
Kira sudah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik dan terus stabil. Edo tidak kembali ke Jerman, sedangkan Edna dan Darius untuk sementara pindah ke rumah Shaka karena Edna ingin merawat Kira. Shaka juga mempekerjakan satu perawat khusus untuk merawat dan memantau kondisi Kira setiap saat.
Kira masih berusaha untuk mengurus keluarganya sendiri meski hanya sekedar membantu Shaka menyiapkan keperluan kerja dan menyiapkan makan untuk keluarganya. Dia tidak menolak Shaka menambah 1 pelayan lagi untuk membantu bi Lastri dan Edna. Walaupun keberatan, akhirnya Shaka mengijinkan Kira melakukan keinginannya untuk tetap mengurus dia dan anak-anak mereka meski sangat terbatas. Kira pun tidak memaksakan diri bila merasa tubuhnya mulai lelah atau melemah.
Shaka terus menatap lekat wajah Kira yang tengah memasangkan dasinya. Setiap kali berjauhan dengan Kira dia akan terus merasa takut dan kawatir bila terjadi sesuatu pada istrinya. Rasanya dia ingin menyerahkan semua pekerjaan pada Fahri dan tetap tinggal di rumah tapi Kira melarangnya.
“Ada apa lagi, Bie..??” Tanya Kira sambil terus memasang dasi Shaka.
“Aku mencintaimu.” Kata Shaka dengan suara bergetar.
“Aku tahu. Dan aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu” Sahut Kira sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Shaka.
Lelaki itu merengkuh pinggang istrinya lalu menempelkan dahinya pada dahi Kira.
“Aku takut kehilanganmu. Berjanjilah kamu akan terus bertahan.” Kata Shaka yang mulai terisak. Kira tersenyum dan menghapus air mata Shaka dengan kedua tangannya.
“Aku berjanji akan terus berusaha semampuku untuk terus berjuang, Bie. Tapi aku tidak bisa menjanjikan apakah aku akan bisa bertahan. Kita tahu semua hal yang terjadi adalah atas kehendak Tuhan.” Sahut Kira sembari menangkup wajah Shaka dengan kedua tangannya.
“Aku tidak tahu lagi caranya hidup tanpamu. Bagaimana caranya aku akan bertahan tanpamu..??” Kata Shaka masih terisak.
“Kamu pasti bisa. Kamu harus bisa. Demi anak-anak kita..!!” Sahut Kira dengan menatap ke dalam mata suaminya.
Shaka merengkuh tubuh mungil Kira lalu memeluknya erat. Lelaki itu menangis sesenggukan seperti anak kecil, terlalu takut membayangkan hidup tanpa wanita yang dicintainya.
“Mama.. Papa..” Terdengar suara Rania mengetuk pintu dan memanggil mereka. Shaka buru-buru menghapus airmatanya.
“Ya, sayang..??” Tanya Kira saat membuka pintu.
“Aku sudah menyiapkan sarapan. Ayo makan dulu.” Kata Rania penuh semangat.
“Kamu yang menyiapkannya..??” Tanya Kira takjub.
“Iya. Dengan dibantu bi Lastri sama eyang, hehehe...” Rania nyengir sembari menggaruk tengkuknya.
“Kamu duluan saja. Papa sama mama segera menyusul.” Kata Kira.
“Baiklah. Cepetan ya, ma. Udah pada nunggu.” Sahut Rania sebelum beranjak pergi.
Kira berbalik dan melihat Shaka keluar dari kamar mandi untuk mencuci mukanya, menghilangkan jejak airmatanya.
“Putri kita sudah semakin dewasa. Sekarang dia rajin sekali ke dapur dan mengerjakan pekerjaan rumah.” Kata Kira sambil terkekeh geli.
“Dia semakin mirip denganmu saja, sayang. Sekarang Rania selalu berusaha membantu kita dengan mengambil alih sebagian pekerjaanmu.” Kata Shaka tersenyum bangga.
“Wajahnya memang mirip denganku. Tapi sifatnya lebih mirip denganmu. Keras kepala dan tidak sabaran.” Kata Kira sambil tertawa pelan.
“Ayo kita segera sarapan, sebelum dia datang lagi kemari dan mengomel seperti nenek-nenek.” Sahut Kira.
Sesampainya di ruang makan besar, tampak semua orang sudah berkumpul dan menunggu mereka. Sejak kepindahan Edna dan Darius, mereka lebih sering makan di ruang makan besar karena meja makan kecil di dekat dapur seringkali tidak muat menampung mereka.
