
Edo tampak tengah berbincang bersama Kira dan Shaka di ruang VVIP tempat Luna dirawat. Setiap hari Kira akan menjenguk Luna kapanpun dia mau, dan kalau Shaka mengijinkan. Selain karena kawatir, juga karena dia sendiri merasa bosan terus berada di ruangannya. Apalagi sudah 2 minggu dia dirawat.
"Bagaimana keadaan Luna hari ini, Ed..??" Tanya Kira sambil menatap kawatir pada gadis yang berhasil mencuri hatinya sejak pertama bertemu. Luna terlihat lelap karena pengaruh obat yang diberikan dokter.
"Secara fisik, dia semakin membaik. Hanya saja luka di pergelangan tangannya masih perlu waktu untuk benar-benar pulih. Luna melukai tangannya terlalu dalam, hingga untuk beberapa lama dia tidak bisa menggunakan tangannya seperti biasa. Perlu terapi untuk mengembalikan fungsi tangannya seperti sebelumnya. Itupun kemungkinan tidak bisa sepenuhnya pulih." Kata Edo sambil mengelus kepala Luna.
"Secara psikis..??" Tanya Kira. Edo terdiam sejenak lalu menghela napas panjang.
"Aku rasa akan perlu waktu lama untuk menyembuhkan luka psikisnya. Aluna bukan lagi gadis yang sama. Meski tetap tersenyum tapi matanya selalu memancarkan ketakutan. Dia juga terus gelisah dan selalu bermimpi buruk. Seringkali dokter harus memberi penenang untuk membuatnya tidur dengan nyenyak." Jawab Edo dengan suara tercekat.
"Bersabarlah, Ed. Dampingi dia melalui masa-masa sulit ini. Luna perlu seseorang yang bisa dia percaya dan membuat dia merasa aman." Kata Kira lagi.
"Iya, mom. Sekarang aku tahu bagaimana perasaan daddy selama ini setiap kali terjadi sesuatu yang buruk pada mommy. Juga perasaan papa dulu selama mendampingi almarhum mama saat sakit." Kata Edo dengan suara parau.
"Itu karena kita sama, Ed. Mencintai dan takut kehilangan. Kita selalu berusaha untuk menjaga dan melindungi wanita yang kita cintai. Tapi tetap ada satu titik dimana kita merasa tidak berdaya dan tidak mampu berbuat apapun. Kalau kamu benar-benar mencintainya, bersabarlah. Karena ini tidak hanya berat untukmu, tapi juga untuk Luna." Sahut Shaka sambil meremas pelan pundak Edo.
"Mommy juga wanita, Ed. Kejadian seperti ini pasti akan membekas dalam ingatan." Kata Kira.
"Kamu sudah mempertimbangkan untuk membawa Luna menemui Psikolog..?? Mommy rasa dia membutuhkan bantuan untuk menghilangkan traumanya." Lanjut Kira.
"Sudah, mom. Aku sempat bertanya pada oom Yudha. Tapi dia bilang mommy pasti lebih tahu." Jawab Edo. Kira terkekeh mendengar jawabannya.
"Hmmm.. mommy lupa kalau punya gelar master di bidang Psikologi dan bahkan pernah mempunyai ijin untuk praktek." Kata Kira.
"Jangan lupa kalau kamu mendapatkannya dengan predikat cumlaude di Oxford." Sahut Shaka bangga. Kira tertawa pelan melihat Shaka yang begitu bangga.
"Mommy akan hubungi salah satu kenalan yang buka praktek dan secepatnya memberi kabar." Kata Kira.
"Terima kasih, mom." Sahut Edo senang.
"Daddy lihat kamu benar-benar serius dengan hubungan kalian." Kata Shaka.
"Aku mencintainya, dad. Dan aku ingin menikahinya segera setelah lulus." Kata Edo mantap.
"Kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu..??" Tanya Shaka dengan wajah serius.
"Yakin, dad." Jawab Edo.
"Bagaimana dengan papamu..??" Tanya Shaka lagi.
"Papa juga sudah setuju, dad. Malah papa maunya kita buruan nikah, ga usah nunggu aku lulus. Soalnya papa kawatir liat aku yang terus-terusan buntutin Luna kemana-mana." Jawab Edo sambil tertawa kecil.
"Tapi sebenarnya memang itu yang kamu inginkan bukan..?? Kamu takut kalau Luna keburu berpaling dan memilih laki-laki lain..??" Goda Shaka. Edo hanya mengangguk.
