(Family) Bound

(Family) Bound
The Devil Inside



Saat menolong Luna, Yudhi berhenti tepat di depan pintu IGD dari rumah sakit pertama yang dilihatnya. Meski rumah sakit kecil, tenaga medis disana dengan sigap menangani Luna. Setelan kondisi Luna stabil, dia akhirnya dipindahkan ke Orchid Hospital atas permintaan Edo. Dia ingin menjaga Luna tanpa mengabaikan Kira yang juga masih dirawat.


Edo menggenggam tangan Luna dan terus menciumi tangan gadis itu. Dia terus memandang wajah Luna sambil sesekali mengelus lembut wajahnya. Meski belum sepenuhnya bisa bernapas lega karena Luna belum sadar, tapi Edo bersyukur kekasihnya berhasil diselamatkan meski sempat kritis.


"Al..??" Panggil Edo saat melihat kepala Luna bergerak perlahan.


"Hei, sayang.. bangunlah.. buka matamu." Kata Edo sambil terus mengelus kepala Luna.


Luna mulai membuka matanya perlahan. Tapi tiba-tiba Luna mulai terlihat panik dan menjerit histeris.


"AAAAARRGH..!! TIDAAAKK..!! TIDAAAKK..!! LEPASKAN AKU..!! JANGAN SENTUH AKU..!! AAAAAARGH..!! AAAAAARGH..!! LEPASKAN AKU..!!" Teriak Luna histeris.


"Lunaaa..!! Tenanglah..!! Ini aku..!!" Seru edo sambil terus menahan kedua tangan Luna yang terus menggapai kasar seolah tengah menghalau seseorang.


"AAAAAARGH..!! LEPASKAN AKU..!!" Teriak Luna masih histeris.


"ALUNAA..!!" Seru Edo sambil memegang wajah Luna dengan kedua tangannya. Memaksa gadis itu untuk melihat kepadanya.


"Edo..??" Panggil Luna lirih dengan wajah pucat dan airmata yang mulai membasahi pipinya.


"Iya, Al. Ini aku. Kamu aman sekarang. Tidak akan ada yang bisa menyakitimu lagi." Kata Edo lirih tepat di depan wajah Luna. Dia dapat merasakan tubuh Luna bergetar hebat karena ketakutan.


Mata Luna menatap lekat pada Edo seakan memastikan bahwa yang dihadapannya memang benar Edo. Tangis Luna pecah saat itu juga. Edo memeluk erat tubuh Luna, membenamkan wajah gadis itu ke dada bidangnya dan membiarkan gadis itu melepaskan bebannya.


"Tenanglah, Al. Kamu sudah aman sekarang." Kata Edo mencoba menenangkan Luna.


Edo terkejut saat tiba-tiba Luna melepaskan pelukannya dan beringsut menjauh darinya.


"Al, ada apa..??" Tanya Edo cemas.


"Jangan dekati aku..!!" Seru Luna sambil menggelengkan kepalanya keras-keras.


Luna terus menangis lalu memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya. Tangisannya terdengar begitu memilukan.


"Al, aku mohon tenanglah." Kata Edo sambil memegang kedua bahu Luna.


"Pergilah, Ed. Tinggalkan aku." Kata Luna tanpa mengangkat kepalanya. Terlihat bahu Luna terguncang karena menangis.


"Al, apa yang kamu bicarakan..?? Tenanglah dulu. Kamu masih butuh istirahat." Kata Edo sambil mengguncang pelan tubuh Luna.


"Aku bilang pergi..!!" Teriak Luna mulai histeris dan terus menepis tangan Edo.


"Aku mohon tinggalkan aku, Ed. Kita putus sekarang juga." Sahut Luna disela isakannya yang memilukan. Edo terbelalak mendengar permintaan Luna.


"Apa maksudmu, Al..??!! Aku tidak mau kita putus..!!" Seru Edo terkejut.


"Aku kotor. Aku tidak pantas lagi bersama denganmu, Ed. Tolong tinggalkan aku." Jawab Luna diikuti isakan yang semakin keras.


"Aluna..!!" Seru Edo kembali memegang kedua bahu Luna meski gadis itu berusaha melepaskan diri.


"Al, dia tidak sempat menodaimu karena kami datang sebelum dia melakukannya." Kata Edo.


"Kamu tidak perlu berbohong untuk menenangkan aku, Ed." Isak Luna.


"Aku tidak berbohong, Al. Saat kami datang kamu memang mulai tidak sadar. Tapi dia tidak berhasil menodaimu. Percayalah padaku, Al." Sahut Edo.


