(Family) Bound

(Family) Bound
Semoga Berakhir Bahagia



Rumah Shaka begitu riuh dan penuh, sampai-sampai rasanya dia kekurangan pasokan oksigen. Saat ini dia tengah mencari udara segar di halaman samping rumahnya saat melihat seseorang mengendap-endap dalam kegelapan. Shaka mendengus kesal saat melihat sosok pria yang menyelinap masuk ke halaman rumahnya. Dia tahu pasti siapa orang itu.


"Kalo lo tetap nekat masuk, gue batalin pernikahan lo sama anak gue..!!" Seru Shaka.


Sosok itu tampak terkejut. Rupanya dia tidak menyadari kalau Shaka sudah berdiri tidak jauh darinya. Pria itu tampak menggaruk tengkuknya karena salah tingkah. Dilihatnya Shaka berdiri tegap dihadapannya dengan dua tangan dalam saku celananya.


"Aku kangen sama Rania, Ka. Pleeeaaasee.. biarin aku ketemu dia bentar ya." Pinta laki-laki itu memohon.


"Astaga, Justin. Lo lupa kalo kalian lagi dipingit..??!! Lagian besok juga kalian ketemu. Malah udah sah. Sabar sedikit kenapa..??!!" Kata Shaka lalu melayangkan satu pukulan ke kepala sahabatnya itu.


"Lah kalian sadis banget. Pingit sich pingit. Tapi masa ga boleh sekedar telponan..??" Protes Justin.


"Derita lo..!! Gue anggap itu hukuman buat lo karena berani nikahin anak gue di usianya yang masih sangat muda." Sahut Shaka tidak mau kalah. Dua pria itu lalu terdiam sejenak dan saling menatap penuh arti.


"Besok gue akan menyerahkan salah satu orang paling berarti dalam hidup gue untuk menikah sama lo. Ingat. Lo janji akan selalu mencintai dan membahagiakan anak gue." Kata Shaka.


"Kamu sangat mengenalku, Ka. Dan kamu bisa memegang kata-kataku." Sahut Justin.


"Gue ga segan untuk membawa Rania jauh dari hidup lo kalo sampe lo berani menyakiti anak gue." Tegas Shaka sekali lagi. Justin mengangguk untuk menjawab Shaka.


"Aku tahu. Dan aku tidak akan memberimu kesempatan untuk menjauhkan Rania dariku. Aku mencintainya." Kata Justin tanpa ragu. Shaka diam dan menatap tepat ke dalam mata Justin.


"Sekarang lo pulang..!! Atau beneran gue batalin nikahnya nich..!!" Ancam Shaka.


"Okeee.. okeee.. aku pulang..!! Apes emang punya calon mertua galak kayak lo." Sungut Justin.


"Ngomong-ngomong. Setelah aku menikah dengan Rania, apa aku harus memanggilmu papa..??" Tanya Justin sambil menggaruk kepalanya. Dia bingung menghadapi persahabatannya dengan Shaka yang tiba-tiba terlihat rumit.


"Panggil kayak biasa aja. Geli kuping gue denger lo manggil gue papa." Sahut Shaka sambil bergidik geli membayangkan sahabatnya memanggil dia papa.


"Udah sekarang lo pergi sana..!!" Perintah Shaka tegas.


Justin berdecak kesal sambil berjalan menjauh. Dia tidak berani membantah Shaka, takut laki-laki itu akan benar-benar melaksanakan ancamannya. Justin berhenti sejenak dan memandang ke arah jendela kamar Rania. Berharap akan melihat gadis itu meski hanya sekilas. Shaka berdehem untuk menyadarkan Justin dan laki-laki itu kembali melangkah pergi.


Shaka tetap tinggal di tempatnya hingga akhirnya Justin benar-benar pergi meninggalkan pekarangan rumahnya. Dia lalu kembali masuk ke dalam rumahnya. Laki-laki 41 tahun itu berhenti di depan foto pernikahannya dan Kira. Shaka terus menatap foto itu dengan tatapan penuh kerinduan. Ingatannya melayang kembali pada hari paling bahagia dalam kehidupannya.


