AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
15. Undangan



Bab 15


Nina benar-benar menikmati hari-harinya bekerja sebagai office girl, ia juga membuat gorengan sendiri untuk bos. Karena beberapa teman kerjanya tahu jika Nina membuat sendiri, beberapa teman kerjanya tidak jarang banyak yang pesan. Walaupun tidak banyak untuknya, setidaknya ia punya uang untuk sekerja membelikan jajan anak-anaknya.


“Buk, tadi ada surat buat ibuk dari pak pos,” ucap Sasa bersemangat, sambil menunjukkan sebuah amplop berwarna coklat yang belum di buka.


Karena hari ini hari libur, jadi Sasa dan Akmal memilih tinggal di rumah meskipun Nina bekerja, beruntung setiap hari libur Nina hanya bekerja setengah hari jadi ia tidak begitu kepikiran dengan anak-anaknya.


“Adek keluar dari rumah?” wajah Nina berubah khawatir, pasalnya ia sudah mewanti-wanti anak-anaknya untuk tidak membukakan pintu jika ada orang yang datang.


“Enggak, om yang tinggal di atas yang memberikannya sama adek.”


Nina melirik ke lantai dua, ia belum pernah melihat penghuni rumah atas. Tapi sepertinya pria itu cukup baik.


“Sekarang om nya ke mana? Apa kembali ke atas?”


“Enggak, om nya keluar. Katanya mau kerja.”


Nina menyadari jika pemilik rumah ini pasti orang yang sangat sibuk, apalagi saat hari libur pun masih pulang malam untuk kerja. Tapi Nina cukup senang setiap kali membersihkan lantai atas, ia selalu mendapati piring yang sengaja ia suguhkan selalu kosong. Walaupun tidak setiap hari tapi setiap kali ia memasak lebih, ia kerap memberikan sebagian makanan nya pada pemilik rumah.


Jika habis, itu tandanya pemilik rumah memakannya, bahkan tidak pernah ada sisa, tidak ada yang di buang di tempat sampah juga. Ia bersyukur meskipun dalam keadaan yang sulit, ia masijh di kelilingi orang-orang baik.


“Kakak mana?”


“Kakak lagi cuci baju,”


“Cuci baju?” Nina benar-benar terkejut.


“Iya buk, kata kakak kasihan ibuk kalau pulang kerja masih harus cuci baju sama bersih-bersih, ibuk pasti capek.”


“Ya udah, adek main dulu ya. Ibu lihat kakak dulu.”


Nina memilih mengabaikan surat itu dan menyusul putranya, dan benar saja saat ia berada di ruang cuci, Akmal tengah sibuk mengucek pakaiannya dengan tangan mungilnya itu.


“Kak, apa yang kakak lakuin?” Nina menghampiri Akmal dan mengambil baju basah yang ada di tangannya.


“Akmal Cuma cuci baju, buk. Nggak pa pa!”


“Tapi kak, ini pekerjaan ibuk, kakak main aja ya,”


“Ibuk sudah kerja dan jagain akmal juga Sasa, jadi biarkan Akmal bantuin ibuk. Ibuk pasti capek, ibuk duduk aja ya. Sebentar lagi selesai.”


Walaupun rasanya berat membiarkan anaknya melakukan pekerjaan yang seharusnya ia kerjakan, tapi ia juga tidak bisa melarang putranya. Rasanya begitu terharu saat mengetahui anak-anaknya begitu perhatian terhadapnya.


***


Setelah memastikan anak-anaknya tidur, Nina pun menselonjorkan kakinya yang terasa begitu kaku karena seharian harus bekerja, mulai dari bangun tidur ia harus menyiapkan sarapan, membersihkan rumah dan mengantar anak-anak sebelum ke tempat kerja dan saat pulang kerja ia masih harus membersihkan lantai dua, tempat tinggal pemilik rumah karena saat itu biasanya pemilik rumah tidak ada. Karena hari ini pemilik rumah ada saat ia pulang, ia tidak membersihkannya. Sebenarnya tidak banyak yang harus di bersihkan di lantai dua karena sepertinya pemilik rumah orangnya juga rapid dan menjaga kebersihan jadi biasanya Nina membersihkan tiga hari sekali.