Kira memandang Rania yang tampak bersemangat melayani keluarganya untuk mengambil makanan. Hal yang sebelumnya selalu dilakukan Kira untuk suami dan anak-anaknya. Kira tetap melayani Shaka dengan mengambilkan makan dan menyiapkan bekal makan siang. Lalu Rania yang akan mengambilkan makan untuk Kira dan menyiapkan bekal untuk saudara-saudaranya.
Sejak Shaka dan Kira memberitahu anak-anak mereka tentang kondisi kesehatan Kira, anak-anak itu seakan kompak bekerjasama untuk merawat dan menjaga ibu mereka. Rania bahkan dengan sigap mengambil alih beberapa tugas Kira. Gadis yang akan segera beranjak remaja itu dalam sekejap berubah menjadi lebih dewasa dan menghilangkan sifat manjanya.
“Ma, gimana..?? Nasi gorengnya enak ga..??” Tanya Rania penuh harap.
“Enak.. ini enak sekali, Ra.” Jawab Kira sambil mengacungkan jempol.
“Ini aku juga sudah buatkan susu hamil buat mama.” Kata Rania sembari meletakkan segelas susu coklat ke hadapan Kira.
“Terima kasih, sayang.” Kata Kira sambil Sambil mengecup pipi putrinya.
“Nara, kuncirmu bagus sekali. Siapa yang menguncirkan..??” Tanya Kira yang melihat rambut Nara dikepang 2 lalu dicepol di atas kepala. Membuat gadis kecil itu terlihat semakin menggemaskan seperti kelinci kecil.
“Kak Rania, ma. Bagus kan.” Jawab Nara setelah menghampiri ibunya.
“Bagus sekali. Kamu terlihat semakin cantik dan menggemaskan.” Kata Kira sambil mencubit pelan kedua pipi gembil Nara lalu mengecup hidungnya singkat.
“Mama nanti ga anter Nara sekolah lagi..??” Tanya Nara dengan wajah sedih.
Kira meraih kedua tangan Nara dan mengayun-ayunkannya perlahan.
“Sekarang Nara berangkat diantar kak Edo atau pak Tarno ya, sayang. Maafkan mama tidak bisa mengantar Nara ke sekolah dan kegiatan lainnya.” Kata Kira sambil tersenyum, menyembunyikan kesedihannya di hadapan putri kecilnya.
“Nara, kamu jangan sedih. Mulai hari ini kak Rania akan mengantar kamu sampai dalam gerbang seperti mama. Juga ke semua kegiatan kamu yang lain.” Kata Rania menghibur Nara. Gadis kecil itu teresenyum dan mengangguk.
Setelah sarapan pagi usai, keluarga Rahardian kembali sibuk dengan aktifitas masing-masing. Tak lama setelah mereka berangkat, seorang pria datang mengantarkan buket bunga dan coklat untuk Kira. Puisi yang berisi ungkapan cinta diketik dengan rapi di kartu ucapan tanpa nama. Kira tersenyum, tidak mengira Shaka ternyata bisa seromantis ini. Meski selama 12 tahun menikah Shaka sering bersikap romantis, tapi suaminya tidak pernah mengirim puisi. Lelaki itu bukan tipe pria yang bisa merangkai kata penuh gombalan pada wanita.
Selang 1 jam datang lagi kiriman buah yang dirangkai seperti buket bunga, kartu berisi ungkapan cinta kembali melampiri rangkaian cantik itu. Selama seharian kiriman terus berdatangan untuk Kira, membuat wanita itu semakin melambung oleh pernyataan cinta suaminya. Dia ingin menelpon Shaka, tapi dia tahu seharian ini suaminya akan disibukkan dengan beberapa meeting penting.
Sementara itu di kantor Shaka. Lelaki itu tengah disibukkan dengan dokumen dan beberapa materi yang akan di presentasikan saat meeting nanti. Ada 3 meeting penting yang harus dihadiri Shaka hari ini. Semua meeting itu harus dihadiri langsung oleh Shaka tapi harus tertunda karena dia cuti selama seminggu saat Kira sakit. Karena itu seharian dia nyaris tidak berhenti bekerja kecuali saat waktunya sholat dan makan siang.
“Pak Shaka, ini ada beberapa surat dan paket yang datang hari ini untuk bapak.” Kata Rosi sembari menyerahkan setumpuk surat lalu keluar ruangan setelah Shaka menerimanya.
Shaka membuka surat-surat itu satu persatu. Dahinya berkerut saat melihat keanehan pada sebuah paket tanpa nama. Mata Shaka terbelalak saat melihat isi paket itu adalah bangkai tikus berlumuran darah. Di dalamnya terdapat selembar surat yang setiap hurufnya berasal dari guntingan kertas yang ditempel rapi.
