
Kate duduk di meja kerjanya dengan tatapan menerawang, jari-jari tangannya tidak berhenti mengetuk meja, dahinya berkerut seakan tengah berpikir keras. Kate benar-benar dibuat gila oleh Shaka. Semakin laki-laki itu menolaknya, semakin besar keinginannya untuk memiliki Shaka. Tidak pernah ada laki-laki yang menolaknya. Dan Shaka tidak akan menjadi laki-laki pertama yang menolaknya. Kate tengah berpikir bagaimana caranya bisa memiliki Shaka tanpa diketahui oleh Simon. Karena asistennya itu pasti akan selalu mengganggu rencananya. Suara telpon membuyarkan lamunan Kate. Terdengar suara Eva, sekretarisnya di seberang telpon.
“Bu, pak Fahri dari Raven Adventure menghubungi. Pak Fahri mengatakan ada sedikit masalah dengan draft perjanjian kerjasama yang akan ditandatangani. Beliau juga sudah mencoba menghubungi pak Simon tapi tidak tersambung.” Kata Eva.
Wajah Kate langsung berbinar. Dia tahu saat ini Simon sedang berada di lokasi proyek pembangunan hotel baru yang ada di pinggir kota dan disana memang susah sinyal. Sedangkan kontrak kerjasama perusahaan mereka besok akan ditandatangani. Tiba-tiba terbersit sebuah ide di kepalanya.
“Eva, tolong sampaikan pada pak Fahri untuk menemui pak Simon di lokasi proyek. Jelaskan padanya bahwa di lokasi itu memang susah sinyal dan saya juga sedang sibuk jadi tidak bisa menemui beliau.” Perintah Kate.
“Baik, bu.” Sahut Eva lalu menutup telpon.
Senyum penuh kemenangan mengembang di wajah Kate. Dia tampak tidak sabar menunggu waktu berjalan. Setelah hampir 2 jam berlalu. Dia yakin saat ini Fahri sudah sampai lokasi proyek dan bertemu Simon. Kate segera meraih telpon di mejanya dan menghubungi nomer ekstensi Eva.
“Eva, tolong sampaikan pada pak Fahri dan Simon agar mereka segera kembali. Saya juga ingin tahu ada masalah apa dengan draft kontrak itu.” Kata Kate.
“Baik, bu.” Sahut Eva. Tak berapa lama Eva kembali menghubungi Kate.
“Maaf, bu. Pak Simon dan pak Fahri tidak bisa dihubungi.” Kata Eva.
Kate tersenyum. Dia melihat jam dinding di ruangannya menunjukkan pukul 4.30 sore.
“Tolong hubungi pak Shaka. Minta untuk bertemu di restoran Classy yang ada di lantai 1 hotel Scarlett di daerah XXX. Dan tetap hubungi Simon dan pak Fahri. Katakan pada mereka untuk segera menyusul.” Perintah Kate.
“Baik, bu.” Jawab Eva.
Kate tersenyum dan bergegas berjalan meninggalkan ruangannya. Dia tidak mau rencananya kembali kandas karena Fahri dan Simon keburu kembali.
“Bagaimana..?? Kamu sudah bisa menghubungi mereka..??” Kate pura-pura bertanya.
“Belum, bu.” Jawab Eva takut-takut karena melihat Kate yang gusar dan terus melihat jam tangannya.
“Baiklah. Jam kerja sebentar lagi selesai. Saat mereka bisa dihubungi aku yakin mereka sudah perjalanan pulang ke rumah. Kamu tidak perlu menghubungi mereka lagi. Aku akan mengurus masalah draft perjanjian ini sendiri.” Kata Kate.
“Baik, bu.” Sahut Eva.
Kate berjalan ke arah lift dengan tersenyum puas. Akhirnya dia bisa menjalankan rencananya. Dia yakin malam ini akan bisa memiliki Shaka dan membuat laki-laki itu bertekuk lutut di hadapannya.
****
Shaka menatap dingin pada wanita dihadapannya. Dia dan Kate telah 2 jam menunggu tapi baik Fahri maupun Simon masih belum datang bahkan tidak bisa dihubungi.
“Lebih baik besok kita bicarakan lagi masalah ini. Aku harus pulang.” Kata Shaka kesal karena waktu telah menunjukkan jam 8 lebih.
“Tapi perjanjian itu akan ditandatangani besok dan kakakku sudah mengatur jadwalnya. Kamu tahu dia sangat sibuk dan jadwalnya juga sangat padat.” Jawab Kate berpura-pura kesal.
