(Family) Bound

(Family) Bound
Kebenaran Yang Menyakitkan



"Eeeehm.." Suara deheman Ratna menghentikan pembicaraan mereka.


"Ibu." Panggil Luna sambil memeluk Ratna yang sudah duduk di sampingnya.


Ratna terus mengelus punggung Luna untuk membuat putrinya merasa nyaman.


"Ed, boleh ibu bicara sebentar dengan Luna..??" Pinta Ratna. Edo melihat kearah Luna dan tampak ragu.


"Ibu akan menjaga Luna, Ed. Kamu tidak perlu kawatir." Kata Ratna yang bisa membaca pikiran Edo.


"Baiklah, bu. Tolong titip Luna ya, bu." Sahut Edo sebelum pergi meninggalkan kedua wanita beda generasi itu.


"Ibu mendengar semuanya..??" Tanya Luna. Ratna tersenyum dan mengangguk.


"Ibu pasti mengerti kan alasanku menolak lamaran Edo." Tanya Luna dengan mata berkaca-kaca.


"Ibu bisa melihat Edo sangat mencintaimu, nak. Saat Edo dan keluarganya menyelamatkan kamu, dia berlari dengan membawa tubuhmu menuju IGD. Edo terus berteriak seperti orang kesetanan memanggil siapapun agar segera menolongmu. Dan sampai detik ini Edo tidak pernah sekalipun meninggalkan kamu. Kalian saling mencintai dan kalian juga berhak untuk bahagia. Kamu harus bahagia, nak." Kata Ratna sambil mengelus kepala putrinya yang berada dalam pelukannya.


"Ibu tidak akan mengerti perasaanku. Aku merasa tidak pantas untuk dia, bu. Aku merasa kotor dan hina. Laki-laki itu memang tidak sampai benar-benar memp**kosa aku. Tapi dia telah menyentuh seluruh tubuhku. Dan ingatan tentang kejadian itu benar-benar menyiksaku. Rasanya aku hampir gila dan selalu ketakutan." Kata Luna mulai terisak.


"Ibu mengerti perasaanmu, nak." Kata Ratna lirih.


"Tidak..!! Ibu tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaanku..??!!" Seru Luna sambil melepaskan pelukannya.


Ratna terlihat tetap tenang dan tersenyum hangat pada Luna.Tidak ada sedikitpun emosi di wajah teduhnya. Perlahan Ratna membuka kancing kemejanya satu persatu, membuat Luna terkejut dengan tindakan ibunya.


"Ibu..!! Apa yang ibu lakukan..??!! Hentikan, bu." Kata Luna sambil berusaha menghentikan Ratna.


"Ibu akan menunjukkan sesuatu untukmu. Sudah waktunya kamu mengetahui kebenarannya." Kata Ratna sambil tersenyum dan mengelus lembut wajah Luna.


"Lihat ini." Kata Ratna sambil menyingkap turun sebagian kemejanya.


Mata Luna terbelalak karena terkejut. Meski tidak terlihat seluruhnya, tapi dia bisa melihat banyak bekas luka di punggung dan dada Ratna.


"Ii.. Ibuu.. apa ini..?? Bagaimana bisa terjadi .?? Siapa yang melakukan ini kepada ibu..??" Cecar Luna dengan berurai air mata.


"Ayahmu." Jawab Ratna singkat.


"Aa.. ayah..??" Kata Luna terkejut. Ratna mengangguk.


"Seperti yang kamu tahu. Aku dan ayahmu menikah karena perjodohan. Sebenarnya perjodohan itu dipaksakan oleh keluarga Arseno, ayahmu." Kata Ratna memulai ceritanya.


"Ayahmu marah karena ibu tetap menolaknya dan orangtua ibu juga mendukung hubunganku dengan Ardi. Mereka tidak peduli meski Ardi hanya orang biasa sedangkan ayahmu orang kaya dan terpandang. Seno terus mengusik keluarga ibu tapi kami tetap bertahan. Hingga puncaknya saat dia memfitnah kakekmu hingga dijebloskan ke dalam penjara. Seno baru mengeluarkan kakekmu setelah ibu memutuskan hubungan dengan Ardi dan menikahinya." Kata Ratna dengan tatapan menerawang.


