
Kira menggelengkan kepalanya pelan. Begitu membuka pintu kamar dilihatnya Dit-dit dan Satria tengah asik main game dengan hebohnya. Dit-dit bertanding sedangkan Satria bertindak sebagai komentator. Sedangkan Shaka sendiri terlihat asik bermain game menggunakan tab di atas ranjang Radit. Dilihat dari kehebohannya, Kira cukup yakin saat ini tim Shaka tengah battle dengan saudara-saudaranya. Meski hanya ada 4 orang yang sedang berada di kamar itu, tapi keriuhannya hampir menyamai 20 orang.
"Pantas saja dari tadi dipanggil tidak ada yang menyahut. Ramainya seperti pertandingan bola antar kampung saja." Dengus Kira kesal.
"Boys..!! Bie.. Dit-dit.. Satria.." Panggil Kira. Tidak ada yang menyahut.
"Bie..!! Dit-dit..!! Satria..!!" Seru Kira kembali memanggil suami dan ketiga anaknya. Masih tidak ada yang menyahut.
Karena kesal Kira berjalan keluar dari kamar Dit-dit dan membanting pintunya dengan keras. hingga membuat Shaka dan ketiga anaknya terlonjak kaget.
"Tadi ada yang datang, Sat..??" Tanya Adit pada Satria.
"Tidak tahu. Sepertinya tidak ada." Jawab Satria.
"Trus kenapa pintunya tiba-tiba nutup gitu..?? Emang tadi pintunya ga kalian tutup..??" Tanya Shaka. Satria menggaruk pelan pipinya lalu mengedikkan bahunya.
"Lupa, pa. Ga inget tadi ditutup apa ga." Jawab Satria lagi.
"Mungkin tadi memang lupa ga ditutup trus ada angin." Kata Radit yang dijawab anggukan oleh ayah dan saudara-saudaranya. Baru akan melanjutkan bermain game, tiba-tiba saja lampu kamar mati.
"Aaaaaargh..!! Kenapa tiba-tiba listrik mati..!!" Teriak mereka berempat hampir bersamaan.
"Kenapa ga langsung nyala, pa..?? Biasanya kalo listrik mati genset langsung otomatis nyala kan." Tanya Radit.
"Biar papa periksa dulu." Kata Shaka sambil beranjak keluar dari kamar anaknya dengan menggunakan senter HP sebagai penerangan.
"Astagfirullah..!!" Teriak Shaka terkejut karena saat membuka pintu Kira sudah ada di depannya dengan wajah pucat yang terkena cahaya senter dari HP-nya.
"Kamu apa-apaan sich, yang..?? Gelap-gelap gini berdiri di depan pintu. Bikin kaget tau ga..??" Kata Shaka sambil mengelus dada karena kaget, sementara ketiga anaknya tengah sibuk mentertawakan dia.
"Kenapa..?? Takut..??" Tanya Kira kesal.
"Kaget, yang. Kaget..!!" Jawab Shaka masih dengan mengelus dadanya.
Tak lama listrik rumah mereka kembali menyala. Shaka terkejut karena melihat wajah Kira yang begitu pucat dengan bibir yang agak kebiruan.
"Sayang, kamu ga enak badan..??" Tanya Shaka sambil memegang bahu Kira karena panik.
Kira hanya diam dan menepis tangan suaminya. Dia melihat ketiga putranya juga tengah menatapnya kawatir.
"Makan malam sudah siap dari tadi. Makanlah dulu." Kata Kira dingin lalu beranjak pergi, berjalan cepat menuju meja makan sambil memegang perut buncitnya.
"Kira.. sayang.. jangan cepat-cepat jalannya." Seru Shaka sambil mengikuti istrinya dari belakang tapi Kira tidak menghiraukannya.
"Kamu kenapa, sayang..??" Tanya Edna saat melihat Kira datang dengan wajah datar.
"Gapapa, ma. Ayo kita mulai makan." Jawab Kira sembari tersenyum pada orangtuanya.
"Edo kemana..??" Tanya Shaka.
Sejenak Kira hanya terdiam seakan enggan berbicara dengan Shaka, lalu menghela napas panjang.
