(Family) Bound

(Family) Bound
Pacar Sehari



Edo memijit kepalanya pelan. Kepalanya terasa pusing karena sejak insiden dengan Reyhan, Luna semakin sering memberikan perhatiannya. Dan dua minggu terakhir rasanya semakin memburuk. Sebelumnya Luna hanya sekedar datang setiap hari membawakan bekal dan memaksa menemaninya makan siang. Tapi sekarang gadis itu terus menempelnya hampir sepanjang hari. Saat Edo ada kuliah, Luna akan menunggu di depan kelas sampai dia selesai. Memang Luna tidak lagi menggodanya seperti dulu, tapi melihat gadis itu terus mengikutinya benar-benar membuat Edo hampir sampai di batas kesabarannya. Dan sekarang bahkan Luna memaksa membantunya untuk fotocopy materi yang diberikan pak Bowo di kelasnya.


“Aluna..!! Bisa berhenti menggangguku..??!!” Bentak Edo karena kehabisan kesabaran.


Perhatian orang-orang yang ada di sekitar mereka mendadak teralih pada Edo dan Luna.


“Aku tidak bermaksud mengganggumu, Ed. Aku hanya ingin membantumu. Itu saja.” Kata Luna dengan suara bergetar karena terkejut mendengar bentakan Edo.


“Tapi kamu sudah benar-benar menggangguku, Al..!! Kamu juga ada kuliah kan..?? Kenapa kamu bukannya ke kelas tapi malah terus menggangguku..??!!” Bentak Edo lagi.


Sejenak Luna terdiam dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa malu karena Edo membentaknya di depan orang banyak dan terlihat tidak suka dengan kehadirannya. Tapi tak lama setelah itu dia kembali tersenyum manis seolah bentakan Edo sama sekali tidak menyakitinya.


“Maafkan aku, Ed. Tapi selama ini bukannya kamu kesepian kalau tidak ada aku..??” Sahut Luna sambil terkikik.


“Kenapa kamu selalu saja percaya diri. Memang selama ini apa aku pernah menanggapimu..?? Kamu saja yang keras kepala dan terus menggangguku.!!” Seru Edo.


“Apa kamu benar-benar ingin aku berhenti mengganggumu..??” Tanya Luna dengan wajah polosnya.


“Yaaa..!! Aku benar-benar sudah muak dengan semua tingkah konyolmu..!!” Sahut Edo.


Luna tidak mengatakan apapun dan hanya tersenyum kepada Edo.


“Baiklah, aku akan berhenti mengganggumu. Tapi dengan satu syarat.” Kata Luna dengan senyum jahilnya.


“Apa itu..?? Cepat katakan..!!” Tanya Edo tidak sabar.


“Weekend ini, ayo kita berkencan..!! Hanya 2 hari, sabtu dan minggu. Ayo kita pacaran selama 2 hari. Setelah itu aku akan berhenti mengganggumu. Bagaimana..??” Jawab Luna masih dengan seringai jahil. Edo tampak sejenak berpikir.


“Satu hari. Kita hanya akan berpacaran selama 1 hari.” Tawar Edo.


“Kenapa hanya 1 hari..?? Weekend kan ada 2 hari..!!” Protes Luna.


“Minggu depan ujian akhir semester dan aku tidak mau membuang waktu denganmu. Satu hari atau tidak sama sekali..!!” Tegas Edo. Luna cemberut menghadapi keras kepalanya Edo.


“Baiklah. Weekend ini kita pacaran selama 1 hari.” Kata Luna menyerah. Edo tersenyum miring karena Luna menurutinya.


“Kalau begitu hari Sabtu jam 8 kita bertemu disini lalu pergi ke taman hiburan, makan siang, nonton, trus makan malam. Bagaimana..??” Kata Luna penuh semangat.


“Yang benar saja. Maksudmu seharian itu aku harus terjebak denganmu dari pagi sampai malam..??” Seru Edo tidak terima.


“Karena hanya pacaran selama sehari, kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin.” Kata Luna sambil nyengir.


“Awas..!! Jangan macam-macam..!!” Ancam Edo.


“Cuma 1 macam malah dibilang macam-macam.” Sahut Luna kembali cemberut. Entah kenapa melihat Luna cemberut justru membuat Edo gemas.


