(Family) Bound

(Family) Bound
Peduli



“Edooo.. tungguuu..” Seru Luna memanggil Edo.


Edo menoleh malas ke arah Luna. Dilihatnya gadis itu berlari-lari kecil ke arahnya.


“Ed, dicariin calon bini lo tu.” Bisik Bryan. Edo langsung memukul keras bahu Bryan.


“Ini.” Kata Luna dengan napas terengah, dia menyodorkan bungkusan kepada Edo.


“Apa ini..??” Tanya Edo dengan menaikkan sebelah alisnya.


“Buka saja.” Jawab Luna. Edo menerima bungkusan itu lalu membukanya dan melihat syall berwarna maroon. Dia melihat pada syall dan Luna bergantian.


“Aku dengar kamu akan sering berada di Jerman. Cuaca disana dingin, jadi aku merajutnya untukmu.” Kata Luna dengan senyum manisnya.


Edo membuka syall dan membuang napas panjang saat dilihatnya rajutan syall itu cukup berantakan. Bryan menahan tawa saat melihat syal hasil rajutan Luna.


“Aku baru belajar. Aku membuatnya sambil lihat video tutorial.” Lanjut Luna meringis saat melihat ekspresi wajah Edo. Edo melihat ke arah Luna dan melihat beberapa jari Luna diplester.


“Terima kasih.” Kata Edo dingin sambil memasukkan syall itu ke dalam tas nya.


“Hai, Luna.” Sapa seorang pemuda.


“Hai, Reyhan. Kamu ngapain kesini..??” Sapa Luna ramah. Edo mengerutkan dahi melihat Luna tersenyum manis pada Reyhan.


“Tadi aku mau samperin kamu tapi kata temenmu kamu kesini. Jadi aku langsung susul.” Sahut Reyhan.


Dia tampak terkejut saat melihat Bryan, tapi tak lama kemudian dia seakan tidak peduli dengan keberadaannya.


“Memang kamu ada perlu apa, Rey..??” Tanya Luna.


“Kangen aja sama kamu.” Jawab Reyhan sambil mengacak pelan rambut Luna.


Edo yang melihatnya langsung menepis tangan Reyhan dari kepala Luna, membuat Luna dan Bryan terkejut.


“Lo sapa..??” Tanya Reyhan dengan tatapan tidak suka.


“Gue Edo.” Jawab Edo membalas tatapan Reyhan dengan tajam.


“Pacar kamu, Na..??” Tanya Reyhan pada Luna.


“Bukan, Rey. Tapiiiii..” Jawab Luna kebingungan.


“Itu artinya lo ga boleh ikut campur urusan gue sama Luna.” Cibir Reyhan.


Edo mengepalkan tangannya dan terus menatap tajam ke arah Reyhan.


“Aku cuma mau kasi tau kalo deadline tugas kelompok dimajukan, besok harus dikumpulin. Yang lain ga bisa gabung soalnya ada acara. Jadi harus kita yang selesaiin hari ini. Tapi sejak pagi kamu ga bisa dihubungi.” Kata Reyhan.


“Iya, soriii.. tadi pagi HP-ku jatuh trus mati, dan aku belum sempat perbaiki.” Kata Luna.


“Gapapa.. mau berangkat sekarang..?? Kita bisa kerjain di cafe Rainbow, disana tempatnya asik.” Kata Reyhan dengan senyum penuh arti.


“Ga di perpustakaan aja kayak biasanya..??” Tanya Luna ragu.


“Bosen, Na. Pingin cari suasana baru. Mau yaaaa..” Kata Reyhan membujuk.


Luna tampak berpikir sejenak lalu menatap ke arah Edo dengan tatapan bertanya. Tapi Edo justru membuang muka seakan tidak peduli.


“Baiklah. Kita kesana sekarang. Kebetulan aku sudah tidak ada kelas.” Kata Luna yang disambut Reyhan dengan wajah berbinar.


