(Family) Bound

(Family) Bound
Kembali Berulah



Siang ini Shaka sengaja pulang untuk makan siang bersama istrinya. Toh sudah banyak pekerjaan yang dia selesaikan dan Fahri bisa menyelesaikan sisanya. Jadi kalau dia mau, Shaka bisa saja tidak kembali ke kantor.


Shaka berjalan sendiri di sebuah toko bunga. Dia ingin membelikan bunga untuk Kira demi mengobati kekecewaan istrinya tempo hari setelah mengetahui bunga yang seharian dikirimkan ternyata bukanlah dari Shaka. Seorang wanita berjalan mendekati Shaka untuk membantunya memilih bunga.


“Bunga apa yang anda cari, pak..??” Tanya wanita itu.


“Bunga apa yang tepat untuk menyatakan cinta..??” Shaka bertanya balik.


“Setiap bunga memiliki arti masing-masing. Tulip merah mendeklarasikan cinta, sedang baby breath melambangkan cinta sejati.” Jawab wanita itu sembari menunjukkan kedua bunga yang dimaksud.


“Bisakah 2 bunga itu disatukan dalam satu rangkaian yang cantik..??” Tanya Shaka.


“Tentu saja. Saya akan merangkaikannya untuk anda.” Jawab wanita itu tersenyum.


Tak lama wanita itu pun menyerahkan rangkaian cantik bunga tulip dan baby breath. Shaka tersenyum membayangkan wajah bahagia Kira saat menerima bunga itu. Setelah membayar Shaka pun bergegas menuju mobilnya. Dia tidak sabar ingin segera pulang dan memberikan bunga itu untuk Kira.


Setelah duduk dikursi kemudi dan meletakkan bunga itu disampingnya, tiba-tiba seseorang tampak mengetuk kaca pintu mobil. Shaka terkejut melihat Kate ada disana. Meski enggan akhirnya Shaka membuka pintu dan keluar untuk berbicara dengan Kate. Baru akan membuka mulutnya tiba-tiba Kate berjinjit dan meraih tengkuk Shaka lalu mel**at bibir lelaki itu. Shaka terkejut dan langsung menghempaskan tubuh Kate hingga terjatuh.


“Apa yang kamu lakukan..??!! Dasar wanita ja**ng..!!” Raung Shaka.


“Apa kamu benar-benar tidak ingin bertemu lagi denganku..?? Aku sangat merindukanmu, Shaka.” Kata Kate.


“Setelah apa yang kamu lakukan padaku saat kita terakhir kali bertemu..?? Bahkan sejak awal aku sudah muak melihat wajahmu yang tidak tahu malu itu.” Jawab Shaka dingin.


“Itu karena kamu tidak memberiku pilihan lain. Kamu terus saja menolakku.” Kata Kate tanpa malu.


“Kamu benar-benar sudah gila. Berapa kali aku bilang kalau aku sudah menikah dan aku mencintai istriku..!! Jadi berhenti mengejarku..!!” Seru Shaka lalu membuka pintu mobilnya.


Kate seperti tidak peduli melihat emosi Shaka. Tiba-tiba dia memeluk erat tubuh Shaka dari belakang.


“KATE..!!” Teriak Shaka kembali menghempaskan tubuh wanita itu.


“Kalau kamu masih nekat, aku benar-benar akan membuatmu menyesal..!!” Seru Shaka lalu masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Kate yang masih terduduk di tanah.


“Bukan aku. Tapi kamu yang akan menyesal, Shaka.” Gumam Kate dengan senyum liciknya.


Kate berjalan mendekati mobil yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berbicara dengan Shaka. Ternyata Arian telah menunggunya disana.


“Kerja bagus, sayang. Kamu benar-benar gadis pintar.” Kata Arian lalu ******* bibir Kate.


“Kamu mendapatkannya..??” Tanya Kate pada Arian.


“Foto-foto terbaik yang pernah aku dapatkan.” Jawab Arian dengan seringainya.


“Bagus. Pastikan kali ini kita tidak gagal.” Kata Kate.


“Jangan takut. Aku akan pastikan kita mendapatkan yang kita mau.” Sahut Arian sebelum memacu mobilnya meninggalkan tempat itu.


****


Sesampainya di rumah Shaka bergegas masuk untuk menemui Kira. Dia benar-benar tidak sabar untuk segera memberikan bunga yang dia beli kepada istrinya. Kira, Edna, dan Darius pun terkejut melihat kedatangan Shaka.


“Assalamualaikum.. Sayang, aku pulang.” Panggil Shaka.


“Wa’alaikumsalam.” Jawab Kira, Edna, dan Darius bersamaan.