"Papa." Shaka menoleh saat mendengar Rania memanggilnya.


Shaka tersenyum saat melihat putrinya berjalan mendekat. Rania yang sudah dewasa terlihat begitu mirip dengan Kira. Hanya kulit Rania lebih putih karena mewarisi warna kulitnya. Gadis itu juga memiliki pembawaan lebih tenang dan sabar. Membantu merawat ibunya yang sakit saat dia masih kecil membuat Rania tumbuh menjadi sosok gadis yang mampu berpikir dan bertindak dewasa meski usianya baru 20 tahun.


"Papa tadi kemana..?? Dari tadi aku terus mencari papa." Tanya Rania. Shaka terkekeh mendengar pertanyaan putrinya.


"Papa tadi ke samping dan menangkap basah pencuri." Jawab Shaka.


"Pencuri..??" Kata Rania dengan dahi berkerut.


"Calon suamimu sudah tidak sabar ingin bertemu. Papa memergoki dia mengendap-endap masuk. Tapi papa sudah usir dia." Jawab Shaka.


Shaka mengacak pelan rambut Rania saat melihat wajah putrinya memerah. Dia lalu merangkul tubuh Rania dan kembali menatap foto pernikahannya.


"Papa pasti ingat waktu nikah sama mama." Kata Rania sembari melingkarkan tangannya ke tubuh Shaka.


"Ya. Itu hari terbaik dalam hidup papa. Bertemu mamamu adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup papa. Dan begitu banyak kebahagiaan yang diberikan mamamu. Kamu dan saudara-saudaramu adalah hadiah terindah yang diberikan mama kalian." Kata Shaka dengan suara tercekat.


Mata Shaka terus menatap foto pernikahannya dengan penuh kerinduan dan rasa cinta. Rania menepuk-nepuk pelan punggung ayahnya untuk menenangkan laki-laki kesayangannya itu.


"Aku harap kelak aku dan mas Justin bisa terus saling mencintai seperti papa dan mama. Tidak peduli seberat apapun ujian yang datang." Kata Rania.


Ingatan Rania melayang kembali pada waktu delapan tahun lalu. Saat cinta diantara Shaka dan Kira diuji dengan begitu hebatnya. Selama dua tahun keluarga mereka harus menghadapi ujian yang datang silih berganti. Dan ujian terberat adalah saat Kira divonis sakit. Selama itu pula Rania melihat Shaka yang terus bertahan di sisi Kira hingga penghabisan.


"Papa sudah sangat lama mengenal Justin. Dia pria baik dan juga sangat mencintaimu. Calon suamimu itu bahkan rela menunggu dengan sabar sampai kamu dewasa dan siap untuk menikah. Dia juga menepati janji untuk menjaga batasannya hingga waktunya tiba." Kata Shaka lalu mencium puncak kepala Rania.


"Papa..!!"


Shaka dan Rania hampir terlonjak ditempat saat mendengar suara menggelegar memanggil Shaka. Perhatian semua orang dalam rumah itu langsung beralih ke asal suara. Seorang pria dengan kepala plontos dan seragam militer berlari ke arah mereka dan langsung memeluk keduanya bersamaan.


"Kak Adit apa-apaan sich..??!! Pakai teriak segala. Kaget tahu ga..??!!" Protes Rania yang sepertinya tidak dipedulikan oleh Adit.


"Udah mau nikah, masih aja bawel." Sungut Adit.


"Ngomong-ngomong, pelangkahan buat aku sama Radit sudah siap semua kan..??" Tanya Adit sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Bisa-bisanya. Begitu datang bukannya tanya kabar malah nanyain pelangkahan." Gerutu Rania.


"Sudah. Semua sudah siap sesuai permintaan kak Adit dan Kak Radit." Seru Rania kesal.


Dia masih kesal karena Dit-dit membuat dia nyaris menguras habis tabungannya untuk memenuhi permintaan mereka sebagai syarat pelangkahan karena mendahului kedua kakaknya menikah.


"Apa kabarmu, Letnan Adit..??" Tanya Shaka bangga. Perhatian Adit kembali pada Shaka.


