(Family) Bound

(Family) Bound
Kepercayaan



“Sayang.” Panggil Shaka sambil memeluk Kira saat mereka akan beranjak tidur.


“Ada apa, Bie..??” Tanya Kira.


“Kamu percaya padaku kan..??” Tanya Shaka. Kira yang merasa aneh dengan pertanyaan Shaka menengadahkan kepala dan menatap wajah Shaka keheranan.


“Kenapa kamu bicara begitu, Bie..??” Tanya Kira lagi.


“Kamu tahu kan perusahaanku akan bekerjasama dengan Scarlett Group.” Tanya Shaka. Kira diam dan terus menatap Shaka, menunggu suaminya meneruskan ceritanya.


“Aku sudah beberapa kali bertemu dengan perwakilan mereka, namanya Kate, adik dari CEO group itu. Dia adalah wakil CEO. Dan yang aku lihat, sejak pertama bertemu dia sepertinya tertarik denganku. Dia terus berusaha mendekatiku meski aku mengatakan kalau aku sudah menikah.” Lanjut Shaka.


“Apa dia masih muda dan cantik..??” Tanya Kira dengan wajah cemberut. Shaka terkekeh melihat perubahan wajah Kira.


“Sebagai lelaki aku mengakui kalau dia memang cantik dan dia juga masih muda, usianya baru 26 tahun. Tapi bagiku kamu tetap yang paling cantik. Kamu adalah satu-satunya wanita yang akan selalu aku inginkan.” Kata Shaka sambil menatap lekat wajah Kira, membuat wajah wanita itu merona.


“Kamu pecaya kan kalau aku tidak akan pernah mengkhianatimu..??” Tanya Shaka lagi. Kira mengangguk.


“Tapi bagaimana kalau dia terus mengejarmu..??” Tanya Kira kawatir.


“Aku akan tetap bersikap profesional agar kerjasama ini berjalan tanpa terusik dengan perlakuan Kate. Tapi kalau nantinya itu justru mengusik kita, aku akan menghentikan kerjasama kami.” Kata Shaka tanpa ragu.


“Tapi group mereka besar dan sudah memiliki banyak cabang di Indonesia. Kerjasama dengan mereka akan sangat menguntungkanmu, Bie.” Sahut Kira.


“Bagiku tidak ada yang lebih penting daripada kamu dan anak-anak. Kalau kerjasama itu gagal, masih banyak hotel lain yang pasti akan mau bekerjasama denganku. Untuk apa aku mempunyai banyak materi kalau itu justru menghancurkan keluarga yang sangat aku sayangi.” Kata Shaka tanpa melepas pandangan dari Kira.


Kira menatap lekat wajah suaminya dengan mata berkaca-kaca. Dia sangat tersentuh dengan penuturan Shaka. Selama 14 tahun dia mengenal Shaka, begitu banyak hal yang telah dikorbankannya demi Kira. Meski usianya tidak lagi muda, Kira selalu melihat cinta yang begitu dalam untuknya di mata Shaka.


“Sayang, kenapa kamu menangis..??” Tanya Shaka panik saat melihat airmata Kira mulai mengalir.


“Aku mencintaimu, Bie. Dan aku mempercayaimu. Aku percaya kamu tidak akan pernah mengkhianatiku.” Kata Kira sambil menyentuh wajah Shaka. Perlahan dia mencium lembut bibir Shaka.


“Aku mencintaimu, sayang. Terima kasih sudah mempercayaiku.” Jawab Shaka lalu kembali memeluk erat tubuh Kira.


“Bie..??” Panggil Kira sambil melepas pelukannya.


“Ada apa, Ra..??” Tanya Shaka.


“Aku menginginkanmu.” Bisik Kira malu-malu membuat Shaka tersenyum karena merasa gemas.


“Kamu sudah mempunyai 6 anak. Kenapa kamu masih saja malu-malu..??” Shaka terkekeh sambil mencubit hidung Kira gemas.


“Ya sudah kalau kamu tidak mau.” Kira mencebik dengan wajah memerah karena malu. Shaka tersenyum lalu meraih tengkuk Kira dan mel**at bibirnya, memulai malam panjang yang hanya akan menjadi milik mereka.


