
Simon setengah berlari menuju ruang kerja Yudha. Setelah bertanya dimana ruangan itu juga menjawab rentetan pertanyaan dari security dan sekretaris Yudha, Simon akhirnya diijinkan untuk memasuki ruangan itu. Dan dia sangat tahu laki-laki itu ada disana.
BRAAAAKK..!!
Simon masuk tanpa mengetuk pintu. Dia tidak sabar melihat sekretaris Yudha yang sebenarnya akan membukakan pintu untuknya.
"Simon..?? Ada apa ini..??" Tanya Yudha terkejut dengan kedatangan Simon. Dia sendiri saat ini tengah bertemu dengan beberapa dokter senior.
"Kita perlu bicara..!! Ini penting..!!" Kata Simon dengan napas tersengal karena sejak tadi dia terus berlari kesana kemari.
Melihat wajah serius Simon, Yudha meminta para tamunya untuk pergi meninggalkan ruangan.
"Shaka hilang." Kata Simon begitu pintu ditutup.
"Apa..?? Apa maksudmu..??" Tanya Yudha terkejut.
"Tadi saat aku datang bersama Kate, dia pamit keluar ruangan untuk menerima telpon. Hampir satu jam dia pergi sampai akhirnya Kira memintaku memanggil Shaka. Aku tidak menemukan dia dimanapun, tapi seorang petugas cleaning service mendengar dia berdebat dengan orang yang menelponnya. Setelah bertanya dan mencari aku tidak menemukan Shaka, tapi seseorang menemukan HP-nya di lahan parkir cafe yang ada di seberang rumah sakit." Kata Simon sambil menyodorkan HP Shaka yang dia temukan.
Yudha menautkan alisnya melihat HP Shaka yang retak. Dia tahu harga dan kualitas HP itu. Benda itu tidak mudah retak ataupun rusak meski jatuh. Kecuali jika jatuh atau terkena benturan keras.
"Kira sudah tahu..??" Tanya Yudha berusaha tetap tenang.
"Belum. Dengan kondisinya sekarang terus terang aku tidak berani melakukannya." Jawab Simon. Yudha mengetatkan rahangnya, teringat bagaimana lemahnya kondisi Kira saat ini.
"Kembalilah ke ruangan Kira dan jangan katakan apapun. Carilah alasan kenapa Shaka belum kembali. Dan tolong jaga dia sementara ini. Aku akan menghubungi keluargaku untuk datang dan menjaganya." Pinta Yudha.
"Baiklah. Dan katakan padaku kalau kalian membutuhkan bantuanku." Sahut Simon.
"Tentu. Terima kasih." Kata Yudha.
"Satu lagi. Saat aku mencari Shaka di lahan parkir itu, aku menemukan bercak darah. Sebaiknya cepat temukan dia karena aku rasa dia terluka." Kata Simon sebelum pergi meninggalkan ruangan Yudha.
Yudha melihat HP Shaka dan berusaha menyalakannya tapi gagal. HP itu rusak dan mati. Dia segera meraih HP-nya dan tampak menghubungi seseorang.
"Halooo.." Sapa suara di seberang sana.
"Kak, segeralah datang ke Orchid bersama Yudhi dan kak Rendra. Ada masalah disini." Sahut Yudha.
"Ada masalah apa..??" Tanya Adam.
"Shaka hilang. Kemungkinan diculik. Dan.. ada kemungkinan dia terluka." Jawab Yudha.
"Sial..!! Bagaimana bisa terjadi..??!! Aku akan segera kesana." Kata Adam marah.
"Satu lagi. Sebisa mungkin jangan sampai Kira tahu. Aku takut kondisinya akan semakin menurun." Pinta Yudha.
"Baiklah. Aku akan mengirim orang untuk menjaga Kira di rumah sakit. Juga anak-anaknya dirumah." Sahut Adam.
"Segera kemari, kak. Aku menunggumu." Kata Yudha sebelum menutup telpon.
Yudha duduk di sofa yang ada diruangannya. Dia berusaha menahan diri untuk tidak menghampiri Kira karena takut tidak akan bisa menutupi hilangnya Shaka.
Hampir 1 jam kemudian Adam dan adik-adiknya juga Hans telah berkumpul di ruang kerja Yudha. Edo tetap di rumah Shaka untuk menjaga adik-adiknya, sedangkan Darius dan Edna menjaga Kira di kamarnya sekaligus untuk mengalihkan perhatian Kira.
