(Family) Bound

(Family) Bound
Bawa Dia Kembali



Kira tersenyum melihat Darius dan Edna yang masing-masing menggendong bayinya. Sudah dua hari orangtuanya menginap di rumah sakit dan menemaninya karena Shaka yang mendadak ada keperluan mendesak sampai-sampai tidak sempat berpamitan padanya.


"Kalau Dara sudah tidur letakkan saja di box-nya, pa. Jangan digendong terus, nanti papa capek." Tegur Kira.


"Umurku memang sudah tidak muda lagi. Tapi masih kuat menggendong cucu-cucuku. Jangankan Dara dan Bara. Menggendong Edo pun papa masih kuat." Bantah Darius.


"Jangan terlalu membual, Pa. Apa kamu tidak lihat kalau Edo tingginya hampir menyamai Adam..?? Yang ada nanti kamu mengeluh sakit punggung. Aku juga yang repot." Gerutu Edna.


"Tapi walaupun aku sakit punggung, tetap saja bisa membuatmu menjerit-jerit dan tidak berdaya kan." Sahut Darius dengan wajah me**m.


Edna melongo mendengar perkataan Darius. Mulutnya sedikit terbuka dengan wajah memerah karena malu dan kesal mendengar suaminya yang masih saja me**m meski usianya sudah 75 tahun.


"Bicara yang benar kalau di depan anak-anak..!! Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu di depan anak dan kedua cucumu..??!!" Sembur Edna.


"Kenapa harus malu..?? Kira bahkan sudah bisa membuat 7 cucu untuk kita." Sahut Darius cuek.


"Papa..!! Tapi Bara dan Dara masih bayi. Bisa-bisanya kamu meracuni mereka dengan pikiran kotormu itu..??!!" Seru Edna semakin kesal.


Darius hanya meringis mendengar omelan Edna. Bersyukur karena saat ini mereka tengah menggendong cucu mereka. Kalau tidak, bisa dipastikan Darius akan mendapatkan serangan bertubi-tubi dari istrinya. Kira berdehem untuk menyadarkan kedua orangtuanya kalau dia juga ada di ruangan itu.


"Kalau papa sama mama masih mau melanjutkan pembicaraan, lebih baik letakkan Bara dan Dara di box mereka. Aku tidak mau pikiran anak-anakku sampai tercemar di usia muda." Protes Kira.


Darius baru akan membalas perkataan Kira saat menyadari bahwa istri dan putrinya tengah menatap dengan tatapan yang seakan siap melemparnya dari atap gedung rumah sakit. Akhirnya dia memilih bungkam daripada harus menghadapi amarah dua wanita kesayangannya itu.


Darius dan Edna akhirnya meletakkan kedua cucu mereka yang tengah terlelap di box bayi masing-masing. Edna menoleh ke arah Kira lalu berjalan mendekati putrinya. Dia duduk di kursi yang ada di samping ranjang Kira lalu menggenggam lembut tangan kurus putrinya.


"Bagaimana perasaanmu hari ini..?? Apakah kamu merasa lebih baik..??" Tanya Edna sambil mengelus lembut kepala Kira dengan penuh kasih sayang.


"Setiap hari aku merasa lebih baik. Aku tidak sabar menjalani pengobatanku. Yudha dan tim dokter yang menanganiku mengatakan kalau harapanku untuk sembuh sangat besar. Dan lusa aku sudah bisa mulai melakukan kemoterapi." Jawab Kira penuh semangat.


"Tentu saja. Kamu akan sembuh. Putri kesayanganku ini adalah wanita yang kuat dan tangguh. Jadi mama yakin kamu pasti bisa melalui semuanya." Kata Edna sambil tersenyum hangat. Dia menatap lekat wajah Kira dengan mata berkaca-kaca.


Darius yang tengah duduk di sofa hanya terdiam mendengar pembicaraan istri dan putrinya. Sebagai seorang ayah, tentu saja dia tidak rela kehilangan anaknya. Dia sendiri merasa terpuruk saat melihat kondisi Kira yang sempat menurun drastis. Darius tahu bahwa kemoterapi sangat berat dan dia sendiri tidak tahu apakah akan sanggup melihat putrinya tersiksa karena efek terapi. Tapi sebagai seorang ayah yang selalu dijadikan sandaran oleh anak-anaknya, Darius hanya bisa diam dan bersikap kuat. Bagaimana bisa dia menjadi sandaran bagi mereka kalau dia terlihat lemah..??


Terdengar suara pintu dibuka. Rupanya Yudha datang untuk menjenguk Kira. Anak bungsu Darius dan Edna itu terlihat semakin tampan saat memakai jas dokternya. Meski usianya telah menginjak 42 tahun, Yudha masih bisa menarik minat setiap wanita yang melihatnya.


"Sepertinya pembicaraan kalian seru." Kata Yudha sambil berjalan mendekati ibu dan kakaknya.


"Kakakmu sudah tidak sabar ingin segera memulai pengobatannya." Sahut Darius. Yudha menoleh ke arah Kira.


"Baguslah. Tetaplah semangat. Itu akan sangat membantumu." Kata Yudha memberi semangat.


"Setelah Kira menyelesaikan proses penyesuaian, ma. Dalam proses ini, Kira akan menjalani kemoterapi. Proses penyesuaian membutuhkan waktu sekitar 5–10 hari. Selama menjalani tahap ini, Kira akan mengalami efek samping, seperti rambut rontok, diare, mual, dan muntah. Tapi dokter akan memberikan obat untuk meredakan efek samping itu. Setelah proses penyesuaian selesai, Kira masih harus beristirahat selama beberapa hari sebelum menjalani proses transplantasi." Kata Yudha menjelaskan.


