(Family) Bound

(Family) Bound
Bertemu Calon Mertua



Edo mendekati Kira dan Shaka yang tengah asik menonton TV di ruang keluarga. Kira terlihat duduk dengan bersandar pada dada bidang Shaka. Dilihatnya Shaka memeluk tubuh Kira seolah tengah melindunginya, sesekali dikecupnya puncak kepala wanita yang telah menemaninya selama 12 tahun pernikahan mereka.


“Eeeehmm..” Dehem Edo mengalihkan perhatian dua sejoli itu karena merasa diabaikan meski sejak tadi telah duduk di sofa tunggal yang ada di dekat mereka.


“Kenapa, Ed..??” Tanya Shaka.


“Gapapa. Berasa jadi nyamuk aja dari tadi duduk disini dicuekin.” Jawab Edo pura-pura kesal.


“Salah sendiri gangguin orang pacaran.” Sahut Shaka santai.


“Pacaraaaaaan.. ajaaa.. teroooss.. sampai-sampai anak di depan mata dicuekin.” Sungut Edo. Kira hanya terkekeh melihat 2 pria kesayangannya.


“Ada apa, Ed..?? Sepertinya ada yang mau kamu bicarakan.” Tanya Kira.


“Eeeeeemm.. hari minggu mommy sama daddy ada acara..??” Tanya Edo.


“Seingatku tidak ada, Ed. Bagaimana denganmu, Bie..?? Ada acara hari minggu nanti..??” Tanya Kira pada suaminya.


“Tidak ada. Aku free hari minggu nanti. Memang kenapa, Ed..??” Kali ini Shaka yang bertanya.


“Eeeeh.. ituuuu..” Edo menggaruk tengkuknya dan terlihat gugup.


“Kalau kita tidak ada acara, hari minggu nanti aku ingin mengajak seseorang ke rumah untuk bertemu mommy dan daddy.” Kata Edo dengan wajah memerah. Sejenak Shaka dan Kira saling memandang.


“Eeeehm.. apa dia seorang gadis..??” Tanya Shaka dengan nada menggoda dan menaik turunkan kedua alisnya.


Edo hanya mengangguk dengan wajah yang semakin memerah. Shaka tertawa melihat wajah Edo yang sudah seperti kepiting rebus. Putranya itu tampak bersungut-sungut karena justru digoda ayahnya. Kira yang melihat Edo salah tingkah menepuk pelan tangan Shaka dan melotot galak karena terus menggoda putranya.


“Apa dia gadis yang tempo hari dibicarakan oom Rendra..??” Tanya Kira.


“Iya, mom.” Kata Edo dengan wajah yang masih memerah.


“Baiklah. Ajaklah dia kemari. Mommy dan daddy ingin kenal dengan gadis pilihanmu itu.” Kata Kira.


“Jam berapa kamu akan mengajaknya kemari..??” Tanya Shaka masih dengan menahan senyumnya.


“Aku akan menjemputnya jam 9 pagi, dad.” Jawab Edo.


“Baguslah. Kita bisa sekalian makan siang bersama.” Sahut Kira.


“Terima kasih, mom.. dad..” Kata Edo dengan wajah berbinar.


Edo langsung berdiri dan duduk di samping Kira, lalu memeluk dan mengecup pipi wanita kesayangannya singkat.


“Eeeeh.. itu kan jatah papa, Ed.” Seru Shaka sewot.


“Biarin.. Weeeek..” Sahut Edo sambil menjulurkan lidahnya ke arah Shaka lalu berlari meninggalkan mereka.


“Sayang, kenapa anak-anak kita semakin besar justru semakin manja denganmu sich..??” Kata Shaka seperti tidak terima.


“Memangnya kamu tidak..?? Kamu bahkan seperti bayi besar yang tidak mau kalah dengan bayi-bayi lainnya.” Sahut Kira.


“Tapi bayi besar ini sangat mencintaimu.” Kata Shaka sambil mendusel-dusel Kira.


“Bie, apaan sich..?? Risi tau ga.” Sahut Kira sewot. Shaka hanya tertawa melihat Kira yang merasa terganggu dan terus mendusel-dusel istrinya.


****


Di hari yang telah ditentukan, pagi-pagi sekali Edo sudah berangkat menjemput Luna. Gadis itu tampak cantik mengenakan dress selutut lengan panjang warna coklat dengan motif kotak-kotak. Gaun terbaik yang dia miliki sekarang, miliknya sejak mendiang ayahnya masih hidup. Rambut hitamnya yang panjang digerai, Luna tidak menggunakan make-up dan hanya memoleskan lipstick warna soft pink di bibir agar wajahnya tidak terlihat pucat. Tidak lupa flat shoes yang senada dengan warna gaunnya menghiasi kaki kecilnya.