Shaka menghampiri Kira lalu memeluknya erat dan mencium bibirnya sekilas.


“Bie, kok sudah pulang..?? Bagaimana pekerjaanmu di kantor..??” Tanya Kira terkejut.


“Aku bekerja keras sejak pagi untuk menyelesaikan semuanya, hanya untuk bisa makan siang bersama istriku ini.” Jawab Shaka lalu kembali mencium bibir Kira dengan gemas.


“Eeeeehhmm..” Dehem Darius. Shaka langsung menoleh dan baru teringat kalau mertuanya untuk sementara tinggal bersamanya.


“Papa.. Mama.. maaf.” Kata Shaka sambil nyengir tanpa melepaskan pelukannya dari Kira.


“Bie, lepaskan aku.” Protes Kira. Shaka lalu melepaskan pelukannya dan memberikan bunga yang dia beli kepada Kira.


“Ini untukmu.” Kata Shaka. Mata Kira berbinar melihat rangkaian bunga cantik dari Shaka.


“Cantik sekali. Terima kasih, Bie.” Seru Kira senang.


“Tapi bunga-bunga ini tetap tidak secantik dirimu, sayang. Kata penjual bunga itu, tulip merah melambangkan cinta dan baby breath melambangkan cinta sejati.” Kata Shaka tanpa mempedulikan keberadaan kedua mertuanya.


Wajah Kira merona merah mendengar rayuan Shaka.


“Sekarang aku tahu kenapa diantara kelima anakku Kira yang anaknya paling banyak.” Sungut Darius kesal karena keberadaannya diabaikan putri dan menantunya yang dijawab cubitan dari Edna.


“Papa apaan sich..?? Namanya juga suami istri, wajar kan kalau Shaka merayu Kira.” Edna protes karena Darius mengganggunya yang tengah menikmati adegan romantis di depannya.


Shaka terkekeh melihat wajah Kira yang tampak malu-malu. Dia lalu menggandeng tangan Kira dan menuntunnya untuk duduk di meja makan kecil bersama kedua mertuanya. Edna terus tersenyum melihat sikap romantis Shaka yang memang sering ditujukan kepada Kira.


“Mana Edo..??” Tanya Shaka karena setahunya Edo masih libur semester.


“Dimana lagi..?? Tentu saja sedang sibuk mengikuti Luna.” Jawab Kira.


“Apa dia tidak lelah terus mengikuti Luna seharian..??” Protes Shaka.


“Apa kamu lupa dulu bahkan pagi-pagi sekali kamu sudah mulai mengekoriku sampai malam..?? Dan itu setiap hari.” Sungut Kira tidak terima. Shaka hanya bisa nyengir sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


“Sukurin.” Sahut Darius senang melihat Putrinya memarahi Shaka.


“Pa..” Bisik Edna sambil menyikut perut suaminya.


Edna benar-benar kesal pada Darius. Entah kenapa sejak awal mengenal Shaka, suaminya senang sekali mencari keributan dengan menantunya itu. Seolah Shaka adalah lawan debat yang menggantikan Mahesa saat tidak bertemu Darius.


“Edo menjemput Nara terus sekalian pamit ke tempat Luna. Nara terus merengek ingin bertemu Luna. Jadi Edo mengajaknya ke tempat Luna hari ini.” Kata Kira yang disambut Ooh panjang oleh Shaka.


Setelah makan siang dan sholat Dhuhur Shaka kembali ke kantor. Kira menata bunga pemberian Shaka ke dalam vas dan meletakkannya di meja ruang keluarga. Senyum bahagia tidak surut dari wajah cantiknya yang terlihat sedikit pucat.


Kira meraih HP-nya saat mendengar notifikasi chat masuk. Dahinya berkerut saat melihat nomor tak dikenal mengirim pesan kepadanya. Mata Kira membulat saat melihat isi pesan tersebut. Tampak foto-foto Shaka dan Kate yang tengah berciuman juga berpelukan.


Tubuh Kira seketika terduduk. Napasnya memburu melihat foto-foto yang dikirimkan padanya. Mata Kira mulai kabur karena tubuhnya yang mendadak lemas. Marah, sedih, kecewa itu yang dia rasakan sekarang. Tapi Kira segera menepis semua pikiran buruk tentang Shaka. Dia sangat mengenal suaminya. Kalau memang Shaka berniat berselingkuh dengan Kate, pasti sudah dia lakukan sejak dulu. Tapi bukankah sekarang keadaannya berbeda..?? Sekarang dia sakit-sakitan dan tidak bisa melayani Shaka dengan baik. Kira kembali menggelengkan kepalanya untuk menepis pikiran buruknya.