****


Kira melangkah anggun ke dalam lobby gedung perusahaan milik Shaka. Para pegawai yang mengenali Kira segera menyambutnya dan membiarkannya menuju ruang kerja Shaka. Shaka berangkat pagi-pagi sekali karena ada masalah dengan salah satu proyek kerjasama dengan perusahaan lain, sehingga Kira sengaja membawakan makan siang untuk suaminya.


“Rosi, apa suamiku ada di dalam..??” Tanya Kira ramah.


“Ada, bu. Tapi kebetulan sedang ada tamu yang baru saja datang.” Jawab Rosi sambil menunjuk ke arah pintu ruangan Shaka yang terbuka.


Kira tersenyum melihat pintu ruangan itu. Dia tahu kebiasaan suaminya. Kalau ada tamu wanita yang datang dan mereka hanya berbicara berdua di dalam ruang kerjanya, Shaka akan membiarkan pintu tetap terbuka untuk menghindari salah paham. Bahkan berbicara dengan Rosi pun dia akan membiarkannya terbuka kalau tidak ada Fahri di ruangan itu. Rosi baru akan menutup pintu ruangan setelah urusannya selesai dan keluar dari ruangan Shaka. Kira berjalan mendekati ruangan Shaka, langkahnya terhenti dibalik pintu saat mendengar percakapan Shaka dengan seorang wanita. Sedangkan di dalam ruangan, Shaka menatap dingin ke arah Kate. Dia kesal karena Kate datang tanpa mengajak Simon dan bahkan sejak tadi tampak berusaha terus menggodanya.


“Nona Kate, ada urusan apa anda datang kemari..?? Setahu saya kita tidak ada jadwal meeting.” Tanya Shaka dingin yang justru membuat Kate semakin tertantang untuk menaklukkannya.


“Aku hanya ingin mengajakmu makan siang. Kenapa kamu harus berbicara begitu ketus denganku..??” Tanya kate dengan suara manja.


‘Bukankah saya sudah pernah mengatakan kalau saya selalu memakan bekal dari ISTRI saya.” Kata Shaka dengan menegaskan kata istri.


“Tapi hari ini kamu tidak membawa bekal kan..?? Aku tahu hari ini kamu berangkat pagi sekali. Jangankan bekal, aku yakin bahkan kamu tadi tidak sempat sarapan.” Kata Kate mencibir Shaka.


“Dari mana kamu tahu aku berangkat pagi..??’ Tanya Shaka semakin tidak suka karena merasa diawasi.


“Itu rahasia, sayang. Kenapa kamu tidak memberiku kesempatan untuk mendekatimu..??” Tanya Kate sambil berdiri dan sedikit menundukkan tubuhnya di meja kerja yang ada di hadapan Shaka, memperlihatkan 2 gundukan indahnya pada laki-laki dihadapannya.


“Mendekat seperti apa yang anda maksud, nona Kate..??” Tanya Shaka dengan menaikkan satu alisnya.


“Demi Tuhan, Shaka. Berapa kali harus kubilang..??!! Panggil aku Kate..!!” Seru Kate masih dengan suara manja.


“Anda belum menjawab pertanyaan saya, nona.” Kata Shaka mengabaikan permintaan Kate.


“Tentu saja mendekatimu untuk menjalin hubungan selain kerjasama perusahaan. Aku yakin kamu tahu apa yang aku maksud, sayang.” Kata Kate sambil berjalan mendekati Shaka.


“Kenali batasanmu, nona.” Tegur Shaka saat melihat Kate nekat mendekatinya. Tapi gadis itu justru terkekeh melihat reaksi Shaka.


“Ini yang aku suka darimu, Shaka. Setiap pria yang melihatku pasti akan selalu menginginkanku. Seandainya tidak pun, hanya dengan satu kedipan mata mereka akan dengan senang hati berlutut di hadapanku. Ayolah, sayang.. aku tahu tentang istri tuamu. Aku yakin di usianya sekarang dia tidak lagi menarik untuk dipandang. Aku tidak memintamu berpisah darinya, hanya datang saja setiap kali kita punya waktu untuk bersenang-senang.” Kata Kate dengan suara menggoda. Dia bahkan sudah berani menyentuh dada Shaka dengan tatapan mendamba.


