
Shaka berjalan ke ruangannya diiringi oleh Fahri, asistennya. Dia melihat Rosi, sekretaris barunya telah duduk manis di meja kerjanya. April telah mengundurkan diri dari perusahaan Shaka karena harus mengikuti suaminya yang dipindahkan ke Medan. Rosi segera berdiri saat melihat Shaka dan Fahri datang. Gadis itu langsung mengikuti masuk ke ruangan Shaka untuk memberitahukan jadwal hari ini.
“Rosi, kamu sudah menyiapkan materi untuk meeting hari ini dengan perwakilan perusahaan Scarlett..??” Tanya Shaka.
“Sudah, pak. Untuk draft-nya sudah saya kirimkan ke pak Fahri kemarin dan setelah mendapat ACC saya kirimkan ke e-mail pak Shaka.” Jawab Rosi.
“Bagaimana menurutmu, Fahri..?? Setelah kamu membaca pengajuan kerjasama mereka, apakah ini akan bagus untuk perusahaan kita..??” Tanya Shaka pada Fahri.
“Menurut saya akan bagus, pak. Scarlett group memiliki jaringan perhotelan yang luas. Mereka tidak hanya memiliki hotel dan resort bintang 5, tapi juga bintang 3 dan 4. Usaha mereka tidak hanya menjangkau kalangan atas, tapi juga kalangan menengah. Kalau kita bisa menjalin kerjasama dengan mereka pasti akan sangat menguntungkan.” Jawab Fahri menjelaskan.
“Siapa yang akan mewakili perusahaan itu..??” Tanya Shaka.
“Wakil CEO sekaligus adik dari CEO yang menjabat sekarang, pak. Namanya Cahterine Herlambang.” Jawab Fahri lagi.
“Jadi mereka memiliki wakil CEO..??” Gumam Shaka.
“Benar, pak.” Sahut Fahri.
“Baiklah. Kita lihat nanti bagaimana hasil pertemuan kita dengan mereka.” Kata Shaka.
Jam 09.45 perwakilan dari perusahaan Scarlett sudah datang karena meeting akan diadakan pukul 10 pagi. Wakil CEO yang datang untuk mewakili perusahaan mereka adalah seorang gadis muda dan cantik. Menurut keterangan Fahri, usia gadis itu 26 tahun dan baru kembali setelah menyelesaikan pendidikan S2 di Italia.
“Shaka.” Kata Shaka tegas sambil mengulurkan tangan untuk mengenalkan diri.
“Catherine. Anda bisa memanggil saya Kate.” Sahut Kate sambil tersenyum manis.
“Dia tampan sekaliiiiiii..!! Dia juga terlihat gagah dan berkharisma. Untung saja tadi kakak memaksaku untuk datang di pertemuan ini.” Gumam Kate dalam hati.
Mata Kate berbinar saat melihat Shaka. Dia langsung jatuh cinta pada pengusaha muda yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan keluarganya.
“Eeeehm..” Dehem asisten Kate, menyadarkan gadis itu yang seolah enggan melepaskan genggaman tangannya dari Shaka.
Kate yang tersadar bukannya melepas genggamannya, tapi malah tersenyum menggoda pada Shaka. Shaka yang melihat itu hanya menatap dingin ke arah Kate dengan dahi berkerut.
“Maaf.” Kata Kate canggung sambil melepaskan genggaman tangan mereka saat dilihatnya Shaka justru tampak tidak suka.
“Bisa kita mulai meeting kita sekarang..??” Tanya Shaka.
“Tentu.” Sahut Kate masih dengan senyum manisnya.
Simon, asisten Kate yang ditunjuk langsung oleh kakak gadis itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan atasannya. Meeting hari itu berjalan lancar. Masing-masing pihak merasa puas dengan presentasi yang dilakukan oleh kolega mereka. Tapi di sepanjang pertemuan itu pandangan Kate tidak pernah lepas dari Shaka. Bukannya fokus membahas kerjasama perusahaan mereka, dia justru terus sibuk memikirkan bagaimana caranya memikat Shaka.
“Shaka..!!” Seru Kate memanggil Shaka yang berjalan keluar dari ruangan meeting. Para peserta meeting terutama Shaka terkejut saat mendengar Kate memanggilnya tanpa formalitas sama sekali.
“Ada apa, nona Kate..??” Tanya Shaka dengan raut wajah dingin.
“Please, just call me Kate. Rasanya aneh denger kamu panggil nona.” Sahut Kate tanpa malu.
“Ada apa, nona Kate..??” Shaka mengulang pertanyaannya tanpa menghiraukan permintaan Kate.
“Bagaimana kalau kita makan siang bersama. Bukankah akan lebih baik kalau kita semua mengakrabkan diri sebelum menjalin kerjasama..??” Ajak Kate.
Shaka mengangkat sebelah alisnya mendengar ajakan Kate sedangkan Fahri dan Rosi saling memandang. Simon yang mendampingi Kate hanya bisa mendengus kesal karena malu dengan kelakuan atasannya.
