
Dit-dit tampak terkejut dan akhirnya tertawa terbahak-bahak mendengar kesombongan Sherly yang begitu membanggakan jabatan suaminya. RHD Group adalah milik keluarga Shaka, ayah mereka. Meski Shaka tidak pernah turut campur dengan bisnis keluarganya, dia masih menjadi salah satu pemegang saham terbesar bersama orang tua dan kedua kakaknya. Shaka hanya akan datang saat RUPS atau bila kedua kakaknya memerlukan bantuan.
Sherly memandang Dit-dit dari atas sampai bawah seakan tengah menilai kedua remaja yang tengah berseteru dengannya. Dalam hati dia mengakui Dit-dit memang terlihat tampan dan gagah. Apalagi dengan rambut berwarna coklat gelap dan mata hitam setajam elang. Setelah puas menilai, Sherly tampak melihat mereka dengan tatapan mencibir.
“Apa lagi..??!!” Seru Adit menghentikan tawanya setelah melihat tatapan sinis Sherly.
“Anak miskin dengan tampang blasteran. Aku yakin pasti ibu kalian hanya mantan TKW yang dulu dihamili majikannya.” Kata Sherly dengan senyum sinis.
“Jaga mulutmu, nenek sihir..!! Beraninya kamu menghina ibuku..!!” Raung Radit yang kali ini kehabisan kesabaran.
PLAAAAAAAKK..!!
Tiba-tiba tamparan keras mendarat di pipi Radit. Seorang pria berusia pertengahan 40an dengan setelan jas mahal tampak berdiri dihadapannya dan Adit. Di dekat pria itu tampak 2 pria lain yang juga terlihat necis dengan jas mahal mereka.
“Sayang, untung kamu sudah datang. Kamu dengar sendiri kan anak-anak ini berani menghinaku. Mereka tadi juga menghajar anak kita.” Kata Sherly manja saat melihat suaminya sudah datang.
“Dasar berandalan tidak tahu diri. Berani-beraninya mulut kotor kalian menghina istriku..!! Ibu kalian pasti hanya pel**ur murahan sampai tidak bisa mendidik anaknya dengan benar..!!” Seru Bagus dengan suara keras.
“Siapa yang berani mengatakan istriku pel**ur murahan dan menyebut anak-anakku berandalan..??!!” Seru Shaka menggelegar.
Rupanya dia sudah datang bersama Adrian, kakaknya. Saat Radit menelponnya kebetulan Shaka tengah bertemu Adrian di restoran yang letaknya tidak jauh dari Orchid hospital.
“Papa..?? Oom Adrian..??” Panggil Dit-dit bersamaan.
“Pak Adrian..?? Pak Shaka..?? Kenapa anda ada disini, pak..??” Tanya Bagus terkejut. Dia mengenali Shaka karena foto laki-laki itu terpasang di website perusahaan.
“Saya datang karena anak saya menelpon dan mengatakan ada yang membuat masalah dengan mereka.” Jawab Shaka dengan wajah memerah menahan amarah.
“Anak..??” Tanya Bagus kebingungan.
“Radit dan Adit adalah anak-anak saya. Mereka adalah anak-anak keluarga Rahardian..!!” Seru Shaka sambil menunjuk ke arah Dit-dit.
Seketika wajah Bagus dan teman-teman juga keluarganya memucat. Apalagi tadi dia sudah menampar Radit dengan begitu keras.
“Ada apa ini..?? Aku dengar dari kepala keamanan ada keributan di Instalasi Gawat Darurat.” Tanya Yudha yang datang ke IGD setelah mendengar laporan dari kepala keamanan mengenai keributan yang melibatkan kedua keponakannya.
“Oom Yudha..??” Panggil Adit.
“Anda..??” Tanya Baskara.
“Saya Yudha Hardisiswo, direktur utama Orchid Hospital, pastinya anda tahu kalau rumah sakit ini milik keluarga saya. Saya paman dari kedua anak ini.” Kata Yudha sambil menunjuk ke arah Dit-dit.
Wajah Yudha mengeras saat melihat pipi kanan Radit yang memerah karena ditampar Bagus, bahkan sudut bibir keponakannya tampak sedikit robek.
“Keponakan..?? Hardisiswo..?? Maksudnya.. kedua anak ini adalah anak-anak keluarga Hardisiswo..??” Tanya Baskara dengan wajah semakin pucat.
“Benar. Kakak perempuan saya menikah dengan Shaka Rahardian. Kedua anak ini adalah anak-anak mereka.” Yudha menjawab dengan tatapan tajam seakan siap membunuh orang yang telah berani mendaratkan tangannya ke pipi keponakannya.
GLEEEEEEKK..!!
Bagus semakin pucat, Sherly yang masih memeluk lengan suaminya tampak bergetar ketakutan karena menyadari telah berurusan dengan orang yang salah.
