(Family) Bound

(Family) Bound
Quality Time Ala Shaka



Shaka berjalan mendekati Kira yang tampak terlelap. Infus di tangan Kira sudah dilepas, menandakan kondisi istrinya sudah sangat membaik. Setelah melepas jas dan dasinya, perlahan Shaka naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Kira. Dipandangnya lekat wajah wanita yang begitu dicintainya. Wanita yang telah berhasil mengubahnya dari sosok keji yang tidak segan menyiksa orang-orang disekitarnya hingga menjadi orang yang berbeda 180 derajat.


Shaka mengingat bagaimana dirinya sebelum bertemu Kira. Meski masih remaja, tapi hidupnya dipenuhi kekerasan. Hampir tiap hari ada saja orang yang dihajarnya habis-habisan hanya karena dia butuh untuk melampiaskan kekesalannya pada keluarga yang dirasa tidak pernah peduli padanya. Entah berapa orang harus masuk rumah sakit karena ulahnya. Meski pada akhirnya semua itu selesai karena pengaruh keluarga Rahardian. Berkelahi, tawuran, mabuk-mabukan, balap liar, merokok, perusakan, membuat keributan. Semua itu sudah begitu akrab sejak Shaka, Leo, dan Alex duduk di bangku SMP. Mereka bertiga merasa senasib dan bertingkah semaunya seolah merekalah penguasa dunia ini dengan memanfaatkan kekuasaan keluarga mereka. Apalagi sejak kecil mereka juga berlatih bela diri, membuat mereka tidak mudah ditaklukkan dan semakin ditakuti. Pertemuan Shaka dengan Kira telah mengubahnya, dan akhirnya perubahan Shaka juga membawa perubahan pada kedua temannya.


Shaka beberapa kali mengecup kening dan pipi Kira, mengusik wanita itu dari tidur lelapnya.


“Bie, kok sudah pulang..??” Kata Kira setelah sepenuhnya tersadar. Dilihatnya jam dinding yang baru menunjukkan jam 3 sore.


“Aku kangen. Maaf aku mengganggu tidurmu.” Kata Shaka sembari menyelipkan rambut yang menutupi wajah Kira ke belakang telinganya.


“Sekarang kerjaku hanya tidur saja. Lama-lama tubuhku bisa bulat seperti kerbau.” Sahut Kira dengan wajah cemberut.


“Baguslah. Jadi aku tidak perlu kawatir lagi akan ada laki-laki lain yang mengejarmu.” Kata Shaka dengan tertawa pelan.


“BIE..!!” Seru Kira kesal sambil memukul pelan dada Shaka, membuat lelaki itu tertawa semakin keras.


“Lagian ya, yang. Kerbau itu kan lucu.. imut.. tampangnya aja yang sangar, tapi kalo liat perutnya bikin gemes. Gendut-gendut bulet gitu.” Kata Shaka sembari mengelus perut buncit Kira dengan gemas.


“Kamu menyamakan aku dengan kerbau..??!!” Seru Kira dengan bibir yang semakin maju.


“Bukannya tadi kamu sendiri yang bilang..??” Kata Shaka membalikkan perkataan istrinya. Dia tampak tersenyum jahil karena berhasil menggoda istrinya.


“Ya udah sana.. kamu nikah aja sama kerbau..!! Biar bisa terusan elus-elus perut gendutnya.” Sahut Kira semakin kesal.


“Ga mau. Aku maunya kerbau yang ini saja. Cantik, baik, tambah gemesin kalo lagi ngambek. Apalagi kalo marah, tanduknya bisa keluar 5 sekaligus. Lewat dech semua kerbau di dunia. Dan yang paling penting aku cinta sama dia.” Kata Shaka sambil mencium gemas bibir Kira.


“Iiiiiihhh.. apaan sich..??!! Bisa-bisanya rayu istri pake nyamain sama kerbau..!!” Kira menepis tangan Shaka dan mulai merajuk.


Perhatian Kira teralih saat melihat buku-buku tangan Shaka yang terluka seperti habis berkelahi.


“Bie, tanganmu kenapa..??” Tanya Kira panik. Dia duduk lalu menarik tangan Shaka dan menyentuh pelan luka-luka itu.


“Sakit..??” Tanya Kira sambil menoleh ke arah Shaka yang juga telah duduk disampingnya, tapi suaminya hanya diam seolah tidak merasakan apapun. Shaka tersenyum hangat dan mengelus wajah Kira.


“Tidak sesakit perasaanmu saat melihat foto-foto itu.” Kata Shaka hingga membuat Kira terkejut.


“Bie, kamu..” Kata-kata Kira terputus karena Shaka kembali menciumnya.


“Aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu. Terima kasih telah mempercayaiku.” Kata Shaka kembali menarik Kira dalam pelukannya.


“Jadi, dengan siapa kamu berkelahi..??” Tanya Kira sambil mendongakkan kepalanya. Shaka hanya terkekeh dan tidak menjawab pertanyaan istrinya.


“Aku sudah memutuskan kerjasama dengan Scarlett Group.” Kata Shaka.


“Apa..??” Tanya Kira terkejut lalu melepaskan diri dari pelukan Shaka.


“Aku benar-benar tidak mau berurusan dengan mereka lagi.” Jawab Shaka.


“Tapi kamu akan mengalami kerugian besar, Bie. Jumlah denda dalam kontrak kerjasama itu tidaklah kecil. Belum lagi harus mengganti rugi pada setiap klien mu yang sudah mengambil paket dengan fasilitas hotel Scarlett. Jangan lupakan juga kalau perusahaan lain sampai mendengar hal ini. Mereka pasti akan berpikir dua kali untuk bekerjasama denganmu.” Kata Kira kawatir.


“Kamu jangan pikirkan itu, awalnya akan sulit. Tapi aku pasti bisa mengatasinya, apalagi ada kamu di sampingku. Aku juga pasti bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan yang lebih baik. Aku masih bisa mencari keuntungan dengan cara lain. Bagiku keluargaku yang terpenting.” Kata Shaka dengan menatap lekat wajah Kira.


“Maafkan aku, Bie.” Kata Kira sambil memeluk tubuh Shaka.


“Harusnya aku yang minta maaf karena tidak bisa menjagamu dengan baik.” Sahut Shaka sembari mengecup kening Kira.


"Sudah Asar, Bie. Kamu mau mandi dan sholat sekarang..??" Tanya Kira. Shaka tersenyum dan mengangguk.


"Aku akan menyiapkan air untukmu mandi dan baju gantimu." Kata Kira lalu bergegas turun dari ranjangnya.


Shaka terus memandang punggung Kira yang menghilang dari pandangannya dan menghela napas panjang. Setelah insiden di gedung kantor Scarlett Group pagi ini, Fahri telah memberikan kisaran angka kerugian yang harus mereka tanggung. Meski perusahaan Shaka tidaklah kecil, tapi juga belum bisa dibilang besar.


Lima belas tahun Shaka merintis usaha ini dengan keringat dan kerja kerasnya sendiri tanpa campur tangan keluarganya. Perlahan tapi pasti usahanya terus mengalami peningkatan dan tetap stabil. Dan sekarang perusahaannya langsung goncang karena banyaknya kerugian yang harus mereka tanggung. Belum lagi beberapa rekanan membatalkan rencana kerjasama dengannya. Mereka tahu alasan Shaka memutuskan kerjasama karena masalah pribadi dan bagi mereka itu tidak profesional.


Shaka tahu jalan yang ada di depannya sangat berat, belum lagi surat ancaman yang terus berdatangan. Si pengirim bahkan mulai berani mengirimkan ancaman lewat telpon dan aplikasi pesan. Tapi Shaka tidak menyesali apapun. Meski berat, baginya lebih baik dia menghadapi semua itu daripada harus kehilangan istri dan keluarganya.


"Bie, airnya sudah siap." Panggil Kira. Wanita itu lalu membantu suaminya melepaskan pakaian.


"Dimana anak-anak..??" Tanya Shaka.


"Dit-dit ada kelas tambahan. Rania, Satria, dan Nara latihan Karate. Kalau Edo pasti kamu tahu sendiri." Jawab Kira.


"Ngomong-ngomong, aku sudah lama tidak latihan Tae Kwon Do sama mereka. Bagaimana kalau weekend ini aku ajak mereka latihan..?? Sekalian quality time, yang." Tanya Shaka dengan wajah penuh semangat.


"Yaaa.. Tentu.. aku bisa membayangkan bagaimana senangnya mereka." Kata Kira sambil tergelak.


"Kenapa kamu tertawa..??" Tanya Shaka heran.


"Aku sedang membayangkan quality time kita weekend ini." Jawab Kira sambil terkekeh.


****


Hari sabtu pagi Shaka dan keenam anaknya juga Luna telah berada di halaman belakang rumah mereka. Shaka terus berjalan mengelilingi ketujuh anak yang berdiri berjajar dengan wajah serius dan tatapan tajam. Luna dan Nara tampak tidak mengerti apa yang akan terjadi. Sedangkan Edo, Dit-dit, Rania, dan Satria hanya bisa harap-harap cemas.