“Lepaskan istrimu kalau kamu ingin keluargamu hidup tenang.!!” Isi surat itu.
Shaka segera meraih telpon untuk memanggil Rosi.
“Rosi, ke ruanganku sekarang..!!” Perintah Shaka. Tidak menunggu waktu lama Rosi telah kembali ke ruangan Shaka.
“Dari mana asal paket ini..??” Tanya Shaka dengan tatapan dingin.
Rosi terpekik saat melihat isi paket yang dibuka Shaka. Wajahnya langsung pucat karena takut dan mual melihat pemandangan di hadapannya.
“Saya tidak tahu, pak. Paket ini datang bersama surat-surat lainnya.” Jawab Rosi dengan suara bergetar ketakutan.
“Panggil security..!! Dan mulai sekarang sortir terlebih dulu setiap surat dan paket yang ditujukan pada saya. Lalu laporkan kalau ada keanehan..!!” Perintah Shaka.
“Ba.. Baik, pak.” Sahut Rosi masih ketakutan.
Tak lama Fahri bergegas masuk ke ruangan Shaka.
“Sial..!!” Umpat Fahri saat melihat paket di meja tamu Shaka.
Sejenak Fahri terdiam dan tampak ragu.
“Sebenarnya ini bukan paket yang pertama datang, pak.” Jawab Fahri.
“Maksudmu..??” Tanya Shaka lagi.
“Saat pak Shaka cuti, paket serupa datang setiap hari. Saya memang membuka semua surat dan paket yang ditujukan untuk pak Shaka lalu melaporkannya kepada anda. Tapi saya sengaja tidak menyampaikan mengenai paket ini karena kondisi keluarga pak Shaka. Hari ini saya berencana memberitahu pak Shaka, tapi rupanya paket ini lebih dulu datang.” Jelas Fahri.
“Kamu sudah menyelidiki masalah ini..??” Tanya Shaka.
“Sudah, pak. Bagian front office yang menerima surat mengatakan kalau paket-paket itu selalu datang bersama surat dan paket lainnya. Saat saya menanyakan pada pihak ekspedisi, mereka justru tidak tahu menahu mengenai paket-paket itu. Bahkan nomor resi yang tertera semuanya palsu.” Jawab Fahri.
“Kamu masih menyimpan surat-surat itu..??” Tanya Shaka lagi.
“Masih, pak. Bahkan saya mengambil foto setiap paket yang datang.” Jawab Fahri.
l
“Tunjukkan semuanya padaku..!!” Perintah Shaka.
Fahri mengangguk lalu keluar dari ruangan Shaka. Tak lama dia kembali dengan amplop coklat yang berisi surat-surat ancaman untuk Shaka. Di dalamnya juga ada beberapa foto keenam anak Shaka dan Kira yang diambil secara diam-diam saat mereka berada di luar rumah. Fahri juga mengirim beberapa foto isi paket yang datang bersama setiap surat. Paket-paket itu berisi bangkai binatang yang berlumuran darah, juga foto keluarganya yang dilumuri darah.
“Bre**sek..!!” Seru Shaka sembari menggebrak keras meja di hadapannya.
Matanya tampak berkilat karena amarah.
“Selidiki terus masalah ini..!! Dan siapkan beberapa orang untuk menjaga keluargaku..!!” Perintah Shaka.
“Baik, pak Shaka.” Sahut Fahri patuh.
****
“Bie, kamu sudah pulang.” Kata Kira menyambut suaminya dengan wajah berbinar.
Dia langsung memeluk erat tubuh Shaka dengan penuh kebahagiaan.
“Hmmm.. sepertinya hari ini istriku semakin mencintaiku.” Kata Shaka sembari membalas pelukan Kira dan mengecup puncak kepalanya.
“Karena hari ini kamu membuatku semakin jatuh cinta padamu. Terima kasih.” Sahut Kira mendongak lalu berjinjit untuk mengecup singkat bibir suaminya.
Shaka tentu saja bahagia saat pulang disambut dengan cinta yang begitu besar dari istrinya.
“Sayang, apa ini..??” Tanya Shaka saat melihat begitu banyak rangkaian bunga, buah, dan coklat memenuhi ruang keluarganya.
“Harusnya aku yang bertanya padamu. Tumben kamu seromantis ini. Seharian terus mengirimkan puisi cinta dan bunga untukku.” Jawab Kira sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
“Aku tidak mengirimkan apapun untukmu.” Kata Shaka dengan wajah kebingungan.
