(Family) Bound

(Family) Bound
Layak Untuk Bahagia



Para lelaki kesayangan Kira tengah sibuk di salah satu sudut halaman rumah mereka. Kali ini Shaka menanam 3 pohon durian dengan jenis yang berbeda. Bibit pohon yang dipesan Shaka semuanya bibit unggulan dan ukurannya pun bisa dibilang cukup besar. Pohon durian montong asli Thailand dia datangkan langsung dari negara itu. Sama halnya dengan pohon durian petruk yang didatangkan langsung dari Jawa Tengah dan Musang King yang dipesan langsung dari Malaysia. Alasannya karena Shaka sangat menyukai durian, terutama 3 jenis durian itu.


Satria yang mewarisi hobi berkebun ayahnya tampak sangat menikmati kegiatan mereka. Sedangkan Radit dan Edo yang diminta mencangkul tanah sudah tampak kelelahan. Adit sendiri justru lebih berperan sebagai mandor untuk saudara-saudaranya.


"Adit..!! Lo bantuin sini. Dari tadi cuman jadi mandor." Protes Radit.


"Lo pikir jadi mandor itu ga capek..??" Kilah Adit.


"Iya capek..!! Capek ngomong..!!" Sungut Radit.


"Lagian ya. Masa gue ganteng gini disuruh berkebun. Bisa turun kadar kegantengan gue. Ntar kalo cewek-cewek pada ga mau lagi sama gue gimana..??" Kata Adit beralasan.


"Tetep aja papa yang paling cakep." Sahut Shaka yang sejak tadi diam.


"Kok bisa..?? Mana buktinya..??!!" Tanya Adit tidak terima.


"Buktinya mama kalian selalu bilang kalo papa itu brondong paling cakep segalaksi bima sakti. Kita kan sama-sama brondong." Jawab Shaka sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Pa, ini nanti kapan berbuahnya..?? Tanya Satria menyela perdebatan antara Adit dan Shaka yang sepertinya akan segera terjadi.


"Papa sengaja pesan bibit unggulan. Jadi paling ga 5 tahun lagi akan berbuah." Jawab Shaka dengan antusias.


"Lama banget, Dad..??!! Padahal udah gede gini." Tanya Edo.


"Itu udah cepet, Ed. Tadinya daddy mau pesen bibit yang biasa dan agak kecilan. Tapi kelamaan nunggu buahnya."Jawab Shaka lagi.


"Ternyata pak Shaka kalau weekend ganti profesi." Kata Simon yang tiba-tiba sudah ada disana.


Shaka menoleh dan tersenyum ramah pada Simon yang memang telah banyak membantunya berkaitan masalahnya dengan Kate. Bahkan sekarang hubungan antara keluarganya dan Kate menjadi cukup dekat. Meski belum sepenuhnya percaya Kate telah tidak lagi memiliki niat buruk. Tapi Kate benar-benar menunjukkan niatnya untuk berubah. Sejak wanita itu datang untuk meminta maaf, hampir setiap hari dia datang. Hingga dalam waktu singkat mulai dekat dengan keluarga Shaka dan Kira.


"Simon, kapan datang..??" Tanya Shaka sambil mengangkat kedua tangannya yang belepotan tanah, menunjukkan dia tidak bisa menjabat tangan Simon saat ini.


"Sebenarnya lumayan lama. Aku menemani Kate dan sekarang dia malah menganggapku tidak ada karena asik berbincang dengan istrimu." Dengus Simon kesal. Shaka tertawa kecil melihat wajah kesal Simon.


"Pa, ini gimana..??" Tanya Adit saat melihat Shaka akan meninggalkan mereka.


"Tolong kalian lanjutin. Papa mau temenin oom Simon." Jawab Shaka.


"Gimana kalo aku aja yang temenin oom Simon..??" Tanya Adit lagi.


"Ngapain..?? Ga ada..!! Kalian yang lanjutin tanem." Sahut Shaka tidak mau dibantah. Wajah Adit langsung cemberut karena artinya sekarang dia juga harus belepotan tanah.


Simon masih berdiri di halaman belakang sembari menunggu Shaka yang berpamitan untuk membersihkan diri. Dia tersenyum mengamati anak-anak Shaka tengah ribut saat menanam pohon. Simon menoleh ke arah taman belakang yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. Dilihatnya Kate begitu asik berbincang dengan Kirana dan Edna. Dia bahkan bisa mendengar gelak tawa ketiga wanita beda generasi yang terlihat begitu bahagia.


Simon menatap wajah cantik Kate dari kejauhan. Selama bekerja bersama Kate dia jarang melihat wanita itu tersenyum apalagi tertawa lepas. Setiap kali Kate tersenyum itu hanyalah untuk memikat lelaki yang menjadi incarannya. Tapi sejak Kate mengakui kesalahan dan menjadi dekat dengan keluarga Shaka, wanita itu mulai berubah. Kate lebih sering tersenyum dan tertawa. Dan dia terlihat lebih bersinar di mata Simon.


"Eeeeeehm..!!" Dehem Shaka membuyarkan lamunan Simon.


