(Family) Bound

(Family) Bound
Hati Yang Kembali Terbuka



Shaka sampai rumah sekitar jam 12.30 dini hari. Dia berjalan menuju kamarnya dengan langkah gontai. Tubuh dan pikirannya terasa begitu lelah. Begitu banyak hal yang terjadi hanya dalam hitungan jam.


Dia membuka pintu kamarnya perlahan, tidak mau membangunkan Kira yang pastinya sudah tidur. Shaka tersenyum melihat Kira bergelung di atas tempat tidur dengan sprei yang berantakan dan selimut yang tersibak hingga ke bagian perut. Tidak seperti kebiasaan Kira selama ini yang selalu tidur dengan tenang. Shaka yakin istrinya itu pasti gelisah karena tidak tidur dalam pelukannya.


Shaka membuka pintu kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah selesai dan memakai piyama tidur, Shaka menaiki ranjangnya dengan hati-hati. Perlahan dielusnya wajah pucat Kira lalu mengecup kening, pipi, dan bibir wanita yang telah menjadi belahan jiwanya sejak 16 tahun lalu.


Kira tampak terusik karena Shaka terus menciumi wajahnya. Perlahan dia membuka matanya dan melihat Shaka tengah menatapnya.


"Maaf. Aku jadi membangunkanmu." Kata Shaka sambil menarik tubuh Kira dalam pelukannya.


"Kapan pulang, Bie..??" Tanya Kira sambil membalas pelukan Shaka.


"Baru saja. Mungkin sekitar 20 menit yang lalu." Jawab Shaka.


"Sudah makan malam..?? Mau aku siapkan makan untukmu..??" Tanya Kira sambil mendongakkan kepalanya.


"Aku kenyang. Tadi sekalian makan bareng anak-anak." Jawab Shaka lalu membenamkan wajahnya di puncak kepala Kira, menghirup aroma rambut istrinya.


"Bagaimana hasilnya..??" Tanya Kira lagi.


"Semua sudah selesai. Aku mendapatkan bukti dan saksi kalau aku tidak bersalah. Bukan aku penyebab kematian Vino." Jawab Shaka dengan penuh kelegaan. Dia mengeratkan pelukannya pada Kira.


"Benarkah..?? Syukurlah, Bie." Kata Kira sambil menciumi wajah suaminya karena saking leganya.


"Lalu siapa pelakunya..?? Apa kamu kenal orangnya..??" Tanya Kira lagi.


"Fabian. Laki-laki yang sekarang menjadi pemilik Orange Clock. Aku akan segera menyerahkan bukti-bukti yang memberatkan Fabian, agar dia mendapatkan ganjaran atas perbuatannya." Jawab Shaka.


"Berhati-hatilah, Bie. Dia orang yang berbahaya." Kata Kira memperingatkan.


"Tentu." Sahut Shaka sambil mengelus lembut punggung Kira.


"Sejak awal aku yakin kamu tidak bersalah. Sekarang terbukti kan." Kata Kira sambil tertawa pelan lalu membenamkan wajahnya ke dada bidang Shaka.


"Terima kasih karena kamu selalu mempercayaiku dan tetap bertahan disisiku." Bisik Shaka.


"Aku mencintaimu, Bie." Kata Kira lirih. Matanya perlahan menutup karena sudah tidak mampu lagi menahan kantuknya. Shaka tersenyum dan mengecup kening Kira.


"Dan aku sangat mencintaimu." Bisik Shaka sebelum akhirnya menyusul Kira ke alam mimpi.


*****


Suasana di rumah Shaka sangat riuh. Malam ini Edo akan melamar Luna. Keluarga Hardisiswo dan keluarga Rahardian semua berkumpul untuk mempersiapkan semua keperluan. Bahkan Mahesa dan Vivi menyempatkan diri datang dari Belgia untuk menghadiri acara itu. Mereka semua tidak ingin ketinggalan salah satu moment penting dalam hidup Edo. Tentu saja, suasana hari itu semakin ramai karena perdebatan antara Darius dan Mahesa yang tidak ada habisnya.


Shaka terlihat lebih ceria dan terlihat bahagia. Kesalahpahaman antara dia, suster Hani, dan Rosi sudah berakhir. Mereka akhirnya percaya bahwa Shaka tidak bersalah. Justin sendiri tengah melacak keberadaan Alvaro, anak Vino dan Farah, agar dapat berkumpul dengan suster Hani dan Rosi. Sedangkan Wira, saat ini masih dalam pemulihan. Wahyuni dan Justin juga sepakat akan mengadopsi Wira sebagai anak Wahyuni.


