
Kira membuka matanya perlahan, dia tampak terkejut karena terbangun di tempat asing. Dia menghela napas lega setelah mengingat kejadian semalam. Kira hanya bisa mendengus kesal saat melihat pakaiannya yang berserakan di kamar itu karena semalam Shaka mengoyaknya hingga tak berbentuk. Tubuhnya juga benar-benar terasa remuk karena Shaka terus menyerangnya dengan liar. Kira berbalik dan menghadap Shaka yang masih memeluk tubuhnya lalu membenamkan wajahnya ke dada Shaka, menghirup aroma tubuh laki-laki yang begitu dicintainya.
“Apa semalam masih belum cukup..??” Tanya Shaka dengan suara serak dan mengeratkan pelukannya. Kira mendongakkan kepalanya dan melihat Shaka telah bangun.
“Semalam kamu benar-benar bar-bar. Kamu bahkan tanpa malu mencumbuku di depan Simon.” Sungut Kira kesal.
Shaka tertawa mendengar Kira memanggilnya bar-bar. Dia mengendurkan pelukannya dan mensejajarkan wajahnya dengan Kira.
“Maafkan aku karena lepas kendali. Apa semalam aku menyakitimu..??” Tanya Shaka sambil mengelus lembut wajah Kira dengan punggung tangannya.
“Aku menyukainya.” Jawab Kira dengan wajah memerah.
“Benarkah..??” Tanya Shaka lalu mengecup lembut bibir Kira.
“Tetap saja aku kesal karena Kate telah mengerjaimu.” Cebik Kira.
“Tapi kamu tidak menyentuhnya kan..??” Tanya Kira sambil menatap wajah Shaka penuh curiga. Shaka terkekeh lalu mencium bahu dan leher Kira.
“Selain kamu. Aku tidak akan membiarkan wanita manapun menyentuhku, sayang.” Jawab Shaka lalu mengecup kening Kira dan kembali membenamkan wajahnya diceruk leher istrinya dengan tangan yang mulai bergerilya. Shaka menggulingkan tubuh mereka hingga Kira kembali berada dibawahnya.
“Hentikan, Bie. Apa kamu tidak lelah..??!!” Protes Kira.
“Denganmu aku tidak akan pernah lelah, sayang.” Bisik Shaka sambil tersenyum nakal dan melanjutkan olahraga pagi mereka tanpa mempedulikan protes Kira.
****
Dirumah Shaka dan Kira, pagi itu anak-anak mereka heboh karena orangtua mereka belum kembali sejak semalam. Keduanya bahkan tidak bisa dihubungi dan tidak diketahui dimana keberadaannya. Setelah perdebatan yang cukup lama, akhirnya Edo berhasil membujuk kelima adiknya untuk tetap berangkat ke sekolah dengan diantar pak Tarno dan Fahri. Edo juga sudah menghubungi Adam dan Rendra untuk membantu mencari keberadaan orangtuanya. Adam dan Rendra datang tak lama setelah anak-anak berangkat sekolah.
“Edo, sebenarnya apa yang terjadi..??” Tanya Adam begitu masuk ke rumah Kira.
“Kak, duduklah dulu.” Kata Rendra yang datang tak lama sebelum Adam.
“Sekarang katakan..!!” Perintah Adam tidak sabar setelah duduk di sofa.
“Aku tidak tahu, Oom. Kemarin daddy berpamitan pulang terlambat karena ada meeting dengan rekanan. Tapi sekitar jam 8-9 tiba-tiba daddy menelpon mommy dan meminta pertolongan. Setelah itu mommy pergi mencari daddy dan memintaku menjaga adik-adik. Tapi saat bangun pagi tadi ternyata daddy dan mommy belum kembali. Aku beberapa kali mencoba menghubungi daddy dan mommy tapi nomer mereka tidak aktif. Aku juga tidak tahu kemana perginya mereka.” Kata Edo begitu kawatir.
“Kira tidak mengatakan dia pergi kemana..??” Tanya Rendra.
“Tidak, Oom. Semalam mommy tampak buru-buru.” Jawab Edo.
“Kemana mereka..??” Sungut Adam kesal sekaligus kawatir.
“Aku akan menghubungi orangku untuk mencari mereka.” Kata Rendra.
Adam hanya diam lalu mengeluarkan HP untuk menghubungi seseorang. Adam dan Rendra segera mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari Kira dan Shaka. Setelah menunggu hampir 3 jam Rendra mendapat kabar dari bawahannya.
“Kak, orangku mendapatkan informasi tentang Kira. Semalam terjadi keributan di kamar President Suite hotel Scarlett. Menurut keterangan beberapa saksi, terjadi bentrok antara seorang wanita yang mirip Kira dengan beberapa pria. Mereka mengatakan keributan itu sepertinya terjadi karena ada seorang pria yang tengah disekap di kamar itu.” Kata Rendra.
“Apa..?!! Lalu bagaimana keadaan mereka sekarang..??” Tanya Adam.
“Mereka belum tahu karena pihak hotel tutup mulut mengenai masalah ini. Dan identitas orang-orang yang terlibat juga ditutup rapat.” Jawab Rendra.
“Apa mungkin itu memang Kira yang sedang mencoba menyelamatkan Shaka..??” Gumam Adam.