Adrian yang sedang berada di luar kota sedang dalam penerbangan kembali ke ibukota. Dia langsung membatalkan semua janjinya saat mendengar adik bungsunya menghilang. Orangtuanya yang telah kembali ke Belgia sengaja tidak diberitahu agar tidak panik, karena Mahesa sendiri sedang sakit sekembalinya dari Indonesia.
"Siapa yang menelponnya..?? Kenapa Shaka terlihat begitu panik..??" Gumam Adam.
Saat ini mereka tengah menonton rekaman CCTV rumah sakit dan lahan parkir tempat Shaka diculik. Wajah mereka menegang melihat Shaka langsung tersungkur tidak sadarkan diri saat mendapatkan pukulan keras di kepalanya. Mereka semakin kawatir melihat darah menutupi sebagian wajah Shaka saat beberapa orang tampak memindahkan laki-laki itu.
"Dimana HP yang ditemukan Simon..??" Tanya Yudhi memecah kesunyian yang tiba-tiba menyergap.
Yudha menyodorkan HP Shaka. Yudhi mengamati HP yang terlihat retak dan mati. Dia mencoba menyalakan HP Shaka dan berhasil. Hans yang tadinya bersemangat terlihat kecewa karena HP itu ternyata menggunakan password. Yudha dan Yudhi saling memandang dan tersenyum penuh arti.
"Mana laptop mu..??" Tanya Yudhi.
"Disana. Pakai saja." Jawab Yudha sambil menunjuk ke arah meja kerjanya.
Yudhi bergegas menghampiri meja kerja Yudha lalu tampak sibuk dengan laptop di hadapannya. Hans tersenyum, dia baru ingat bahwa Yudhi adalah peretas yang hebat.
"Aku berhasil membukanya." Seru Yudhi puas.
"Bisa kamu lacak panggilan terakhirnya..??" Tanya Rendra.
"Aku bisa membuka semua riwayat HP ini." Lanjut Yudhi sombong.
"Kenapa kamu masih banyak bicara..??!! Cepat buka semua riwayat HP ini..!!" Seru Adam tidak sabar.
"Ccckk.. Iyaaa.. iyaaaa.." Sahut Yudhi kesal.
Yudhi membuka riwayat HP Shaka satu persatu. Telpon terakhir yang diterima Shaka berasal dari nomor tak dikenal. Nomor itu sudah tidak aktif saat Rendra mencoba menghubunginya.
Yudhi lalu membuka riwayat pesan. Nomor yang sama mengirimkan foto pada Shaka. Mereka terkejut melihat foto Leo dan Alex, juga ancaman untuk Shaka.
"Siaaall..!! Ternyata mereka sudah menangkap Leo dan Alex terlebih dulu." Seru Hans.
"Pasti ulah Fabian. Shaka dan ketiga temannya telah mengusik Fabian saat menyelidiki tentang kasus kematian Vino." Gumam Adam.
"Hubungi Justin. Katakan padanya untuk lebih waspada." Perintah Adam pada adik-adiknya. Rendra langsung mengambil HP-nya untuk menghubungi Justin tapi tidak mendapatkan jawaban.
"Tidak diangkat." Kata Rendra.
"Terus hubungi dia." Perintah Adam pada Rendra.
"Yudhi, kumpulkan semua bukti penculikan Shaka dan kedua temannya lalu segera serahkan pada yang berwajib. Yudha, ini wilayahmu. Jadi aku serahkan penjagaan Kira dan kedua bayinya padamu. Mintalah bantuan Andrew dan Julian. Sementara itu aku, Rendra, dan Hans akan tetap mencari tahu keberadaan Shaka. Begitu sampai ibukota Adrian juga akan membantuku." Kata Adam membagi tugas lalu beranjak pergi meninggalkan ruang kerja Yudha.
Yudhi menyiapkan bukti agar polisi segera melakukan pencarian. Dia membuka galeri foto. Yudhi tersenyum saat melihat isi galeri itu. Sebagian besar galeri itu diisi oleh foto-foto keluarga Shaka dan Kira. Mereka semua tampak begitu bahagia dan saling menyayangi. Bahkan Kira yang pucat karena sakit terlihat begitu hidup. Hatinya berdenyut nyeri membayangkan kebahagiaan mereka saat ini bisa hancur kalau sampai terjadi sesuatu pada Shaka ataupun Kira.