"Saat malam pertama kami ayahmu marah karena mengetahui bahwa ibu sudah tidak suci lagi. Dia menyadari kalau ibu telah menyerahkan hati dan tubuh ibu sepenuhnya pada mas Ardi. Sejak itu siksaan dimulai. Setiap kali berhubungan suami istri Seno akan menyiksaku. Dia selalu memper**saku meski sebenarnya dia bisa memintanya secara baik-baik. Ayahmu juga selalu memaki ibu dengan kata-kata kotor saat menggauliku. Kamar tidur kami yang kedap suara membuat tidak ada satu orang pun mendengar jerit kesakitan ibu. Selama pernikahan kami Seno selalu curiga bahwa ibu masih menjalin hubungan dengan mas Ardi di belakangnya. Padahal setelah ibu menikah, mas Ardi memilih pekerjaan yang membuatnya jauh dari kota tempat tinggal kami. Dan meskipun ibu tidak mencintai ayahmu, sekalipun ibu tidak terpikir untuk mengkhianatinya. Ayahmu terus menyiksa ibu baik secara fisik maupun psikis. Tapi setelah sadar dia akan merengek untuk meminta ibu memaafkan dia. Saat usiamu dua tahun dia hampir menyakitimu. Saat itulah ibu meminta cerai, tapi dia menolak karena masih mencintaiku. Dia hampir membunuhmu saat ibu bersikeras meminta cerai. Akhirnya ibu mengalah demi menyelamatkan kamu. Sejak itu ibu sadar. Seno yang melihat ibu sangat menyayangimu, menjadikanmu senjata untuk menahan ibu. Karena takut dia akan menyakitimu demi melihat ibu tersiksa, akhirnya ibu memilih menjauh dan mengabaikan kamu. Maafkan ibu, nak. Maaf karena membuatmu merasa tidak dicintai." Kata Ratna mulai terisak.


"Ibu.. ibu maafkan aku, bu. Maafkan aku yang selama ini terus berpikir buruk tentang ibu." Kata Luna sambil menangis dan memeluk ibunya.


"Karena itukah ibu akhirnya memutuskan untuk pergi..??" Tanya Luna yang dijawab gelengan oleh Ratna.


"Saat usiamu tujuh tahun ibu kembali bertemu dengan mas Ardi. Kami tidak sengaja bertemu saat ibu tengah berbelanja kebutuhan rumah tangga. Sejak itu kami kembali menjalin komunikasi. Tapi demi Allah, nak. Meskipun ibu masih mencintai mas Ardi, ibu tetap setia pada ayahmu dan mas Ardi juga menjaga batasannya." Kata Ratna berusaha meyakinkan Luna.


"Farida yang saat itu tengah mengejar Seno, menggunakan hal itu untuk menghasut ayahmu. Suatu hari ayahmu murka saat menerima foto-foto pertemuan ibu dengan mas Ardi. Dia langsung meninggalkan pekerjaannya dan pulang ke rumah. Tanpa bertanya atau mengatakan apapun, Seno langsung menyeret ibu ke dalam kamar kami. Dia seperti orang kesetanan terus memukuli dan mencambuk tubuh ibu, lalu memp**kosa ibu dengan brutal. Ayahmu tidak mempedulikan tubuh ibu yang penuh luka. Dia bahkan tidak peduli keadaan ibu yang tengah mengandung adikmu. Saat itu ayahmu langsung meragukan anak dalam kandunganku adalah darah dagingnya." Kata Ratna mulai terisak.


"Setelah ayahmu selesai ibu pikir itu adalah akhir siksaan untuk hari itu. Tapi ternyata ibu salah. Ayahmu membuka pintu kamar dan meminta dua teman baiknya masuk. Dia mengatakan pada dua orang itu bahwa mereka bisa menggunakan tubuh ibu sesuka mereka. Ayahmu duduk di lantai kamar itu terus menatap kami dengan tatapan mengerikan. Kedua orang itu mengabaikan teriakan ibu yang memohon mereka untuk berhenti. Ayahmu juga menulikan telinganya saat ibu terus menjerit memanggil namanya, berharap dia akan menolong ibu. Dia ada disana, melihat kedua orang itu merenggut harga diri ibu. Kadang Seno tertawa, kadang juga menangis. Ayahmu tertawa melihat wanita yang dia benci tersiksa. Tapi dia juga menangis melihat wanita yang dia cintai terluka. Seolah rasa cinta dan bencinya pada ibu terus bergantian mengambil alih hatinya. Entah berapa lama siksaan itu terjadi karena ibu akhirnya tidak sadarkan diri. Saat terbangun ibu sudah ada di rumah sakit dan belakangan ibu baru tahu kalau ternyata ibu koma selama tiga minggu. Karena kejadian itu ibu juga kehilangan adikmu yang ada dalam kandunganku." Kata Ratna dengan isakan yang semakin keras.