“Terserah apa katamu saja. Tapi ingat, kalau kamu terlambat kita putus saat itu juga.” Sungut Edo.


“Oke, bos..!! Tapi kalau kamu terlambat, kita pacaran 2 hari.” Sahut Luna dengan wajah berbinar.


“Terseraaaahh..!!” Sungut Edo kesal.


****


Hari Sabtu, pagi-pagi sekali Edo sudah berangkat ke kampusnya. Edo tidak mau sampai terlambat karena kalau itu sampai terjadi artinya dia harus bertahan dengan Luna selama 2 hari.


Jam 7.30 Edo sudah sampai di kompleks gedung fakultas teknik. Suasana kampus itu tidak terlalu ramai karena hanya ada mahasiswa kelas weekend yang kuliah. Saat sampai di tempat yang dijanjikan ternyata Luna sudah duduk manis menunggunya. Edo berhenti sejenak dan menarik napas panjang. Dilihatnya Luna dari kejauhan. Gadis itu terlihat manis memakai celana jeans panjang dengan kaos yang agak longgar dan cardigan warna baby pink yang tampak agak kebesaran. Tubuh mungil Luna tampak tenggelam di dalamnya.


Edo berjalan mendekat dan mengernyitkan dahinya karena melihat Luna yang tampak pucat. Dia memang merasa akhir-akhir ini Luna terlihat semakin kurus dan pucat. Tapi dia tidak pernah menghiraukannya karena terus merasa kesal pada gadis itu. Dan hari ini, saat dia harus berperan sebagai pacar Luna, Edo justru memperhatikan hal itu.


“Kamu datang pagi sekali.” Tanya Edo.


“Aku tidak mau pagi-pagi langsung diputusin pacar.” Sahut Luna sambil tersenyum.


“Tapi kamu terlihat pucat, Al. Apa kamu sakit..??” Tanya Edo dengan tatapan menyelidik.


“Tidak. Aku hanya tidak bisa tidur karena tidak sabar menunggu hari ini. Kenapa..?? Kamu kawatir sama pacarmu yang cantik ini..??” Sahut Luna sambil mengedipkan mata kirinya membuat Edo mendengus kesal.


“Kita berangkat sekarang.” Sungut Edo sambil berjalan mendahului Luna. Langkah Edo terhenti saat menyadari Luna tidak mengikutinya.


“Apa lagi..??!!” Tanya Edo.


“Gandeng.” Jawab Luna sambil mengulurkan tangan kanannya.


Edo membuang napas kasar lalu menghampiri Luna dan meraih tangan gadis. Dia menarik tangan Luna hingga membuat gadis itu mengikuti langkahnya. Senyum Luna terus mengembang karena bahagia. Gadis itu terus menggenggam erat tangan Edo seolah takut akan terlepas dan Edo akan menghilang saat itu juga.


Sampai di taman hiburan Edo dan Luna berkeliling mencoba setiap wahana. Luna lincah bergerak kesana kemari dan tidak lupa mengambil banyak foto bersama Edo. Edo hanya bisa menggelengkan kepala melihat Luna yang begitu antusias. Meski awalnya kesal, perlahan Edo mulai menikmati waktunya bersama Luna. Setelah 4 jam berkeliling taman hiburan Luna mulai terlihat kelelahan, tubuhnya berkeringat dan napasnya mulai tersengal.


“Kita sudahi saja mainnya. Kamu sepertinya sudah capek.” Kata Edo terlihat kawatir. Luna tersenyum melihat kekawatiran di wajah Edo.


“Waaaah.. pacarku perhatian sekali. Sampai-sampai kawatir liat aku capek.” Sahut Luna sambil terkikik senang.


“Siapa yang kawatir sama kamu..??!! Aku cuma tidak mau harus repot ngurusin kamu kalau sampai pingsan.” Kata Edo sewot.


“Tapi aku masih mau main.” Sahut Luna manja.


“Kamu sudah kelelahan seperti itu dan masih nekat mau main..??” Tanya Edo tidak percaya.


“Habisnyaaaa.. Kita kan pacaran cuma sehari.” Kata Luna sambil menundukkan wajahnya.


Edo menarik napas panjang. Dia lalu berjongkok membelakangi Luna.


“Kamu ngapain, Ed..??” Tanya Luna kebingungan.


