
Shaka dan Justin duduk dengan tenang dalam mobil. Mereka terus mengawasi salah satu bangunan yang ada di pinggir kota. Meski banyak bangunan lain di sekitarnya dan tampak banyak orang berlalu-lalang, terlihat sekali setiap orang enggan untuk berurusan dengan bangunan itu, atau lebih tepatnya dengan siapapun manusia di dalam bangunan itu.
Tak lama tampak Alex dan Leo berlari kecil menghampiri mobil Shaka. Kedua temannya itu memang turun untuk mencari informasi dari warga sekitar mengenai Doni yang tinggal di gedung yang tengah diawasi oleh Shaka dan Justin.
"Gimana..??" Tanya Shaka begitu Alex dan Leo duduk dalam mobil.
"Sial..!! Susah banget cari info tentang Doni. Sepertinya warga sekitar sini pada takut semua sama tu orang. Gue rasa kita ga akan bisa langsung datang dan bicara baik-baik sama Doni." Sungut Alex.
"Jadi kalian tidak dapat informasi tentang Doni..??" Tanya Shaka lagi.
"Lo lupa kalo gue jago interogasi orang, Ka..??" Jawab Leo sambil nyengir dan menepuk pelan bahu Shaka.
"Kali ini lo apain anak orang..??!!" Seru Shaka.
Shaka sangat tahu Leo tidak segan menyiksa orang demi mendapatkan apa yang dia mau. Dulu saat hidup Shaka masih dipenuhi kekerasan, bisa dibilang Leo yang paling keji diantara mereka bertiga. Tapi laki-laki itu selalu menurut dan menahan diri pada kedua temannya.
"Cuman gue bikin keseleo doang." Sahut Leo santai.
"Tadi gue sama Alex sengaja berpencar biar lebih cepat cari info. Waktu gue lagi tanya ke salah satu warga, ternyata ada salah satu orangnya Doni ada disana. Lagaknya sich dia mau nakutin sama kasi peringatan ke gue. Tapi dia lagi apes karena salah pilih target." Lanjut Leo sambil terkekeh.
"Trus..??" Tanya Alex penasaran.
"Ya gue hajarlah. Lagaknya aja kayak preman, tapi baru dibikin keseleo aja udah merengek minta ampun. Gimana kalo tadi gue jadi patahin tangan dia. Bisa-bisa tu orang langsung pingsan." Jawab Leo.
"Gue ga nanya lo apain dia. Tapi gue nanya lo dapat informasi apa, oncoooomm..!!" Seru Alex sambil mendorong kepala Leo saking kesalnya.
"Santai, bro.. santai.. makanya lo kalo omong yang jelas biar gue tahu maksud lo." Protes Leo.
"Emang dasarnya lo aja yang lemot..!!" Seru Alex lagi.
"Hei..!! Kalian mau sampai kapan ribut..!!" Seru Shaka sambil menatap tajam kedua temannya. Alex dan Leo langsung terdiam karena tidak mau mencari masalah dengan Shaka.
"Sori." Sahut Leo dan Alex hampir bersamaan.
"Gedung itu beneran punya Doni. Disini dia bandar judi dan rentenir. Lantai 1 dipake buat tempat judi, lantai 2 buat kantor dia sekaligus tempat transaksi hutang piutang, lantai 3 buat rumahnya dia. Semua preman di daerah sini orangnya Doni. Dia juga memaksa warga sini untuk berhutang ke dia. Kalau ada warga yang ketahuan ambil pinjaman ke pihak lain meski itu bank, Doni bakal kasi pelajaran ke orang itu." Jelas Leo panjang lebar.
"Bagaimana dengan polisi..??" Tanya Justin yang sejak tadi menyimak tanpa melepaskan pandangannya dari gedung milik Doni.
"Polisi sudah lama mengincar Doni dan anak buahnya tapi tidak pernah menemukan bukti yang memberatkan. Setiap kali terjadi tindak kekerasan, anak buah Doni bakal maju untuk mengakui semua kesalahan. Ditambah warga sini yang terlalu takut untuk bersaksi, membuat Doni semakin sulit untuk ditangkap." Jawab Leo lagi.
"Berapa orang yang ada di dalam..??" Tanya Shaka.
"Orang-orang disana bergantian jaga selama 24 jam dan dibagi 3 shift. Setiap shift-nya 9 jam dan masing-masing dijaga sekitar 20 orang. Kata tu orang kalo mau serbu jangan pas ganti shift soalnya waktu itu jumlah penjaga jadi 2 kali lipat. Penjaga di shift berikutnya mulai datang 1 jam sebelum shift berakhir." Jawab Leo.
