agar tidak di dengar oleh anak-anak nya.


"Baiklah, ada apa mas?"


"Besok Silvi akan datang ke tempat kamu dan anak-anak."


"Buat nganter uang buat Sasa dan Akmal. Jadi jangan di kira aku lupa sama tanggung jawab aku sama anak-anak ya."


"Kenapa bukan mas sendiri sih? Kenapa juga harus Silvi?"


"Aku masih kerja."


"Ya udah di TF aja lah. Nggak perlu repot-repot ke sini."


"Silvi sendiri ya mau, ya udah lah nggak usah banyak protes. Lagi pula Silvi itu juga ibuk dari anak-anak kita, dia istriku, sudah sepantasnya kalau Silvi mau dekat dengan anak-anak."


"Terserah lah!" akhirnya Nina menyerah, tidak ada gunanya berdebat dengan Kamal karena nyatanya ia yang selalu kalah.


Bahkan tanpa mengucapkan salam, pria yang sudah delapan tahun menikah dengannya itu mematikan sambungan telponnya secara sepihak.


***


Seperti yang di bicarakan semalam, benar saja Silvi datang dan kali ini hanya dengan putrinya.


Karena sudah ada rencana ada yang datang, Nina sengaja masuk sift pagi dan sorenya di gantikan yang lain.


"Assalamualaikum, Nin. Bagaimana kabar kamu dan anak-anak?" tanyanya begitu Nina membukakan pintu.


"Waalaikum salam, Alhamdulillah kami baik. Silahkan masuk."


Akhrinya Silvi dan Sakila pun masuk, mereka dibuat kagum dengan rumah yang menjadi tempat tinggal mantan istri suaminya itu.


Jelas rumah itu jauh lebih besar dari rumah tempat tinggalnya saat ini.


"Kontrakan kamu besar juga ya, berapa juta satu bulannya?" tanyanya begitu duduk di sofa yang terlihat cukup mewah senilai dengan rumah yang terbilang mewah juga.


"Saya nggak harus jawab kan?!" jawab Nina dengan dibuat seramah mungkin.


"Mama, mama, Sakila mau mainan di sana ya." rengek putri Silvi sambil menunjuk ke arah beberapa mainan yang sudah tertata rapi di ruang keluarga.


"Iya, tapi jangan jauh-jauh ya."


"Horeeee." sorak Surai Sakila sambil berlari menghampiri mainan Sasa.


Hari ini Sasa dan Akmal ada jam ekstra hingga mereka pulang sore. Jadi Sakila bisa bebas bermain dengan mainan Sasa.


"Mau minum sesuatu?" tanya Nina yang menghormati Silvi sebagai tamu.


"Aku kan sedang hamil, jadi makanan sama minuman harus di jaga. Kalau ada jus buah segar boleh deh. Aku juga haus banget." ucapnya sambil mengusap perutnya yang sepertinya sengaja memanas-manasi Nina.


Memang apa peduliku, batin Nina kesal. Meskipun begitu ia masih mencoba sabar.


"Baiklah, tunggu sebentar ya."


Nina pun segera berdiri dan meninggalkan Silvi sendiri, Nina berjalan melewati Sakila yang tengah bermain.


"Kila, jangan di tumpahkan semua kayak gitu ya." Nina mencoba memperingatkan dengan lembut.


"Apaan sih bibi ini, Sakila kan lagi main." ucap Sakila acuh sambil memainkan plastisin Sasa hingga menempel semua di lantai.


Rasanya ingin sekali mengusir anak itu saat melihat semua mainan Sasa dan Akmal di acak-acak,


Ya ampun, nih anak nggak pernah diajari sopan Santu apa, gedek gue ..., rasanya ingin sekali menarik tangan anak itu dan membawanya kembali ke ibunya yang lemah gemulai itu.


Hehhhh ..., hehhhh, sabar Nina, ini ujian ....


Dari pada semakin kesal, Nina pun memilih melanjutkan langkahnya ke dapur.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...