Edo kembali menoleh ke arah Luna dan tampak terkejut, Dilihatnya Reyhan menatap dia dengan senyum penuh kemenangan.


“Edo.. Bryan.. aku pergi dulu.” Kata Luna sambil melambaikan tangan dan berlalu pergi.


Edo menatap Luna dan Reyhan dengan tatapan tidak suka. Entah kenapa dia marah melihat Luna setuju pergi dengan Reyhan. Rasanya dia ingin menarik tangan Luna dan menjauhkannya dari Reyhan. Dan Reyhan, Edo merasa ada yang aneh dengan pemuda itu.


“Lo yakin biarin Luna pergi berdua sama Reyhan, Ed..??” Tanya Bryan.


“Memang kenapa..?? Itu bukan urusanku.” Jawab Edo sewot, matanya masih menatap Luna yang semakin menjauh.


“Reyhan bukan pria baik-baik. Setiap malam dia ke club dan bermain wanita. Dia juga sering bawa cewek dari kampus lain check-in ke hotel.” Kata Bryan.


“Lo yakin, Bry..??” Tanya Edo terkejut.


“Lo lupa sapa gue..?? Gue sering lihat dia di club langganan gue. Reputasi buruk dia ga sampe ke sini soalnya dia selalu cari mangsa dari kampus lain. Gue yakin bahkan Luna ga tahu sapa sebenernya cowok yang lagi pergi sama dia.” Kata Bryan lagi. Edo diam dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.


“Bukan urusan gue.” Kata Edo berlalu pergi.


Bryan hanya bisa menggelengkan kepala. Dilihat darimana pun terlihat jelas kalau Edo juga mempunyai perasaan kepada Luna. Dia heran kenapa Edo bersikeras tidak mengakuinya. Akhirnya Bryan menyusul Edo menuju kelas mereka.


Selama di kelas Edo tampak tidak fokus. Dia terus menggerakkan kakinya dibawah kursi, kebiasaannya setiap kali merasa gugup atau tidak sabar. Bryan yang duduk disamping Edo hanya bisa mendengus kesal karena suara getaran kaki Edo sangat mengganggunya.


“Pak, maaf saya ijin meninggalkan kelas lebih awal. Ada keadaan darurat.” Kata Edo pada dosen pengampu kelasnya lalu berlari keluar ruangan itu.


“Tu anak kenapa, Bry..??” Bisik Aris.


“Kesambet.” Jawab Bryan asal. Dia sangat yakin Edo akan menyusul Luna dan Reyhan.


****


Edo merapatkan jaketnya dan membetulkan posisi masker yang dia pakai untuk menutupi wajahnya. Sesekali dia sengaja batuk agar tidak menimbulkan kecurigaan pada orang-orang di sekitarnya. Edo duduk berjarak 3 meja dari Luna dan Reyhan. Tidak dekat, tapi dia bisa mengawasi dengan jelas setiap pergerakan mereka. Edo terus mengawasi Luna dan Reyhan dari mejanya, mengabaikan waitress yang sejak tadi menunggu untuk mencatat pesanannya.


“Mas, jadi pesen ga..??” Tanya gadis itu mulai kesal. Edo menoleh sejenak lalu tatapannya kembali ke meja Luna dan Reyhan.


“Berikan 1 minuman dan makanan yang paling recommended disini.” Kata Edo tanpa melihat menu.


“Baiklah.” Kata gadis itu lalu berjalan meninggalkan Edo dengan bersungut-sungut.


“Pesanannya, mas.” Kata waitres sambil meletakkan pesanan di meja Edo. Mata Edo membulat saat melihat makanan dan minuman di depannya.


“Apa ini..??” Tanya Edo bergidik ngeri.


“Pesanan mas. Mie kuah pedas level 10 dan strawberry milkshake.” Jawab gadis itu.


“Memang tadi saya pesan ini, mb..??” tanya Edo masih dengan tatapan horor pada makanan dan minuman yang tersaji di mejanya.