Alex, Leo, dan Shaka serentak menoleh ke arah Leo dengan wajah kesal.
"Apaan..??" Tanya Leo kebingungan.
"Lo ngomong kayak kita mau serbu kesana aja..!!" Seru Alex.
"Emang kita mau serbu ke sana kan..??" Sahut Leo.
"Yang ada kita bukannya bantu Shaka selesaikan masalah, tapi malah nambah masalah baru." Seru Alex kesal.
"Lo dapet info kegiatan si Doni ga..??" Tanya Shaka mengabaikan keributan kedua temannya.
"Setiap jam 6 Doni dateng ke salah satu rumah yang ada ga jauh dari sini. Disana dia ambil setoran dari rombongan pengemis yang dia sebar di seluruh kota. Kata tu orang penjagaan disana ga banyak cuma sekitar 10 orang. Soalnya ga banyak orang tau kegiatan Doni di rumah itu." Jawab Leo.
"Kalo gitu kita tunggu sampai dia pergi ke rumah itu. Begitu dia selesai urusan sama orang-orangnya baru kita serbu dan ciduk Doni." Kata Shaka.
"Leo, kamu bilang Doni pergi setiap jam 6 kan..?? Kenapa jam segini dia sudah keluar..??" Tanya Justin sambil menunjuk Doni yang dari kejauhan tampak memasuki mobil.
"Baru jam setengah 5. Pasti ada masalah di rumah itu. Kita siap-siap, abis ini kita ikuti dia." Perintah Shaka.
Keempat sekawan itu tampak terdiam dan tetap memantau dari jauh. Mereka terus mengawasi saat mobil Doni keluar dari halaman.
Shaka mulai menjalankan mobilnya saat mobil Doni terlihat mulai menjauh. Dia sengaja menjaga jarak cukup jauh agar Doni tidak menyadari kalau tengah diikuti. Saat mobil Doni berhenti sejenak di pom bensin, Shaka sengaja tidak berhenti dan terus melajukan mobilnya. Dia berbelok dan berhenti di salah satu sudut jalan yang berjarak sekitar 300 meter dari pom bensin tersebut.
Setelah beberapa lama, tampak mobil Doni kembali berjalan dan melewatinya. Shaka mengikuti mobil itu dari jarak aman. Saat mobil Doni memasuki sebuah perkebunan kecil, Shaka sengaja tidak memasuki kebun itu dan berhenti tidak jauh dari sana.
Shaka dan ketiga temannya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Mereka terus memasuki perkebunan tanpa menurunkan kewaspadaan. Keempat pria itu berhenti tidak jauh dari sebuah rumah kecil. Terdengar keributan dari dalam rumah itu.
"Sudah gue duga tadi ada yang ikuti gue di jalan." Kata Doni sambil berjalan pelan dan menyeringai ke arah Shaka.
Dibelakang Shaka, tampak beberapa anak buah Doni sudah mengepungnya.
"Jadi lo sengaja pancing gue kesini..??" Tanya Shaka dingin dan terlihat tenang.
"Gue cuma mau tahu, siapa orang yang sengaja mau cari masalah sama gue. Dan ternyata lo orangnya. Shaka." Jawab Doni. Shaka terkejut mengetahui Doni masih mengingat dia.
"Bagaimana kabar lo sama dua temen lo itu..?? Gue denger lo udah tobat gara-gara cewek." Tanya Doni dengan senyum meremehkan.
"Gue ga akan basa-basi. Gue datang buat nanyain kejadian 16 tahun lalu. Tentang kematian Vino. Lo pasti tahu siapa dia." Kata Shaka langsung pada intinya.
"Apa untungnya buat gue kalo kasi tau lo..?? Yang ada besok gue tinggal nama." Sahut Doni dengan ekspresi wajah yang menurut Shaka sangat memuakkan.
"Sama saja. Kalo lo ga ngomong, lo juga bakal tinggal nama di tangan gue." Cibir Shaka.
"Dari keributan yang gue denger dari luar, gue yakin lo ga datang sendiri. Tapi lo salah kalo lo pikir gue takut. Seperti yang lo lihat, disini gue juga ga sendiri." Sahut Doni percaya diri bertepatan dengan Justin, Alex, dan Leo yang masuk ke dalam rumah.
"Ternyata lo masih jalan sama mereka." Kata Doni sambil menatap pada Alex dan Leo.
"Dan lihat ini..!! Seorang bintang kenamaan sampe menyempatkan diri berkunjung ke gubug reyot gue." Lanjut Doni saat melihat Justin ada diantara mereka.
"Ga usah banyak b**ot..!! Mendingan sekarang lo ngomong yang sebenarnya soal kematian Vino..!!" Raung Leo tidak sabar.