"Mungkin sedang makan malam sama papanya. Sudah seminggu ini dia menginap di apartment Hans." Jawab Kira dingin.
"Kok dia ga bilang..??" Tanya Shaka.
"Beberapa hari ini kamu terlalu sibuk kencan bareng Justin, kak Adam, dan yang lain. Mana sempat kamu ingat soal Edo..??" Jawab Kira dingin.
Shaka menjadi salah tingkah karena baru teringat Edo yang sudah beberapa hari tidak di rumah. Edna dan Darius saling melirik melihat Kira yang begitu dingin pada Shaka hingga membuat suasana menjadi canggung.
Shaka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sekarang dia tahu kalau istrinya tengah marah karena dia terlalu asik bermain game. Seketika itu juga dia sadar Kira yang tadi membanting pintu kamar Dit-dit.
"Maafkan aku. Tolong jangan marah lagi." Kata Shaka sambil memeluk dan mencium pipi Kira yang duduk disampingnya.
"Ayo makan yang banyak. Mama kalian sejak tadi sibuk memasak sebanyak ini dan semua makanan kesukaan kalian." Kata Edna mencairkan suasana.
Kira dan Rania tampak sibuk melayani keluarga mereka, sementara Satria begitu antusias melihat banyaknya makanan yang tersaji di atas meja.
"Kamu masak banyak sekali, sayang. Sedang merayakan sesuatu..??" Tanya Shaka.
Kira langsung menghentikan makannya lalu memandang ke arah Shaka dan keluarganya dengan tatapan yang tidak bisa ditebak.
"Tidak ada." Jawab Kira singkat.
Lalu Kira menggenggam tangan Shaka erat dan tersenyum hangat.
"Makanlah. Aku sengaja memasak semua makanan kesukaan kalian." Kata Kira.
Walaupun merasa lega karena Kira sudah tidak marah. Tapi Shaka juga bertanya-tanya karena sikap Kira yang menurutnya aneh. Kira memang sering memasak kesukaan keluarganya, tapi entah mengapa Shaka merasa saat ini ada yang aneh dengan istrinya.
"Radit.. Adit.. bagaimana persiapan ujian akhir kalian..??" Tanya Kira saat mereka berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam.
"Baik, ma. Ga ada kendala. Kita kan pinter kayak mama." Jawab Adit cengengesan. Radit yang ada di sebelah Adit memukul bahu kembarannya pelan.
"Sombong amat lo. Liat aja ntar. Kali ini ranking gue bakal lebih tinggi dari lo." Kata Radit.
"Ayo taruhan. Kalo ranking gue lebih tinggi, koleksi action figure Ultraman kesayangan lo jadi milik gue." Sahut Adit.
"Okeeeee.. tapi kalo gue yang menang, lo harus kasi koleksi kartu basket punya lo." Tantang Radit.
"Okeee.. deal..!! Sapa takut...??!!" Sahut Adit tidak takut.
"Kalian ini. Ntar abis itu ada yang nangis semaleman gara-gara koleksi kesayangan melayang." Cibir Shaka.
"Jangan lupa untuk persiapan kalian setelah lulus nanti. Adit, kamu sudah bersiap untuk mendaftar ke akademi militer..??" Tanya Kira. Suasana mendadak hening karena pertanyaan Kira.
"Ma.. mama bolehin aku masuk militer..??" Tanya Adit tidak percaya.
"Bukannya itu yang kamu mau..?? Toh papa kalian juga sudah mengijinkan. Radit juga. Kalau kamu benar-benar ingin kuliah kedokteran lalu lanjut ke kepolisian. Kamu harus mulai bersiap dari sekarang. Kuliah kedokteran tidak mudah dan pelatihan di akademi sangat berat. Kalian berdua harus menjaga kesehatan dengan baik " Kata Kira.
"Serius, ma..??" Tanya Adit lagi untuk memastikan.
"Jangan dong, ma..!! Terima kasih, mama." Kata Adit sambil memeluk ibunya.
"Aku juga, ma. Makasih sudah bolehin kita mengejar cita-cita." Radit ikut memeluk Kira.