“Radit..!! Adit..!! Sekarang jelaskan kenapa kalian bisa sampai ribut dengan mereka..??” perintah Shaka tegas.
“Tadi kami sedang di halte menunggu bis untuk pulang, Pa. Sayup-sayup kami mendengar teriakan minta tolong. Kami mencari asal suara dan menemukan ketujuh anak itu sedang mengerjai seorang anak kecil di sebuah tanah kosong yang tidak jauh dari halte. Mereka melukai anak itu hanya karena dia memiliki kaki cacat dan berkeliling menjual makanan kecil. Kami menolong anak itu dan menghajar ketujuh anak yang sudah melukainya. Dia terluka cukup parah, bahkan tangan kirinya patah. Karena itu kami bawa dia kesini untuk dirawat. Ternyata ketujuh anak itu juga datang kesini untuk berobat dan mama mereka juga ada disini. Tapi mama mereka terutama tante Sherly justru menyalahkan anak itu dan berusaha melukainya lagi. Tante Sherly juga menuduh kami bekerjasama menjebak anak-anak itu untuk memeras mereka karena kami hanyalah anak-anak berandalan miskin.” Tutur Radit menjelaskan. Shaka tampak mengeraskan rahangnya menahan amarah yang semakin memuncak.
“Apa itu benar, Adit..??” Tanya Shaka memastikan pada Adit dengan suara yang dibuat setenang mungkin.
“Benar, Pa. Anak itu juga masih ada disini untuk dirawat luka-lukanya. Waktu Radit mencoba menjelaskan, mereka justru terus menghina kami anak miskin karena bepergian dengan menggunakan bis. Dan kami akhirnya berkata kasar pada mereka karena sudah menghina mama.” Kata Adit menambahkan.
“Jadi. Mereka menghina kakakku..??” Desis Yudha sambil menatap tajam ke arah Baskara dan keluarganya.
“Maaf, pak. Kami tidak tahu kalau mereka adalah anak-anak keluarga Rahardian dan Hardisiswo. Saya tidak tahu kalau ibu mereka adalah putri dari keluarga Hardisiswo.” Kata Bagus dengan suara bergetar.
“Jadi kalau mereka bukan anak-anak keluarga kami maka kalian akan terus menghina mereka. Begitu maksud kalian..??!!” Bentak Shaka.
“Itu..” Jawab Bagus tergagap.
“Untuk kalian ketahui. Keluarga kami sengaja menyuruh Radit dan Adit untuk menggunakan bis selain karena mereka belum cukup umur untuk menyetir, juga karena kami ingin mereka tetap belajar hidup sederhana dan tidak berlebihan. Kami ingin mereka tetap belajar menghargai orang lain tanpa memandang harta dan status orang itu. Tapi ternyata kalian justru malah menghina mereka dan juga istri saya. Dan anak-anak kalian telah berani melakukan tindakan kekerasan di usia mereka yang masih sangat muda. Bukannya mengarahkan, kalian justru malah membela mereka. Apa kalian sadar yang dilakukan mereka sudah termasuk dalam tindakan kriminal..??!!” Cecar Shaka.
“Maafkan kami, pak. Kami tidak bermaksud seperti itu.” Kata Bagus mencoba meminta maaf.
“Yudha, cepat panggil polisi kesini untuk menangkap anak-anak itu. Sekalian saja rumah sakit ini melakukan visum pada anak yang menjadi korban.” Perintah Shaka tegas.
Suasana di ruang IGD semakin heboh, ketujuh anak yang melukai Darma berteriak minta tolong pada orangtua mereka dengan putus asa. Sementara para orangtua panik karena tidak ingin anak mereka masuk penjara.
“Pak, tolong ampuni anak-anak kami. Mereka masih terlalu muda untuk masuk penjara, pak. Kami janji akan mendidik mereka dengan benar.” Pinta Sherly dan para ibu anak-anak lainnya.
Shaka hanya diam dan menatap ke arah kakaknya. Adrian yang tahu maksud Shaka segera memanggil asisten yang selalu mendampinginya.
“Ferdiii..!!” Seru Adrian memanggil asistennya.
“Catat nama anak-anak itu dan pecat orangtua mereka dari RHD group. Tempatkan mereka dalam blacklist perusahaan.” Perintah Adrian.
“Pak, tolong jangan pecat kami. Kami benar-benar minta maaf.” Kata Bagus memohon.
“Kalian boleh memilih. Anak-anak kalian masuk penjara dan kalian tetap bekerja. Atau mereka bebas dan keluar dari kota ini, tapi kalian semua dipecat..!!” Sahut Adrian. Bagus menunduk dan terdiam.
“Tolong lepaskan anak-anak kami, pak.” Kata Bagus lirih.
Meski sangat berat untuk Bagus kehilangan pekerjaan dan jabatan. Tapi sebagai orangtua dia tetap tidak tega kalau sampai anaknya berada dibalik jeruji penjara.