“Maaf, saya sangat sibuk. Masih ada banyak pekerjaan yang menunggu saya.” Jawab Shaka dingin.
“Tapi meski sangat sibuk kamu harusnya tetap menyempatkan makan. Bagaimana kalau kamu sakit..??” Kata Kate sambil meraih lengan Shaka. Simon berusaha melepaskan tangan Kate saat dilihatnya Shaka merasa terganggu.
“Nona Kate, seperti yang anda dengar pak Shaka sangat sibuk. Lebih baik kita tidak mengganggu beliau.” Kata Simon.
“Maaf, nona Kate. Saya sudah membawa bekal untuk makan siang saya.” Kata Shaka.
“Bekal..??” Gumam Kate tidak percaya.
“Benar. Sejak saya menikah, saya selalu makan siang dengan bekal yang dibawakan atau diantar oleh istri saya.” Sahut Shaka.
“Istri..?? Kamu.. sudah menikah..??” Tanya Kate terkejut.
“Ya. Dan kami memiliki 6 anak.” Jawab Shaka bangga.
“Dia sudah punya 6 anak..??!! Dia pasti sangat hebat di atas ranjang..!!” Gumam Kate dalam hati yang justru sibuk dengan pikiran kotornya.
“Ya, saya sudah mendengar itu. Saya benar-benar salut karena anda berani menikah diusia yang masih sangat muda.” Sahut Simon dengan rasa kagum.
“Terima kasih. Saya sangat mencintai istri dan anak-anak saya. Dan sejak awal pernikahan kami selalu bahagia.” Sahut Shaka sambil tersenyum hangat pada Simon.
“Aku harus bisa memilikinya. Aku tidak peduli dengan istri dan anak-anaknya. Dia pasti akan meninggalkan mereka saat kami bisa saling memuaskan.” Pekik Kate dalam hati dengan pikirannya yang semakin buruk.
“Kalau begitu kami permisi dulu, pak Shaka. Semoga kerjasama yang akan kita jalin berjalan lancar.” Kata Simon tulus.
“Tentu. Saya harap kita bisa bekerja dengan profesional.” Sahut Shaka sambil menyambut uluran tangan Simon.
****
Di dalam mobil, Kate menatap kesal ke arah Simon yang sedari tadi terus menggagalkan rencananya. Simon adalah anak dari asisten pribadi ayahnya yang sekarang menjadi asisten untuk Herman, kakaknya. Herman menunjuk Simon secara langsung karena telah melihat bagaimana prestasi pemuda itu selama pendidikan dan juga di pekerjaan sebelumnya. Masalahnya sejak menjadi asistennya, Simon selalu membuatnya terus bekerja dan bahkan semalam dia tidak segan menyeret Kate keluar dari klub saat bersama teman-temannya karena pagi ini ada meeting dengan Raven Adventure, perusahaan milik Shaka.
“Simon, kamu cari tahu semua informasi mengenai Shaka dan berikan hasilnya padaku secepatnya. Sebelum meeting kita berikutnya dengan mereka, kamu harus memberikan informasi itu.” Perintah Kate. Simon hanya tersenyum sinis mendengar perintah itu.
“Aku tidak mau.” Jawab Simon mencibir ke arah Kate.
“Kamu berani membantah perintahku..??!!” Seru Kate.
“Kenapa tidak..?? Kamu meminta informasi itu karena ingin mengganggu rumah tangga Shaka kan..?? Aku tidak akan melakukan perintah diluar masalah pekerjaan.” Sahut Simon.
“Baiklah. Aku suruh orang lain mencari tahu.” Kata Kate ketus.
“Jangan ganggu mereka, Kate. Aku tidak tahu secara lengkap bagaimana kehidupan pribadi Shaka Rahardian dan keluarganya. Tapi semua orang yang mengenalnya tahu kalau mereka bahagia. Meski usianya 10 tahun lebih tua dari Shaka, tapi dia sangat mencintai istrinya. Dan mereka bahagia.” Sahut Simon memperingatkan Kate.
“Ciiiih.. aku rasa tidak akan sulit untuk mendapatkan Shaka. Wanita tua itu pasti sekarang penampilannya sudah peyot.” Cibir Kate.
“Jaga bicaramu Kate. Kamu tidak tahu sedang berurusan dengan siapa.” Tegur Simon.
“Aku tidak peduli. Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Dan sekarang aku menginginkan Shaka.” Kata Kate dingin.
Simon mengetatkan rahangnya menahan kesal karena sifat egois Kate. Dalam pikirannya Simon berusaha mencari jalan untuk menghentikan Kate menghancurkan keluarga Shaka. Selain karena dapat mengganggu kerjasama perusahaan mereka, Simon juga tidak mau kalau sampai rumah tangga orang lain rusak karena keegoisan Kate. Apalagi dia pernah menyaksikan bagaimana rumah tangga pamannya hancur karena seorang perempuan penggoda. Dan sampai sekarang pamannya hanya bisa menjalani hidupnya seorang diri dengan penyesalan yang begitu besar.
************************************************
Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.
Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^
Terima kasih..!!
Hug,
Cheerieza