Luna terkejut saat melihat rumah keluarga Edo yang tampak besar dan luas. Sebenarnya rumah itu tidak terlalu mewah. Bagian depan rumah tersebut tampak sederhana, sepertinya itu adalah bangunan asli rumah Edo. Kemudian di bagian samping kanan kiri dan belakang ditambahkan sisi bangunan baru hingga membuat rumah itu menjadi luas. Belum lagi halaman rumah yang luas dan tampak asri. Tampak beberapa pohon buah di halaman rumah itu, juga taman bermain kecil di bagian samping halaman rumah.


Luna yang sedari awal sudah merasa tidak percaya diri justru semakin ciut nyali saat memasuki lingkungan rumah itu. Mungkin tidak masalah kalau keadaannya masih seperti dulu. Tapi sekarang keadaannya sangat jauh berbeda. Luna takut akan menerima penolakan atau perlakuan buruk dari keluarga Edo. Edo yang melihat kegugupan Luna tersenyum dan mengenggam erat tangan gadis itu. Dia terus menggandeng tangan Luna hingga memasuki pintu rumahnya.


“Jangan takut, Al. Aku bersamamu. Dan aku yakin mereka pasti akan menyukaimu.” Bisik Edo sebelum membuka pintu rumahnya. Luna mengangguk dan tersenyum canggung.


Sesampainya di dalam rumah Edo langsung mengajak Luna ke ruang keluarga. Di sana Shaka tampak tengah asik bermain dengan Satria dan Nara.


“Daddy.” Panggil Edo dengan wajah berbinar. Shaka langsung menoleh ke arah Edo dan Luna lalu tersenyum ramah menyambut tamu mereka.


“Hai, Ed. Kalian sudah datang.” Sapa Edo ramah.


“Iya, dad. Kenalkan ini Aluna. Gadis yang akan menjadi calon istri Edo.” Kata Edo tanpa menghiraukan Luna yang terkejut.


“Waaaah.. kalian sudah benar-benar serius..??” Tanya Shaka takjub.


“Eeeeh.. ituuuuu...” jawab Luna kebingungan.


“Aku Shaka, ayahnya Edo.” Kata Shaka memperkenalkan diri.


“Ayaaah.. Edo..??” Luna tampak tidak percaya melihat Shaka yang masih begitu muda adalah ayah Edo. Tadinya dia mengira pria dihadapannya adalah kakak Edo.


“Iya, aku ayahnya. Kenapa..?? Aku masih terlihat sangat tampan kan.” Kata Shaka menggoda Luna dan Edo.


“Dad, please jangan mulai lagi narsisnya. Atau aku aduin ke mommy.” Desis Edo.


“Ciiiih.. tukang ngadu.” Sahut Shaka sewot.


Luna terkekeh melihat kelakuan Edo dan Shaka. Edo memanggil Satria dan Nara untuk berkenalan dengan Luna. Kedua anak itu tampak senang menyambut kedatangan Luna.


“Mommy dimana, dad..??” Tanya Edo.


“Di dapur lagi siapin makan siang bareng Rania. Adikmu itu sekarang lagi hobi masak.” Jawab Shaka.


Edo meninggalkan Luna sejenak untuk memanggil Kira dan Rania. Tak lama mereka memasuki ruang keluarga untuk berkenalan dengan Luna. Gadis itu tampak takjub melihat Kira yang masih terlihat begitu muda dan cantik meski telah memiliki anak seusia Edo. Tubuh wanita itupun terlihat masih terjaga dengan sangat baik.


“Mommy.. Rania.. kenalkan ini Aluna.” Kata Edo.


“Selamat siang, tante. Saya Aluna, biasa dipanggil Luna.” Kata Luna sembari menyodorkan tangan untuk memperkenalkan diri. Alih-alih menyambut tangan Luna, Kira justru memeluk gadis itu.


“Akhirnya anak nakal ini membawamu kemari, sayang. Nama tante Kirana, panggil saja tante Kira. Ini putri tante Kirania, biasa dipanggil Rania.” Kata Kira setelah melepas pelukannya.


Rania pun mengikuti ibunya, dia memeluk Luna saat memperkenalkan diri. Rania langsung menyukai Luna saat bertemu gadis itu.