“Ferdi, urus pengunduran diri mereka secepatnya. Hubungi bagian HRD agar segera mencari pengganti mereka. Sampaikan pada bagian HRD untuk memastikan pengganti mereka adalah orang-orang yang berkompeten dan tahu bagaimana menghargai orang lain. Mengerti..??!!” Perintah Adrian lagi.
“Terima kasih, pak Adrian.. pak Shaka..” Kata Bagus dengan menundukkan kepala. Tubuhnya tampak bergetar menahan amarah, malu, dan juga tangis.
“Radit.. Adit.. ayo pulang. Papa akan mengantar kalian.” Perintah Shaka.
“Tapi bagaimana dengan Darma, pa..??” Tanya Radit.
“Darma..??” Tanya Shaka kebingungan.
“Anak yang mereka lukai.” Jawab Radit.
“Kalian tidak perlu kuatir. Oom Yudha akan mengurusnya. Kalian pulanglah, Oom Yudha akan mengabari kalian.” Kata Yudha.
“Terima kasih, Oom.” Kata Radit dan Adit yang dijawab anggukan oleh Yudha.
Dit-dit mengekori Shaka yang berjalan menuju parkir mobil, sedangkan Adrian dan Ferdi tampak masih mengurus para orangtua dari ketujuh remaja yang melukai Darma.
***
Malamnya keluarga Shaka dan Kira makan malam seperti biasa. Kira dan Edo yang telah mendengar cerita Radit dan Adit merasa bangga. Edo terus menatap Dit-dit dengan kagum. Kedua adiknya yang seringkali berulah dan seenaknya ternyata begitu berani menyelamatkan seorang anak tidak dikenal juga membela nama Kira saat ada yang menghina nama baik ibu mereka.
“Radit.. Adit.. mama sama papa sudah berunding. Kami sepakat akan memberi kalian masing-masing 1 mobil untuk aktivitas kalian sehari-hari. Untuk masalah SIM, papa akan mengurusnya untuk kalian.” Kata Kira. Dit-dit terdiam dan sejenak saling memandang.
“Kenapa..?? Bukannya ini yang selalu kalian inginkan..??” Tanya Shaka.
“Terima kasih, pa.. ma.. tapi kita mulai pegang mobilnya nanti saat kuliah saja. Biar saja kita naik bis seperti biasa saat pulang sekolah. Iya kan, Dit..??” Kata Adit sambil menoleh ke arah Radit.
“Iya, ma. Kita naik bis aja kayak biasanya.” Sahut Radit sambil mengangguk tegas.
“Kenapa tiba-tiba kalian berubah pikiran..??” Tanya Kira keheranan.
“Dari kejadian siang tadi kami sadar kalau banyak orang hanya menilai orang lain dari penampilan mereka saja. Mungkin setelah pakai mobil ke sekolah teman-teman Dit-dit akan semakin banyak. Tapi mereka berteman karena harta milik kita. Gapapa Dit-dit ga punya temen sebanyak itu, yang penting mereka tulus berteman dengan kami, ma.” Jawab Radit lugas, membuat orangtua dan kakak mereka semakin bangga.
“Lagian lebih asik naik bis. Kadang suka ketemu cewek cakep yang bisa diajakin kenalan.” Kata Adit penuh semangat.
“Cewek aja yang lo pikirin.” Sungut Radit.
“Gue normal, Dit. Jadi wajarlah kalau seneng liat cewek cantik. Ketimbang lo, ga tahu beneran normal atau ga. Lempeng aja kalo liat atau deket sama cewek.” Sahut Adit.
"Lo ngatain gue ga normal..??!!" Seru Radit tidak terima.
"Sudah hentikan..!!" Kata Kira tegas. Dit-dit langsung diam tidak membantah dan kembali duduk dengan tenang.
"Ooh.. iya.. pa. Boleh aku minta tolong..??" Tanya Adit.
"Minta tolong apa..??" Tanya Shaka.
"Tadi waktu ke Orchid Dit-dit naik taxy. Tapi supirnya ga mau dibayar karena dia punya anak gadis seusia Darma yang juga memiliki kondisi sama. Dia bilang dengan menolong Darma rasanya seperti kita menolong anaknya. Tolong cari supir itu, pa. Dia pasti membutuhkan uang itu untuk keluarganya." Pinta Adit.
"Tidak masalah. Kamu tahu siapa namanya..??" Tanya Shaka.
"Tahu, pa. Tadi aku sempat lihat name tag dan nomer lambung taxy-nya." Jawab Adit.
"Oke. Setelah makan kamu kasi informasi itu ke papa. Besok papa akan suruh orang mencarinya." Kata Shaka.
"Terima kasih, pa." Sahut Adit senang.
************************************************
Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.
Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^
Terima kasih..!!
Hug,
Cheerieza