"Tinggalkan aku, Ed." Kata Luna sambil menggelengkan kepalanya, masih tidak mempercayai penjelasan Edo.


"Aku berkata yang sebenarnya, Al. Dokter sudah memeriksamu dan dia mengatakan kalau memang lelaki itu tidak melakukannya. Dia memang telah melecehkanmu tapi dia belum sempat menodaimu karena kami telah datang sebelum itu terjadi." Kata Edo sambil menatap lekat mata Luna.


"Tapi tetap saja, Ed. Dia sudah.." Luna kembali menangis karena tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


"Al, dengar.. Aku mencintaimu. Apapun keadaanmu. Bahkan jika seandainya dia benar-benar telah menodaimu aku akan tetap mencintaimu dan menerimamu. Aku mohon, Al. Jangan minta berpisah dariku." Pinta Edo. Dia menempelkan dahinya pada dahi Luna.


"Tapi, Ed.." Isak Luna. Kata-katanya terputus karena Edo telah me**mat bibirnya.


"Jangan katakan apapun tentang perpisahan. Kamu tahu bagaimana perasaanku saat melihatmu meregang nyawa..??" Isak Edo. Dia menangkup wajah Luna dengan kedua tangannya.


"Aku sangat ketakutan, Al. Aku benar-benar takut kehilanganmu. Jadi aku mohon jangan minta untuk berpisah dariku, Al." Kata Edo terus terisak.


"Maafkan aku, Ed. Tapi aku lebih memilih mati daripada membiarkan dia menyentuhku. Aku tidak akan pernah punya nyali untuk bertemu denganmu kalau sampai itu terjadi." Sahut Luna lirih.


"Jauhkan pikiran itu darimu. Seandainya itu benar terjadi, aku lebih memilih untuk menerimamu daripada kehilangan dirimu. Aku mencintaimu, Al." Kata Edo sambil menghapus airmata Luna yang terus membasahi wajah cantiknya.


Luna menundukkan kepalanya lalu memeluk Edo erat. Edo membalas pelukan Luna, menempelkan dagunya di puncak kepala gadis itu.


"Maafkan aku, Ed. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." Kata Luna terisak dalam pelukan Edo.


"Aku tahu, Al. Aku juga mencintaimu." Sahut Edo sambil terus membenamkan wajahnya di rambut Luna.


"Ed, bagaimana dengan ibuku..??" Tanya Luna sambil mendongakkan kepala. Edo tersenyum mendengar Luna memanggil Ratna "IBU".


"Ibumu baik-baik saja. Tante Ratna memang terluka, tapi keadaannya sudah jauh membaik. Sejak kamu dipindahkan kesini dia terus di kamar ini menemani aku dan menunggumu sadar. Kalau bukan karena dia, mungkin kami tidak akan pernah sempat menolongmu. Kamu tahu..?? Tanpa menghiraukan keadaannya yang tengah terluka, ibumu terus berlari untuk mencariku. Dia langsung masuk ke kamar tempat mommy dirawat dan memberitahu tentang penculikanmu. Dia terus berteriak histeris memintaku untuk menolongmu." Jawab Edo.


"Dia mati-matian melindungi aku. Menerima semua pukulan agar mereka tidak bisa membawaku. Aku merasa bersalah karena selama ini telah memperlakukan ibu dengan buruk." Kata Luna dengan wajah penuh penyesalan.


"Nanti saat ibumu datang, kamu minta maaflah padanya. Dan mulailah semuanya dari awal. Aku yakin ibumu pasti memaafkanmu dan ingin memperbaiki hubungan kalian." Kata Edo sambil terus mengelus kepala Luna yang masih ada dalam pelukannya.


"Apakah ibu akan memaafkan aku..??" Tanya Luna lagi.


"Tentu. Karena dia sangat menyayangimu." Jawab Edo.


"Berapa lama aku tidak sadar..??" Tanya Luna.


"Hampir dua hari. Mungkin sekitar 36 - 38 jam." Jawab Edo.


"Dan selama itu kamu terus menungguku..??" Tanya Luna.


"Hampir. Karena sesekali aku menjenguk mommy di kamarnya. Maafkan aku." Kata Edo mengeratkan pelukannya.


"Bagaimana dengan Tante Frida dan Lelaki itu..??" Tanya Luna penasaran.


"Jangan takut. Mereka tidak akan bisa mengganggumu lagi." Kata Edo dengan senyum hangat.


