(Family) Bound

(Family) Bound
I Love You Much More Than 3.000



Kira menatap Edo yang berjalan menuju kamar Satria dan Dit-dit. Tak lama Dit-dit pun ikut menyusul Edo untuk mencari Satria. Kira tersenyum bahagia melihat bagaimana anak-anaknya saling menyayangi.


Meskipun Satria selalu bersikap baik-baik saja seperti sebelum penculikan, sebenarnya Kira merasakan perubahan Satria sejak peristiwa itu. Tapi Satria selalu menghindar setiap kali Kira mencoba bertanya. Dan Kira kekawatirannya bertambah saat melihat Satria semakin diam dan menarik diri sejak pertunangan Edo. Dia benar-benar berharap Edo dan Dit-dit dapat membantu Satria.


"Sayang, apa yang kamu pikirkan..??" Tanya Shaka yang melihat Kira melamun.


"Tidak ada, Bie. Hanya saja aku merasa sedikit lelah dan tidak enak badan." Jawab Kira jujur.


"Mau aku panggilkan dokter atau Yudha..??" Tanya Shaka kawatir.


"Tidak perlu, Bie. Aku hanya perlu istirahat." Jawab Kira dengan senyum manis di wajah pucatnya.


"Aku akan mengantarmu ke kamar." Kata Shaka lalu mengangkat tubuh kurus istrinya.


"Mama kenapa, pa..??" Tanya Rania kawatir.


"Mama capek dan ingin istirahat." Jawab Shaka tidak ingin membuat anaknya kawatir.


Shaka membawa Kira ke kamar dan meletakkan diatas ranjang dengan hati-hati. Setelah memastikan Kira merasa nyaman, dia ikut merebahkan diri di samping istrinya dan memeluknya erat.


"Sudah merasa lebih baik..??" Tanya Shaka.


"Jauh lebih baik." Jawab Kira sambil menelusupkan wajahnya ke dada Shaka.


"Kamu yakin tidak perlu memanggil dokter atau ke rumah sakit..??" Tanya Shaka kawatir.


"Seperti ini saja, Bie. Ini selalu membuatku merasa nyaman dan lebih baik." Jawab Kira sambil mengeratkan pelukannya dan menghirup aroma maskulin Shaka yang selalu dia sukai.


"Aku mencintaimu." Bisik Shaka sambil mengecup puncak kepala Kira.


"Apa kamu tidak bosan terus mengatakannya..?? Bahkan hari ini mungkin sudah 100 kali kamu mengatakannya, Bie." Tanya Kira sambil tertawa pelan.


"Tidak. Aku tidak akan pernah bosan. Kalau perlu setiap hari aku akan mengatakannya sampai 1.000 kali.. 3.000 kali.. atau bahkan lebih. Karena rasa cintaku tidak akan bisa dihitung dengan angka sebanyak apapun." Tegas Shaka sambil terus menciumi wajah dan bibir istrinya hingga membuat wanita itu tertawa kegelian.


"Kalau begitu caranya kamu tidak akan pernah mengatakan apapun selain -Aku Mencintaimu-." Kata Kira sambil mendongakkan kepalanya dan mengecup rahang suaminya.


"Tidak masalah. Biar semua orang akan tahu kalau aku mencintaimu. Dan akan selalu mencintaimu. Jadi mereka semua tahu kalau kamu milikku dan tidak akan ada yang bisa merebutmu dariku." Sahut Shaka lalu mengecup pelan bibir pucat Kira yang terasa dingin dan mengelus lembut perut buncitnya.


"Shaka Maulana Rahardian.. Aku mencintaimu. Dan aku sangat beruntung karena kamu selalu mencintaiku dengan begitu besar." Kata Kira sambil menangkup wajah Shaka dan mengecup lembut bibir suaminya.


Shaka tersenyum dan mengeratkan pelukannya. Dia bahagia mendengar ungkapan cinta dari istrinya. Kira bukanlah wanita yang mudah mengungkapkan perasaannya. Selama mereka bersama, Kira jarang mengatakan cinta pada suaminya. Tapi Shaka dan semua orang tahu rasa cinta Kira pada suaminya begitu besar.


"Bagaimana kabar mereka hari ini..??" Tanya Shaka sambil terus mengelus perut Kira.


"Aku rasa mereka sempat bertengkar hari ini. Beberapa kali mereka menendang bersamaan dan cukup kuat." Jawab Kira sambil terkekeh.


"Menurutmu apa yang membuat mereka bertengkar..??" Tanya Kira. Shaka menggeser tubuhnya hingga sejajar dengan perut Kira.


"Mungkin mereka sedang berdebat mengenai siapa yang akan keluar terlebih dulu." Jawab Shaka sambil mencium perut Kira beberapa kali.


"Atau berdebat mengenai siapa yang lebih tampan atau lebih cantik." Sahut Kira.


"Bagaimana kalau ternyata mereka sepasang laki-laki dan perempuan..??" Tanya Shaka.


"Kalau begitu mungkin bayi perempuan kita tengah memarahi saudaranya." Jawab Kira sambil mengelus kepala Shaka.


"Hmmm.. bisa jadi. Para wanita di keluarga kita semuanya garang." Sahut Shaka disusul cubitan pelan di lengannya.


"Aduuuuuh.. sakit, sayang." Protes Shaka meski sebenarnya dia tidak merasakan sakit.


"Hei.. sayang-sayangnya papa. Kalian nanti jangan bertengkar terus. Papa dan mama sudah pusing mendengar kakak-kakak kalian ribut terus setiap hari." Shaka mengadu pada anak dalam kandungan istrinya.