“Kak Luna pacarnya kak Edo..??” Tanya Rania dengan wajah polosnya. Luna tersenyum dan mengangguk.


“Sabar ya, kak. Kak Edo emang masih labil, seenaknya, dan suka banget ngatur orang. Tapi dia baik kok.” Kata Rania tanpa beban.


“Ccckk.. jangan buka aib kak Edo dong, Ra.” Decak Edo protes.


“Terima kasih informasinya, Ra.” Kata Luna sambil terkekeh pelan.


“Ya sudah kalian duduk saja dulu di ruang keluarga. Mommy sama Rania mau lanjut masak.’ Kata Kira.


“Kamu bisa masak, Luna..??” Tanya Kira.


“Sedikit, tante.” Jawab Luna malu-malu.


“Aluna jago masak, mom. Selama kuliah tiap hari Edo dibuatin bekal makan siang sama dia. Makanya biarpun sibuk banget di kampus Edo tetap sehat. Soalnya Aluna yang selalu ingetin dan maksa Edo untuk makan siang.” Sahut Edo.


“Ohyaaaa..?? Wah hebat kamu, sayang. Anak tante yang satu ini biasanya paling susah makan kalau sudah asik sama kesibukannya. Terima kasih ya kamu sudah jagain Edo.” Kata Kira tulus.


“Sama-sama, tante.” Sahut Luna.


“Ayo, kak. Buruan kita masak bareng.” Ajak Rania sambil menarik tangan Luna ke arah dapur.  Edo akhirnya bergabung bersama Shaka untuk bermain Ular tangga bersama Satria dan Nara.


Kira, Luna, dan Rania selesai memasak tepat saat waktu makan siang tiba. Mereka bertiga lalu tampak sibuk menyajikan hasil masakan mereka di meja makan. Kira yang tidak melihat kedua putra kembarnya meminta Edo memanggil mereka untuk bergabung makan siang dan berkenalan dengan Luna.


“Kak Luna..??” Panggil Dit-dit bersamaan.


“Loooh.. Radit..?? Adit..?? Kok kalian disini..??” Kata Luna sama terkejutnya.


“Kak Luna ngapain kesini..?? Mau minta ganti rugi gara-gara kejadian tempo hari..??” Tuduh Adit sekenanya.


“Enak aja. Kamu pikir aku mata duitan apa..?? Lagian juga kalian ngapain disini. Jangan bilang kalau kalian buat masalah lagi disini..??!!” Sergah Luna.


“Kak, ini rumah kita.” Jawab Radit cepat.


“Rumah kalian..?? Maksudnya kalian ini..” Kata Luna sembari menatap Edo.


“Al, mereka itu adikku. Radit.. Adit.. Ini kak Aluna. Calon istri kak, Edo.” Sahut Edo.


“APA..??!!” Seru Luna dan Dit-dit bersamaan.


“Cuma mama aja kita sudah ga bisa berkutik, Dit. Ditambah kak Luna, bisa-bisa kita jadi tahanan rumah.” Bisik Adit pada Radit tapi masih terdengar di telinga orang-orang disekitar mereka.


“Kalian bicara apa..??” Tanya Kira sambil menatap tajam kedua anaknya.


“Ga ada, ma.” Jawab Radit cepat.


“Kalian saling kenal..?? Ganti rugi apa yang kalian bicarakan..??” Tanya Edo penuh selidik.


“Iya, Ed. Kami bertemu saat mereka..” Ucapan Luna terpotong saat Adit tiba-tiba mendekatinya.


“Waaaah.. ini kak Luna yang masak yaaa.. keliatannya enak. Gimana kalo kita langsung makan aja.” Kata Adit sambil memberi tanda pada Luna.


“Bener, kak. Sayang kan kalo keburu dingin. Ya kan, ma.. pa..” Radit ikut menimpali.


“Kenapa kalian terus mengedipkan mata..?? Apa mata kalian kelilipan..??” Tanya Luna kebingungan.


“Hiiiiih.. dasar capit kepiting. Ternyata lemot banget.” Sungut Adit pelan, tapi masih tertangkap telinga Luna dan keluarganya.


“Siapa yang kamu bilang lemot..?? Mau rasain capit kepiting lagi..??” Kata Luna sewot.


“Ga mau.. ga mau.. ampun, kak.” Sergah Adit cepat.


“Sepertinya ada cerita menarik.” Kata Shaka sambil menaikkan sebelah alisnya.


“Tidak ada, pa. Beneran.” Sahut Radit cepat.