Kira bergegas menghampiri tempat sampah di ruang keluarga. Dia mengambil kembali kartu nama dari toko tempat Shaka membeli bunga lalu membandingkannya dengan nama toko yang menjadi background foto-foto Shaka dan Kate. Kira pun tampak menghubungi seseorang.


“Halo, nona Kira.” Sapa seorang wanita di seberang telpon.


“Bantu aku untuk mendapatkan rekaman CCTV hari ini di depan toko bunga Edelia dan sekitarnya.” Perintah Kira.


“Baik, nona.” Sahut suara itu.


“Tolong lakukan dengan cepat.” Perintah Kira lalu menutup telpon tanpa menunggu jawaban.


Kira memejamkan mata berusaha mengatur napasnya yang masih tidak beraturan.


“Kira.. Kamu kenapa, sayang..??” Tanya Edna cemas karena melihat wajah Kira yang semakin pucat.


“Kenapa kamu tidak bilang mama. Tadi kan biar mama saja yang melakukannya.” Protes Edna.


“Itu hanya hal kecil, ma.” Sahut Kira terkekeh. Edna hanya bisa mendengus kesal karena putrinya masih saja keras kepala.


Saat Shaka pulang, Kira menyambut Shaka lebih hangat dari biasanya. Dia bahkan beberapa kali memeluk dan mencium Shaka tanpa canggung meski di hadapan keluarganya. Shaka tentu saja senang sekaligus heran mendapat perlakuan istimewa dari istrinya.


“Astaga, ma. Yang benar saja..!!” Protes Radit karena Kira lagi-lagi memeluk dan mencium pipi Shaka yang duduk di sampingnya.


“Ga usah pingin.” Sahut Shaka dengan senyum jahilnya.


“Sapa juga yang pingin, pa. Yang ada ni mata pedes liatinnya.” Sungut Radit.


“Sudah ga usah protes. Mungkin saja bawaan adek-adek kalian.” Kata Edna.


“Alasan saja.” Sungut Darius yang ikut kesal. Dia langsung terdiam saat melihat Edna melotot ke arahnya.


“Memang bisa seperti itu, eyang..??” Tanya Rania.


“Namanya orang hamil memang kadang suka bersikap aneh karena bawaan bayi dalam kandungan, sayang. Itu sebenarnya pengaruh hormon.” Jawab Edna.


“Oooooohhh..” Sahut Rania. Gadis kecil itu lalu mengedikkan bahunya dan kembali sibuk dengan makan malamnya.


Malamnya, Shaka keluar dari kamar mandi dan segera naik ke ranjang untuk beristirahat. Kira tampak menunggunya, dia duduk bersandar pada kepala ranjang.


“Bie, cium aku.” Kata Kira sambil membentangkan kedua tangannya.


Shaka terkekeh mendengar permintaan Kira. Dia langsung menarik tubuh Kira dalam pelukannya dan mencium bibirnya dengan lembut.


“Aku mencintaimu, Bie.” Kata Kira sambil mengeratkan pelukannya.


“Sepertinya memberimu bunga setiap hari bukan ide yang buruk.” Sahut Shaka terkekeh sembari membalas pelukan istrinya.


“Cium lagi.” Kata Kira lalu mel**at bibir suaminya dengan buas.


Tangannya mulai meraba dada Shaka, membuat mata lelaki itu membulat karena tingkah istrinya yang tiba-tiba agresif.


“Sayang, tunggu dulu. Kamu kenapa..??” Tanya Shaka setelah berhasil melepaskan diri dari Kira.


“Aku hanya merindukanmu, Bie.” Jawab Kira dengan menunduk.


Bayang-bayang Shaka dan tengah berpelukan dan berciuman dengan Kate terus memenuhi pikirannya. Shaka mengangkat dagu Kira, membuat tatapan mereka bertemu.


“Hanya itu..??” Tanya Shaka penuh selidik.


“Memangnya kenapa..?? Sejak dinyatakan sakit aku tidak pernah melayanimu lagi, Bie. Apa salah kalau aku ingin melakukannya..??” Jawab Kira kembali menundukkan kepalanya.


“Aku tidak ingin kamu kelelahan, sayang.” Kata Shaka.


“Benarkah..?? Atau karena aku sakit-sakitan dan tidak terlihat menarik lagi..??” Sahut Kira denngan suara tercekat dan mata berkaca-kaca.


“Apa yang kamu bicarakan..??!! Tentu saja kamu selalu menarik, apapun keadaanmu.” Kata Shaka.