Shaka sudah menyerahkan bukti-bukti yang memberatkan Fabian dalam kasus kematian Vino dan saat ini polisi tengah melakukan penyelidikan. Tapi Fabian sendiri terlalu licin untuk ditangkap. Dia bahkan telah melarikan diri tepat sebelum polisi datang untuk meminta keterangan darinya.


Dengan ijin suster Hani, kerangka jenasah Vino digali untuk melakukan visum. Masalahnya, Doni yang menjadi saksi utama kejadian itu tiba-tiba menghilang saat dalam pengawasan polisi. Tapi rekaman pengakuan Doni yang disimpan Alex bisa dijadikan bukti oleh polisi. Pihak kepolisian juga memperingatkan Shaka dan ketiga temannya agar lebih berhati-hati karena Fabian adalah orang yang berbahaya.


Edo dengan inisiatifnya telah membuka usaha sendiri berupa bengkel mobil dan motor. Edo memulai bisnisnya setelah mendengar Shaka sempat mengalami kesulitan keuangan karena insiden dengan Scarlett group.


Bengkel milik Edo memang tidak besar, tapi cukup untuk biaya hidupnya sendiri. Meski tentu saja, Shaka memaksa untuk tetap memberi uang saku pada Edo. Hans benar-benar berterima kasih pada keluarga Shaka karena telah merawat Edo dengan baik dan penuh kasih sayang.


Sedangkan Luna, dengan dukungan dari Edo dan keluarganya, kondisi psikisnya semakin membaik. Luna bukan hanya menjalani terapi tapi juga bergabung dengan komunitas bagi para wanita korban per**saan sesuai saran Ratna. Disana Luna bertemu para wanita yang bahkan nasibnya lebih buruk darinya dan mereka pun saling menguatkan.


Hans tersenyum dan menatap haru pada Edo. Meski baru berusia 21 tahun, putranya sudah dewasa dan tidak lama lagi akan menempuh hidup baru. Hans mengalihkan pandangannya pada Kira. Wanita itu tengah duduk di sofa di dampingi oleh suster Hani, Edna, dan Vivi. Meski wajahnya sangat pucat, tapi wajah Kira terlihat berbinar.


"Papa." Panggil Edo.


"Ada apa, Ed..??" Sahut Hans sambil menoleh ke arah Edo.


"Opa beneran tidak bisa datang..??" Tanya Edo dengan wajah yang terlihat kecewa.


"Opa banyak urusan di Jerman, Ed. Sedang ada sedikit masalah disana. Tapi opa berjanji akan datang saat pernikahanmu." Jawab Hans menenangkan Edo.


"Bagaimana dengan papa..?? Setelah semua selesai apakah papa akan tetap kembali ke Jerman..??" Tanya Edo lagi.


"Papa harus kembali, Ed. Kasihan opa Peter. Sudah waktunya Opa untuk beristirahat." Jawab Hans lagi.


"Tenang saja. Papa tidak akan memaksamu untuk ikut kalau kamu memang tidak menginginkannya." Lanjut Hans seakan mengerti pikiran Edo.


"Eeeehhmm.. permisi." Panggil seorang wanita.


"Tante Rianti..?? Tante kapan datang..?? Sama siapa kesini..??" Sapa Edo.


"Halo, Ed. Selamat ya untuk lamarannya. Tante kesini sama Jasmine dan Ranu." Jawab Rianti sambil menunjuk ke arah Rania yang sudah asik berbincang dengan Jasmine. Juga Nara yang tengah bertengkar dengan Ranu.


"Tante datang untuk mengantar beberapa hantaran yang dipesan mommy-mu." Kata Rianti lagi.


Hans terdiam sejenak dan menatap Rianti penuh arti. Dia seakan terhipnotis dengan Rianti yang terlihat manis meski dengan penampilannya yang sederhana. Rianti yang merasa diperhatikan menjadi malu dan canggung.


"Pa..!!" Bisik Edo sambil menyikut perut ayahnya.


"Maaf. Hans. Papa-nya Edo." Kata Hans sambil mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri. Dia tersenyum dan terlihat enggan mengalihkan pandangannya dari Rianti.


"Saya Rianti, pak." Sahut Rianti sambil menjabat tangan Hans dan tersenyum.


"Panggil saja Hans. Atau mas." Kata Hans dengan wajah terkejut seolah tidak mempercayai apa yang baru saja dia katakan.


Edo menaikkan sebelah alisnya melihat tingkah Hans yang seperti remaja tengah jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Baik.. Mas.." Sahut Rianti dengan senyum manisnya.


"Rianti, maaf membuatmu menunggu lama. Pak Tarno sudah siap di depan. Kamu diantar pak Tarno saja ya." Kata Shaka setelah dekat dengan mereka.


"Tidak usah, Ka. Naik angkot saja. Aku sudah biasa naik motor atau angkot sama anak-anak." Tolak Rianti.