"Apa yang terjadi pada mereka..??" Tanya Luna semakin penasaran.


"Sudahlah. Jangan kamu pikirkan lagi. Istirahatlah." Jawab Edo menenangkan Luna.


"Aku ada urusan sebentar. Setelah ini aku harus pergi dulu, tapi Dit-dit akan datang untuk menemanimu. Tidak apa-apa kan..??" Tanya Edo yang dijawab anggukan oleh Luna.


Edo menaikkan selimut Luna hingga sebatas dada lalu menunggu hingga gadis itu tertidur. Tak lama Dit-dit datang dan menggantikannya menjaga Luna.


Edo memacu mobilnya ke arah pinggir kota. Dia berhenti di sebuah villa yang tampak kosong. Tidak ada rumah lain di sekitarnya. Villa itu terlihat tidak terurus karena dikelilingi rumput tinggi dan tanaman liar lainnya. Dia membuka pintu utama villa itu dan tampak menuruni tangga, berjalan menuju bagian bawah villa itu.


Saat membuka salah satu ruangan, terlihat Galih dan Frida yang terikat dengan keadaan mengenaskan. Galih terlihat lebih babak belur dari sebelumnya. Frida terlihat begitu pucat dan lemah. Wajahnya lebam dan bajunya tampak koyak disana sini hingga memperlihatkan sebagian tubuhnya.


Edo memberi tanda pada orang-orang yang berjaga disana untuk keluar dari ruangan itu.


"Bangun..!!" Perintah Edo dingin sambil bergantian menendang Galih dan Frida. Terdengar erangan kecil dari keduanya.


"Jangan lagi. Aku mohon." Isak Frida memohon. Edo berjongkok di hadapan Frida dan menatapnya tajam.


"Jangan apa..?? Aku tidak mengerti apa maksudmu." Tanya Edo.


"Aku tidak sanggup lagi. Tolong ampuni aku." Pinta Frida.


"Oooh.. aku mengerti maksudmu. Tapi bukankah kamu selalu bersenang-senang..?? Aku hanya memberikan hal yang selalu kalian sukai. Karena itu aku menyuruh kalian terus melakukannya. Atau.. melakukannya dengan Galih saja tidak cukup untukmu..?? Aku bisa membawa para pengawalmu kemari secepatnya, karena mereka juga ditawan disini. Aku yakin mereka akan sangat menyukainya." Bisik Edo dengan suara yang terdengar menakutkan. Mata Frida terbelalak mendengar ancaman Edo.


"Tidak.. Tidak.. aku tidak mau..!! Tolong jangan lakukan itu..!!" Seru Frida ketakutan. Edo hanya tersenyum sinis melihat ketakutan Frida. diraihnya wajah wanita itu dan mencengkeramnya kuat dengan satu tangan. Membuat wanita itu mengerang kesakitan.


"Sekarang kamu terus memohon padaku. Apa kamu juga melepaskan Aluna saat dia memohon padamu untuk melepaskannya..?? Apa kamu mengasihani Aluna saat menyiksanya selama bertahun-tahun bahkan melemparnya ke jalanan..?? Setelah mengusirnya yang kamu lakukan saat bertemu Aluna justru melemparnya ke mulut buaya..!!" Kata Edo dingin dengan mata berkilat marah.


"Siapa kamu sebenarnya..?? Kenapa kamu menyuruh orang-orang itu menyiksa kami..??" Tanya Galih lirih.


Edo menghempaskan Frida lalu beralih pada Galih.


"Kalian memilih orang yang salah untuk dijadikan target. Aluna adalah kekasihku. Dan aku adalah Edward Tanzil. Anak dari keluarga Tanzil" Jawab Edo dingin. Dia berdiri di hadapan Galih yang masih tidak berdaya.


"Kamu begitu bangga dengan jabatanmu sebagai Direktur Keuangan Phoenix Group. Asal kamu tahu saja. Kirana, putri keluarga Hardisiswo, adalah ibu angkatku. Menurutmu kenapa kamu bisa melihat oom Yudhi datang bersamaku saat menyelamatkan Aluna..??" Kata Edo dengan seringai menakutkan.


"Sebenarnya saat keluarga Hardisiswo menangkap kalian, mereka sudah akan menyerahkan kalian kepada polisi. Tapi aku meminta sedikit waktu pada mereka untuk bersenang-senang dengan kalian." Lanjut Edo.