“Bukankah Fahri sudah berangkat menemui Simon. Mereka pasti bisa mengatasinya.” Kata Shaka dingin.
“Aku juga perlu memastikan perjanjian itu sudah dibuat dengan benar. Bukankah kamu sendiri yang selalu mengatakan untuk bersikap profesional..??” Cibir Kate.
Dia tersenyum saat melihat Shaka menenggak habis jus buah yang ada dihadapannya.
“Sepuluh menit..?? Aku yakin malam ini kamu tidak akan keluar dari hotel ini, Shaka.” Gumam Kate dalam hati.
Tak lama Shaka mulai tampak gelisah, nafasnya berat, dan dia tiba-tiba merasa tubuhnya kepanasan. Shaka melepaskan dasinya dan membuka 2 kancing teratas kemejanya untuk mengurangi rasa gerah di tubuhnya. Entah kenapa dia merasa tiba-tiba gairahnya naik begitu cepat dan seakan ingin meledak. Sesuatu dibawahnya bahkan sudah mulai mengeras dan butuh pelepasan. Kate menelan ludahnya saat melihat dada bidang Shaka yang sedikit terekspose. Shaka melihat Kate yang menatapnya dengan aneh lalu melihat gelas minumannya yang telah kosong. Saat itulah Shaka sadar dia telah dijebak oleh Kate.
“Kamu kenapa, Shaka..?? Sepertinya kamu kesakitan.” Tanya Kate dengan suara menggoda.
Shaka menatap tajam pada Kate. Gadis itu tampak berjalan lalu pindah ke kursi yang ada disamping Shaka dan bergelayut manja di lengan laki-laki itu.
“Aku akan membantumu lepas dari siksaan ini.” Bisik Kate lalu memberi tanda pada 2 orang pria bertubuh besar untuk mendekat.
Kedua pria itu membawa Shaka keluar dari restoran Classy. Pegawai yang ada disana hanya diam karena Kate adalah anak dari pemilik hotel tempat mereka bekerja. Shaka berusaha memberontak tapi tidak bisa mengendalikan tubuhnya karena pengaruh obat yang diberikan oleh Kate. Mereka membawa Shaka ke kamar President Suite yang ada di hotel itu. Shaka sempat membaca nama kamar sebelum dibawa masuk oleh 2 orang pria itu. Kate tersenyum puas melihat Shaka yang terbaring gelisah di atas ranjang kamar itu. Dia berjalan mendekat lalu duduk di atas perut kokoh Shaka.
“Setelah ini kamu pasti akan meninggalkan wanita tua itu demi bersamaku, sayang.” Kata Kate tanpa malu.
“Aaaaaaaarrghh..!!” Teriak Kate terkejut.
Shaka yang masih memiliki sedikit kesadaran langsung mendorong tubuh Kate hingga terhempas dan terjatuh dari ranjang. Shaka bergegas berdiri dan melihat sekeliling. Dia berlari ke pintu terdekat yang ternyata adalah kamar mandi lalu mengunci dirinya di dalam sebelum Kate berhasil menyusul. Terdengar suara gadis itu berteriak memanggilnya sambil terus menggedor pintu kamar mandi. Beruntung pintu itu terbuat dari Kayu Jati kualitas tinggi. Kalau tidak, bisa jadi pintu itu sudah roboh. Shaka meraih HP yang ada di saku jasnya dengan tangan gemetar.
“Halo, Bie. Bagaimana meetingnya..??” Terdengar suara Kira dari seberang telpon.
“Kira, datanglah kemari. Aku butuh bantuanmu.” Kata Shaka dengan suara bergetar dan napas tersengal.
“Bie, apa yang terjadi..??!! Kamu dimana..??!!” Seru Kira panik apalagi saat dia mendengar suara gaduh dan teriakan dibelakang Shaka.
“Scarlett Hotel di jalan XXX kamar President Suite. Kira aku mohon cepatlah.” Pinta Shaka.
“Tunggulah, Bie. Aku akan datang.” Sahut Kira sebelum menutup telponnya.
"Shaka, buka pintunya..!!" Teriak Kate histeris.
Shaka membuka bajunya dan berjalan ke arah shower lalu menyalakan air dingin untuk mengurangi efek dari obat yang diberikan Kate. Dia dapat mendengar suara Kate yang terus berteriak. Shaka takut Kate akan bisa membuka pintu kamar mandi sebelum Kira datang.
“Kira, aku mohon cepatlah..!!” Seru Shaka dalam hati. Dia terus meringkuk dibawah shower meski tubuhnya mulai mengigil kedinginan.
************************************************
Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.
Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^
Terima kasih..!!
Hug,
Cheerieza