“Jaga bicaramu, Kate..!!” Kata Shaka sambil menghempaskan tangan Kate dan mendorongnya.


“Aku mencintai istriku..!! Tidak peduli bagaimana penampilannya sekarang atau nantinya, aku akan tetap mencintainya.” Seru Shaka.


“Itu karena kamu belum mencoba berc**ta denganku. Cobalah sekali. Aku yakin kamu pasti akan langsung meninggalkan dia.” Kata Kate penuh percaya diri sambil berjalan mendekati Shaka lalu menarik dasinya hingga membuat wajah mereka mendekat.


“Eeeeehmm..!!” Suara deheman seorang pria membuat mereka menoleh.


Shaka terkejut saat melihat Kira dan Simon telah berada di ruangannya. Shaka langsung menghempaskan tangan Kate hingga gadis itu hampir terjatuh. Dengan panik Shaka segera menghampiri Kira. Kate yang belum pernah melihat Kira melihat dari atas hingga ke bawah dan menilai wanita asing yang berdiri dihadapannya. Dalam hatinya dia mengagumi penampilan Kira yang terlihat anggun dan cantik meski dengan style yang sederhana.


“Sayang, kamu disini..?? Sejak kapan kamu datang..??” Tanya Shaka gugup tapi Kira hanya menatapnya dan tersenyum manis.


“Saya baru saja datang dan kebetulan juga melihat wanita ini saat akan baru masuk.” Jawab Simon karena melihat Kira tetap diam. Mata Shaka terbelalak karena terkejut.


“Sayang, aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang terlihat. Aku mohon jangan berpikiran buruk tentang ini.” Kata Shaka.


“Siapa dia..?? Menganggu saja.” Sungut Kate kesal.


Kate dan Simon terkejut mendengar perkataan Shaka. Mereka tahu istri Shaka Rahardian lebih tua 10 tahun. Tapi tidak pernah menyangka wanita itu masih terlihat begitu muda dan cantik. Dia bahkan terlihat elegan dan anggun meski hanya menggunakan make-up tipis.


“Dia cantik sekali dan masih terlihat muda. Kalau aku belum tahu usianya, aku pasti akan percaya saja kalau dia mengatakan seusia Shaka. Tubuhnya juga masih terjaga dengan baik meski telah memiliki 6 anak. Pantas saja Shaka begitu mencintainya.” Gumam Simon dalam hati karena mengagumi Kira.


Sementara Kira terlihat tidak mempedulikan Shaka dan Simon. Dia tetap tersenyum manis dan berjalan mendekati Kate.


“Perkenalkan. Nama saya Kirana. Saya istri Shaka.” Kata Kira sambil mengulurkan tangannya tanpa melunturkan senyum manis di wajahnya.


“Kate.” Jawab Kate ketus tanpa menyambut uluran tangan Kira.


Shaka yang melihat itu bergegas menghampiri Kira dan memeluknya. Dia benar-benar takut Kira akan salah paham mengenai kejadian barusan.


“Sayang, maafkan aku.” Kata Shaka sambil mengecup puncak kepala Kira dengan penuh kasih, membuat Kate semakin geram.


“Aku datang untuk membawakanmu makan siang, Bie. Kamu sudah makan..??” Tanya Kira lembut tanpa merasa terganggu sedikitpun.


Shaka tersenyum dan menggelengkan kepala. Dia terus menatap lekat wajah Kira dengan tatapan teduh.


“Apakah anda berdua ingin bergabung bersama kami..?? Kebetulan saya membawa lebih.” Kata Kira ramah. Simon mendahului bicara saat melihat Kate akan membuka mulutnya.


“Terima kasih atas tawaran anda, bu Kirana. Tapi kami sudah sangat mengganggu kesibukan pak Shaka. Lebih baik kami berpamitan karena masih banyak pekerjaan yang menunggu kami. Benar kan, nona Kate..??” Jawab Simon sopan sambil menatap tajam ke arah Kate. Tapi gadis itu hanya mendengus kesal sambil berjalan keluar dari ruangan Shaka.


“Saya benar-benar minta maaf atas perlakuan tidak sopan nona Kate. Saya harap ini tidak akan mengganggu kerjasama perusahaan kita.” Kata Simon meminta maaf.