"Pak Shaka..??!!" Panggil Simon terkejut.


"Panggil Shaka saja. Toh kita cuma beda 2 tahun kan." Sahut Shaka.


"Baiklah." Jawab Simon setelah berpikir sejenak.


"Sepertinya kamu tertarik pada Kate." Kata Shaka.


"Dia atasanku. Keluargaku telah turun temurun mengabdi pada keluarganya." Sahut Simon mengelak.


"Bukan berarti kamu tidak bisa atau tidak boleh jatuh cinta padanya kan..??" Tanya Shaka mulai menggoda Simon. Lelaki itu hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan Shaka.


"Kalau boleh tahu. Bagaimana ceritanya sampai keluargamu bekerja secara turun temurun pada keluarga Herlambang..?? Yang aku dengar kamu generasi keempat. Apa benar seperti itu..??" Tanya Shaka penasaran. Simon tersenyum dan mengangguk.


"Saat masa kolonial, keluarga Herlambang adalah bagian dari sekian banyak pelayan keluarga kami, Janssen. Saat Jepang memasuki nusantara, terjadi pembantaian atas penduduk asing. Keluarga kami pun turut menjadi incaran. Odah, nenek buyutku, adalah wanita pribumi yang menjadi istri muda Cornelius Janssen, kakek buyutku. Istri pertama kakek buyutku langsung berlayar kembali ke Belanda bersama anak-anaknya saat mendengar kekejaman tentara Jepang, tapi kakek buyutku yang sangat mencintai istri mudanya memilih tinggal karena tidak memungkinkan untuk membawa nenek buyut dan anak-anak mereka. Suatu hari tentara Jepang datang ke kediaman keluarga Janssen, semua orang berusaha melarikan diri. Tapi keluarga Herlambang tetap bertahan dan melindungi kami. Bahkan beberapa diantara mereka akhirnya tewas demi melindungi keluarga Janssen dan membawa kami ke tempat aman, sedangkan tidak ada satupun dari kami yang terluka. Sejak itu keadaan berbalik. Meski keluarga Herlambang tidak pernah menuntut balas budi, keluarga Janssen memilih untuk mengabdi pada mereka dan terus mengikuti kemanapun keluarga Herlambang pergi. Dan itu berlanjut sampai pada generasiku." Kata Simon.


"Kisah yang luar biasa. Kalian 2 keluarga yang saling menjaga selama beberapa generasi. Jadi kamu sudah lama mengenal Kate..??" Tanya Shaka lagi.


"Aku mengenal Herman dan Kate sejak kecil. Terlebih waktu itu papa dan kakekku sering mengajakku bekerja untuk membiasakanku saat kelak harus menggantikan mereka. Meski sangat manja, tapi dulu Kate adalah anak yang baik dan manis. Aku tidak tahu kenapa dia bisa berubah menjadi wanita yang kamu temui saat pertama kali dulu. Meski begitu, aku tahu Kate sebenarnya adalah sosok yang rapuh dan tidak percaya diri tapi dia terus menutupinya." Jawab Simon.


"Sejak kapan dia berubah..??" Tanya Shaka.


"Dan kamu tetap bertahan disisinya meski dia telah berubah." Kata Shaka.


"Sebenarnya sebelum Kate pulang aku sudah punya usaha sendiri. Aku punya cafe di jalan AAA dan restoran di jalan XXX." Sahut Simon.


"Oh yaaa.. kenapa kamu tidak pernah bilang..?? Aku akan mengajak keluargaku makan disana." Kata Shaka bersemangat.


"Itu hanya cafe dan restoran kecil. Tapi aku akan sangat senang kalau kalian mau datang." Kata Simon.


"Aku langsung setuju saat Herman memintaku menjadi asisten Kate, meski ayahku sedikit menentang karena aku sudah punya usahaku sendiri. Sejak itu pengelolaan cafe dan restoran aku serahkan pada orang kepercayaanku. Setiap hari, setelah semua urusanku dengan Scarlett selesai aku akan mengurus cafe dan restoran." Lanjut Simon.


"Aku senang dia sudah kembali menjadi Kate yang dulu sejak dia mengenal kalian. Meski semua diawali dengan cara yang salah. Setidaknya sekarang semua berjalan dengan cara yang benar. Setidaknya untuk Kate. Sekarang dia lebih banyak tersenyum terutama saat bersama kalian." Sahut Simon.


"Kamu mencintai Kate..??" Tanya Shaka tapi Simon hanya diam tanpa mengatakan apapun. Matanya masih sibuk menatap Kate dari kejauhan dan itu cukup untuk menjawab pertanyaan Shaka.


Di sana. Di bangku taman belakang. Tiga wanita beda generasi tampak begitu asik dengan obrolan mereka. Sesekali Kira memandang ke arah keluarganya. Anak-anak lelakinya tampak masih sibuk berkebun, kali ini Satria yang menjadi mandor karena lebih tahu tentang cara menanam dibandingkan ketiga kakaknya. Rania menemani Nara di taman bermain kecil yang tidak jauh dari taman belakang. Dan Shaka tengah berbincang dengan Simon.