"Baik, pa. Ngomong-ngomong, tidak lama lagi aku akan diangkat menjadi Kapten karena Kenaikan Pangkat Luar Biasa." Kata Adit sambil menepuk dadanya penuh kebanggaan.


"Selamat, Dit." Kata Shaka semakin bangga.


"Percuma naik pangkat kalau tetap jomblo." Cibir Rania.


"High quality jomblo dong." Balas Adit tidak terpengaruh.


"Radit sudah datang, pa..?? Jangan bilang kalau dia sekarang masih ada di pelosok paling timur Indonesia." Sungut Adit. Shaka terkekeh mendengar perkataan Adit.


"Radit sudah datang sore tadi. Dia sedang istirahat di kamar. Satria dan Bara juga ada disana." Kata Shaka.


"Okeee.. kalau begitu aku akan langsung ke ka.. aduuuuuh..!! aduuuuuh..!!" Teriak Adit kesakitan karena mendapatkan serangan bertubi-tubi.


"Mama..!! Sakit..!!" Protes Adit.


"Salah sendiri..!! Kamu datang langsung teriak tidak jelas, tidak mengucapkan salam, terus sekarang mau langsung masuk kamar tanpa menyapa mama dulu. Begitu..??!!" Adit hanya bisa meringis dan mengelus lengannya yang mendapat cubitan keras dari Kira.


"Assalamualaikum, mamaku sayang..!!" Kata Adit lalu memeluk dan mencium pipi Kira.


"Walaikumsalam." Balas Kira, Shaka, dan Rania bersamaan. Kira membalas pelukan Adit dengan erat.


"Bagaimana kabarmu, nak..??" Tanya Kira sembari menangkup wajah pria 26 tahun itu.


"Alhamdulillah baik, ma. Minggu lalu aku dapat pemberitahuan Kenaikan Pangkat Luar Biasa jadi aku akan segera diangkat menjadi Kapten." Jawab Adit.


"Alhamdulillah. Selamat, nak." Kata Kira sambil kembali memeluk Adit. Pria itu melepas pelukannya dan meringis saat merasakan sesuatu menyambar kepalanya.


"Pierre..!! Kenapa menembak kepala oom Adit..??!!" Seru Adit sambil mengelus kepalanya. Dia lalu menggendong anak laki-laki berusia 4 tahun yang tengah memegang pistol mainan.


"Kepala oom Adit lucu kayak bola." Jawab anak itu sambil tertawa kegelian karena Adit terus menciumi wajahnya dengan gemas.


"Hei, jagoan. Disini kamu rupanya..??" Panggil Edo.


"Papa, tolong..!!" Pekik Pierre saat Adit mulai menggelitiknya.


"Apa kabar, Dit..??!!" Kata Edo sambil meraih tubuh putranya dari gendongan Adit.


"Baik, kak. Kak Edo apa kabar..?? Kak Luna juga apa kabar..??" Jawab Adit.


"Kami baik, Dit. Luna sedang makan malam. Untuk ketiga kalinya." Kata Edo sambil terkekeh.


Adit mengedarkan pandangan dan melihat Luna tengah duduk di depan TV sambil memangku sepiring nasi. Perutnya terlihat buncit dan bulat karena usia kandungan sudah mencapai 30 minggu. Didekat Luna ada Ratna dan Rianti yang tengah memangku Jessica, putrinya dan Hans yang berumur 6 tahun.


"Adit, jangan memancing keributan." Tegur Edo yang bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Adiknya.


"Aku hanya ingin menyapa kak Luna." Sahut Adit sambil terus melangkah mendekati Luna. Kira, Shaka, Rania, dan Edo hanya bisa menggelengkan kepala.


"Dia tidak pernah berubah. Kapan dia akan dewasa..??" Keluh Kira sambil merangkul tubuh Shaka dari samping.


"Entahlah. Aku kasihan dengan siapapun wanita yang menjadi istrinya nanti. Bisa aku bayangkan tiap hari dia dibuat kesal oleh kak Adit." Sahut Rania. Seperti yang sudah mereka duga. Tak lama kemudian terdengar keributan antara Adit dan Luna.