“Aku hanya tidak mau egois, sayang. Aku tidak mau membuatmu kelelahan hingga akhirnya membuat kondisimu menurun. Kamu tahu kan aku sangat takut kehilanganmu..??” Lanjut Shaka. Kira terkejut melihat kekecewaan di mata Shaka.


“Maafkan aku, Bie. Aku tidak pernah meragukanmu. Aku hanya merasa tidak percaya diri.” Kata Kira kembali memeluk Shaka dan terisak.


“Kamu akan selalu menjadi milikku kan, Bie..??” Tanya Kira lagi.


“Tentu saja. Aku milikmu. Hanya milikmu.” Kata Shaka lalu mel**at bibir Kira.


Shaka kembali menarik tubuh Kira dalam pelukannya. Istrinya menangis keras dalam pelukannya, membuat Shaka semakin bertanya-tanya. Dia merasa ada sesuatu yang tengah disembuyikan oleh Kira.


“Sayang, sebenarnya apa yang terjadi..??” Tanya Shaka.


“Aku mencintaimu, Bie.” Gumam Kira dalam pelukan Shaka.


“Aku tahu. Dan aku juga mencintaimu. Kamu tahu itu kan.” Sahut Shaka. Dirasakannya Kira mengangguk dalam pelukannya.


“Bie.” Panggil Kira lirih.


“Ada apa, sayang..??” Sahut Shaka.


“Tolong panggilkan suster Hani. Tiba-tiba kepalaku pening sekali.” Pinta Kira.


Shaka melepas Kira dari pelukannya dan terkejut melihat wajah Kira yang begitu pucat.


“Tunggulah disini.” Kata Shaka setelah membaringkan tubuh Kira dan menyelimutinya.


Shaka bergegas keluar dari kamarnya dan berlari menuju rumah yang ada di halaman belakang. Rumah itu adalah tempat dua pelayan dan perawat Kira beristirahat. Pak Tarno sendiri setiap sore selalu pulang karena rumahnya tidak jauh dari sana.


“Daddy mau kemana..??” Tanya Edo yang terlihat sedang menonton TV di ruang keluarga.


“Memanggil suster Hani, mommy-mu drop.” Jawab Shaka tanpa menoleh. Edo yang terkejut bergegas menyusul Kira.


Shaka kembali ke kamarnya bersama suster Hani, dilihatnya Edo telah ada disana menjaga Kira. Suster Hani segera memeriksa kondisi Kira. Setelah itu dia tampak menghubungi salah satu dokter Kira lalu memasangkan infus dan memberikan suntikan untuk membantu kondisi wanita itu.


“Bagaimana, sus..??” Tanya Shaka.


“Tensi bu Kirana turun, pak. Saat saya cek tadi tensi bu Kirana 70/50 dan juga mengalami hipoksia. Saya sudah berkonsultasi dengan dokter Aji. Menurut beliau kemungkinan bu Kirana tengah stress dan banyak pikiran. Tolong dijaga kondisi mental bu Kirana, pak.” Jawab suster Hani panjang lebar. Shaka tampak mengangguk dan menghela napas panjang.


“Dad, sebenarnya ada apa..?? Kenapa tiba-tiba mommy stress begini..??” Tanya Edo pada Shaka.


“Aku juga tidak tahu, Ed. Sejak sore tadi mommy-mu terus bersikap aneh. Tapi tidak mau mengatakan apapun.” Jawab Shaka sembari memijit pelan pangkal hidungnya. Tampak sekali lelaki itu begitu lelah dan ketakutan.


“Istirahatlah, dad. Mommy sudah tidak apa-apa.” Kata Edo yang tidak tega melihat keadaan Shaka.


“Kamu juga istirahat, Ed. Sudah malam. Daddy akan menjaga mommy-mu.” Sahut Shaka.


Edo menghembuskan napas pelan lalu berdiri dan keluar dari kamar orangtuanya. Shaka berbaring di samping Kira. dia menatap lekat wajah Kira yang terlelap karena pengaruh obat. Kira terlihat lebih baik dan wajahnya tidak sepucat tadi. Dia masih bertanya-tanya apa yang begitu membebani pikiran Kira hingga membuat keadaannya drop.


“Sebenarnya apa yang terjadi..?? Apa yang membebani pikiranmu..?? Apa mungkin Kira tahu mengenai surat-surat ancaman itu..??” Tanya Shaka dalam hati.


“Besok aku harus mencari tahu. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu.” Gumam Shaka sebelum memeluk tubuh istrinya dan ikut terlelap.


********************************************


Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.


Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^


Terima kasih..!!


Hug,


Cheerieza