"Tidak boleh. Kira bisa ngambek selama berhari-hari kalau aku biarin kamu dan anak-anak pulang naik angkot." Bantah Shaka.


"Kamu tadi kesini naik apa, Rianti..??" Tanya Hans terlihat kaget.


"Tadi aku naik taxy online karena harus bawa beberapa hantaran pesanan Kira. Biasanya sich naik motor." Jawab Rianti apa adanya.


Hans baru mau bicara saat Kira kembali memanggil Rianti. Membuat wanita itu meninggalkan Hans yang tidak bisa melepaskan pandangannya dari wanita yang tetap terlihat cantik diusia 38 tahun.


"Eeeehhmm.. Pa, tante Rianti cantik yaaa..??" Tanya Edo membuyarkan lamunan Hans.


"Apaan sich, Ed. Dia kan sudah berkeluarga." Sungut Hans yang terlihat tidak rela saat mengatakannya.


"Jadi kalo tante Rianti ga punya suami papa mau deketin dia..??" Goda Edo.


"Maksudnya..??" Tanya Hans penasaran.


"Rianti janda dua anak, Hans. Dia bercerai dari suaminya 5 tahun lalu, karena suaminya berselingkuh dan diam-diam menikah dengan wanita lain." Kata Shaka yang langsung mengerti sindiran Edo untuk Hans.


"Mantan suaminya pasti laki-laki bodoh..!!" Sungut Hans tidak terima.


Edo terkikik melihat reaksi Hans, mengabaikan lirikan tajam dari ayahnya itu.


"Sejak itu Rianti bekerja keras seorang diri untuk memenuhi kebutuhan kedua anaknya dengan membuka usaha catering kecil-kecilan di rumah. Dia dekat dengan Kira karena kebetulan kedua anaknya sekelas dengan Rania dan Nara. Jadi Kira sering bertemu Rianti saat mengantar anak-anak sekolah." Lanjut Shaka.


Hans terdiam saat mendengar penjelasan Shaka. Pandangannya terus mengikuti pergerakan Rianti.


"Shaka.. Edo.. Mas Hans.. aku pamit dulu ya." Pamit Rianti.


"Biar aku yang mengantar kalian pulang." Kata Hans cepat.


"Apa..??" Seru Rianti, Edo, dan Shaka bersamaan.


"Kenapa..??" Tanya Hans dengan wajah yang entah kenapa terlihat bodoh. Shaka segera tanggap dan tersenyum.


"Rianti, biar Hans yang mengantar kamu dan anak-anak pulang. Sekalian biar dia tahu rumahmu. Jadi entar dia tidak sampai recokin aku dan Kira." Kata Shaka sambil melirik Hans yang langsung melotot ke arahnya.


Rianti menoleh ke arah Hans yang menurutnya tengah menatap dia dengan wajah penuh harap. Entah untuk alasan apa.


"Baiklah. Selama itu tidak merepotkan." Jawab Rianti.


"Tidak. Sama sekali tidak merepotkan." Sergah Hans cepat. Membuat Edo dan Shaka mati-matian menahan tawa.


"Kita berangkat sekarang..??" Tanya Hans yang tiba-tiba terlihat canggung dan malu karena menyadari tingkah konyolnya.


"Boleh." Jawab Rianti lalu memanggil kedua anaknya.


"Sepertinya papamu menyukai Rianti." Kata Shaka setelah Hans pergi untuk mengantar Rianti dan kedua anaknya.


"Ayolah, dad. Semua sudah terlihat dengan sangat jelas. Papa memang menyukai tante Rianti, bukan sepertinya lagi." Protes Edo. Shaka tertawa mendengar protes dari putranya.


"Bagaimana menurutmu..?? Apa tidak masalah kalau Hans menikah lagi..??" Tanya Shaka.


"Kalau dengan wanita baik seperti tante Rianti, aku sama sekali tidak masalah. Aku justru kawatir kalo papa beneran mau hidup selibat di sepanjang sisa hidupnya. Papa dan tante Rianti masih muda dan sama-sama tidak memiliki pasangan. Lagipula papa sudah terlalu lama menduda dan tante Rianti tentunya butuh sosok ayah untuk kedua anaknya." Jawab Edo bijak.


"Kalau begitu kamu harus mulai meyakinkan papamu untuk mendekati Rianti. Kalau memang mereka cocok suruh dia segera mengikat Rianti. Kamu tahu sendiri kan yang namanya janda muda pasti banyak diincar laki-laki, terutama para hidung belang. Apalagi janda muda yang cantik seperti Rianti." Kata Shaka.


"Jangan kawatir, dad. Aku akan pastikan tante Rianti menjadi mama tiriku." Jawab Edo penuh keyakinan. Shaka tertawa melihat tekat Edo mencarikan jodoh untuk ayahnya.