(Family) Bound

(Family) Bound
Kisah Masa Lalu



Shaka menatap pada Rosi dan Suster Hani yang duduk di hadapannya. Dia menggenggam beberapa lembar kertas ditangannya dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.


Hari ini Adam dan Rendra datang dengan membawa bukti-bukti bahwa Rosi dan Suster Hani sebenarnya adalah ibu dan anak yang mengubah identitas mereka kemudian bekerja untuknya. Yang lebih mengejutkan lagi kenyataan bahwa mereka mungkin terkait dengan kejadian lima belas tahun lalu yang bahkan dia tidak ingat kapan terjadi.


"Katakan. Apa ini semua benar..??" Tanya Shaka dingin.


Dilemparkannya kertas-kertas itu ke atas meja yang ada di hadapan Rosi dan Suster Hani.


"Akhirnya kamu tahu juga." Jawab suster Hani sinis.


"Kenapa kalian melakukan ini..?? Apa kalian memang ingin mencelakai aku dan keluargaku..??" Geram Shaka.


"Kamu telah membunuh kakakku." Sahut Rosi dingin.


"Siapa yang kamu maksud..?? Aku tidak pernah membunuh siapapun..!!" Seru Shaka. Suster Hani tertawa kecil mendengar pertanyaan Shaka.


"Tentu saja kamu tidak ingat. Dulu ada begitu banyak orang yang kamu sakiti, tapi semua selesai dengan uang ganti rugi dan pengaruh keluarga Rahardian." Sahut suster Hani.


"Anakku hanya berada di tempat dan waktu yang salah saat kalian mabuk. Entah kesalahan apa yang dibuat anakku saat itu sampai-sampai kamu tega menghajarnya hingga meregang nyawa..!!" Seru suster Hani.


"Aku akui kehidupan yang kujalani dulu memang benar-benar buruk dan aku juga bukan orang baik. Tapi aku dan teman-temanku tidak pernah melewati batasan apalagi sampai menghilangkan nyawa orang lain. Kami tahu kapan harus berhenti..!!" Jawab Shaka tegas.


"Kalau memang seperti itu kakakku tidak akan meninggal dan keluarga kami tidak akan hancur." Sahut Rosi. Matanya mulai tampak berkaca-kaca.


"Aku benar-benar tidak mengerti. Karena aku ingat benar tidak ada satupun orang yang aku hajar hingga begitu parah apalagi sampai kehilangan nyawa." Kata Shaka membela diri.


"Namanya Vino. Dia adalah salah satu pelayan di bar langganan kalian. Dia anak baik yang tidak suka menyusahkan keluarganya. Vino kuliah sambil bekerja paruh waktu di bar itu, agar dia bisa tetap melanjutkan kuliahnya dan membantu biaya pendidikan adik perempuannya. Tapi kamu menghempaskan semuanya begitu saja, entah untuk alasan apa..!!" Geram suster Hani.


"Vino..??" Gumam Shaka.


Shaka tampak mengerutkan dahinya, tampak berusaha mengingat sesuatu. Tak lama matanya tampak membulat.


"Aku ingat sekarang. Vino adalah salah satu pelayan bar yang selalu melayani aku dan teman-temanku. Saat terakhir aku datang ke bar aku memang sempat menghajar dia. Itu pertama kalinya aku melukai Vino, sebelum itu semua baik-baik saja bahkan kami cukup akrab. Setelah kejadian itu aku tidak pernah pergi ke club lagi. Karena aku bertemu dengan Kira." Lanjut Shaka.


"Dan kalian hidup bahagia, sementara keluargaku hancur berantakan karena ulahmu." Desis suster Hani dengan wajah penuh amarah.


"Aku tidak membunuh Vino..!!" Tegas Shaka.


"Saat itu kami memang mabuk. Dan tiba-tiba masuk seorang wanita yang berusaha mencumbuku. Meski mabuk aku masih cukup sadar dan menolak wanita itu. Dan aku marah karena ternyata Vino justru mengambil gambar saat wanita itu berusaha menggodaku. Karena itu aku memukuli Vino, untuk menanyakan alasan dia melakukan itu. Tapi Vino tetap bungkam. Dia hanya mengatakan kalau terpaksa melakukan itu dan terus meminta maaf. Akhirnya aku melepaskan dia. Tapi aku bersumpah, Vino masih baik-baik saja saat keluar dari ruangan kami." Kata Shaka lagi.