“Aku tidak tahu.” Sahut Rendra.
“Oom, kemarin waktu daddy pamit pada mommy. Daddy bilang meeting akan dilakukan di restoran Classy yang ada di hotel Scarlett.” Kata Edo.
“Rendra, kita kesana sekarang..!! Edo, kamu tunggu disini.” Perintah Adam sambil berjalan.
“Aku ikut, Oom..!!” Pinta Edo.
“Edo, kita tidak tahu bagaimana situasi disana. Keadaan bisa saja berbahaya.” Kata Rendra.
“Tapi aku juga tidak akan tenang menunggu disini. Tolong, Oom.” Pinta Edo lagi.
“Baiklah. Tapi kalau terjadi sesuatu kamu harus menjauh. Mengerti..??!!” Perintah Adam tegas.
“”Mengerti, Oom.” Sahut Edo.
Setelah menerima access card mereka bertiga bergegas menuju kamar President Suite. Adam membuka kamar President Suite menggunakan access card, mengabaikan tanda tidak boleh diganggu yang tergantung di pintu kamar. Adam, Rendra, dan Edo semakin panik saat melihat ruang tamu kamar itu sangat berantakan seolah baru terjadi bentrokan besar disana.
“Kira..!! Shaka..!!” Seru Adam memanggil adik dan adik iparnya sambil berlari mengelilingi ruangan itu.
“Aaaaaaargh..!!” Jerit Kira panik saat melihat Adam, Rendra, dan Edo sudah ada di dekat ranjang.
Kira langsung menaikkan selimutnya sampai dagu sedangkan Shaka berguling ke atas Kira untuk menutupi tubuh polos istrinya. Baik Adam, Rendra, maupun Edo tercengang melihat kedua orang yang sedang mereka cari.
“Kak, apa yang kalian lakukan disini..??!!” Seru Shaka tidak kalah panik karena Edo juga ada disana.
“Harusnya kami yang bertanya, kalian lagi ngapain disini..??!!” Seru Adam kesal.
“Shaka, kak Adam sudah gila..!! Kenapa dia mengintip kita disini..??!!” Seru Kira dibalik selimutnya.
“Kalian yang sudah gila..!! Ga sadar udah bikin panik anak-anak kalian..?? Tapi kalian justru malah bersenang-senang disini.” Seru Adam kesal karena Kira mengatakan dia gila.
Adam terus bersungut-sungut karena kesal. Meski Kira dan Shaka suami istri. Sebagai seorang kakak laki-laki tetap saja sebagian hatinya tidak terima melihat adik perempuannya digagahi di depan mata walaupun oleh suaminya sendiri.
Rendra tertawa keras melihat Shaka dan Kira yang seperti pencuri tertangkap basah. Tawa Rendra berhenti saat teringat Edo juga ada disana bersama mereka. Dilihatnya wajah Edo memerah karena menahan malu. Pemuda itu tampak menggaruk kepalanya karena salah tingkah melihat kedua orangtuanya.
“Eeeeh.. Edo, kamu tunggu di ruang tamu saja ya. Tolong pesankan makanan dan minuman untuk kita. Aku yakin orangtuamu saat ini pasti sangat lapar.” Kata Rendra agar Edo segera keluar dari tempat itu.
“Baik, Oom Rendra.” Sahut Edo lalu bergegas menjauh dengan wajah semerah tomat.
“Cepat pakai baju kalian..!!” Seru Adam masih kesal.
“Eeeeh.. kak.. itu.. tolong carikan baju untuk kami.” Kata Shaka sambil nyengir.
Adam dan Rendra memandang sekeliling lalu menyadari baju Kira dan Shaka berserakan di penjuru kamar itu dalam keadaan robek.
“Astaga. Sebenarnya bagaimana kalian melakukannya semalam..??!!” Sungut Adam sambil menjauh dari ranjang dan menelpon seseorang.
“Sepertinya semalam seru sekali.” Kata Rendra dengan tertawa lalu berjalan menjauhi Kira dan Shaka.
“Sayang, aku benar-benar lupa soal anak-anak.” Kata Shaka.
“Kamu sich, Bie. Padahal udah semalaman pake nambah lagi tadi pagi.” Sungut Kira.
“Bagaimana lagi. Kamu memang selalu membuatku lupa diri.” Kata Shaka sambil mencium gemas bibir Kira.
“Bie, jangan macam-macam..!! Ada kakakku dan Edo disini.” Tegur Kira.
“Ayo kita mandi.” Ajak Shaka. Kira langsung melotot ke arah Shaka.
“Kita hanya akan mandi, sayang.” Lanjut Shaka masih dengan tersenyum jahil.
“Awas kalau nanti macam-macam.” Ancam Kira.
“Ga janji.” Sahut Shaka.
“BIE..!!” Seru Kira.
“Iyaaa.. iyaaaa.. ga bakalan macam-macam ntar di kamar mandi.” Sahut Shaka lagi.
Kira membelitkan selimut ke tubuhnya dan bergegas ke kamar mandi sementara Shaka melepaskan sprei untuk menutupi tubuhnya lalu menyusul istrinya. Shaka dan Kira baru keluar setelah Rendra memberikan pakaian untuk mereka.
************************************************
Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.
Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^
Terima kasih..!!
Hug,
Cheerieza