"Makan malam sudah hampir siap." Kata Kira. Dia mendongakkan kepalanya untuk menatap mata Shaka.


"Kalian pergilah dulu. Aku akan menyusul." Kata Shaka lalu mengecup singkat bibir Kira.


"Baiklah. Jangan terlalu lama. Satria sudah ribut dari tadi. Luna juga sepertinya tidak keberatan untuk makan malam yang keempat kalinya." Sahut Kira terkekeh pelan.


"Ingatkan aku kalau makan malam sudah siap." Kata Shaka lagi. Kira mengangguk lalu berjinjit untuk mencium pipi Shaka sebelum beranjak pergi.


Shaka menoleh ke arah foto Pierre yang masih terpajang dengan rapi di tempatnya. Laki-laki yang tidak pernah tahu bahwa kehadirannya dalam hidup Kira dulu membawa dampak begitu besar dalam hidup Shaka. Mungkin kalau Kira tidak bertemu Pierre, Shaka juga tidak akan pernah bertemu Kira.


Shaka mengamati keluarganya satu persatu. Hari ini tiga keluarga besar Rahardian, Hardisiswo, dan Tanzil berkumpul karena besok Rania akan menikah dengan Justin. Persiapan pernikahan Rania dan Justin sudah selesai semua. Siap tidak siap. Mau tidak mau. Besok dia harus menyerahkan putrinya pada sahabat yang dia kenal selama 24 tahun. Shaka tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah mereka.


Delapan tahun lalu dia hampir kehilangan Kira karena sel-sel dalam tubuh Kira langsung melakukan perlawanan saat sel punca yang berasal dari tali pusat Dara ditanamkan melalui infus. Beruntung dokter Joseph dan Tim dokter Kira berhasil menstabilkan kondisi Kira. Shaka begitu tersiksa saat Kira mengalami koma selama Lima hari. Setelah Kira sadar dan kondisinya membaik, mereka kembali mencoba menanamkan sel punca dari tali pusat milik Bara. Untunglah tubuh Kira bisa menerima dengan baik. Setelah perawatan lanjutan yang dilakukan selama setahun, Kira dinyatakan sembuh. Tapi Kira harus tetap menjalankan pemeriksaan rutin setiap enam bulan sekali untuk melihat apakah sel kanker kembali menyerang tubuhnya atau tidak. Shaka menatap Kira dari kejauhan. Setiap hari dia semakin mencintai istrinya. Dan Shaka semakin posesif karena merasa Kira semakin menarik seiring bertambahnya usia. Dia percaya Kira tidak akan mengkhianatinya. Tapi dia tidak mempercayai setiap laki-laki diluar sana.


Pandangan Shaka beralih ke Edo. Putranya sekarang berusia 29 tahun dan tengah menantikan anak keduanya bersama Luna. Edo memberi nama putranya PIERRE karena tahu betapa berartinya sosok Pierre bagi keluarga mereka. Edo memutuskan tinggal di Indonesia bersama keluarganya karena bengkel yang dia miliki semakin besar bahkan telah memiliki beberapa cabang. Sebulan sekali Edo ke Jerman selama seminggu untuk membantu Hans mengurus perusahaan keluarga Tanzil. Peter sudah meninggal dan sekarang Hans yang mengambil alih perusahaan. Hans sendiri menikah dengan Rianti hampir 7 tahun lalu. Edo dan Luna terpaksa mengundurkan rencana pernikahan mereka karena Rianti hamil terlebih dulu. Meski sangat kesal dan sempat merajuk, tapi Edo juga mengerti karena Hans menjadi duda sejak Jenna meninggal tidak lama setelah melahirkan Edo. Meski tetap saja, apa yang dilakukan Hans dan Rianti salah. Hans dan Rianti memiliki seorang putri bernama Jessica yang sekarang berusia 6 tahun.