"Dia pulang ke rumah dalam keadaan babak belur lalu tumbang tidak sadarkan diri. Saat kami membawanya ke rumah sakit dia sudah dalam keadaan koma karena luka parah di kepalanya. Aku datang ke club tempatnya bekerja dan banyak saksi yang mengatakan bahwa kamu menghajar Vino. Pemilik club meminta kami tidak memperpanjang masalah karena keluargamu justru akan membuat kami kesulitan. Dia memberi uang dalam jumlah sangat besar untuk biaya pengobatan Vino. Tapi tetap tidak bisa membuat putraku kembali bangun." Sahut suster Hani.


"Sepuluh tahun. Sepuluh tahun aku harus melihat putraku terkapar tidak sadarkan diri..!! Putraku yang begitu gagah perlahan berubah menjadi sosok tulang berbalut kulit. Dan aku hanya bisa meratapinya tanpa bisa melakukan apapun." Isak suster Hani.


"Perlahan keluarga kami hancur. Suamiku yang merasa bersalah karena tidak bisa melindungi keluarganya justru memilih menjadi pengecut dengan mengakhiri hidupnya. Aku harus menjual seluruh harta milik kami untuk biaya pengobatan Vino. Aku dan putriku yang masih begitu kecil harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan kami. Beruntung aku seorang perawat jadi aku bisa merawat Vino di rumah untuk menekan biaya perawatannya." Lanjut suster Hani.


"Sampai akhirnya aku menyerah. Aku tidak sanggup lagi melihat putraku hidup menderita dalam tidur panjangnya. Akhirnya aku mengajukan Euthanasia untuk mengakhiri penderitaan Vino. Kamu tahu bagaimana perasaanku saat harus memutuskan untuk mengakhiri hidup anakku..??!! Aku hancur..!! Benar-benar hancur..!! Sedangkan kamu justru hidup dengan baik dan bahagia..!!" Seru suster Hani sambil memukul dadanya dan menangis keras. Rosi menghampiri ibunya lalu memeluknya dan menangis bersama.


"Pak Shaka. Kami memang mengganti identitas kami karena terus hidup dalam ketakutan. Untuk biaya pengobatan kak Vino, kami terpaksa berhutang pada beberapa rentenir. Mereka terus mengejar kami sedangkan kami tidak bisa menutup hutang yang setiap hari jumlahnya semakin bertambah. Kami memang marah pada kalian, tapi sama sekali tidak ada niatan buruk untuk menyakiti kalian. Dan kebetulan saja kami bekerja di tempat bapak. Saat menyadari telah bekerja di tempat orang yang telah menghancurkan hidup kami, akhirnya kami sepakat untuk berpura-pura tidak saling kenal. Kami takut kalau kalian akan menyakiti kami. Dan saya sendiri yang meminta ibu untuk mengambil pekerjaan ini. Karena dengan tinggal di rumah keluarga Rahardian, setidaknya ibu akan aman dari kejaran para rentenir yang setiap hari semakin brutal. Meski sendiri, saya masih bisa mencari jalan keluar untuk lari dari mereka." Kata Rosi dengan wajah memelas. Dia terus memeluk tubuh ibunya yang masih menangis pilu.


"Kalau memang kami berniat jahat, ibu pasti sudah bisa melakukannya sejak dulu karena ibu yang merawat bu Kirana. Dan saya bisa saja memberikan rahasia perusahaan kepada pesaing pak Shaka. Atau menghancurkan kerjasama dengan Scarlett Hospital. Apalagi selama bekerja keluarga pak Shaka terus memperlakukan kami dengan baik. Meski masih merasakan sakit, tapi kami terus meredam kemarahan kami." Lanjut Rosi lalu menenggelamkan wajahnya ke rambut ibunya dan menangis bersama.


