AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
19. Menghibur anak-anak



Satu Minggu sudah berlalu semenjak pernikahan Kamal dengan Silvi tapi Akmal ataupun Sasa masih terlihat murung, apalagi sang ayah tidak berniat datang hanya sekedar menghibur anak-anak.


"Maaf ya pak, hari ini saya ijin."


"Nggak pa pa, lagi pula kamu kan jarang ambil cuti."


Nina sengaja cuti hari ini karena ingin mengajak anak-anak nya pergi ke taman hiburan.


"Terima kasih banyak ya pak, kalau begitu saya permisi."


Setelah berpamitan dengan seniornya, ia pun bergegas pergi ke sekolah anak-anak nya. Hari ini ia baru saja mendapat wa dari group sekolah jika bebas pelajaran karena dewan guru akan rapat.


Benar saja, saat sampai di sekolah beberapa anak sudah di jemput, terlihat Sasa dan Akmal tengah menunggu di pos satpam,


"Adek, kakak!" Nina segera melambaikan tangannya begitu turun dari motor dan kakak beradik itu pun segera berlarian menghampiri Nina.


"Maaf ya, ibuk terlambat." ucap Nina sambil memakaikan helm kepada kedua anaknya secara bergantian.


"Ibuk kenapa pakek helm, apa kita mau pergi, buk?" ternyata Akmal lebih peka.


Nina pun tersenyum dan mengusap bahu Akmal,


"Iya kak, kebetulan kata temen ibuk di taman kota ada bazar, jadi ibuk segara hari ini ijin biar bisa jalan-jalan sama kalian."


"Horeeee!!!" Sasa langsung bersorak gembira mendengar ucapan sang ibu.


"Baiklah, ayo berangkat."


***


Taman yang biasanya sepi itu kini sudah di sulap menjadi taman bermain yang lengkap dengan segala permainan anak dan pada pedagang yang menjajakan berbagai macam jajanan tradisional.


"Aku mau naik odong-odong ya buk, yang mobil itu." ucap Sasa begitu bersemangat.


"Baiklah, biar ibu bantu naik ya."


Nina pun segera membantu Sasa naik odong-odong sambil menunggu penumpang lain,


"Kakak mau naik apa?" tanya Nina pada putra sulungnya.


"Enggak buk, Akmal mau nungguin adek aja di sini,"


Seketika Nina menatap putranya itu, entah sejak kapan putranya itu menjadi pribadi yang pendiam seperti itu dan sangat penurut, tapi hal itu malah semakin membuat Nina cemas,


"Kakak nggak pa pa?"


Mendengar pertanyaan dari sang ibu, Akmal pun segera mengalihkan perhatiannya dari sang adik ke arah ibunya, sudut bibirnya ia tarik hingga membetuk lengkungan senyum,


"Enggak buk, Akmal memang tidak ingin naik apapun. Jadi jangan khawatirkan Akmal, kalau ibu mau istirahat atau beli sesuatu, nggak pa pa, bisa Sasa, Akmal yang temenin di sini."


Hehhhh ....., Nina menghela nafasnya halus. Ia sendiri tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan anak-anaknya, ia tidak punya seseorang yang mungkin bisa dimintai pendapat. Menjaga anak-anak yang keluarganya tidak utuh lagi adalah hal baru baginya.


Ia pikir dengan ia terus mencurahkan kasih sayang, semua akan baik-baik saja. Tapi nyatanya ia salah, bahkan beberapa hari lalu ia baru saja mendapat laporan dari guru Sasa dan Akmal kalau nilai mereka merosot, terutama Akmal.


Bahkan Akmal terkesan menjauh dari teman-temannya.


"Kak, adek kan masih asyik main odong-odong. Kita bicara berdua di sana yuk." ajak Nina sambil menunjuk sebuah kursi taman yang berada di bawah pohon besar, dan Akmal pun menganggukkan kepalanya.


"Kak, apa kakak ingin cerita sesuatu sama ibuk?" tanya Nina begitu mereka duduk.


Sekali lagi Akmal menggelengkan kepalanya,


"Kak,"


"Beneran buk, Akmal nggak pa pa."


"Maafin ibuk ya,"


Akmal mendongakkan kepalanya agar tatapan bisa menggapai wajah sang ibu,


"Jika saja ibuk bisa jadi istri yang baik buat ayah, mungkin ayah tidak akan pergi dari kita."


