
Shaka masih terjaga. Entah kenapa malam ini sangat sulit untuknya memejamkan mata. Dia terus memikirkan tingkah Kira yang belakangan semakin aneh. Belum lagi mendengar permintaan Kira yang baginya begitu menakutkan.
Shaka mengeratkan pelukannya pada Kira. Sesekali dia mencium kening dan bibir istrinya. Hari ini dia sangat mengkhawatirkan keadaan Kira yang terlihat sangat pucat. Tapi istrinya bersikeras bahwa dia baik-baik saja.
Tiba-tiba tubuh Kira menggeliat pelan. Tubuhnya tampak menggigil dan dia menggumam tidak jelas.
"Sayang..?? Hei.. kamu baik-baik saja..??" Tanya Shaka mencoba membangunkan Kira.
".... Pierre.." Gumam Kira lirih memanggil nama mendiang suami pertamanya.
Shaka mengerutkan dahinya mendengar istrinya memanggil nama Pierre setelah sekian lama.
"Kamu datang lagi, mas..... Kamu... menjemputku..??" Gumam Kira lagi.
DEG..!!
Shaka sangat terkejut mendengar Kira mengigau. Dia segera melepaskan pelukannya dan berusaha membangunkan Kira. Dirasakannya tubuh Kira begitu dingin dengan wajah pucat dan bibir membiru.
"KIRAAAA..!! Kira... bangun, sayang." Panggil Shaka panik.
"Mas.. Aku ikut.." Gumam Kira lagi dalam tidurnya.
"Tidak.. tidak.. jangan katakan itu. Jangan ikut bersama Pierre. Aku mohon. KIRAAAA..!!" Teriak Shaka terus memanggil istrinya dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata.
Shaka semakin ketakutan saat dia merasakan tubuh Kira terus menggigil. Dia menyibakkan selimut untuk mengangkat tubuh istrinya. Matanya terbelalak saat melihat Bagian bawah tubuh Kira bersimbah darah.
"Sayang, bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit." Kata Shaka terisak.
Shaka mengangkat tubuh Kira dan bergegas membawanya keluar kamar. Hatinya semakin menciut setiap kali mendengar Kira memanggil nama mendiang suami pertamanya.
"Papa..??!!" Panggil Rania yang terlihat keluar dari kamarnya.
"Rania, cepat bangunin eyang..!! Katakan mama pendarahan. Telpon oom Yudha suruh ke rumah sakit sekarang..!!" Seru Shaka sambil berlari membawa Kira yang semakin melemah.
Rania terkejut melihat tubuh Kira bersimbah darah. Dia segera berlari dan menggedor keras pintu kamar Darius dan Edna.
"EYAAAANGG..!! EYANG..!!" Teriak Rania.
"Rania, ada apa malam-malam begini..??" Tanya Edna masih setengah sadar.
"Eyang.. mama.. mama pendarahan. Barusan papa bawa mama ke rumah sakit. Papa bilang oom Yudha harus ke rumah sakit sekarang." Kata Rania dengan terisak.
"Apa..??!! Pa..!! Papa.. bangun, pa..!!" Seru Edna sembari mengguncang tubuh Darius yang masih terlelap. Tubuh lelaki itu tampak menggeliat pelan.
"Papa..!! Bangun..!! Kira pendarahan. Shaka sudah bawa dia ke rumah sakit..!!" Seru Edna yang membuat Darius tersadar.
"Haaaaahh..!! Telpon Yudha dan Adam..!! Kita ke rumah sakit sekarang..!!" Seru Darius sambil melompat dari ranjangnya.
Rania menangis histeris teringat tubuh ibunya yang lemah dan bersimbah darah. Tubuh kecilnya bersimpuh di lantai karena kakinya terasa tidak mampu menopang tubuhnya. Rania berusaha bangkit tapi kedua kakinya terus bergetar.
"MAMAAA..!! MAMAAA..!!" Teriak Rania memanggil ibunya.
"Astaga, Rania..!! Kamu kenapa..??!!" Seru Adit dan Radit yang terbangun karena mendengar tangisan Rania.
"Mama, kak. Mama.. Mama pendarahan dan ga sadar..!! Papa bawa mama ke rumah sakit." Seru Rania ditengah tangisnya dan membuat Dit-dit terkejutnya.
"Adit, bangunin bi Lastri dan bi Inah..!!" Perintah Radit tegas.
Radit sudah duduk bersimpuh disamping Rania dan memeluk tubuh adik perempuannya yang tengah menangis ketakutan. Adit bergegas membangunkan bi Lastri dan bi Inah untuk membantu menjaga ketiga adik mereka.
"Eyang..??" Panggil Radit saat melihat Darius dan Edna keluar kamar.
"Radit, eyang mau menyusul ke rumah sakit. Kamu dan Adit jaga adik-adik kalian yaaaa.. Telpon kak Edo dan kabari tentang keadaan ibu kalian." Kata Edna. Radit mengangguk sambil terus memeluk tubuh Rania yang masih menangis.