Radit menjadi dokter spesialis Hematology diusianya yang masih sangat muda. Karena kecerdasannya, dia menyelesaikan semua pendidikan lebih cepat dengan predikat cumlaude. Pria itu memilih menjadi spesialis Hematology karena selalu teringat saat Kira sakit dulu. Yudha sebenarnya menawarkan Radit untuk bekerja di Orchid Hospital dan meneruskan mengurus rumah sakit itu. Tapi Radit belum menerimanya. Setidaknya untuk beberapa tahun ke depan. Dia masih perlu waktu untuk mengambil keputusan. Saat ini Radit lebih memilih mengabdikan tenaga dan pengetahuannya untuk mereka yang tidak terjangkau fasilitas kesehatan, terutama untuk masyarakat yang berada di pelosok negeri. Radit bahkan memilih melepaskan keinginannya untuk menjadi polisi demi keinginannya mengabdi.


Adit sendiri memiliki karier cemerlang di militer. Dia menjadi salah satu kebanggaan kesatuannya dan sering dikirim keluar negeri untuk mengikuti pelatihan gabungan dengan negara lain. Adit mendapatkan penghargaan saat ditugaskan di salah satu daerah konflik. Disana dia dengan berani memimpin tim-nya untuk menyelamatkan sekelompok warga sipil yang hampir dibantai. Meskipun tentu saja, disaat bersamaan Adit mendapat sanksi karena bergerak melawan perintah untuk tidak ikut campur dalam konflik di daerah tersebut.


Rania, putrinya yang besok akan menikah. Gadis 20 tahun itu lebih memilih untuk ikut kursus memasak daripada melanjutkan kuliah. Sebenarnya Shaka dan Kira menyayangkan keputusan Rania karena gadis itu cerdas dan dia juga masih sangat muda. Tapi rupanya gadis itu benar-benar ingin memperdalam kemampuannya memasak. Ditambah lagi Rania memang berencana untuk menjadi ibu rumah tangga setelah menikah. Dia ingin menjadi koki terbaik untuk keluarganya. Kisah cinta Justin dan Rania pun tidak berjalan semulus yang diharapkan. Selain karena perbedaan usia yang sangat jauh. Reputasi Justin sebagai Public Figure dan salah satu bujangan paling diincar juga sempat mempengaruhi hubungan mereka. Tapi pada akhirnya Rania dan Justin mampu mengatasi setiap kendala yang menghadang.


Justin sudah mengundurkan diri dari dunia hiburan. Autumn River bubar saat masih berada di puncak kejayaan. Mereka berhenti dengan tetap menyandang predikat terbaik dan hal itu melekat dalam ingatan semua orang yang mengenal Autumn River. One Miles Agency menjadi agency artis terbesar di Indonesia. Justin dan Andhika menjadi pemegang saham terbesar setelah Andrew. Sekarang Justin telah mengambil alih perusahaan keluarga Wongsonegoro. Hendra meninggal setahun setelah insiden dengan Fabian. Dan mulai dua tahun lalu Anindya mundur dari jabatannya sebagai CEO. Fabian menjalani hukuman 5 tahun penjara. Jauh lebih ringan dari tuntutan jaksa, yaitu 15 tahun penjara. Setelah bebas, Fabian menjadi asisten Justin dan membantunya mengurus perusahaan. Fabian sekarang seperti bayangan Justin yang selalu mengikuti dan menjaga Justin bahkan dengan nyawanya sendiri.


Satria yang sekarang berusia 17 tahun dan duduk di kelas 2 SMA menjadi salah satu YouTuber kenamaan. Dia memiliki kesamaan dengan Shaka dan Adam yang menyukai travelling untuk menjelajahi alam. Ditambah bakatnya yang menyampaikan cerita ala reporter, membuat konten wisata yang dia posting menjadi salah satu favorit para petualang. Jangan lupa, dia juga selalu membawa nama Raven Adventure milik Shaka dalam setiap konten yang dia buat hingga travel agent milik ayahnya semakin dikenal. Satria sendiri sudah menyatakan kesediaannya untuk meneruskan bisnis Raven Adventure setelah dia lulus kuliah.