“Tidak apa-apa. Tolong pastikan kejadian seperti ini tidak akan terulang.” Kata Shaka sopan.


“Baik, pak Shaka. Sekarang saya pamit dulu.” Sahut Simon sambil mengangguk pelan kepada Shaka dan juga Kira lalu berjalan keluar untuk menyusul Kate.


“Sayang..” Panggil Shaka saat mereka hanya berdua di ruangan itu. Dia menangkup wajah Kira dengan kedua tangannya, membuat pandangan mereka bertemu.


“Sudahlah, Bie. Tidak perlu menjelaskan apapun. Aku sudah mendengarkan semuanya. Lagipula, bukankah aku sudah mengatakan kalau aku mempercayaimu..??” Kata Kira sambil menatap lekat wajah Shaka, membuat suaminya tersenyum dan terus menatapnya penuh cinta.


“Terima kasih, sayang.” Kata Shaka sambil mengecup kening Kira.


“Jadi.. Kamu akan terus mencintai wanita tua ini..??” Tanya Kira dengan senyum menggoda.


“Bagaimana lagi..?? Aku sudah terlanjur terjerat dalam pesona wanita tua ini sejak pandangan pertama. Salahkan dirimu yang selalu membuatku jatuh cinta setiap harinya.” Kata Shaka lalu mengecup lembut bibir Kira.


****


Sementara itu di dalam mobil, Simon tengah menahan emosi terhadap Kate. Dia tahu gadis itu memang sangat egois dan juga memiliki gaya hidup bebas. Tapi Simon tidak pernah menyangka Kate akan sampai senekat itu.


“Berhenti mempermalukan diri sendiri dan keluargamu, Kate.” Kata Simon dingin.


“Aku hanya berusaha mendapatkan apa yang aku inginkan. Apa itu salah..??” Jawab Kate.


“Salah kalau kamu mengusik milik orang lain.” Seru Simon.


“Sayangnya aku tidak peduli. Selama ini aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan dan tidak ada laki-laki manapun yang menolakku. Jadi aku pasti mendapatkan Shaka.” Desis Kate.


“Aku tidak peduli dengan keluarga Shaka dan bahkan kalau dia tidak mau meninggalkan keluarganya aku juga tidak masalah. Asalkan Shaka mau menjadi partner-ku untuk urusan ranjang.” Lanjut Kate santai.


Simon meminggirkan mobil dan berhenti. Ditatapnya Kate dengan raut wajah antara jijik dan tidak percaya.


“Kamu gila. Apa kamu begitu murahan sampai berpikir seperti itu..??!!” Raung Simon.


“Terserah apa katamu.” Sahut Kate santai.


“Apa kamu tidak melihat bagaimana tadi Shaka dan istrinya saling menatap..?? Mereka saling mencintai, sedangkan yang kulihat dimatamu hanya nafsu semata.” Kata Simon.


“Terus terang sejak pertama aku mengenal s*ks aku selalu menyukainya. Sejak itu aku selalu mencari lelaki yang bisa membuatku puas. Untungnya tidak sulit bagiku mendapatkan siapapun yang aku mau. Tapi Shaka...” Geram Kate mengepalkan tangannya erat.


“Apa keluargamu tahu tentang ini..??” Tanya Simon.


“Menurutmu kenapa mereka memaksaku bekerja dan membuat jabatan Wakil CEO..?? Mereka yakin kesibukan akan mengalihkan pikiranku. Tapi mereka salah. Aku justru lebih mudah menemukan lelaki.” Cibir Kate.


“Kamu butuh bantuan, Kate. Ini sudah tidak wajar.” Kata Simon.


“Aku butuh bantuan untuk mendapatkan Shaka.” Kata Kate.


“Kamu butuh bantuan psikolog, Kate..!!” Seru Simon mulai tidak sabar.


“Aku tidak gila, Simon..!!” Teriak Kate.


“Kalau begitu segera cari bantuan sebelum kamu benar-benar gila.” Sahut Simon dingin.


“Aku pasti menemukan cara.” Cibir Kate.


Simon hanya bisa mendengus kesal mendengar keras kepala Kate. Dia tahu yang dimaksud Kate adalah menemukan cara untuk mendapatkan Shaka.


************************************************


Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.


Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^


Terima kasih..!!


Hug,


Cheerieza