AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
60. Pernah mendambakannya



Dirga hari ini tidak ke kampus, karena ada meeting pagi ia pun memutuskan untuk datang ke kantor lebih awal.


Dirga mereka heran saat Radit datang terlambat hari ini, tidak biasanya sekretaris nya itu datang terlambat.


Dirga harus memulai meeting lebih dulu, yang biasanya di handle Radit untuk memulai meeting kini harus ia sendiri karena keterlambatan Radit ke kantor.


Hingga jam sebelas selesai, Dirga tidak langsung keluar dari ruang meeting. Ia menunggu hingga tinggal dirinya dan Radit.


"Kenapa terlambat?"


pertanyaan itu berhasil membuat Radit yang tengah sibuk merapikan kembali berkas-berkasnya di atas meja meeting segera mendongakkan kepalanya,


"Saya?"


"Menurutmu?" Dirga berdecak, sudah tahu siapa yang di tanya dan Radit malah balik bertanya.


"Oh, tadi ada urusan sebentar." ucapnya sambil kembali merapikan berkasnya. Tapi apa yang di lakukan Radit malah membuatnya curiga. Radit bukan orang yang bisa menutupi sesuatu darinya.


"Katakan!"


"Hahhh?" Radit pura-pura tidak mengerti dengan yang di katakan oleh Dirga.


Dirga mendekat ke arah Radit dan duduk tepat di meja samping berkas yang tengah di rapikan oleh Radit, tangannya menahan agar berkas itu tetap diam di tempatnya,


"Aku masih menunggu."


Radit terdiam, ia tampak bingung antara harus menjawab atau tetap diam.


"Keras kepala sekali," gumam Dirga, kali ini ia Dirga menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap tajam pada Radit membuat pria itu salah tingkah sendiri.


Karena desakan dari Dirga akhirnya Radit menceritakan semuanya pada Dirga.


***


Nina masih terpaku di tempatnya, jantungnya belum baik-baik saja. Ia seperti baru saja menaiki roller coaster. Naik turun dengan kecepatan tinggi. Tangannya yang masih gemetar segera meraih gelas yang berisi green tea di depannya yang masih tidak tersentuh sama sekali semejak gelas itu di letakkan di depannya. Bahkan tangannya gemetar saat memegang gelas itu.


Baru beberapa teguk, seseorang mengejutkannya kembali.


"Assalamualaikum,"


Nina hafal dengan suara itu, ia segera menoleh ke sumber suara,


"Waalaikum salam, pak Dirga? Apa pak Dirga ada meeting di sini?"


Bukan langsung menjawab pertanyaan Nina, Dirga lebih memilih melihat di sekeliling Nina. Tapi ia tidak menemukan siapapun di sana selain Nina.


"Cari siapa, pak?"


"Mama saya di mana? Bukankah kamu sama mama saya?"


"Pak Dirga tahu?"


Ckkkk


Kembali Dirga berdecak, ia tidak suka jika pertanyaannya di jawab dengan pertanyaan juga.


"Ayolah, kamu dan mama tidak ribut kan?" tanyanya lagi.


Nina menggelengkan kepalanya dengan masih bingung karena tiba-tiba Dirga juga datang.


"Syukurlah." Dirga mengusap dadanya lega apalagi saat melihat Nina baik-baik saja.


Dirga pun ikut duduk, ia duduk di tempat yang sama dengan yang di duduki mamanya, ia juga memesan sebuah minuman untuk dirinya sendiri karena minuman Nina masih ada.


"Kalau boleh tahu, kalian membicarakan apa? Maksudnya mama saya bicara apa padamu?"


"Apa Nina wajib menjawabnya?"


Dirga terdiam, ia juga tidak bisa memaksa Nina untuk bercerita padanya.


"Tidak juga."


Pembicaraan Nina dengan mamanya Dirga hari ini berhasil membuat Nina kepikiran.


Ia menatap anak-anaknya yang tengah belajar itu, ada perasaan lega sekaligus ragu untuk melangkah. Tapi waktu satu Minggu begitu cepat, satu Minggu tinggal tiga hari lagi dan ia belum punya persiapan apapun untuk menghadapi persidangan hingga ia mengingat sesuatu.