"Saat ibu sadar hal pertama yang ibu lihat adalah ayahmu yang duduk di samping ranjang ibu sambil menggenggam erat tanganku, belum menyadari kalau aku sudah sadar. Seno menangis terisak memintaku untuk membuka mata dan terus meminta maaf. Ibu yang teringat kejadian itu langsung berteriak histeris saat melihat ayahmu. Ibu benar-benar ketakutan. Ayahmu terus menangis dan mencoba mendekat untuk menenangkan ibu. Tapi justru membuat ibu semakin ketakutan dan terus berteriak histeris. Seno begitu egois. Dia tidak peduli meski dokter mengatakan bahwa keberadaannya membuat kondisi ibu semakin memburuk. Ayahmu tidak peduli keadaan ibu yang masih mengalami trauma berat karena kejadian itu. Dia terus berada di sisi ibu, berharap ibu memaafkan dia dan tidak meninggalkannya. Mengabaikan jeritan ketakutan ibu karena keberadaannya." Kata Ratna sambil menghapus airmatanya.


"Orangtua Seno yang akhirnya mengetahui perbuatan anak mereka kepada ibu selama ini merasa geram. Mereka membantu kakek dan mas Ardi untuk membebaskan ibu dari ayahmu. Tapi memohon agar masalah itu tidak dibawa ke kepolisian karena bagaimanapun Seno adalah anak mereka." Lanjut Ratna.


"Setelah berhasil membawa ibu pergi dari ayahmu, mereka melakukan apapun untuk membantu perceraian kami. Ayah dan ibu akhirnya bercerai, tapi ibu gagal mendapatkan hak asuhmu karena ayahmu menggunakan kondisi psikis ibu yang tidak stabil sebagai senjata untuk mendapatkanmu. Seno berharap ibu akan kembali padanya kalau dia mendapatkan hak asuhmu. Tapi baik orangtua ibu, orangtua ayahmu, dan oom Ardi tidak membiarkan itu terjadi. Ibu selalu kembali untuk mencarimu. Mengabaikan rasa takut yang terus menghantuiku setiap kali berada di dekat ayahmu. Tapi ayahmu tidak pernah mengijinkan kita bertemu. Kalau ibu ingin bertemu denganmu, ibu harus mau kembali padanya. Ibu yang putus asa akhirnya setuju untuk kembali pada ayahmu. Tapi perceraian kami terjadi dengan talak tiga. Artinya ibu tidak akan bisa kembali pada ayahmu kecuali kami berdua menikah dan bercerai dengan pasangan kami masing-masing. Dengan tidak tahu malunya ibu memohon pada mas Ardi untuk menikahi ibu. Mas Ardi menolak karena tahu, meski ibu masih mencintainya tapi ibu melakukan itu agar bisa kembali pada Seno untuk bertemu denganmu. Dia takut ayahmu akan kembali menyiksa ibu. Sedangkan ayahmu, dia menikah dengan Farida yang tentunya bahagia karena akhirnya mendapatkan pria yang dia cintai. Mengabaikan kenyataan bahwa Seno menikahinya agar bisa kembali bersama ibu." Ratna terus berbicara dengan tatapan menerawang.