“Kan tadi mas sendiri yang bilang minta disiapin menu paling recommended di cafe ini. Ya ini yang paling laris.” Kata gadis itu cuek lalu pergi meninggalkan Edo yang masih ternganga.


Sejenak perhatian Edo teralih pada makanan dan minuman di hadapannya. Perlahan Edo mengaduk mie kuah dan dilihatnya begitu banyak potongan cabe yang mengambang di atas makanan itu. Lalu dia melihat pada gelas minumannya. Edo sangat membenci susu karena selama sakit dia terus dipaksa meminum susu demi kesehatannya. Dan dia sangat tidak tahan dengan makanan pedas.


Edo memilih tidak menyentuh makanan itu daripada harus bolak balik ke kamar mandi seharian. Dia kembali memperhatikan meja Luna dan terkejut saat melihat Luna dan Reyhan sudah tidak ada disana. Edo mengambil dompet dan meninggalkan selembar uang seratus ribu di meja lalu bergegas keluar untuk mencari Luna. Sesampainya di luar dia melihat mobil Reyhan telah melesat pergi meninggalkan area cafe Rainbow.


“Siaaaaall..!!” Rutuk Edo dalam hati. Dia berlari menuju mobilnya lalu segera mengikuti mobil Reyhan.


****


Luna duduk manis di mobil Reyhan. Dia lega karena berhasil menyelesaikan tugas kelompok meski hanya mengerjakannya berdua bersama Reyhan. Reyhan menawarkan untuk mengantar Luna pulang, tapi Luna menolak karena mobilnya masih di kampus. Akhirnya Reyhan menawarkan untuk mengantarkan Luna kembali ke kampus mereka. Di sepanjang perjalanan mereka terus berbincang dan bercanda membuat Luna tidak memperhatikan jalan. Hingga Luna menyadari jalanan yang mereka lalui sangatlah sepi dan jalan itu tidak menuju ke kampusnya.


“Rey, ini dimana..?? Kok kita lewat sini, Rey..??” Tanya Luna kebingungan. Reyhan hanya diam dan tersenyum miring.


“Rey, aku turun sini saja.” Pinta Luna saat dilihatnya jalanan semakin sepi dan gelap. Reyhan tetap diam tidak menghiraukan Luna.


“Rey, aku mohon turunkan aku disini.” Kata Luna mulai ketakutan. Dia berusaha membuka pintu mobil tapi ternyata Reyhan telah menguncinya.


Mobil Reyhan berhenti di depan rumah yang cukup besar namun tampak tidak berpenghuni. Membuat Luna semakin panik.


“Turun..!!” Perintah Reyhan dengan suara dingin.


“Tidak mau..!! Ini dimana..?? Kenapa kamu bawa aku kesini..??!!” Tolak Luna.


“Kalo lo ga turun, gue perk**a lo disini.” Sahut Reyhan dengan seringai mengerikan.


Dia meraih tangan Luna dan menariknya tapi gadis itu benar-benar memberontak hingga Reyhan kesulitan.


“Aaaaaaarrrgh..!!” Teriak Reyhan karena Luna menggigit keras tangannya hinga berdarah.


Reyhan murka karena Luna berani melukainya dan gadis itu tampak menatapnya tanpa rasa takut. Reyhan mengangkat tangannya untuk menampar Luna tapi gadis itu meringkuk dan melindungi wajah serta tubuhnya dari serangan Reyhan dengan kedua tangannya. Luna terus berteriak meinta tolong meski dia tidak yakin ada yang mendengarnya.


BRAAAAAKK..!!


Tiba-tiba terdengar suara kaca mobil pecah. Rupanya Edo memecahkan kaca pintu mobil di sisi Reyhan dengan menggunakan batu. Setelah kaca itu benar-benar pecah, dengan cepat Edo membuka kunci dan pintu mobil lalu menarik Reyhan keluar. Edo langsung menghajar Reyhan dengan membabi-buta. Reyhan yang tidak siap sama sekali tidak sempat melawan hingga akhirnya terkapar tidak berdaya.


