(Family) Bound

(Family) Bound
Tanggung Jawab



"Sebenarnya apa yang terjadi..?? Kenapa kamu menghancurkan rumahmu sendiri..!!" Seru Adam setelah Shaka mulai tenang.


Shaka hanya terdiam dan terlihat berusaha meredakan amarahnya. Sedangkan Yudha menceritakan pembicaraan mereka tadi.


"Maksudmu Scarlett Group yang bekerjasama dengan perusahaanmu..??" Tanya Adam pada Shaka. Lelaki itu hanya mengangguk untuk menjawab Adam.


"Jadi perusahaan itu bekerjasama denganmu, Shaka..??" Tanya Darius.


"Dulu. Aku memutuskan kerjasama itu bulan lalu." Jawab Shaka dingin.


"Kenapa..??" Tanya Hans.


"Kate, putri keluarga Herlambang terus mengejarku dan berusaha menghancurkan keluargaku. Dia beberapa kali berusaha menjebakku. Terakhir dia kembali menjebakku dan mengirimkan foto-foto palsu kepada Kira, sampai membuat kondisinya sempat drop. Besoknya aku datang ke gedung Scarlett. Karena emosi aku menganiaya Kate dan juga Herman, kakaknya. Aku memutuskan kerjasama kami hari itu juga. Dan Arian, dia paman Kate. Arian teman seangkatan Kira saat SMA. Kami bertemu saat Kira datang ke acara reuni. Lelaki itu mencintai Kira dan dihadapanku terang-terangan mengatakan bahwa dia ingin menikahi Kira." Kata Shaka menjelaskan.


"Karena kejadian itu Scarlett Group terancam gulung tikar. Banyak perusahaan yang membatalkan rencana kerjasama. Tapi perusahaanku pun tidak jauh beda. Meski baru sebulan dampak yang kami terima sangat besar. Kami sekarang berada diujung tanduk. Sejak kejadian di gedung Scarlett, perusahaanku harus menanggung denda yang sangat besar dan membayar ganti rugi pada beberapa klien. Sejak itu pula entah kenapa masalah terus bermunculan dan benar-benar menyulitkan kami. Banyak rencana kerjasama yang tiba-tiba dibatalkan secara sepihak untuk alasan yang bahkan kami tidak tahu. Bisa dibilang saat ini aku menopang keluargaku dan operasional perusahaanku dari keuntungan yang aku dapat melalui saham yang aku miliki di perusahaan keluargaku. Juga dari beberapa property atas namaku pribadi yang diam-diam aku jual." Lanjut Shaka. Lelaki itu meraup wajahnya dengan kasar.


"Kenapa daddy tidak pernah mengatakannya..??" Protes Edo.


"Daddy takut mommy-mu akan mendengarnya. Dengan keadaan dia sekarang, itu benar-benar bukan ide bagus, Ed." Kata Shaka.


"Harusnya kamu katakan pada kami, Shaka. Kami bisa melakukan sesuatu untuk membantumu." Kata Yudha.


"Aku laki-laki dan kepala keluarga, Yud. Mereka adalah tanggung jawabku. Rasanya memalukan kalau harus berlari pada kalian atau keluargaku untuk meminta bantuan." Sahut Shaka dingin.


"Dasar bodoh..!! Setidaknya kami bisa membantumu mencari tahu apa yang sebenarnya membuat bisnismu tiba-tiba tersendat." Seru Adam. Shaka tidak menyahuti Adam dan terdiam sejenak.


"Bantu aku untuk melindungi keluargaku." Pinta Shaka.


"Maksudmu..??" Tanya Darius.


"Beberapa bulan ini hampir setiap hari aku terus menerima ancaman. Entah bagaimana caranya dia bisa mendapatkan foto-foto kami setiap harinya. Dia tahu persis kapan dan dimana kami semua melakukan aktifitas. Bahkan orang itu pernah sekali mengirimkan begitu banyak bunga dan barang pada Kira secara anonim, hingga menyebabkan kesalahpahaman kecil diantara aku dan Kira. Orang itu seolah mengejekku dan mengatakan bahwa dia juga bisa menjangkau rumah ini. Sejak itu aku mengirim orang untuk terus mengawal keluargaku dari jauh. Kemanapun anak-anakku pergi akan selalu ada yang orang yang mengawal mereka." Kata Shaka."