Terbersit sedikit rasa iri melihat kebahagiaan keluarga kakaknya. Mengingat hubungan dengan istrinya yang tidak begitu harmonis. Yudhi tersenyum masam. Tidak pernah ada pertengkaran diantara dia dan istrinya. Bahkan bisa dibilang nyaris tidak ada interaksi diantara mereka. Dia begitu sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan istrinya yang seorang model juga sibuk dengan kegiatannya. Apalagi setelah resort yang dibuka oleh istrinya semakin sukses. Intensitas pertemuan mereka semakin jarang. Bahkan pernah mereka tidak bertemu ataupun berkomunikasi sama sekali selama tiga bulan. Sedangkan anak-anak mereka akhirnya tumbuh dibawah asuhan baby sitter dan orangtuanya.
Meski awalnya setelah Darius pensiun, dia dan Edna tinggal berdua di rumah utama. Mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama Yudhi dan keluarganya setelah mendengar bahwa anak dan menantu mereka terlalu sibuk sampai mengabaikan cucu-cucu mereka. Tapi setelah mendengar Kira sakit, mereka memutuskan untuk pindah sementara bersama Kira karena Edna ingin merawat putrinya.
"Ada apa..??" Tanya Yudha yang melihat saudara kembarnya termenung.
"Mereka sangat bahagia." Jawab Yudhi sambil menunjukkan isi galeri foto di HP Shaka.
"Mereka saling mencintai dan juga melakukan kerjasama yang solid untuk mempertahankan keluarga mereka." Kata Yudha.
"Kali ini berapa lama kalian tidak bertemu..??" Tanya Yudha. Dia tahu saat ini pasti Yudhi tengah memikirkan hubungannya dengan istrinya.
"Baru sebulan." Jawab Yudhi sambil terkekeh pelan.
"Aku tidak tahu berapa lama lagi pernikahan kami akan bertahan, Yud." Desah Yudhi pasrah.
"Sudah mencoba berbicara pada Rosa..??" Tanya Yudha lagi.
"Bagaimana caranya..?? Kami bahkan tidak pernah bertemu. Kami berdua terlalu sibuk." Jawaban Yudhi membuat Yudha terkekeh.
"Kamu mentertawakan aku..??" Tanya Yudhi tidak suka.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu. Dulu mama beberapa kali bertanya padamu apa kamu serius dengan Rosa, tapi kamu terus merengek meminta mama segera melamar dia. Bahkan sebelum pernikahan kalian Rosa sendiri terus mengingatkanmu konsekuensi kalau menikah dengannya, karena dia tetap ingin berkarir. Dia juga memberimu kesempatan untuk melepasnya kalau kamu berubah pikiran. Tapi kamu dengan lantangnya mengatakan siap dengan semua resikonya. Tapi sekarang lihat dirimu..?? Kamu terus saja meratapi hidupmu." Cibir Yudha.
"Aku tahu. Tapi aku suaminya. Harusnya setelah menikah dia lebih menghargai aku." Sungut Yudhi.
"Apa setiap kali kalian bertemu, Rosa melakukan hal yang membuatmu merasa tidak dihargai..??" Tanya Yudha. Yudhi terdiam sejenak lalu menggelengkan kepala.
"Setiap kali kami bersama Rosa selalu menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan baik." Jawab Yudhi sambil menghembuskan napas pelan.
"Rosa memang salah karena tenggelam dalam kesibukannya. Tapi bukankah dia juga berusaha menjadi istri dan ibu yang baik setiap kali bersama kalian..?? Dan meskipun sangat sibuk, Rosa pernah meninggalkan semuanya saat mendengar Alvian sakit. Lalu bagaimana denganmu..??" Tegur Yudha.
Yudhi tertegun. Saat kejadian itu dia sedang berada diluar pulau. Meski kawatir dengan kondisi putranya, tapi dia lebih memilih untuk segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa cepat pulang. Sedangkan Rosa yang sedang berada di Spanyol langsung meninggalkan semua pekerjaannya dan pulang.
"Aku tahu beban yang kamu pikul sangat berat. Perusahaan keluarga kita benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Meski aku hanya memegang rumah sakit ini dan seluruh cabangnya, tapi seringkali aku merasa tidak sanggup. Aku beruntung karena memiliki istri yang pengertian seperti Amanda. Begitu juga dengan kak Adam. Dia beruntung karena Angel akhirnya memilih pensiun dari dunia modelling. Sama halnya dengan kak Rendra. Dia juga pernah tidak bertemu keluarganya selama setahun saat ditugaskan keluar. Tapi Maudy begitu sabar dan mengalah." Kata Yudha.