"Maafkan aku.. Aku benar-benar ceroboh. tolong ampuni aku." Pinta Frida memohon. Sedangkan Galih hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Oom Adam telah menyerahkan bukti-bukti penggelapan dan setiap kecurangan yang kamu lakukan. Juga saksi-saksi yang pernah menjadi korban pelecehanmu selama ini." Desis Edo pada Galih.


"Dan kamu. Kami mengetahui kalau kamu telah bekerjasama dengan pengacara ayah Luna untuk merubah isi wasiatnya. Yang sebenarnya kamu tidak mendapatkan sepeserpun karena dia tahu kamu telah menyiksa Luna selama ini. Ayah Luna juga mengetahui kebiasaanmu berselingkuh dengan beberapa pria yang berbeda selama pernikahan kalian. Kami telah menemukan surat wasiat yang asli dan seluruh harta keluarga Luna akan kembali padanya. Kami juga telah menyerahkan semua bukti-bukti kejahatanmu yang lain. Termasuk bukti bahwa kamu membunuh ayah Luna secara perlahan dengan terus mencampurkan racun dosis rendah selama beberapa bulan." Kata Edo pada Frida.


"Sekarang kalian boleh memilih. Tetap menjadi tawananku disini sampai aku merasa puas. Atau meringkuk dibalik jeruji penjara selamanya..??" Tanya Edo sambil menatap dingin pada Galih dan Frida.


"Penjara. Aku lebih baik dipenjara. Bawa aku ke kantor polisi sekarang juga. Aku janji tidak akan mengatakan apapun tentang kejadian ditempat ini..!!" Seru Frida tidak sabar.


"Memang apa yang terjadi disini..?? Aku tidak mengerti." Tanya Edo berpura-pura bingung.


"Tidak ada. Tidak ada kejadian apapun disini." Jawab Galih cepat lalu menoleh kearah Frida.


"Benar. Dia benar. Tidak ada yang terjadi disini. Bahkan kami tidak pernah ada di tempat ini." Sahut Frida cepat saat mengerti maksud Galih.


"Bagus. Aku pasti akan bingung kalau ada yang bertanya. Karena aku tidak melihat apapun yang terjadi disini. Ngomong-ngomong, apa yang yang kalian lakukan disini..??" Kata Edo dengan wajah polos.


Galih dan Frida hanya bisa tercengang melihat raut wajah Edo yang tiba-tiba berubah.


"Tidak ada. Kami hanya tersesat dan terjebak disini." Jawab Galih dengan suara bergetar ketakutan.


"Ooh.. begitu." Kata Edo masih dengan wajah polosnya.


"Tunggulah disini. Kalian bisa istirahat. Akan ada dokter yang datang untuk mengobati kalian. Banyaklah istirahat agar cepat sembuh." Lanjut Edo ramah sambil menepuk-nepuk pelan pipi Galih.


Sedetik kemudian Edo mencengkeram rambut Galih dan membuat wajah mereka berhadapan. Wajah Edo terlihat lebih menyeramkan dari sebelumnya. Tubuh Galih semakin bergetar melihat Edo yang terus berubah dan tidak dapat ditebak. Ternyata benar yang didengarnya selama ini. Bahwa keluarga Tanzil begitu tertutup tapi tidak segan untuk berbuat keji.


"Setelah kalian sembuh, akan ada orangku yang mengantar kalian pada polisi. Jangan pernah bawa nama keluarga Hardisiswo ataupun Rahardian kalau kalian ingin selamat." Desis Edo dengan tatapan penuh ancaman.


"Ba.. Baiikk.." Sahut Galih dengan suara bergetar.


"Jangan coba-coba kabur karena akibatnya akan sangat buruk." Kata Edo dingin.


Galih dan Frida langsung mengangguk tanpa mengatakan apapun. Tiba-tiba Edo kembali tersenyum ramah.


"Istirahatlah." Kata Edo lagi dengan ramah. Dia menepuk pelan bahu Galih seolah tengah berbincang dengan kawan lama.


Edo menoleh sejenak pada Frida lalu tersenyum ramah dan berdiri. Pemuda itu meninggalkan ruangan tanpa mengatakan apapun lagi.


"Awasi mereka baik-baik..!!" Perintah Edo ada para pengawal keluarganya sebelum pergi meninggalkan villa tua itu.


"Baik, pak..!!" Jawab mereka hampir bersamaan tanpa berani menatap wajah Edo yang terlihat begitu menakutkan. Para pengawal itu hanya menunduk sampai Edo benar-benar keluar dari ruang bawah tanah.


******************************************


Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.


Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^


Terima kasih..!!


Hug,


Cheerieza