****
Shaka memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesekali dilihatnya Kira yang terbaring lemah di bangku belakang. Suasana jalan yang lengang membuatnya sampai di Orchid lebih cepat.
"Toloooong..!! Dokteeeer..!!" Teriak Shaka memanggil bantuan setelah memasuki Instalasi Gawat Darurat.
Tampak Yudha dan beberapa dokter berlari menghampirinya dengan membawa brankar. Shaka langsung meletakkan tubuh Kira. Tangannya bergetar saat merasakan tubuh Kira yang begitu lemah seolah tidak ada kehidupan di dalamnya.
"Sayang, aku mohon bertahanlah. Aku mencintaimu." Kata Shaka lalu mengecup kening Kira sebelum dibawa ke ruang tindakan.
"Shaka..!! Dimana Kira..??" Tanya Edna yang sudah tiba bersama Darius.
"Sedang ditangani, ma." Jawab Shaka dengan wajah yang terlihat begitu frustasi.
"Sebenarnya apa yang terjadi..?? Kenapa Kira bisa pendarahan..??" Tanya Darius.
"Aku tidak tahu, pa. Tadi semua baik-baik saja. Tiba-tiba saat tidur Kira mengigau memanggil nama Pierre dan mengatakan ingin ikut dengannya. Saat itu aku sadar tubuh Kira yang begitu dingin. Waktu aku membuka selimut untuk membawanya ke rumah sakit, ternyata dia sudah mengalami pendarahan." Kata Shaka dengan suara bergetar.
"Pierre, aku mohon jangan bawa Kira. Aku mohon." Kata Shaka lirih. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya karena putus asa.
Darius memeluk bahu Edna dari samping. Wanita itu terus terdiam dan tampak tenang seakan pasrah dengan apapun yang akan terjadi pada putrinya. Dia teringat saat sehari sebelumnya berbincang dengan Kira. Putrinya berbicara seolah tengah memberikan pesan terakhir.
"Ma, terima kasih sudah mengandung dan melahirkanku. Juga merawat dan membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Maaf, aku belum bisa melakukan apapun untuk membalas semua kasih sayang mama dan papa. Aku sangat menyayangi kalian semua."
Kata Kira saat itu sambil memeluknya erat. Sekarang kata-kata itu terus terngiang di benaknya seperti lagu yang terus diputar ulang.
"Daddy..!! Eyang..!!" Panggil Edo yang datang bersama Hans. Hati Edo mencelos melihat darah di tubuh Shaka. Dia berlutut di hadapan Shaka yang tengah duduk dengan tatapan menerawang.
"Edo." Panggil Shaka lirih. Dia lalu memeluk Edo erat.
"Mommy pasti akan baik-baik saja. Dia pasti akan bertahan, Ed." Kata Shaka dengan suara tercekat.
"Maaf. Apakah pak Adam atau ibu Edna ada disini..??" Tanya seorang perawat.
"Saya Edna, sus." Jawab Edna.
"Bu Kirana membutuhkan tranfusi. Tolong ikut saya." Kata perawat itu.
"Mama..!!" Panggil Adam yang terlihat berlari mendekati keluarganya.
"Biar aku saja, ma. Mama tunggu disini dulu." Kata Adam lalu mengikuti perawat untuk mendonorkan darahnya.
****
Kira memandang sekelilingnya. Dia mengenal tempat itu. Dia berada di bawah pohon beringin yang ada di kompleks markas Rendra dan Pierre dulu. Tempat dia dan Pierre pertama kali bertemu. Dia bahkan memakai baju yang sama dengan yang dulu dia pakai. Kira tersenyum. Dia kembali lagi ke tempat itu. Tempat yang penuh dengan kenangan.
"Kira." Panggil seorang pria.
Kira terhenyak. Dia tidak percaya akan mendengar suara itu lagi setelah begitu lama. Kira menoleh ke asal suara dan melihat sosok pria yang sampai sekarang masih sangat dia rindukan.
" Mas..!!" Seru Kira memanggil Pierre sembari menghambur dalam pelukan pria itu.
Mereka berpelukan begitu lama seakan takut untuk kembali saling kehilangan.
"Kamu datang lagi, mas. Aku kangen. Apa sekarang kamu akan mengajakku pergi..?? Kamu akan menjemputku..??" Tanya Kira penuh harap. Pierre hanya tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.
"Apa kamu masih tetap ingin pergi bersamaku..??" Tanya Pierre.
"Tentu. Kenapa kamu terus menanyakan itu..?? Berapa kali pun kamu menanyakan jawabanku tetap sama. Aku ingin bersamamu, mas. Aku ga mau lagi jauh darimu. Biarkan aku ikut kamu." Pinta Kira mulai terisak.
"Tidak sekarang, sayang." Kata Pierre melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Kira.
"Kenapa..?? Apa kamu tidak mencintaiku lagi..??" Tanya Kira.
"Aku sangat mencintaimu. Dan aku ingin bersamamu. Tapi tidak sekarang. Pulanglah. Dia sangat mencintaimu dan mereka masih sangat membutuhkanmu." Kata Pierre lagi.