"Kalian harus janji untuk selalu berusaha menjaga diri baik-baik. Mengerti..!! Mama sangat menyayangi kalian. Ingat itu." Kata Kira sembari menciumi kedua putranya. Radit yang biasanya protes, hanya diam dan membiarkan ibunya melakukan yang dia mau.
"Kalau aku bagaimana, ma..?? Boleh ga nanti kalau sudah besar aku jadi jurnalis atau reporter..??" Tanya Satria tidak mau kalah.
"Itu cita-cita mu, sayang..??" Tanya Kira terkejut.
"Iya, ma. Kayaknya seru..!!" Jawab Satria dengan antusias.
"Boleh. Apapun cita-cita kamu, selama itu baik mama tidak melarang. Tapi kamu harus minta ijin papa. OK..!!" Kata Kira sambil mengelus lembut kepala Satria.
"Paling ntar artikel dia cuman seputar makanan." Cibir Adit.
"Enak aja..!! Ntar artikel aku pasti bakal dapat Pulitzer, kak..!!" Sahut Satria tidak terima.
"Aku nanti kalau sudah besar mau kayak mama aja. Jadi ibu rumah tangga. Setiap hari urus keluarga. Kalo sore mandiin anak sambil nunggu oom Justin pulang. Hihihihihihi..." Kata Rania sambil terkikik senang.
"Oom Justin. Emang ngapain kamu nungguin oom Justin..??" Tanya Shaka keheranan.
"Kan aku sudah pernah bilang, pa. Nanti kalo udah besar aku mau nikah sama oom Justin. Pokoknya cuma mau sama oom Justin. Titik..!!" Tegas Rania.
"Ga ada.. ga ada.. oom Justin itu hampir seumuran papa. Ga boleh..!!" Sungut Shaka kesal.
"Oom Julian sama tante Nancy juga beda jauh. Hampir sama kayak aku sama oom Justin, pa. Jadi ga masalah kan..??" Sahut Rania tidak mau kalah.
"Pokoknya ga boleh..!! Lagian kan oom Justin bisa aja udah nikah kalo kamu udah besar nanti." Kata Shaka tidak mau dibantah.
"Ya papa dong harus mastiin calon mantu biar ga disamber orang." Sungut Rania kesal.
"Enak aja calon mantu. Ga ada..!!" Kata Shaka tetap tidak mau dibantah. Kira tertawa mendengar perdebatan antara suami dan anak perempuannya.
"Rania, nanti kalau kamu sudah besar baru dibahas lagi. Kamu masih terlalu muda untuk membicarakan pernikahan." Kata Kira sambil tertawa pelan.
"Tapi kalo nanti aku sudah besar trus tetep suka dan mau nikah sama oom Justin gimana..??" Tanya Rania.
"Hmmmm.. Oom Justin orangnya baik. Kalau memang ternyata kalian berjodoh, mama bisa apa..?? Tapi nanti kalau sudah besar kamu bicarakan lagi sama papa. Soalnya papa orangnya cemburuan. Ga cuma sama oom Justin. Kamu dan Nara dekat sama lelaki manapun pasti papa bakalan ga terima." Kata Kira sambil memeluk Rania. Dia terkekeh saat melihat wajah Shaka yang ditekuk karena mendengar permintaan anaknya.
"Nara mau jadi princess saja kayak Elsa." Kata Nara polos tanpa mengalihkan pandangan dari buku gambarnya. Tawa Kira semakin keras mendengar keinginan Nara.
"Dengar. Apapun cita-cita kalian. Milikilah cita-cita yang baik dan berguna untuk orang lain. Dan terus perjuangkan sampai akhir. Kelak setelah kalian dewasa dan bertemu orang yang kalian cintai, berjuanglah. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan mama selain melihat anak-anak mama hidup bahagia tanpa penyesalan dan sukses dalam hal kebaikan. Jangan lupa juga untuk berbakti pada orangtua. Ingatlah papa yang bekerja keras banting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan kalian juga selalu menjaga dan menyayangi kalian. Ingatlah, mama akan selalu ada disisi kalian, dimanapun kalian berada." Kata Kira lembut sambil menatap anak-anaknya bergantian. Keheningan kembali menyelimuti mereka.