"Daddy juga mengirim orang untuk mengawasi dan menjaga Luna dari jauh. Karena aku tahu dia sangat berarti untukmu, Ed." Kata Shaka sambil menatap Edo.


"Tapi sekarang setelah tahu ada kemungkinan keluarga Lucas memiliki hubungan dengan semua kejadian itu, aku rasa akan membutuhkan bantuan kalian untuk melindungi mereka." Lanjut Shaka. Lelaki itu kembali menundukkan kepalanya, lalu menatap Hans.


"Hans, sekarang kamu tahu bahaya yang mungkin tengah mengancam kami. Bawalah Edo pergi jauh dari sini. Bawa serta Luna, kekasihnya. Amankan mereka. Aku mohon." Kata Shaka dengan wajah memohon.


"DADDY..!! Aku tidak mungkin meninggalkan kalian dalam keadaan seperti ini..??!! Selama ini daddy selalu menjaga dan melindungiku. Sekarang aku yang akan melakukannya untuk kalian..!!" Seru Edo tidak terima.


Kedua tangan Shaka menahan bahu Edo, memaksa pemuda itu untuk mendengar apa yang akan dia katakan.


"Ed, lihat aku. Aku dan mommy-mu sangat menyayangimu. Kami tahu kau juga menyayangi kami. Tapi ingat papamu, Ed. Dia juga sangat menyayangimu. Dan kalian sudah lama terpisah. Sekarang waktunya kalian kembali bersama. Papamu akan bisa membawamu pergi jauh dari sini dan menjaga keselamatanmu juga Luna. Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi mommy-mu bila sampai terjadi sesuatu pada kalian. Dan aku pun tidak akan bisa menghadapi papamu kalau tidak bisa melindungimu. Pergilah, Ed. Hiduplah bersama papamu." Kata Shaka.


"Aku tidak mau..!!" Tolak Edo.


"Kalau daddy memang ingin aku pergi dari sini, aku akan pergi setelah semua masalah ini selesai..!!" Lanjut Edo tegas.


"Hans..??" Panggil Shaka seolah meminta pertolongan.


"Shaka, kamu tidak perlu kawatir. Aku yakin Edward bisa menjaga diri. Aku juga akan menjaga Edward dan keluargamu." Kata Hans menenangkan Shaka.


"Kalian harus berjanji. Bila terjadi sesuatu padaku, kalian akan menjaga keluargaku." Kata Shaka dengan kepala tertunduk.


"Ciiiih.. jangan asal lempar tanggung jawab. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu. Karena menjaga keluargamu adalah tanggung jawabmu." Cibir Adam sinis.


Shaka hanya tersenyum tipis mendengar kakak iparnya. Yudha meraih HP-nya saat mendengar notifikasi pesan masuk, dia tampak menghela napas panjang.


"Hasil pemeriksaan darah Kira baik. Dia tidak perlu tranfusi darah." Kata Yudha hingga membuat lega semua orang di ruangan itu.


"Untuk kondisi Kira, apakah kalian sudah mencoba membawanya keluar negeri..??" Tanya Hans.


"Kondisi Kira tidak memungkinkan untuk perjalanan jauh. Selain dia tengah hamil, kondisinya juga bisa drop sewaktu-waktu. Kami dan juga keluarga Shaka sudah memanggil beberapa dokter dari luar negeri, tapi mereka juga belum bisa menemukan solusinya. Karena kami tidak tahu zat apa yang membuat kondisi Kira seperti ini, kami pun belum bisa menentukan obat yang tepat untuk mengobati Kira." Kata Yudha.


"Yudha, aku dan papa mengenal seorang professor yang juga dokter spesialis hematologi di Jerman. Aku akan meminta papa untuk mengirim dokter itu datang kemari untuk membantumu." Kata Hans.


"Terima kasih, Hans." Kata Darius sembari menepuk bahu Hans.