"Setelah yakin ibu tidak akan menggunakan pernikahan untuk kembali pada Seno, mas Ardi menikahi ibu. Baik mas Ardi maupun Farida sama-sama kukuh dengan keputusan mereka untuk tidak melepaskan orang yang mereka cintai. Bedanya, mas Ardi melimpahi hidup ibu dengan cinta dan kasih sayang. Melakukan apapun demi kebaikan dan kebahagiaan ibu. Mas Ardi terus mendampingi ibu dalam setiap sesi terapi. Dia bahkan mengajak ibu bergabung dalam komunitas dimana anggotanya adalah para wanita korban per**saan, untuk menyadarkan bahwa ibu tidak sendiri. Mas Ardi menerima ibu apa adanya. Terus memberi semangat hidup pada ibu, Meyakinkan bahwa ibu berharga dan wanita yang pantas untuk mendampingi dia sepanjang sisa hidupnya." Kata Ratna sambil tersenyum tipis.


"Sedangkan Farida, dia tersiksa karena Seno tidak pernah menganggap dia sebagai istri. Bahkan saat Farida mengandung anak ayahmu, Seno memaksa Farida untuk menggugurkan kandungannya. Di mata ayahmu istrinya adalah ibu, dan hanya aku yang boleh menjadi ibu dari anak-anaknya. Karena itulah Farida sangat membencimu dan ayahmu juga menyadari hal itu. Tapi dia tidak pernah menyangka kalau ternyata Farida sampai berani menyakitimu. Bagaimanapun juga dia ayahmu dan dia menyayangimu. Seno mengabaikanmu karena setiap melihatmu dia terus teringat pada ibu yang memilih untuk berpisah darinya. Ibu dan mas Ardi terus berusaha untuk merebut hak asuhmu tapi selalu gagal. Dan kekuatan kami semakin melemah saat kedua orangtua Seno tewas dalam sebuah kecelakaan. Tidak ada lagi orang yang bisa membantu kami. Dan setelah kematian orangtuanya, Seno membawamu pergi karena menyadari bahwa ibu tetap tidak akan kembali padanya." Kata Ratna masih disela isak tangisnya.


"Maafkan ibu yang tidak bisa melindungimu. Maafkan ibu yang memilih kebahagiaan ibu sendiri. Andai saja ibu bertahan dan tidak bercerai dengan ayahmu, kamu pasti tidak akan mengalami siksaan Farida." Kata Ratna sambil memeluk Luna dan terus menciumi puncak kepala putrinya.


"Tidak, ibu.. Jangan katakan itu. Salahku yang membenci ibu tanpa tahu kebenarannya. Bahkan bila Ibu bertahan, aku yakin cepat atau lambat ayah pada akhirnya akan tetap menyakiti aku. Ibu melakukan hal yang benar dengan meninggalkan ayah dan hidup bahagia dengan oom Ardi." Kata Luna sambil mengeratkan pelukannya dan menangis penuh penyesalan karena sekian lama menyimpan kebencian pada ibunya tanpa tahu kejadian sebenarnya.


"Nak, dengarkan ibu. Aku tahu ini pasti sulit. Tapi Edo sangat mencintaimu. Jangan sampai karena kejadian itu akhirnya kamu melepaskan kesempatan untuk hidup bahagia. Kamu berhak untuk bahagia. Percaya pada ibu. Meski sulit, Edo pasti akan mendampingimu melalui semua ini. Ibu tahu kamu mempercayai edo, Luna. Tapi sebaliknya, kamu tidak bisa mempercayai dirimu sendiri kan..??" Tanya Ratna pada putrinya. Luna menunduk dan kembali terisak.


"Beri kepercayaan pada dirimu sendiri, nak. Beri kesempatan dirimu sendiri untuk bahagia." Kata Ratna sambil menangkup lembut wajah putrinya.


Luna memeluk tubuh ibunya dan menangis keras. Ratna membalas pelukan Luna dengan erat dan terus mengusap lembut punggung putrinya untuk memberi kenyamanan.


Edo yang ternyata tetap menunggu tidak jauh dari Ratna dan Luna, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dia terkejut mendengar penderitaan Ratna yang disebabkan oleh suami pertamanya. Dan penderitaan yang lebih besar disebabkan oleh Farida.


"Aku akan terus mencintaimu. Menjagamu. Dan membuat hidupmu penuh dengan kebahagiaan. Oom Ardi melakukan apapun demi kebahagiaan wanita yang dia cintai. Aku akan melakukan lebih untuk membuatmu bahagia. Aku berjanji, Al." Gumam Edo dalam hati.