Bagi mereka latihan bersama Shaka sama saja dengan siksaan. Shaka yang biasanya konyol, sabar, dan jarang marah akan berubah menjadi pelatih killer bagi anak-anaknya.


"Edo.. Dit-dit.. kalian lari 20 putaran dari belakang sampai depan, lanjut push-up dan sit-up masing-masing 100 kali. Rania dan Satria juga, kalian lari 15 putaran lanjut push-up dan sit-up masing-masing 50 kali." Kata Shaka tegas. Membuat kelima anaknya menahan napas.


"Dan kamu princess, karena ini pertama kalinya kamu ikut latihan sama papa. Kamu lari 7 putaran saja yaaa.." Kata Shaka lembut sambil mencubit gemas pipi gembil Nara.


"Kamu juga Luna. Ini pertama kalinya berlatih bela diri. Jadi kamu ikut Nara saja ya." Kata Shaka ramah kepada Luna.


GLEEEEEEKK..!!


"Pa, yang benar saja..!! Bisa patah kakiku lari 20 putaran. Belum lagi push-up sebanyak itu..!!" Protes Adit.


"Kamu sanggup ikut tawuran lawan orang segitu banyak, ditambah lari dari kejaran aparat. Masa lari 20 putaran sama push-up 100 kali saja tidak sanggup..??" Kata Shaka mencibir.


"Pa, tenaga buat lari keliling halaman 20 kali tu hampir sama kayak 3 kali ikut tawuran dan dikejar aparat. Soalnya kita masih bisa ngumpet jadi ga terlalu butuh tenaga. Yang ada butuh otak buat mikir strategi." Elak Adit.


"Ga ada alasan..!! Kalo ada yang ambil jalan pintas lewat taman, akan ditambah 2 putaran lagi." Ucap Shaka tidak mau dibantah, membuat kelima anaknya bersungut-sungut.


"Tidak boleh potong jalan lewat taman kan, pa..?? Berarti lewat dalam rumah boleh donk..??" Kata Satria sambil nyengir.


"Boleh. Tapi kamu larinya jadi 40 putaran." Sahut Shaka santai. Wajah Satria langsung pias mendengar jawaban ayahnya.


"Tunggu apa lagi..?? Buruan mulai..!!" Perintah Shaka sambil memimpin anak-anaknya dan terus berteriak menyemangati mereka.


Setelah beberapa putaran anak-anak itu pun mulai kelelahan dan ngos-ngosan. Nara terlihat berusaha terus mengikuti ayahnya dengan langkah kecilnya. Kira yang sedang menonton mereka dari bangku di taman belakang sambil menyiapkan minuman dan makanan kecil untuk keluarganya hanya bisa tertawa kecil melihat anak-anaknya yang tersiksa oleh kelakuan Shaka. Edo, Adit, dan Rania yang melihat Kira bergegas menghampiri untuk meminta pertolongan.


"Mom.. mommy, please tolongin kita." Pinta Edo dengan napas tersengal.


"Ma..!! Papa suruh udahan sich. Capek ini..!! Belum lagi ntar pasti disuruh Push-up sama sit-up juga..!!" Rengek Rania sambil menghentakkan kedua kakinya.


"Udah sana. Papa kalian cuma lagi pingin quality time sama kalian." Jawab Kira sambil terkekeh.


"Haaaah..!! Ma, ini bukan quality time, tapi torturing time alias masa-masa penyiksaan..!!" Sungut Adit yang diiyakan Edo dan Rania dengan cepat.


"Kalian ini.. lihat tuch papa kalian. Masih semangat aja larinya. Kalian baru berapa putaran udah ngeluh..??" Sahut Kira terkekeh mendengar pengaduan ketiga anaknya.


Mereka bertiga sontak menoleh ke arah Shaka yang belum terlihat lelah berlari bahkan semakin bersemangat. Shaka juga terlihat sudah menggendong Nara di punggungnya karena gadis kecil itu kelelahan.


"Ma, jangan-jangan papa terminator tuch. Jadi ga butuh paru-paru buat napas." Kata Adit yang langsung disambut pukulan pelan di bahunya dari Edo.


"Apaan tu, kak..??" Tanya Rania tidak mengerti.


"Robot yang bentuknya mirip banget kayak manusia. Ada filmnya." Jawab Adit. Membuat Kira tergelak, sementara Rania hanya mengangguk-anggukkan kepala.


"Wooooooiiiiii..!! Kalian ngapain disana..??!! Belom waktunya makan dan minum..!!" Teriak Shaka keras untuk memanggil ketiga anaknya sambil terus berlari.