“Edo, hentikan..!! Aku mohon hentikan..!!” Seru Luna sambil memeluk Edo dari belakang. Edo yang merasakan pelukan Luna terkesiap dan tersadar dari amarahnya.


“Edo, tolong hentikan. Aku tidak mau kamu kena masalah.” Kata Luna terisak tanpa melepaskan pelukannya.


Edo melepaskan pelukan Luna lalu menarik gadis itu menjauh dari Reyhan. Edo membuka pintu mobil dan mendorong tubuh Luna agar masuk lalu menutupnya cukup keras.


Sepanjang perjalanan Edo hanya diam dengan wajah dingin dan menakutkan. Luna tidak berani mengusik Edo. Selama mengenal Edo dia tidak pernah melihatnya seperti ini. Meski seringkali ketus dan kadang galak, tapi Edo tidak pernah marah. Luna terkejut saat tiba-tiba Edo meminggirkan mobilnya.


“Apa kamu tidak bisa lebih berhati-hati,. Al..??!! Kenapa kamu begitu mudahnya menerima ajakan laki-laki untuk keluar..??!! Bisa kamu bayangkan seperti apa jadinya kalau tadi aku tidak mengikuti kalian..??!!” Seru Edo marah.


“Maaaff.. aku hanya ingin menyelesaikan tugas kelompok kami. Selama ini Reyhan juga selalu bersikap baik. Aku tidak menyangka kalau ternyata dia...” Luna terdiam dan mulai terisak.


Edo yang masih marah menjadi tidak tega. Luna yang dia kenal selalu pemberani dan penuh semangat. Dia tidak pernah melihat gadis itu menangis. Sekarang melihatnya menangis entah kenapa membuat hati Edo sakit. Edo mengulurkan tangan mengelus lembut kepala gadis itu. Luna terkejut dan menoleh kepada Edo, menatapnya tidak percaya. Edo yang tersadar segera menarik tangannya.


“Dimana rumahmu..?? Aku akan mengantarmu.” Kata Edo ketus.


“Antar aku balik ke kampus saja. Mobilku masih ada disana.” Kata Luna tersenyum manis.


“Kamu yakin..??” Tanya Edo yang dijawab anggukan oleh Luna. Edo kembali menjalankan mobilnya.


“Ngomong-ngomong, kenapa kamu mengikutiku dan Reyhan..??” Tanya Luna dengan tatapan penuh selidik. Edo tampak gugup mendengar pertanyaan Luna.


“Siapa yang mengikuti kalian..?? Aku hanya tidak sengaja melihat kalian. Karena merasa ada yang tidak beres jadi aku mengikuti kalian.” Jawab Edo sekenanya.


“Memang kamu mau kemana sampai bisa papasan sama aku dan Reyhan..??” Tanya Luna lagi.


“Bukan urusanmu.” Jawab Edo cepat.


“Yakin bukan karena kamu cemburu terus akhirnya ikutin aku sama Reyhan..??” Cecar Luna dengan wajah berbinar. Edo kembali meminggirkan mobilnya dan berhenti.


“Turun..!!” Kata Edo.


“Eeeh.. apa..??” Tanya Luna terkejut.


“Kalau kamu masih cerewet saja mending kamu turun disini.” Kata Edo Sewot.


“Oke.. aku bakalan diem. Ga tanya-tanya lagi.” Kata Luna nyengir sambil mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.


Edo mendengus kesal dan kembali melajukan mobilnya ke arah kampus. Sepanjang sisa perjalanan Luna terus tersenyum. Dia bahagia karena tahu ternyata Edo peduli padanya. Luna yakin, Edo juga memiliki perasaan yang sama dengannya.


************************************************


Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.


Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^


Terima kasih..!!


Hug,


Cheerieza