Apa pak Dirga sudah tidur ya, Nina kembali menatap anak-anaknya. Mereka tampak masih asyik menggambar. Nina pun mengetikkan pesan pada atasannya itu, tapi ia tampak ragu untuk mengirimnya. Hingga ingatan kehilangan anak-anaknya membuatnya mantap untuk mengirim pesan itu.


Lama ia menunggu hingga pesan yang ia kirim berubah centang biru, Nina kembali di buat kecewa saat warna centangnya saja yang berubah warna tapi tidak ada balasan untuknya.


"Hehhhhh, tidak seharusnya aku merepotkan pak Dirga." gumamnya. Dari pada banyak berharap, Nina pun memilih meletakkan begitu saja ponselnya di atas meja dan bergabung dengan anak-anak nya.


Baru beberapa menit hingga ia mendengar suara mobil masuk ke halaman. Nina teringat sesuatu,


Ya Allah, kenapa aku bisa luka kalau pak Dirga belum pulang? Dia pasti capek banget, harusnya aku tidak mengganggunya ...


Padahal ini sudah jam delapan malam tapi Dirga baru saja kembali. Walaupun tidak pernah selarut dulu tapi tetap saja, ini jauh lebih malam di banding karyawan biasa.


Tok tok tok


Sebuah ketukan di pintu samping mengejutkannya. Ia tidak menyangka Dirga menyempatkan diri untuk menghampirinya.


Nina begitu yakin jika itu Dirga karena pria itu jarang lewat pintu depan. Jika lewat pintu depan pasti bukan di ketuk tapi ia akan memencet bel.


"Tunggu sebentar." sahut Nina dan segera bergegas berdiri setelah berpamitan pada kedua anaknya.


Nina berjalan cepat menghampiri pintu, tangannya segara menarik handle pintu dan benar saja pria itu sudah berdiri di depan pintu dengan sekantong kresek di tangannya.


"Assalamualaikum." sapa Dirga.


"Waalaikum salam, masuk pak."


Dirga pun masuk dan di ikuti Nina yang sengaja membuat lebar pintu rumahnya agar tidak menimbulkan fitnah.


"Maaf ya, pulangnya kemalaman. Tadi soalnya antri martabaknya panjang banget." ucap Dirga sambil menyerahkan kantong kresek itu.


Nina malah bengong sambil menerima uluran kantong kresek dari Dirga. Ia rasanya pernah mendambakan hal ini, saat kapan? Bahkan ia lupa pernah mendambakan hal ini di hari-hari pernikahannya.


Flashback on


"Mas, mana oleh-oleh nya?" tanya Nina dengan wajah kecewa sata suaminya tidak membawa apapun di tangannya.


"Mas lupa, lagi pula kamu bisa beli sendiri kan besok." jawab Kamal sambil mengusap perut besar Nina yang tengah hamil ke dua.


"Tapi kan Nina pengennya mas yang bawain. Lagi pula martabak di depan gang itu juga enak loh mas."


"Besok aja ya, mas ngantuk banget. Pengen cepet istirahat." Kamal meninggalkan Nina begitu saja tanpa mempedulikan perasaan Nina.


Flashback off


"kok malah bengong? Ayo, aku sudah lapar." ucap Dirga sambil melambaikan tangannya.


Mendengar kedatang Dirga, Akmal dan Sasa segera berlari memeluk Dirga Dnegan begitu bahagia. Mereka berebut memamerkan hasil gambaran mereka untuk di nilai oleh Dirga.


Siapapun yang melihatnya, mereka pasti akan mengira kalau ini adalah sebuah keluarga utuh.


Nina segera memindahkan martabak itu ke atas piring dan menyajikan untuk teman ngobrol mereka. Hingga Sasa dan Akmal kembali bermain, kini di dekat meja itu tinggal Nina dan Dirga.


"Ada yang ingin Nina bicarakan sama pak Dirga."


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...