"Kalian beruntung memiliki istri yang bukan hanya mencintai kalian, tapi juga mengerti bagaimana keadaan kalian. Sedangkan aku. Istriku bahkan tidak mau mengalah, padahal aku suaminya. Sebagai seorang istri harusnya dia menurutiku." Sungut Yudha.
"Apa kamu tidak melihat pada Shaka dan Kira..??" Tanya Yudha. Yudhi mengerutkan dahinya karena tidak mengerti.
"Dalam hubungan mereka, Shaka yang lebih banyak mengalah dan berkorban. Kamu ingat kan mereka menikah saat usia Shaka masih begitu muda. Banyak hal yang Shaka lepaskan demi mempertahankan rumah tangga mereka. Semua itu dia lakukan tanpa memandang siapa laki-laki dan siapa perempuan. Bukan pula karena siapa yang lebih berhak atas siapa. Juga bukan hanya karena dia mencintai Kira. Tapi karena sejak awal dia sadar, saat dia ingin berkomitmen dengan Kira. Ada banyak hal yang harus dia korbankan dan dia bertekad untuk mempertahankan semuanya. Pernikahan mereka juga ada kalanya menemui kerikil tajam, Yud. Dan aku sempat menjadi saksi lika-liku kehidupan rumah tangga mereka. Bahkan sampai sekarang mereka juga sering bertengkar. Tapi yang aku lihat, masing-masing tahu kapan harus mengalah dan menurunkan egonya. Bahkan Kira. Kamu tahu sendiri bagaimana Kira. Sebagai seorang wanita sejak dulu dia memiliki ego yang tinggi. Itulah sebabnya dia tidak bisa mendapatkan Andrew. Karena egonya sebagai seorang wanita melarang dia untuk mengejar Andrew apalagi menyatakan perasaannya terlebih dulu. Bahkan sampai sekarang pun Kira sangat jarang mengungkapkan perasaannya untuk Shaka, meski jelas-jelas dia sangat mencintai bocah itu. Tapi ada kalanya Kira mengalah dan mengatakan perasaannya pada Shaka. Karena dia juga menyadari bahwa dalam menjaga suatu hubungan, ada kalanya ego dan sifat keras kepala harus disingkirkan jauh-jauh. Mereka tidak pernah membiarkan masalah berlarut-larut. Masalah yang mereka dapat hari ini, sebisa mungkin mereka selesaikan hari itu juga. Bisa dibilang baik Shaka maupun Kira berusaha agar setiap masalah selesai sebelum mereka beranjak tidur. Dan yang lebih penting. Seburuk apapun Shaka dan Kira, masing-masing tidak pernah mengumbar keburukan pasangannya pada orang lain. Keduanya lebih suka membicarakan sendiri diantara mereka. Dan seperti yang selalu kamu lihat. Mereka bahagia. Aku rasa mereka menjadikan setiap permasalahan sebagai sarana untuk saling mengenal dan itu justru semakin mendekatkan mereka. Percaya atau tidak, aku banyak belajar dari mereka." Kata Yudha panjang lebar.
Yudhi tertegun mendengar penuturan Yudha. Dia sendiri tidak menyangka Shaka dan Kira juga memiliki masalah mereka sendiri. Dia selalu mengira rumah tangga Shaka dan Kira selalu baik-baik saja.
"Saranku. Sesekali mengalah pada istrimu. Saat dia jauh dan tenggelam dalam kesibukannya, ambil cuti dan susul dia bersama anak-anak kalian. Buat Rosa menyadari kalau kalian juga menyayangi dia. Bahwa kamu mencintainya dan ingin tetap mempertahankan pernikahan kalian. Aku yakin perlahan Rosa akan luluh. Siapa tahu akhirnya dia akan memilih untuk pensiun seperti halnya Angel." Saran Yudha.
Yudhi terdiam dan merenungkan perkataan saudara kembarnya. Dia menggelengkan kepalanya pelan dan menyadarkan dirinya dari lamunan. Setelah menghela napas panjang, Yudhi kembali sibuk mengumpulkan bukti-bukti yang dibutuhkan. Meski begitu, setiap kata yang dilontarkan Yudha masih terngiang jelas di kepalanya.