“Beneran..??” Tanya Luna memastikan tanpa melepaskan pandangannya dari punggung Edo.


“Ya sudah kalau kamu tidak mau.” Kata Edo bersiap berdiri. Luna hinggap di punggung Edo sebelum pemuda itu bangkit dari jongkoknya.


“Tentu saja aku mau.” Bisik Luna dengan mengembangkan senyumnya. Edo tertegun, tiba-tiba ada perasaaan aneh hinggap dihatinya.


Edo dan Luna melanjutkan berkeliling taman bermain tanpa menghiraukan tatapan orang-orang yang memperhatikan mereka. Edo terus menggendong tubuh mungil Luna dan hanya menurunkan gadis itu saat akan menaiki wahana bermain, makan siang, dan beribadah.


“Edo, ayo kita naik bianglala.” Kata Luna sambil menunjuk ke arah bianglala yang begitu tinggi.


“Tidak mau. Kita hanya duduk disana dan menunggu. Pasti sangat membosankan.” Tolak Edo.


“Percaya padaku kamu pasti akan menyukainya. Memang membosankan, tapi kalau melihat sekitar kamu pasti akan menemukan banyak hal mengagumkan. Terutama saat sampai di puncak, banyak pemandangan indah yang bisa kamu lihat, Ed.” Sahut Luna penuh semangat.


“Tetap saja terdengar membosankan.” Jawab Edo.


“Ayolaaaaah.. mungkin hanya hari ini kita bisa naik bianglala bersama.” Bujuk Luna.


“Maksudmu..??” Tanya Edo.


“Bukankah setelah ini kita akan putus..??” Kata Luna mengingatkan.


Edo terdiam sejenak. Dia merasa kesal karena lagi-lagi Luna mengingatkan tentang perjanjian mereka.


“Baiklah.” Sahut Edo.


Akhirnya Edo dan Luna menaiki bianglala setelah beberapa saat menunggu. Antriannya tidak sebanyak wahana lainnya, karena sepertinya tidak begitu banyak orang menyukai wahana itu. Meski ruang bianglala itu cukup luas, Edo dan Luna duduk berdampingan. Edo melihat pemandangan di luar. Luna benar, pemandangan disana tampak menakjubkan apalagi hari sudah menjelang sore. Langit yang berwarna jingga terlihat begitu dekat dan lebih indah. Pemandangan kota yang dijejali gedung pencakar langit membuatnya terlihat seperti pilar penyangga langit. Edo tersenyum melihat pemandangan yang membuat hatinya terasa tenang. Dia menoleh ke arah Luna. Dilihatnya gadis itu tengah asik memandangi wajahnya. Senyum hangat tidak pernah hilang dari wajah cantik Luna yang terlihat pucat.


“Edo, boleh aku minta satu hal lagi..??” Tanya Luna.


“Apa itu..??” Tanya Edo penasaran.


“Setelah ini aku tidak bisa lagi membawakan bekal untuk makan siangmu. Berjanjilah kamu akan selalu menyempatkan makan. Aku tahu anak-anak teknik selalu disibukkan dengan tugas-tugas yang berat. Tapi tolong sempatkan makan. Jangan sampai kamu sakit karena selalu terlambat makan. Kamu memiliki kehidupan yang baik, tapi hidup pun terus berputar. Apapun yang terjadi tolong jangan pernah menyerah. Selama ini aku selalu membawa namamu dalam setiap doaku. Mengharapkan yang terbaik untukmu. Setelah ini aku akan tetap membawa namamu dalam setiap doaku. Karena hanya itu yang bisa aku lakukan.” Kata Luna.


Edo tertegun. Jantung Edo berdegup kencang, perasaannya menjadi tidak tenang saat mengingat setelah hari ini Luna akan berhenti mengganggunya. Tiba-tiba Edo tidak ingin hari ini berakhir. Dia ingin terus bersama Luna.


“Sudah selesai, mas.. mbak..” kata petugas bianglala saat membuka pintu dan membuyarkan lamunan Edo.


“Terima kasih, mas.” Sahut Edo lalu keluar dari ruang kecil bianglala dan membantu Luna turun.