"Tu denger, pa. Jangan sampai aku nanti nyesel gara-gara ga nikah sama oom Justin." Kata Rania memecah keheningan.
"Ga ada..!! Kalo perlu ntar papa yang cariin jodoh buat kamu." Kata Shaka tidak mau kalah.
"Papa..!! Pokoknya aku maunya sama oom Justin..!!" Seru Rania sambil menghentakkan kakinya.
"Sayang, aku ga setuju kalo Rania nikah sama Justin. Yang bener aja dia nikah sama cowok seumuranku." Kata Shaka tidak terima karena Kira menyetujui permintaan Rania.
"Buat aku yang penting anak-anakku menikah dengan orang yang baik. Kamu sendiri sudah lama kenal Justin dan sangat tahu dia bagaimana." Bela Kira.
"Lagian kan Rania masih kecil. Kamu serius banget sich, Bie." Bisik Kira pelan. Tapi tetap saja suaminya diam dengan wajah ditekuk.
****
Setelah sempat merajuk karena diabaikan suami dan anak-anaknya yang terlalu asik bermain game. Sepanjang sisa malam itu Kira terus bergelayut manja pada Shaka.
"Bie, bagaimana dengan Scarlett Group..?? Apa keadaan mereka membaik..??" Tanya Kira saat beranjak tidur.
"Keadaan mereka masih sulit karena banyak investor yang menarik uang mereka. Salah satu investor terbesar mereka bertahan karena kenal baik dengan kak Adam. Itupun dia mengurangi nominal investasinya. Selebihnya mereka bertahan karena kerjasama denganku." Jawab Shaka.
"Aku lihat Kate sudah berubah. Simon juga pria yang baik. Selama mereka tidak mengacau, tetaplah membantu mereka." Pinta Kira.
"Hmmm.. kita lihat nanti bagaimana ke depannya." Kata Shaka.
"Bagaimana dengan Arian..??" Tanya Kira lagi.
"Kak Adam dan kak Rendra sedang menyelidiki dia. Mencoba mencari celah untuk membebaskan Kate darinya. Tapi kata kak Adam, akhir-akhir ini Arian perlahan mulai meninggalkan bisnis ilegalnya. Apa kamu percaya itu..??" Jawab Shaka.
"Benarkah..?? Atau mungkin dia hanya pura-pura karena tahu kita tengah mengawasinya..??" Sahut Kira ragu.
"Entahlah. Tapi kita harus tetap waspada, apalagi surat ancaman masih saja berdatangan." Kata Shaka. Kira mengeratkan pelukannya.
"Bie, aku mencintaimu." Kata Kira lirih.
"Dan aku sangat mencintaimu." Sahut Shaka lalu mengecup kening Kira.
"Berjanjilah kamu akan menjaga anak-anak dengan baik. Jangan terlalu sering bertengkar dengan mereka." Tegur Kira.
"Mereka yang sering cari gara-gara sama aku." Sahut Shaka tidak terima.
"Kamu juga tidak mau kalah sama anak sendiri." Kata Kira lagi.
"Bie, kalau nanti saat melahirkan kamu terpaksa harus memilih antara aku dan anak-anak kita. Kamu harus memilih mereka. Aku sudah hidup cukup lama dan kamu telah membuatku hidup tanpa ada penyesalan. Beri mereka kesempatan untuk hidup." Pinta Kira.
"Kira, kamu ini bicara apa..??!!" Tanya Shaka tidak terima.
"Hanya untuk berjaga-jaga, Bie. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti." Jawab Kira.
"Tapi aku tidak suka kamu bicara seperti itu. Lagipula dokter Joseph yang dikirim oom Peter dari Jerman mengatakan kalau masih ada kesempatan untukmu sembuh. Jadi berhenti bicara seolah kamu akan meninggal." Kata Shaka tegas.
"Tolong berjanjilah, Bie." Pinta Kira penuh harap.
"Jangan memaksaku memilih, Ra. Aku tidak mau menjanjikan apapun. Tapi aku berjanji untuk membuat keputusan yang menurutku benar dan baik untuk kalian bertiga." Kata Shaka tegas.