Shaka dan Kira tertawa saat merasakan tendangan pelan dari dalam perut Kira. Seolah kedua bayi dalam kandungannya mendengar dan mengerti apa yang dikatakan ayah mereka. Kira tampak perlahan menarik napas panjang.


"Sayang, kamu beneran tidak apa-apa..??" Tanya Shaka cemas karena melihat wajah Kira yang semakin pucat.


" Aku tidak apa-apa, Bie. Aku hanya merasa lelah." Jawab Kira lirih dengan suara terputus-putus. Tubuhnya mulai basah karena keringat dingin dan dahinya berkerut seolah menahan sakit.


Shaka berlari keluar kamarnya menuju paviliun yang ada di halaman belakang rumah. Dia tidak menghiraukan suara keempat putranya yang tengah bercanda di taman bermain.


"Papa kenapa..??" Tanya Adit yang melihat Shaka berlari menuju paviliun. Edo, Radit, dan Satria yang berdiri di belakangnya tampak mengikuti pandangan Adit.


"Mommy." Kata Edo sambil berlari ke kamar orangtuanya. Dia yakin saat ini Kira tidak sedang baik-baik saja.


"Mommy." Edo masuk tanpa mengetuk pintu kamar. Ketiga adiknya mengikuti dari belakang.


"Mommy..?? Mommy kenapa..??" Tanya Edo sambil menyentuh kening Kira yang dingin.


Keempat pemuda itu tampak kawatir melihat Kira bergelung dan merintih menahan sakit sambil memegang perutnya.


"Papa." Satria memanggil Shaka yang kembali ke kamar bersama suster Hani.


"Kalian tunggulah di luar, biar nenek Hani membantu mama." Perintah Shaka.


Edo dengan sigap membawa ketiga adiknya keluar dari kamar orangtua mereka.


Kira bergelung dalam pelukan Shaka yang terus membisikkan kata cinta untuknya. Terdengar rintihan kesakitan dari bibir pucatnya. Didekat mereka tampak suster Hani tengah memantau kondisi Kira sambil terus menghubungi dokter yang menangani wanita itu.


"Aku mencintaimu.. Sangat mencintaimu.. Kamu adalah belahan jiwaku.. separuh nyawaku.." Bisik Shaka pada Kira yang terlihat semakin melemah.


Shaka terus membisikkan kata cinta seakan takut itu akan menjadi saat terakhir bagi dia untuk mengungkapkan perasaannya.


"Nak, kondisi Kira menurun. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit." Kata suster Hani setelah selesai memeriksa kondisi Kira.


Shaka mengangguk. Dia berusaha tetap tenang dan berpikir jernih. Shaka mengambil HP yang dia letakkan di atas nakas, lalu menyibak selimut Kira dan mengangkat tubuh istrinya yang terus melemah.


"Dad, bagaimana..??" Tanya Edo saat melihat Shaka membawa tubuh Kira.


"Kita harus bawa mommy ke rumah sakit. Tolong antar kami." Kata Shaka sambil terus berjalan.


Edo bergegas mengambil kunci mobil lalu mengeluarkannya dari garasi sementara Shaka menunggu di depan rumah dengan membawa tubuh istrinya. Dit-dit mengikuti Shaka dan Kira dari belakang. Shaka langsung masuk ke kursi belakang mobil, dia memangku tubuh Kira yang mulai tidak sadar.


"Papa." Panggil Radit.


"Kalian jaga adik-adik kalian. Telpon eyang dan oom Yudha. Katakan kalau papa bawa mama ke rumah sakit..!!" Kata Shaka lalu menutup pintu mobil tanpa menunggu jawaban dari Dit-dit.


"Sayang, aku mencintaimu. Aku mohon bertahanlah." Bisik Shaka ditengah isakannya.


Shaka memeluk tubuh Kira dan terus menciumi wajah pucatnya. Suster Hani yang duduk di bangku depan sesekali melihat mereka dari kaca depan mobil dengan tatapan sendu. Shaka teringat sesuatu dan tampak menghubungi seseorang.


"Halooo.." Sapa suara di seberang telpon.


"Lex, tempo hari lo bilang ada beberapa orang yang bisa dan mau jadi donor Kira. Tolong bawa mereka ke Orchid sekarang. Kira membutuhkan mereka." Pinta Shaka.


"Gue bawa mereka kesana sekarang." Sahut Alex.


"Terima kasih." Kata Shaka lalu menutup telponnya.


Edo melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dan mengabaikan semua peraturan lalu lintas. Sesampainya di depan IGD Orchid hospital Shaka bergegas keluar. Dia berlari dengan membawa tubuh istrinya. Seorang dokter terlihat menghampiri dan memeriksa kondisi Kira.


"Pak Shaka." Dokter jaga memanggil Shaka yang tengah berada di ruang tunggu bersama Edo dan suster Hani.


"Bagaimana, dok..??" Tanya Shaka tidak sabar.


"Kondisi kesehatan bu Kirana menurun dan tidak akan baik untuk bayi dalam kandungannya. Kami harus segera melakukan operasi caesar untuk menyelamatkan bayi dalam kandungan bu Kirana." Jawab dokter itu.


"Tolong lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan istri dan anak-anak saya, dok." Pinta Shaka dengan suara bergetar.


Shaka menghampiri brankar yang membawa Kira saat wanita itu akan dibawa ke kamar operasi.


"“Aku mencintaimu. Bertahanlah disana dan segera kembali padaku. Jangan pernah berani meninggalkanku karena aku tidak bisa hidup tanpamu. Mengerti..??!!" Bisik Shaka lalu mengecup kening Kira.