Setelah menaiki bianglala, Edo dan Luna memutuskan melanjutkan acara mereka dengan pergi ke mall untuk menonton lalu makan malam. Saat makan malam mereka memesan steak yang sama. Setelah pesanan mereka datang, Luna langsung memotong steak pesanannya lalu menukarkannya dengan milik Edo. Sedangkan Edo terlihat sibuk dengan HP-nya. Pemuda itu tengah memeriksa pesan masuk yang seharian ini dia abaikan. Edo terkejut saat melihat steak pesanannya telah dipotong-potong dengan rapi oleh Luna.


“Makanlah.” Kata Luna dengan senyum hangatnya.


“Terima kasih.” Sahut Edo.


Edo menikmati makan malamnya dengan lahap. Ini bukan pertama kalinya dia makan di restoran itu dan telah memakan steak yang sama beberapa kali. Tapi malam ini steak pesanannya terasa jauh lebih lezat dari biasanya. Luna kembali tersenyum karena senang melihat Edo begitu bersemangat makan.


“Dimana rumahmu..?? Aku akan mengantarmu pulang.” Kata Edo saat mereka keluar dari restoran.


“Tidak perlu. Aku akan pulang naik taxy saja.” Tolak Luna.


“Kenapa harus naik taxy..?? Aku bisa mengantarmu.” Tanya Edo setengah tidak terima.


“Aku takut nanti kamu akan berat melepaskan aku.” Jawab Luna.


“Ciiih... GR..!!” Sahut Edo sambil tertawa kecil.


“Edo, ayo kita putus. Terima kasih sudah mau menjadi pacarku hari ini. Meski hanya sehari, tapi sepadan dengan penantianku selama setahun terakhir.” Kata Luna sambil menatap lekat wajah Edo.


Edo terdiam, sebagian hatinya tidak rela hubungan singkat mereka berakhir. Tiba-tiba Luna melingkarkan kedua lengannya ditubuh Edo dan memeluknya erat. Edo sempat terpaku merasakan pelukan Luna untuk pertama kalinya. Tanpa dia sadari, Edo membalas pelukan Luna. Gadis itu terisak dalam pelukannya.


“Edo aku mencintaimu. Setelah ini, aku tidak akan menenemuimu lagi. Meski aku tahu ini tidak mungkin, tapi tolong jangan mencariku.” Kata Luna setelah melepaskan pelukan mereka.


“Aluna, aku..” Edo tidak meneruskan ucapannya karena dia sendiri tidak yakin dengan apa yang ingin dia katakan.


“Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik, Edo.” Kata Luna lalu mengecup pelan bibir Edo dan berjalan meninggalkan Edo yang masih termangu di tempatnya.


Saat Edo tersadar, Luna telah menjauh. Dia begitu ingin mengejar Luna. Tapi egonya membuat dia menahan diri. Edo yang menginginkan Luna berhenti mengganggunya, akan terdengar konyol kalau dia mengejar Luna dan memintanya untuk tetap tinggal. Edo mengusap bibirnya dan tersenyum. Bahkan di saat terakhir mereka bersama, gadis itu berani mencuri ciuman pertamanya.


****


Luna berjalan gontai dan masih terisak. Tanpa sadar dia telah berjalan cukup jauh hingga sampai halte bis.


Luna semakin terisak, dia kembali teringat Edo. Pemuda yang selama setahun terakhir terus memenuhi hati dan pikirannya. Luna akui dia memang terlalu agresif mendekati Edo. Tapi sejak awal dia tidak pernah mengharapkan Edo membalas perasaannya. Dia cukup tahu diri, banyak gadis yang juga mengejar Edo. Luna tahu Edo seringkali melewatkan makan siang karena terlalu sibuk dengan kuliah dan tugas-tugasnya. Karena itu dia selalu nekat membawakan bekal untuk Edo dan memaksa menemani untuk memastikan pemuda itu tidak melewatkan makan siangnya. Luna terus mendekati Edo hanya ingin menunjukkan perasaannya, mencurahkan kasih sayangnya, memastikan keadaan Edo selalu baik, tanpa mengharapkan apapun.


"Edo, aku mencintaimu. Maafkan aku yang terus membuatmu kesal dan terganggu. Aku harap setelah ini kamu akan bahagia." Ratap Luna dalam hati.


************************************************


Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.


Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^


Terima kasih..!!


Hug,


Cheerieza