Hati Shaka bergetar mendengar penjelasan Rosi dan Suster Hani. Begitu banyak penderitaan yang telah mereka lalui. Dan semua itu karena keburukannya di masa lalu. Tapi Shaka tetap yakin bukan dia dan teman-temannya yang menyebabkan kematian Vino. Perlahan Shaka berjalan mendekati Rosi dan Suster Hani lalu duduk bersimpuh di hadapan mereka.


"Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf karena telah menyebabkan hidup kalian menderita. Tapi Demi Allah bukan aku yang menyebabkan kematian Vino. Dan aku akan membuktikannya." Kata Shaka sambil menggenggam erat tangan suster Hani yang masih terisak. Suster Hani melepaskan pelukannya dari Rosi.


"Lupakanlah, pak. Kami memang ingin ada keadilan untuk Vino. Tapi kami juga sudah lelah hidup dengan membawa beban ini. Terlepas dari benar atau tidak anda pelakunya, kami sudah memaafkan anda dan ingin menjalani hidup tanpa menyimpan kemarahan apapun. Awalnya memang berat untuk menerima kenyataan bagaimana anda hidup dengan baik dan bahagia. Tapi saat melihat bagaimana anda telah berubah dan terus berusaha memperbaiki diri, perlahan kemarahan itupun mereda. Aku hanya meminta, tolong biarkan kami tetap bekerja. Karena kami membutuhkan uang untuk bertahan hidup dan melunasi hutang-hutang kami." Pinta suster Hani.


"Tidak, bu." Sahut Shaka dengan terisak.


Suster Hani dan Rosi tertegun saat mendengar bagaimana Shaka memanggil suster Hani.


"Aku harus membuktikan bahwa bukan aku pelakunya. Bukan hanya demi ketenangan kalian, tapi juga ketenanganku. Setelah mengetahui semua ini, aku tidak akan tenang sebelum tahu kejadian sebenarnya dan memberi keadilan untuk Vino. Kalau memang ternyata benar aku penyebabnya. Aku siap membayar semuanya. Aku sendiri yang akan menyerahkan diri pada polisi." Kata Shaka.


"Jangan, pak. Anda tidak perlu melakukan itu. Apalagi kalau anda melakukannya karena merasa bersalah." Tolak Rosi.


"Tidak. Aku melakukannya karena ingin, Ros. Sejak kamu mulai bekerja denganku, aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri. Sama seperti aku menganggap Fahri seperti kakakku. Karena itu selama ini aku selalu menjaga kalian berdua. Anggap ini sebagai pemberian dari kakakmu." Kata Shaka tegas.


"Terima kasih, nak. Terima kasih." Kata suster Hani kembali berpelukan dengan Rosi.


*****


Kira membuka perlahan pintu kamar mandi yang ada di kamarnya. Dia kawatir karena Shaka telah begitu lama berada di dalam kamar mandi juga tidak menyahut saat dia memanggil dan mengetuk pintu.


Dilihatnya Shaka yang masih berpakaian lengkap basah kuyup di bawah guyuran shower. Lelaki itu tampak duduk meringkuk di dalam bath-up dan terisak. Kira sudah mendengar semuanya dari Shaka dan dia bisa melihat bagaimana terpukulnya lelaki itu.


Kira mengambil handuk lalu mematikan kran shower. Perlahan dia duduk bersimpuh di depan suaminya, lalu perlahan mengeringkan tubuh Shaka dengan handuk yang dia bawa. Shaka perlahan mengangkat kepalanya dan menatap lekat wajah Kira yang tengah tersenyum padanya.


"Kira, bagaimana kalau memang benar aku pelakunya..??" Tanya Shaka dengan suara tercekat. Kira terdiam sejenak.


"Kamu orang baik, Bie. Dulu kamu memang melakukan banyak kesalahan dan menyakiti banyak orang. Tapi aku yakin kamu selalu tahu kapan harus berhenti. Karena itu aku tahu kalau kamu orang baik." Jawab Kira.


"Bagaimana kalau memang benar saat itu aku telah melewati batasku. Apa kamu mau tetap bersama dengan pembunuh sepertiku..?? Memiliki suami seorang narapidana kasus pembunuhan..??" Tanya Shaka lagi.