Setelah kondisi Kira membaik, Yudha dan Adam pulang. Darius dan Edna melarang anak-anak Shaka untuk keluar kamar selama ruang keluarga belum selesai dibersihkan. Hans yang menginap, memilih untuk tidur sekamar dengan Edo.


Hans menatap sekeliling kamar Edo. Kamar anaknya begitu luas dan nyaman. Sangat jauh bila dibandingkan dengan kamarnya dalam penjara. Hans juga menyadari, hanya Edo yang mendapatkan kamar pribadi. Mengingat Dit-dit harus berbagi kamar dengan Satria. Sedangkan Rania berbagi kamar dengan Nara.


Hans masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar Edo untuk membersihkan diri. Dia benar-benar menikmati ritual mandinya. Setelah hampir 12 tahun hidup dengan fasilitas penjara yang serba terbatas, rasanya sungguh menyenangkan bisa kembali merasakan kenyamanan seperti sebelum dia ditahan.


Setelah 30 menit, Hans pun mengakhiri mandinya. Dilihatnya Edo tengah duduk di balkon kamarnya.


"Edward. Kenapa kamu belum tidur, nak..??" Tanya Hans setelah duduk di kursi samping Edo.


"Aku belum mengantuk, pa." Jawab Edo.


"Memikirkan mommy dan daddy mu..??" Tanya Hans, Edo mengangguk.


"Kalau Arian masihlah orang yang sama, maka tidak akan mudah menjatuhkannya. Dan keselamatan keluargamu akan terancam, karena Arian sama berbahayanya dengan Lucas. Tapi kamu tidak perlu kawatir, papa dan opa akan terus membantu keluargamu. Keluarga kita." Kata Hans.


Edo langsung menoleh ke arah Hans saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan ayahnya. Hans dapat membaca benak Edo yang dipenuhi banyak pertanyaan.


"Dengar, Ed. Setelah begitu banyak luka yang papa berikan pada keluarga ini, mereka masih mau menerimaku dan bahkan membesarkanmu dengan penuh kasih sayang. Meski papa memberikan seluruh harta dan bahkan nyawa papa pada mereka, tetap tidak akan pernah bisa menebus semuanya. Lagipula mommy-mu adalah kakak ipar papa. Dia adalah istri dari mendiang kakakku. Itu artinya dia dan anak-anaknya adalah bagian dari keluarga Tanzil. Papa tidak ingin mengulang kesalahan opa-mu dulu dengan mengabaikan keluarganya. Meski papa tidak pernah bertemu dengan Pierre, tapi sudah menjadi tanggung jawabku untuk menjaga istri dan anak-anaknya setelah dia pergi." Kata Hans tegas.


Edo terus menatap lekat mata ayahnya dan melihat kesungguhan disana. Pemuda itu menghela napas penuh kelegaan, mengetahui bahwa akan ada banyak bantuan untuk keluarganya.


"Papa sudah memberi kabar pada opa kalau sudah bebas..??" Tanya Edo.


"Tadi papa sudah menelpon opa. Dan seperti kalian, opa juga sama terkejutnya. Opa sudah berencana untuk datang dan menjemput papa dari penjara. Tapi ternyata papa bebas lebih cepat. Opa akan datang setelah memastikan dokter kenalan kami bisa datang untuk melihat kondisi Kira." Jawab Hans.


"Terima kasih, pa." Sahut Edo.


"Edward." Panggil Hans lagi.


"Papa sangat menyayangimu dan papa juga ingin setelah ini kamu bisa tinggal dengan papa dan opa di Jerman. Tapi.. Papa tidak mau egois. Papa bisa melihat kamu sangat bahagia bersama keluargamu disini. Belum lagi kekasihmu juga ada disini. Meski papa dan opa juga menyayangimu, belum tentu kamu juga akan bahagia bersama kami. Papa tidak akan memaksamu untuk ikut papa tinggal bersama Opa dan meneruskan perusahaan keluarga di Jerman. Tapi tolong pertimbangkan semuanya dengan baik-baik. Papa harap saat papa berangkat ke Jerman untuk menyusul opa, kamu sudah memutuskannya. Saran papa.. ikuti kata hatimu, nak." Kata Hans tanpa melepas pandangan dari putranya.