Kira mengernyitkan dahi dengan pikiran yang dipenuhi berbagai pertanyaan. Pierre meraih pundak Kira dan dengan lembut membalikkan badannya. Di kejauhan tampak Shaka tengah bermain dengan anak-anaknya. Lalu Shaka berbalik ke arahnya dan berteriak memanggilnya.
"KIRAAAA..!!" Panggil Shaka dengan melambaikan tangan untuk memanggil Kira. Wajahnya terlihat begitu sedih.
"Lihat. Mereka menunggumu. Shaka juga sangat mencintaimu." Bisik Pierre lembut di telinga Kira.
"Shaka..?? Siapa dia..?? Siapa anak-anak itu...??" Tanya Kira tidak mengenali keluarganya.
"Sayaaang..!!" Panggil Shaka lagi. Kali ini airmata membasahi wajah lelaki yang tidak dikenalnya.
"Pergilah kesana. Kamu pasti akan mengingat mereka, sayang." Bujuk Pierre.
"Sayaaang..!! Kembalilah..!!" Teriak Shaka lagi Dengan wajah yang terlihat begitu putus asa.
"Tapi aku ingin disini bersamamu, mas. Pokoknya aku ga mau pergi. Aku ga mau pisah sama kamu lagi. Aku mau ikut kamu, mas..!!" Pinta Kira dengan tangis yang semakin keras.
"Pulanglah. Aku akan selalu menunggumu. Aku sedang membangun rumah kita. Kelak bila saatnya tiba, kita akan menempati rumah itu bersama-sama. Kita dan keluarga kita." Kata Pierre sambil menunjuk Shaka dan anak-anaknya.
"Dia telah membangun rumah yang begitu indah untukku dengan setiap doanya. Dan disana dia juga membangun rumah yang indah untukmu dan keluarga kalian. Selagi menunggu saatnya tiba, aku akan membangun rumah yang besar dan indah untuk kita semua. Dengan doa yang selalu kalian kirimkan untukku." Lanjut Pierre. Senyum yang begitu hangat dan menenangkan mengembang di wajah tampannya.
"Tapi mas..??" Kata Kira ragu.
"Hampiri mereka, sayang. Kamu pasti akan mengingat semuanya. Disini bukan tempatmu. Belum." Bujuk Pierre lagi.
"Lalu kapan kita akan bertemu lagi..??" Tanya Kira masih terisak.
"Aku tidak tahu. Tapi tidak sekarang." Jawab Pierre sembari mengelus lembut kepala dan pipi Kira.
"Bagaimana kalau aku merindukanmu..??" Tanya Kira lagi.
"Seperti yang selama ini kamu lakukan. Mereka akan selalu mengobati kerinduanmu." Jawab Pierre menunjuk ke arah Dit-dit yang tengah bermain.
"Pulanglah. Temui keluargamu. Keluarga kita." Bujuk Pierre lagi.
Kira berjalan perlahan ke arah Shaka dan anak-anak mereka. Sejenak Kira berhenti dan menoleh kembali ke arah Pierre. Dilihatnya mendiang suaminya tersenyum dan mengangguk. Kira kembali berjalan, lalu perlahan mulai berlari. Semakin dia dekat kepada Shaka. Kelebatan ingatan tentang Shaka terus mengisi kepalanya dan mengaburkan kesedihannya akan perpisahannya dengan Pierre tadi.
"Shakaaa..!!" Teriak Kira memanggil suaminya. Entah kenapa jarak antara dia dan Shaka terasa begitu jauh. Kira berlari semakin cepat. Rasanya dia tidak sabar untuk segera sampai dan memeluk Shaka.
****
Setelah Adam mendonorkan darahnya, mereka masih menunggu beberapa saat. Tampak Yudha dan dokter Mira keluar dari ruang tindakan dengan wajah lelah.
"Bagaimana..??" Tanya Shaka tidak sabar.
"Alhamdulillah.. Kira bisa bertahan. Kalau tadi terlambat sedikit saja, mungkin hasilnya akan berbeda. Tapi sekarang kondisi Kira sudah stabil. Kita hanya perlu menunggu dia sadar. Aku juga sudah menghubungi dokter Joseph. Dia akan kemari dengan penerbangan pertama untuk kembali melihat keadaan Kira." Kata Yudha.
"Bagaimana dengan bayinya..??" Tanya Shaka lagi.
"Kandungan bu Kirana baik-baik saja. Bayinya bisa diselamatkan. Mengingat kandungan bu Kirana masih berusia 26 minggu, sangat rentan untuk bayi meski dilahirkan melalui caesar. Untunglah anak-anak itu sangat kuat dan bisa bertahan dalam kandungan ibu mereka. Sepertinya mereka bertekat untuk tetap lahir ke dunia ini." Kata dokter Mira menjelaskan.
Semua orang melepas napas lega karena Kira dan bayi-bayinya bisa bertahan. Setidaknya untuk saat ini.