"Gue masih mau hidup kalo kalian mau tahu." Kata Doni sambil mengedikkan bahunya.
"Shaka..!!" Panggil Alex saat melihat Shaka berjalan mendekati Doni dengan raut wajah dingin.
Shaka berhenti, pendengarannya terusik saat mendengar suara rintihan. Shaka menoleh ke asal suara. Meski tidak jelas, dia melihat seorang anak kecil tengah meringkuk di salah satu sudut gelap ruangan.
"Orangtua dia ga bisa bayar hutang ke gue. Bokapnya mati kecelakaan dan ibunya yang penyakitan juga mati minggu lalu. Dia gue suruh kerja buat lunasi semua hutang orangtuanya. Gue cuma suruh dia ngemis sama nyopet. Tapi bocah keras kepala ini tetap tidak mau. Dia memilih gue gebukin sampe ma**us." Kata Doni tanpa perasaan.
"Biadab." Desis Shaka sambil menatap Doni dengan tatapan membunuh.
"Business is business, bro. Gue ga pinjemin duit cuma-cuma." Sahut Doni sinis.
"Per**tan dengan bisnis lo. Buat gue, lo itu ga lebih dari laki-laki pengecut." Geram Shaka. Dia kembali berjalan mendekati Doni.
"Kalian urus mereka." Sahut Shaka dingin tanpa melepas pandangan dari Doni.
"Lo mau apa..?? Haaaah..!!" Seru Doni mulai ketakutan. Meski sudah sangat lama, dia masih ingat bagaimana reputasi Shaka dulu.
Dibelakang Shaka sudah terjadi keributan yang berasal dari ketiga teman Shaka dan anak buah Doni. Sedang Shaka sendiri dihadang 3 orang saat mendekati Doni.
Shaka dan teman-temannya berkelahi dengan sengit melawan anak buah Doni yang jumlahnya paling tidak dua kali lipat dari jumlah mereka. Pengalaman berkelahi di jalanan dan tempaan ilmu bela diri sejak kecil membuat Shaka dan teman-temannya melumpuhkan anak buah Doni dengan mudah.
Justin bergegas menghampiri anak yang ternyata tangannya terikat. Setelah melepas Ikatan tangannya, Justin menggendong anak itu yang mulai kehilangan kesadarannya dan membawanya ke tempat yang lebih terang.
Keempat pria itu terkejut melihat bocah laki-laki seusia Satria babak belur di sekujur tubuhnya. Wajahnya bahkan nyaris tidak bisa dikenali karena lebam dan bengkak.
Emosi Shaka tersulut melihat keadaan anak itu. Dia merenggut tubuh Doni dan mulai menghajarnya habis-habisan. Alex dan Leo yang melihat Doni mulai kepayahan pun bergegas menghentikan Shaka.
"Shaka, stop..!! Kalo Doni sampe mati lo ga cuma kehilangan petunjuk tentang kematian Vino. Tapi lo juga bakal dapat masalah besar..!!" Seru Alex berusaha menyadarkan Shaka yang tengah diselimuti amarah.
"Ba**ngan..!! Bre**sek..!! Tega-teganya lo sama anak sekecil dia..!!" Kata Shaka sambil mencengkeram erat leher Doni, lalu menghempaskannya keras sampai jatuh ke lantai.
"Shaka, anak ini harus segera dibawa ke rumah sakit." Kata Justin.
"Leo.. Alex.. kalian bawa Doni pake mobil dia. Gue sama Justin bawa anak ini ke rumah sakit." Perintah Shaka.
"Okeee.. lo langsung aja ke gudang." Kata Leo yang dijawab anggukan oleh Shaka.
"Hati-hati." Kata Shaka.
"Oke, boss..!!" Sahut Alex.
Mereka berempat pun berpencar sesuai perintah Shaka. Meski mereka berempat tidak menyebut adanya kepemimpinan, tapi tanpa diminta ketiga teman Shaka telah menganggap dia sebagai pemimpin mereka. Justin yang paling muda dan selalu bersikap tenang lebih berperan sebagai penasihat bagi ketiga temannya. Sedangkan Alex dan Leo, sifat mereka yang gampang meledak membuat mereka lebih berperan sebagai eksekutor untuk Shaka. Meski kedua orang itu selalu terlihat beringas saat beraksi, tapi tidak ada satupun dari mereka yang berani mengusik amarah Shaka.
Shaka dan Justin bergegas membawa anak yang mereka temukan ke rumah sakit terdekat, sedangkan Alex dan Leo membawa Doni ke tempat yang mereka sebut gudang.