"Aku pernah kehilangan Luna sekali, dad. Dan saat melihat Luna kritis rasanya aku hampir meledak karena merasa takut akan kehilangan dia. Jadi sekarang aku benar-benar yakin untuk mengikatnya." Jawab Edo.
"Memang kalian pernah putus..??" Tanya Kira terkejut. Edo meringis sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Iya, mom. Karena kebodohanku." Jawab Edo.
"Maksudmu..??" Kejar Kira penasaran.
"Aduuuuuh.. aduuuuuh.. mommy..!! Ampuuun..!! Sakit, mom..!!" Teriak Edo kesakitan karena Kira tiba-tiba menarik telinganya.
"Dasar kamu anak bodoh..!! Untung saja kamu menemukan Luna lagi dan dia mau menerimamu..!!" Seru Kira. Shaka hanya menggelengkan kepala melihat istrinya yang tetap saja garang meski sedang sakit.
"Salah, yang. Edo maksa Luna balikan. Untung aja Luna ga kabur lagi." Cibir Shaka.
"Dan kamu juga berani menyekap Luna untuk memaksanya kembali. Bagaimana kalau sampai kalian benar-benar digerebek warga, Edooo..??!!" Kata Kira kesal.
"Sebenarnya waktu itu aku berharap ada yang gerebek biar bisa langsung nikahin Aluna. Tapi ternyata tidak ada warga yang datang." Kata Edo justru dengan wajah penuh sesal.
"Kamu iniiiiii..!!" Seru Kira kesal sambil melayangkan cubitan bertubi-tubi.
"Kalau kamu memang serius, setelah ini bicara baik-baik pada orangtua Luna..!!" Kata Kira masih mencubit lengan Edo.
"Ampun, mom..!! Ampun..!! Dad, tolongin..!!" Seru Edo sambil menatap Shaka dengan wajah memelas.
"Sorry, Ed." Sahut Shaka sambil mengangkat kedua tangannya dan menahan tawa.
Tiba-tiba terdengar suara Luna bergumam lirih. Membuat Edo, Kira, dan Shaka sontak menoleh ke arahnya. Tubuh Luna tampak terus bergerak gelisah. Edo langsung menghampiri Luna berusaha membangunkannya.
"Aluna.." Panggil Edo.
"Tidak.. jangan.. jangan mendekat..!!" Luna terisak dalam tidurnya. Dia tampak begitu gelisah.
"Al..?? Bangun, Al." Kata Edo sambil menepuk pipi Luna pelan.
"Pergi..!! .... Jangan sentuh aku..!!" Luna semakin histeris dalam tidurnya. Keringat dingin terus mengalir membasahi tubuhnya.
"Sayang, buka matamu." Kata Edo lagi.
"PERGIIIIII..!!" Teriak Luna sambil terduduk dan terbangun.
Tubuh Luna tampak bergetar hebat dengan napas memburu. Wajahnya terlihat begitu pucat dan basah karena keringat dingin. Luna tampak memandang sekelilingnya dengan panik seolah dia tengah berada dalam bahaya.
"Hei.. hei.. sayang.. tenanglah.. kamu baik-baik saja." Kata Edo berusaha menenangkan Luna yang terus memberontak.
Luna terdiam saat mendengar suara Edo. Dia terus menatap lekat wajah Edo seolah memastikan pemuda itu memang ada di hadapannya. Tubuh Luna yang terus bergetar perlahan tampak mulai tenang. Edo menangkup wajah Luna dengan kedua tangannya lalu menghapus air mata gadis itu dengan kedua ibu jarinya.
"Tenanglah. Itu hanya mimpi buruk. Kamu aman sekarang. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu lagi." Kata Edo. Luna memeluk Edo dan tangisnya kembali pecah.
"Sssssstt.. tenanglah, Al." Kata Edo sambil mengelus pelan punggung Luna.
"Aku takut, Ed. Kejadian itu terus menghantuiku. Dan setiap kali aku memejamkan mata semua seakan terus terulang dalam mimpiku." Kata Luna masih menangis dalam pelukan Edo.
"Aku tahu, Al. Tapi kamu aman sekarang. Pelan-pelan ya, sayang. Kita pasti bisa melalui ini." Kata Edo lagi.
Edo terus memeluk Luna hingga gadis itu merasa tenang. Pemuda itu menatap Kira dan Shaka dengan putus asa karena merasa tidak berdaya saat kekasihnya terus tersiksa oleh kenangan buruk.