Kira tersenyum melihat Simon yang terus menatap ke arah mereka. Dia tahu lelaki itu terus memandang Kate dari kejauhan.


"Aku rasa Simon mencintaimu." Kata Kira. Kate mengernyitkan dahi mendengar perkataan Kira.


"Simon pria yang baik dan cerdas. Dia tidak akan sebodoh itu untuk jatuh cinta padaku." Kata Kate dengan senyum miris.


"Kenapa tidak..?? Kamu cantik, baik, modis, juga cerdas. Lelaki manapun akan jatuh cinta padamu." Sahut Edna menimpali.


"Jangan lupa kalau aku juga wanita ja**ng dan penggoda. Sudah banyak pria yang menyentuhku." Sahut Kate dengan tawa yang justru terdengar menyedihkan.


"Apa kamu masih melakukannya..??" Tanya Kira.


"Tidak. Sejak insiden terakhir dengan Shaka di gedung perusahaan kami." Jawab Kate.


"Artinya kamu sudah berubah. Dan kamu berhak untuk bahagia. Aku lihat Simon juga selalu ada untukmu." Lanjut Kira.


"Aku tahu. Entah apa yang terjadi padaku kalau Simon tidak ada. Dia banyak membantuku melewati semuanya. Simon juga terus berusaha agar aku berubah, sedangkan keluargaku sendiri hanya membiarkan aku dan mencoba menutupi semua kelakuan burukku. Aku beruntung. Tapi aku tidak mau serakah dengan berharap lebih dari Simon." Kata Kate.


Tapi bagaimana kalau dia benar mencintaimu dan menerima semua keadaanmu..??" Tanya Kira lagi.


"Itu tidak mungkin terjadi." Jawab Kate.


"Itu bisa saja terjadi, sayang. Dalam hal cinta, semua bisa terjadi. Tidak ada yang tahu apa yang diinginkan hati kita. Contohnya putriku ini." Kata Edna.


"Ya, aku bisa melihat Shaka sangat mencintai kak Kira. Kalian begitu saling mencintai. Kamu sangat beruntung, kak." Kata Kate dengan senyum tulus.


"Kamu harus tahu bagaimana dulu Shaka berjuang untuk mendapatkan Kira. Saat itu dia hanya bocah SMA yang mati-matian merebut hati janda 2 anak yang usianya 10 tahun lebih tua. Sayangnya putriku ini juga keras kepala dan terus merasa tidak pantas untuk Shaka yang kasih begitu muda. Sampai akhirnya setelah 3 tahun dengan begitu banyak perjuangan, pertentangan, dan bahkan pertaruhan nyawa Shaka berhasil menikahi Kira. Sekarang kamu lihat kan bagaimana bahagianya mereka..?? Aku yakin kamu juga akan bahagia. Tapi kamu harus membuka hatimu terlebih dulu." Kata Edna panjang lebar.


Kate terdiam dan tampak merenungi nasihat Edna. Tidak dipungkiri dia pun ingin merasa dicintai dan hidup bahagia. Tapi masa lalunya selalu membuat dia merasa tidak pantas.


Shaka dan Simon berjalan mendekati mereka. Simon terus menatap Kate dengan tatapan hangat dan penuh arti. Kate menunduk dan mengalihkan pandangan karena merasa gugup terus ditatap oleh Simon. Tiba-tiba dia merasa seperti anak gadis yang baru mengenal lelaki. Pembicaraan mereka mengenai Simon ternyata cukup mengena dihatinya.


"Kate kamu kenapa..?? Kamu sakit..??" Tanya Simon kawatir karena dilihatnya wajah Kate memerah.


"Aku tidak apa-apa." Jawab Kate cepat. Entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Tapi wajahmu memerah. Apa kamu demam..??" Tanya Simon sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Kate. Membuat detak jantung Kate semakin tidak karuan.


"Simon hentikan itu. Kamu bisa membuat Kate pingsan." Kata Kira sambil terkekeh karena melihat tubuh Kate sedikit bergetar karena gugup.


"Apa..?? Kamu mau pingsan..?? Jadi kamu beneran sakit, Kate..??" Seru Simon semakin kawatir. Dia tampak menelusuri tubuh Kate dengan tatapan panik.


"Aa.. aku tidak apa-apa, Simon." Jawab Kate semakin gugup karena Simon begitu dekat dengannya. Tiba-tiba Kate merasa kepalanya begitu pusing. Pandangannya seakan berputar dan tubuhnya terasa lemah.


"Kate..??" Panggil Simon saat dilihatnya Kate hanya diam dan wajahnya mendadak berubah pucat.


"KATE..!!" Seru mereka bersamaan saat Kate benar-benar pingsan. Untunglah Simon yang ada di dekatnya sigap menangkap tubuh Kate.


"Apa aku benar-benar membuatnya pingsan..??" Tanya Simon dengan wajah yang tiba-tiba terlihat bodoh.


"Cepat angkat dia, bodoh..!!" Seru Shaka membuat Simon tersadar.