"Kenapa terdengar begitu mengerikan..??" Tanya Edna dengan raut wajah putus asa.


"Aku tidak apa-apa, ma. Jangan kawatir seperti itu." Kata Kira menenangkan ibunya meski dia sendiri sebenarnya merasa takut.


"Bagaimana dengan Adam..?? Apakah kondisinya siap untuk menjadi donor..??" Tanya Darius. Yudha menggelengkan kepala dan tersenyum.


"Kami akan menggunakan sel punca dari tali pusat Dara dan Bara. Darah dari tali pusat bayi yang baru lahir umumnya masih belum matang, sehingga risiko munculnya ketidakcocokan paska transplantasi lebih kecil. Kebetulan saat kami melakukan tes, hasilnya mereka memiliki kecocokan dengan Kira. Jadi aku yakin kalau operasi ini akan berhasil." Jawab Yudha penuh keyakinan.


"Lakukan apapun untuk kesembuhan kakakmu." Kata Darius yang terdengar lebih seperti perintah yang tidak bisa dibantah.


"Tanpa papa minta pun pasti aku akan melakukannya." Sahut Yudha sambil berdecak kesal.


"Kamu dengar itu, sayang. Semua akan baik-baik saja. Kamu pasti akan sembuh. Yang harus kamu lakukan adalah tetap semangat dan bertahan selama menjalani kemoterapi." Kata Edna kembali bersemangat. Kira tersenyum lalu memandang orangtua dan adiknya bergantian.


"Terima kasih. Aku pasti akan berusaha untuk tetap bertahan." Kata Kira. Dia terdiam sejenak lalu menghela napas panjang.


"Aku hanya berharap Shaka bisa ada disini saat aku menjalani semuanya." Lanjut Kira. Membuat Darius, Edna, dan Yudha terdiam.


"Shaka pasti akan datang begitu semua urusannya selesai. Kamu tenang saja, sayang " Kata Edna berusaha menghibur Kira.


"Sudahlah, ma. Hentikan kebohongan kalian. Sejak pertama kalian mengatakannya, aku sudah tahu kalau kalian berbohong mengenai keberadaan Shaka." Sahut Kira sambil tersenyum membuat keluarganya salah tingkah.


"Aku sangat mengenal suamiku. Dia tidak akan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun pada keluarganya, segenting apapun urusan yang harus dia tangani. Ditambah lagi dia sama sekali tidak menghubungiku. Setiap kali Shaka pergi keluar kota, sesibuk apapun dia akan tetap menghubungiku." Kata Kira dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tahu sesuatu yang buruk pasti terjadi padanya dan kalian berbohong padaku karena takut kondisiku akan menurun. Selama ini aku diam karena aku percaya kalian pasti akan menolong Shaka. Lagipula Shaka sangat menginginkan kesembuhanku dan aku sudah berjanji padanya akan terus berjuang untuk bertahan hidup. Dan itulah yang sedang aku lakukan. Seberat apapun proses yang akan aku jalani untuk kesembuhanku, aku akan tetap hidup saat Shaka kembali. Jadi pastikan kalian juga membawa Shaka kembali dalam keadaan hidup." Kata Kira dengan tenang tanpa melepas pandangannya dari orangtua dan adiknya.


Wajah Kira terlihat begitu tenang dan teduh. Seakan dirinya dipenuhi keyakinan bahwa Shaka akan segera kembali dengan selamat. Tangis Edna pecah, dia menghambur dan memeluk erat tubuh putrinya. Edna terus menciumi wajah Kira bertubi-tubi.


"Putri mama memang hebat dan kuat. Kamu pasti akan sembuh dan tetap hidup. Shaka juga pasti akan segera kembali padamu dalam keadaan hidup. Kalian akan baik-baik saja dan terus bahagia seperti sebelumnya." Kata Edna ditengah isakannya.


Darius berjalan mendekati istri dan putrinya lalu duduk di sisi lain ranjang Kira. Dia mengelus lembut kepala Kira dan tersenyum meski dengan mata berkaca-kaca.


"Papa akan memastikan suamimu kembali. Tidak ada yang boleh mengusik kebahagiaan anak-anak papa. Siapapun orang yang berniat melakukannya harus menghadapiku terlebih dulu." Kata Darius yang terdengar seperti sebuah janji.


Pertahanan Darius runtuh saat melihat ketegaran putri kesayangannya. Dia menangis tersedu-sedu sambil menggenggam erat dan menciumi tangan Kira. Selama dia menjadi seorang ayah, ini pertama kalinya dia menangis di depan anak-anaknya. Darius selama ini selalu berusaha menjadi sosok yang tegar dan kuat untuk keluarganya. Menjadi batu kokoh yang menjadi sandaran bagi keluarganya sekaligus menghalau setiap gelombang yang berusaha menghempaskan mereka. Tapi sekarang dia merasa begitu tidak berdaya.


Yudha berdiri di belakang Darius dan mencengkeram erat bahu ayahnya untuk menguatkan laki-laki yang selalu menjadi panutannya. Bahu yang saat kecil dulu sering dia jadikan sandaran saat menangis. Bahu yang baginya sampai sekarang tetap terlihat kuat dan kokoh. Terus memberikan perlindungan bagi ibunya, dia, dan saudara-saudaranya.