Shaka tertawa saat kembali mendengar keributan diruang keluarga. Seperti biasa, Nara dan Ranu selalu bertengkar setiap kali mereka bertemu. Kedua remaja itu seperti Tom and Jerry dalam dunia nyata. Nara bukan lagi princess kecil seperti dulu. Gadis itu sekarang adalah gadis tomboy yang lebih sering berpenampilan hampir menyerupai laki-laki. Untung saja gadis itu tetap mempertahankan rambut panjangnya. Nara sering berdebat dengan Kira mengenai penampilan gadis itu. Remaja itu juga lebih serius dalam berlatih bela diri. Dia sekarang menjadi salah satu atlet bela diri nasional untuk kategori U-16. Sudah banyak medali yang dia bawa pulang. Sedangkan Ranu, anak laki-laki Rianti dengan suami pertamanya. Shaka sudah lama menyadari kalau anak itu sebenarnya menyukai Nara dan selalu berusaha menarik perhatian putrinya dengan terus mencari keributan setiap kali mereka bertemu. Ranu berlatih Muay Thai sejak berumur 8 tahun. Saat itu Nara yang kelewat kesal dengan keusilan Ranu berhasil membanting tubuh bocah itu dengan telak. Dan sekarang bisa dibilang Ranu memiliki kemampuan yang setara dengan Nara, bahkan mungkin lebih kuat dari gadis itu. Melihat keduanya berkelahi juga sudah menjadi pemandangan biasa bagi keluarga mereka.


Bara yang sekarang berusia 8 tahun sifatnya lebih mirip Shaka dan Adit. Bocah itu sering membuat masalah di sekolahnya. Shaka dan Kira pun sering mendapat panggilan dari pihak sekolah, sama seperti saat Dit-dit sekolah dulu. Terakhir bahkan Bara menghajar dua kakak kelas yang terlihat mengganggu salah satu temannya. Sedangkan Dara, dia seperti Nara saat kecil dulu. Gadis kecil manja yang suka bermain menjadi seorang putri. Tapi tetap saja tidak ada yang berani macam-macam dengan Dara. Karena seperti setiap wanita dalam keluarga mereka. Dara akan berubah garang dan tidak segan menghajar setiap lawannya. Belum lagi ada Bara yang selalu siap membelanya.


"Bie..!! Makan malam sudah siap..!!" Seru Kira memanggil suaminya.


"Iya, sayang." Sahut Shaka lalu berjalan mendekati keluarganya.


Shaka tidak pernah menyesal mencintai Kira. Dia tidak pernah menyesali keputusannya untuk menikah di usia muda demi wanita yang dia cintai. Karena hidupnya penuh dengan kebahagiaan yang tidak pernah berhenti dia sukuri. Shaka hanya berharap keluarganya akan tetap bahagia meski menempuh jalan mereka masing-masing. Dan tetap dapat bertahan meski badai menghantam hidup mereka.


----- END -----


*******************************************


Hai.. hai.. hai..


Akhirnya kisah keluarga Shaka dan Kira selesai. Terima kasih untuk setiap dukungan, respon dan masukan yang diberikan untuk author. Kisah ini memang fokus pada masalah dalam keluarga dan yang dihadapi masing-masing tokoh. Sehingga ada beberapa chapter yang terkesan berdiri sendiri. Sebenarnya chapter-chapter tersebut tetap berkaitan satu sama lain. Author berusaha agar kisah dalam novel ini tetap bertahan dengan tema keluarga. Dan beberapa part terinspirasi dari beberapa kejadian yang author temui dalam kehidupan sehari-hari. Mohon maaf kalau sekiranya ada readers yang kurang berkenan. Author terbuka untuk setiap masukan agar kedepannya bisa menghasilkan karya yang lebih baik.


Jangan lupa untuk like, comment, atau vote agar author-nya semakin semangat berkarya. Mohon dukungan untuk setiap karya author ya, kak.


Author juga melampirkan foto cast untuk beberapa tokoh. Semoga kakak-kakak readers suka.


Terima kasih readers kesayanganku..!!


Hug,


Cheerieza


*******************************************


Shaka



Kira



Edo



Dit-dit



Rania (kecil dan dewasa)



Satria



Kinara



Hans



Aluna



Justin



Leo



Alex



Kate



Fabian