Terlihat harapan dan juga kepasrahan di wajah Shaka. Seakan dia berharap Kira akan tetap menerimanya tapi juga rela bila ternyata istrinya memutuskan untuk berpisah. Kira meletakkan handuk di tangannya lalu menangkup wajah suaminya.


"Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, Bie. Yang membedakan adalah, apakah orang itu menyesal atau tidak. Apakah dia akan terus melakukan kesalahan yang sama atau memperbaiki diri. Kamu sudah banyak berubah, Bie. Bukan lagi Shaka Rahardian yang pertama aku temui dulu. Bahkan saat kita pertama bertemu aku sudah tahu kamu sebenarnya adalah orang baik yang entah kenapa bersembunyi dibalik sifat buruk yang selalu kamu perlihatkan pada dunia. Dan yang terpenting kamu sangat mencintaiku. Selalu menjagaku dan membuatku bahagia. Kenapa aku harus meninggalkan pria sebaik dirimu..??" Jawab Kira sambil terus menatap lekat wajah Shaka.


"Aku mencintaimu, Bie. Kita akan mencari kebenarannya. Kalau memang benar kamu bersalah, aku akan selalu bersamamu melalui semua ini. Meski sakit, tapi aku bangga saat kamu mengatakan siap membayar kesalahanmu jika memang kamu terbukti bersalah. Kamu adalah pria paling pemberani yang pernah aku kenal." Kata Kira lagi.


"Kamu akan tetap bertahan denganku apapun hasilnya nanti..??" Tanya Shaka lirih. Kira tersenyum dan mengangguk.


"Ya. Aku akan tetap bertahan denganmu. Kita akan terus bersama melalui semua ini." Jawab Kira sambil mengelus kedua pipi suaminya.


Shaka meraih tengkuk Kira dan mencium lembut bibir istrinya, lalu menempelkan dahi mereka.


"Terima kasih, sayang. Karena selalu mempercayaiku. Maafkan aku yang tidak pernah bisa menjadi sempurna untukmu." Kata Shaka sambil memejamkan matanya.


"Sama sepertimu, aku pun jauh dari kata sempurna. Tapi selama ini kamu selalu menerimaku apa adanya. Membuatku sadar bahwa kita bersatu untuk saling melengkapi, Bie." Bisik Kira sambil memeluk Shaka, meletakkan dagunya di atas bahu suaminya dan mengelus lembut kepala pria yang sangat dia cintai.


"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu dan akan selalu mencintaimu." Isak Shaka sambil mengeratkan pelukannya.


"Aku juga mencintaimu, Bie. Bertahanlah untukku, juga untuk anak-anak kita." Kata Kira lagi.


Kira dan Shaka tersentak saat merasakan tendangan dari dalam perut Kira. Sepertinya ada dua jiwa yang juga ingin bergabung dalam pembicaraan orangtua mereka.


"Hei, sayang. Anak-anak papa. Kalian juga ingin memberi semangat untuk papa..??" Kata Kira sambil mengelus perut buncitnya.


Shaka tertawa pelan dan menghapus airmatanya. Dielusnya perut Kira dan mengecupnya lembut hingga gerakan dalam perut Kira mulai tenang.


"Anak-anak papa memang baik. Terima kasih sudah memberi semangat untuk papa. Jangan terlalu semangat bermain di sana. Kasihan mama kesakitan. Hmmmm.." Kata Shaka lalu kembali mengecup lembut perut buncit istrinya lalu menempelkan telinganya ke perut Kira seakan tengah mendengar anak-anaknya menjawab perkataannya.


******************************************


Hai, kakak-kakak readers..!! Akhirnya author update lagi setelah off selama seminggu. Maaf lama menunggu karena terus terang author-nya sempat kehilangan semangat untuk meneruskan dua novel yang on-going dan lebih sibuk update ke cerpen. Semoga setelah ini author-nya tetap semangat yaaaa..!! Hehehehehe..


Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.


Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^


Terima kasih..!!


Hug,


Cheerieza