“Jadi semua ini bukan darimu, Bie..??” Tanya Kira terkejut.
“Jangan katakan kamu menyambutku seperti tadi karena mengira aku yang mengirim semua ini.” Tanya Shaka penuh selidik.
“Aku ingin berterima kasih padamu, Bie. Karena aku kira ini semua darimu.” Jawab Kira bingung.
“Bagaimana dengan kartu dari pengirimnya..??” Tanya Shaka dingin.
“Kartunya tanpa nama, karena itu aku mengira ini semua darimu.” Jawab Kira gugup saat melihat suaminya bersikap dingin.
“Seharusnya kamu telpon dan menanyakan apa benar aku yang mengirim semua ini.” Seru Shaka.
“Sekarang terserah mau kamu apakan semua barang ini.” Lanjut Shaka lagi.
“Bie.” Panggil Kira tapi tidak dihiraukan Shaka.
Lelaki itu masuk ke kamar mereka dengan membanting pintu cukup keras.
Shaka langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Dia biarkan air dingin mengguyur kepalanya. Akhir-akhir ini pikirannya terus kalut karena memikirkan keselamatan istri dan anak-anak dalam kandungan Kira. Sekarang tiba-tiba ada lelaki asing yang terang-terangan ingin mendekati istrinya bahkan memberi ancaman agar dia mau melepaskan Kira.
Shaka menghembuskan napas kasar saat teringat tadi telah bersikap dingin kepada istrinya. Semua itu bukan salah Kira karena dia tidak tahu semua masalah yang terjadi. Kira sendiri juga tidak tahu siapa yang telah mengirimkan semua barang itu kepadanya. Tapi bayang-bayang ancaman yang mungkin membahayakan keluarganya membuat Shaka terus berpikir buruk hingga tanpa sadar telah bersikap dingin kepada Kira.
Shaka keluar dari kamar mandi dan melihat Kira tengah menyiapkan baju ganti untuknya. Lelaki itu menghampiri istrinya dan memeluk pinggang Kira dari belakang. Dielusnya pelan perut Kira yang mulai buncit.
“Maafkan aku. Tiba-tiba saja aku begitu cemburu. Sampai-sampai berbicara kasar padamu tanpa bertanya apapun. Tolong maafkan aku.” Kata Shaka sembari menenggelamkan wajahnya ke puncak kepala Kira.
“Lupakan, Bie. Aku juga salah karena tidak bertanya padamu. Harusnya aku langsung menghubungimu saat melihat semua barang itu dikirimkan tanpa nama.” Kata Kira sembari memeluk erat lengan Shaka yang tengah melingkari pinggangnya.
“Mulai sekarang kalau ada kiriman apapun yang datang ke rumah ini, tolong tanyakan padaku dulu.” Kata Shaka.
“Semuanya..?? Bukan hanya paket atau surat tanpa nama..??” Tanya Kira memastikan.
“Benar. Semuanya. Minta pak Tarno untuk membuka semua surat dan paket yang datang sebelum diserahkan padamu.” Jawab Shaka.
Kira melepas pelukan Shaka dan menatap suaminya penuh selidik.
“Kenapa, Bie..??” Tanya Kira.
“Tidak apa-apa. Aku hanya cemburu dan tidak mau ada laki-laki lain berusaha mengirimkan apapun padamu lagi.” Jawab Shaka.
“Kamu yakin hanya karena itu..??” Kira masih bertanya dengan tatapan curiga.
“Apa kamu tidak tahu bagaimana suamimu ini kalau sedang cemburu..??” Tanya Shaka lalu mencium lembut bibir Kira.
“Baiklah.” Sahut Kira menurut meski dia masih merasa Shaka menyembunyikan sesuatu darinya.
“Kamu apakan semua barang itu..??” Tanya Shaka.
“Aku meminta pak Tarno dan bi Lastri untuk membuangnya. Kalau ada yang mereka mau biar saja mereka ambil.” Jawab Kira.
“Terima kasih.” Kata Shaka kembali menarik Kira dalam pelukannya.
Shaka menghela napas panjang. Dia memutuskan untuk tidak memberitahu keluarganya mengenai paket dan surat ancaman yang datang padanya. Shaka tidak ingin menambah beban pikiran Kira hingga membuatnya stress dan memicu kondisinya yang akan menurun. Untuk saat ini dia dan Fahri akan menyelidikinya sendiri. Kalau dirasa tidak dapat mengatasinya, Shaka baru akan meminta bantuan keluarganya atau keluarga Kira