Nina mengambil amplop hitam yang belum sempat ia buka tadi sore, rasa penasarannya tidak sebesar rasa kagumnya terhadap anak-anaknya. Setidaknya di tengah hidupnya yang berat ada anak-anak yang selalu menguatkannya.


Sekilas Nina tahu jika itu sebuah undangan pernikahan walaupun ia hanya melihat ujungnuya saja, tapi ia belum tahu itu undangan pernikahan siapa. Perlahan Nina menarik undangan itu agar keluar sempurna dari dalam amplop. Matanya langsung memanas saat melihat nama yang tertera di undangan itu, undangan pernikahan yang begitu elegan dan terbilang mewah, mungkin satu lembarnya seharga lima belas ribu atau lebih. Tapi nama yang ada di undangan mewah itu membuat hatinya hancur.


“Tega sekali kamu mas,” gumamnya di sela isak tangisnya yang tidak mampu ia tahan, dengan undngan yang masih ia genggam erat di tangan . tidak ada kata iklas yang benar-benar iklas, rasanya delapan tahun bersama dan pria itu melupakannya hanya dalam waktu sekejap.


‘Ibu’


Hanya ada satu ibu yang ia panggil setelah ibunya meninggal, dan itu ibunya Kamal. Mantan suaminya. Nina kembali menghapus air matanya yang terus saja berurai dan beberapa kali mengatur nafasnya agar bisa mengendalikan emosinya, agar tidak terdengar sedih suaranya.


Setelah merasa cukup baik, Nina pun menggeser tanda terima di layar ponselnya dan menempelkan benda pipih itu di daun telinganya.


“Hallo, assalamualaikum buk,”


“Waalaikum salam, nduk. Bagaimana kabar kamu nduk?”


“Alhamdulillah baik buk, ibuk sama bapak bagaimana?”


“Alhamdulillah ibuk sama bapak juga baik, anak-anak bagaimana? Mereka nggak rewel kan?”


“Anak-anak juga baik. Alhamdulillah mereka anak-anak yang baik buk, nggak pernah merepotkan Nina.”


“Syukurlah kalau begitu. Oh iya nduk, sebenarnya ibuk telpon Cuma mau tanya,”


“Tanya apa buk?”


“Kamu sudah terima undangannya, nduk?”


Seketika tatapan Nina beralih pada undangan yang ada di genggamannya dan menganggukkan kepalanya seolah lawan bicaranya bisa melihat apa yang ia lakukan,


“Iya buk.”


“Ibuk harap kamu sama anak-anak bisa datang ya nduk,”


“Maaf buk, Nina nggak bisa janji.”


“Jangan begitu Nina, kasihan anak-anak nggak bisa lihat bapaknya menikah. Lagi pula kasihan juga sama Kamal, dia pasti sedih kalau anak-anak nggak datang. Jadi usahakan datang ya nduk.”


‘Bagaimana dengan perasaanku, buk? Kenapa tidak ada yang bisa mengerti perasaanku? Aku juga sakit,’ batin Nina sambil menekan dadanya yang terasa begitu nyeri.


“Nin, kamu masih dengar ibuk kan?”


Pertanyaan itu kembali menyadarkan Nina, “I_iya buk, Nina dengar. Insyaallah Nina usahakan. Ya udah ya buk, anak-anak kebangun. Nina tutup dulu, salam buat bapak, assalamualaikum.”


Tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, Nina pun langsung menutup sambungan telponnya. Ia tidak bisa lagi menahan air matanya. Nina pun langsung menangis sejadi-jadinya sambil membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Ia tidak menyangka, hanya dalam sekejap ia tiba-tiba menjadi orang asing di tempat yang ia kira itu rumah yang paling nyaman.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...