“Lalu bagaimana kalian bisa saling kenal..?? Bukannya sekolah kalian sangat jauh dari tempat tinggal Luna..?? Apa kalian membuat masalah..??” Tanya Edo penuh selidik. Dit-dit semakin tidak berkutik.


“Radit.. Adit.. Jelaskan sekarang juga.” Kata Kira tegas.


Merasa tidak bisa menghindar lagi akhirnya Dit-dit pun menceritakan kejadian sebenarnya saat bertemu Luna. Shaka, Edo, dan Rania tertawa keras saat membayangkan kedua anak itu harus berkeliling membantu Luna berjualan. Belum lagi mereka hari itu terus-terusan mendapat semprotan dan cubitan dari Luna tanpa ampun. Kira yang kesal dengan kelakuan kedua anaknya hanya bisa memijit pelan pelipisnya.


“Kalian ini. Jadi gara-gara itu kalian terlambat pulang..??!! Berapa kali mama bilang jangan ikut tawuran, masih saja ikut-ikutan..!!” Seru Kira kesal sambil memukul-mukul pelan kedua anaknya.


“Ampun, ma.. ampun... abis itu kita udah ga pernah ikut tawuran lagi kok.” Kata Radit.


“Tapi kalian sudah bikin susah kak Luna. Apa jadinya kalau waktu itu kalian sampai tertangkap polisi haaaah..!!” Semprot Kira lagi.


“Kita kan juga udah minta maaf dan bantuin kak Luna jualan buat menebus kesalahan. Udah kapok, ma. Beneraaaaan..” Sahut Adit sambil menaikkan 2 jarinya membentuk huruf V.


“Tante Kira..  Oom Shaka.. maafin Luna ya. Waktu itu sudah suruh Radit sama Adit jualan, trus sempat jewer dan cubit mereka juga.” Kata Luna canggung.


“Tidak masalah, Luna. Justru tante senang kamu sudah kasi pelajaran sama mereka. Biar beneran kapok..!!” Geram Kira sambil melirik tajam kedua anaknya yang terlihat salah tingkah.


“Pantas saja sekarang mereka rajin pijitin papa tiap malam. Ternyata sudah tahu capeknya kerja cari duit.” Kata Shaka sambil tertawa pelan.


“Luna, kalau perlu tiap hari sepulang sekolah kamu ajak mereka untuk membantumu berjualan. Daripada mereka terus cari masalah di luar.” Kata Kira.


“Mama..!! Yang benar saja..!! Capek tau ga..??!!” Protes Adit.


“Namanya kerja memang capek. Mana ada kerja ga capek.” Jawab Kira santai.


“Mama..!!” Protes Adit lagi.


“Tidak perlu, tante. Lagian juga aku lihat mereka sepertinya sudah berhenti ikut tawuran. Tapi kalau mereka ketahuan ikut tawuran lagi, tante bilang saja. Aku siap ngerjain mereka seperti tempo hari.” Sahut Luna yang disambut tawa oleh keluarga itu, sedangkan Dit-dit masih terus cemberut.


"Ngomong-ngomong, gimana ceritanya kak Edo  bisa pacaran sama kak Luna..?? Siapa yang duluan nembak ngajak pacaran nich..??" Tanya Radit kepo.


"Eeeeemm.. itu.. Kakak kalian yang duluan ajakin pacaran." Jawab Luna.


"Waaaah.. beneran..?? Gimana caranya, Luna..?? Soalnya setauku Edo tu kerjaannya cuman sibuk belajar sama kuliah. Ga pernah tu liat Edo jalan sama cewek." Tanya Shaka ikut penasaran.


"Edo menyeret saya masuk kamar dan menyekap saya disana. Dia mengancam akan memanggil warga kalau tidak menerimanya sebagai pacar. Edo baru melepas saya setelah mengatakan iya." Jawab Luna santai sambil mencibir Edo yang tersedak mendengar penuturan Luna. Sebenarnya dia masih sedikit dongkol karena Edo bukannya memakai cara romantis tapi justru penuh paksaan.


"Benar itu, Ed..??" Tanya Kira terkejut. Edo cuma bisa mengangguk malu. Shaka langsung tertawa keras mendengar kelakuan putranya.


"Waaaah.. kak Edo keren." Kata Adit kagum.


Kira hanya bisa menggelengkan kepala karena tidak menyangka Edo bisa senekat itu. Entah kenapa para pria di keluarganya selalu memiliki tingkah yang ajaib.


********************************************


Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.


Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^


Terima kasih..!!


Hug,


Cheerieza