"Ma, yakin papa bukan terminator..??" Kali ini Rania bertanya sambil bergidik melihat Shaka yang terus berlari sambil menggendong Nara.


"Kalian ini ada-ada saja. Mana ada terminator..?? Kalian kebanyakan nonton film." Kata Kira dengan terkekeh.


"Kalau kalian ga buruan balik, masing-masing larinya ditambah 5 putaran..!!" Ancam Shaka yang berhasil membuat ketiga anaknya bergegas kembali ke arena lari mereka.


Kira terus tertawa melihat keenam anak itu berlari dengan wajah kesal. Nara terus tertawa senang di gendongan ayahnya, sementara wajah Luna yang tidak terbiasa olahraga keras terlihat memerah dengan napas tersengal. Meski dia terbiasa berjalan keliling untuk berjualan, tetap saja latihan ini terasa berat. Melihat anak-anaknya kepayahan akhirnya Kira pun tidak tega.


"Bie..!!" Panggil Kira sambil melambaikan tangannya.


Shaka menurunkan Nara lalu memberi tanda pada anak-anaknya untuk terus berlari. Dia terlihat bergegas menghampiri istrinya.


"Ada apa..??" Tanya Shaka sambil mengatur napasnya.


"Berapa lama kalian akan berlari..?? Belum lagi nanti latihannya. Aku sudah mulai bosan menunggu kalian..??" Tanya Kira dengan wajah cemberut.


"Sabar ya, sayang. Ini kan baru pemanasan." Jawab Shaka sambil mengecup pipi Kira.


"Tapi kan sekarang aku ga bisa ikutan latihan, Bie. Bosan tau ga..?? Yang ada kamu aja yang quality time sama mereka, tapi ga sama aku." Kata Kira semakin merajuk.


Kira lalu membisikkan sesuatu pada Shaka. Wajah lelaki itu langsung berbinar cerah.


"Beneran, yang..??" Tanya Shaka tidak percaya dan Kira tampak mengangguk.


"Beneran, Bie. Aku sudah tanya sama semua dokterku. Bahkan pada Yudha. Makanya kamu jangan terlalu capek latihan." Sahut Kira meyakinkan dengan bergelayut manja pada suaminya.


"Yes..!! Yes..!! Yes..!!" Seru Shaka kesenangan sambil memukul udara.


"Anak-anak..!! Stop larinya..!! Latihan kita selesai..!! Batal..!!" Teriak Shaka yang disahuti dengan teriakan girang anak-anaknya. Ketujuh anak itu langsung terlihat bergeletakan di tanah karena kelelahan.


"Mama, makasih." Seru Rania sambil memeluk dan menciumi pipi Kira saking senangnya. Ketujuh anak itu sudah bergabung bersama orangtua mereka.


"Memang tadi mama bilang apa ke papa..??" Tanya Radit curiga, apalagi melihat Shaka yang tidak bisa berhenti tersenyum.


"Ada dech. Kepo amat." Jawab Kira.


"Ed, lain kali kalo Oom Shaka mau quality time sama kalian. Please jangan ajakin aku lagi." Bisik Luna pada Edo. Pemuda itu hanya tertawa kecil mendengar permintaan kekasihnya.


"Radit.. Adit.. habis ini tolong kalian petikin nangka sama mangga muda ya." Kata Kira.


Dit-dit tampak saling memandang dengan perasaan was-was. Pasalnya selama kehamilan ini hampir setiap kali ngidam Kira justru membuat anak-anaknya kewalahan, terutama Edo dan Dit-dit.


"Ma, kita kan ga punya pohon nangka. Pohon mangga juga lagi ga berbuah." Kata Radit dengan perasaan tidak enak.


"Tetangga sebelah punya dua-duanya. Tadi mama juga sudah telpon, katanya gapapa kalo mau ambil. Jadi nanti kalian tinggal manjat aja." Sahut Kira santai. Dit-dit langsung lemas mendengar permintaan Kira.


"Kamu nanti bikinin sambel rujak buat mommy ya, Ed." Kata Kira pada Edo yang sedang mentertawakan Dit-dit.


"Haaaah..!! Apaaa..??!! Mom, aku ga bisa bikin sambel rujak..!!" Sahut Edo seketika berhenti tertawa. Dit-dit langsung tertawa keras mentertawakan Edo.


"Tanya Luna kalo ga Rania. Tapi ingat..!! Harus kamu yang uleg sambelnya." Perintah Kira tegas.


"Anak-anak papa memang pinter. Ga pernah repotin papa." Kata Shaka sambil mengelus dan mencium perut buncit Kira. Mengabaikan ketiga anak lelakinya yang tengah cemberut karena kesal.