"Jika memang Akmal merasa ibuk nggak salah, apa Akmal mau berjanji sama ibuk?"


Akmal pun menganggukkan kepalanya dengan cepat, Nina mengusap wajah sang putra dengan lembut,


"Berjanjilah sama ibu, jika Akmal akan tetap jadi Akmal ibuk yang dulu, Akmal yang selalu ceria, Akmal yang banyak cerita sama ibuk. Akmal mau janji!?"


"Iya buk, Akmal janji. Tapi ibuk juga harus janji, ibuk nggak menyalahkan diri ibuk lagi. Ayah yang salah."


"Ibuk juga nggak mau Akmal menyalahkan ayah."


"Kenapa? Jelas ayah yang salah buk."


"Nanti kalau kamu sudah besar, kamu akan mengerti kenapa ayah melakukan ini. Ayah punya alasan yang nanti bisa Akmal pertanyakan saat besar,"


"Baiklah, Akmal mengerti buk."


"Anak pintar."


Akhirnya sedikit obrolan kali ini berhasil mengembalikan senyum anak-anaknya yang sudah memudar, terutama Akmal, walaupun tidak banyak tapi Akmal sudah mulai tersenyum.


Hingga sore hari barulah mereka meninggalkan taman hiburan,


"Mau makan sesuatu sebelum kita pulang?" tanya Nina pada anak-anaknya.


"Bagaimana kalau kita makan bakso di tempat langganan kita, buk?" Sasa segera menyahut.


"Baiklah, bagaimana kak, apa kakak setuju, atau kakak punya pendapat lain?" tidak lupa Nina bertanya pada putranya.


"Akmal setuju buk,"


"Baiklah, kita mampir ke bakso langganan ya."


Semenjak tinggal di kota, mereka punya tempat bakso langganan, selain jaraknya yang tidak terlalu jauh dari rumah kontrakan lama, rasa baksonya juga enak hingga membuat mereka betah untuk tetap berlangganan. Biasanya mereka selalu ke kedai bakso saat ayahnya pulang dari kerja, dan kali ini berbeda, mereka hanya bertiga.


Sepuluh menit kemudian mereka sampai di kedai bakso langganan, terlihat kedai cukup ramai tapi hal itu tidak menyurutkan niat mereka untuk tetap masuk. Beruntung tempat favorit mereka baru saja di tinggalkan pelanggan yang sudah selesai makan sehingga mereka langsung bisa menempatinya.


Seperti biasa, sembari menunggu pesanan mereka datang, mereka bercanda bak keluarga bahagia lainnya.


Lima menit kemudian barulah pesanannya datang.Tetlihat Sasa begitu tidak sabar menunggu Nina selesai menuangkan saus dan kecap sedangkan Akmal sudah bisa menuangkannya sendiri.


"Terimakasih, ibuk." ucap Sasa sambil senyum sumringah khas anak kecil yang membuat Nina gemas hingga tidak tahan untuk mencubit kedua pipi Cubi putrinya.


"Baiklah, sebelum makan berdoa dulu ya sayang, biar makanannya menjadi berkah."


Tanpa diminta, Akmal langsung mengambil peran untuk memimpin doa agar adiknya bisa mengikutinya.


Sebuah perasaan hangat menelusup ke sanubari Nina, setidaknya di tengah gersangnya perhatian dan kasih sayang, ada ketulusan di hati anak-anak nya yang tidak ingin Nina tukar dengan apapun.


Baru beberapa suap mereka makan, tiba-tiba manik mata Sasa menangkap sebuah mobil yang tidak asing karena saat ini ia duduk menghadap ke arah pintu keluar.


"Ayah," teriak Sasa kegirangan sambil berdiri hendak menghampiri seseorang yang baru saja keluar dari mobil itu.


"Sasa," karena teriakan Sasa yang cukup kencang membuat pria yang baru keluar dari mobil pun menyadari keberadaannya.


Sasa pun dengan cepat turun dari tempatnya duduk dan berlari menghampiri Kamal,


"Sasa," Nina tidak kalah terkejutnya, sebenarnya ia berniat mencegah tapi ternyata tangannya kalah cepat dengan Sasa, Sasa pun langsung berhambur memeluk sang ayah. Sepetinya rasa rindu sebagai seorang anak tidak lagi bisa terbendung.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...