(Family) Bound

(Family) Bound
Keputusan Edo



Beberapa hari setelah kedatangan Peter, kehidupan di rumah keluarga Shaka dan Kira tetap berjalan seperti biasa. Edo juga tampak lebih bersemangat dan semakin dekat dengan Kira juga Shaka. Setelah mengalami kebimbangan, Edo akhirnya telah mengambil keputusan. Dia sangat berharap keputusannya ini akan adil untuk orang-orang yang dia sayangi.


“Mom.. Dad.. setelah ini boleh Edo bicara sebentar..??” Tanya Edo saat makan malam. Sejenak Kira dan Shaka saling pandang.


“Tentu saja, Ed. Sekarang selesaikan dulu makan malammu.” Sahut Kira setelah melihat Shaka mengangguk pelan.


“Terima kasih, mom.” Kata Edo.


“Pada mau omongin apa sich..?? Misterius banget..??” Tanya Rania penasaran.


“Anak kecil ga usah kepo urusan orang dewasa.” Sahut Adit.


“Siapa juga yang kepo..?? Aku kan cuma pingin tahu.” Sungut Rania kesal.


“Apa bedanya..?? Sama aja.. kepo.” Sahut Adit lagi.


“Aku ga kepo..!!” Seru Rania.


“Sudah hentikan. Cepat habiskan makan malam kalian..!!” Titah ibu ratu yang tidak pernah bisa dibantah oleh anak-anaknya.


“Satria.. Nara.. habiskan sayur kalian..!!” Perintah Kira saat menyadari kedua anaknya berusaha menyingkirkan sayuran yang tidak mereka suka.


“Satria ga suka brokoli, maaaa..” Sahut Satria cemberut.


“Nara juga ga suka wortel.” Sahut Nara ikut merajuk.


“Tapi sayur itu baik untuk kalian. Jadi habiskan, atau mama akan terus memasak wortel dan brokoli untuk kalian.” Jawab Kira tidak mau dibantah.


Satria dan Nara melanjutkan makan mereka dengan wajah cemberut sambil terus mengaduk-aduk makanan mereka. Edo tersenyum melihat kedua adik kecilnya yang tengah merajuk. Wajah kedua anak itu tampak berbinar ketika dengan cepat Radit mengambil wortel dan brokoli yang telah mereka singkirkan di pinggir piring saat Kira lengah.


“Mom, aku mau tambah sayur.” Kata Edo mengalihkan perhatian Kira saat wanita itu akan menoleh ke arah Satria dan Nara.


“Berikan piringmu.” Kata Kira.


Edo menyodorkan piringnya lalu melirik pada Satria dan Nara yang cekikikan karena senang telah terbebas dari sayuran yang mereka benci.


Setelah makan malam Shaka, Kira, dan Edo duduk di ruang kerja Shaka. Kira tampak gelisah meski dia berusaha untuk tetap tenang. Dia tahu Edo pasti akan membicarakan tentang keputusannya mengenai permintaan Peter. Shaka yang duduk disamping Kira terus menggenggam erat tangan istrinya untuk menenangkan dan menguatkan wanita itu.


“Ini mengenai permintaan opa, mom.” Kata Edo membuka pembicaraan.


“Apa kamu sudah mempertimbangkannya baik-baik..??” Tanya Shaka.


“Sudah, dad.” Jawab Edo.


“Jadi apa keputusanmu..??” Tanya Kira cemas.


“Kalau mommy dan daddy mengijinkan, Edo ingin tetap tinggal disini.” Kata Edo. Wajah Kira langsung berbinar saat mendengar keputusan Edo.


“Apa maksudmu, nak..?? Tentu saja mommy dan daddy mengijinkan.” Kata Kira senang.


“Kamu yakin dengan keputusanmu..??” Tanya Shaka lagi.


“Yakin, dad. Tapiiii..” Kata Edo tampak ragu.


“Tapi apa..??” Tanya Kira tidak sabar.


“Tapi Edo juga tidak bisa mengabaikan permintaan opa begitu saja, mom. Edo sadar kalau memang opa tidak bisa bekerja keras seperti dulu lagi. Karena itu, setiap libur panjang Edo akan tinggal di Jerman dan membantu opa, terutama saat libur semester.” Lanjut Edo.


“Apa mommy dan daddy keberatan..??” Tanya Edo.


Pemuda itu menatap Kira dan Shaka bergantian seolah mengharapkan ijin dari mereka. Kira berdiri dan menghampiri Edo lalu duduk disamping pemuda itu. Digenggamnya erat tangan Edo dan menatap lekat wajah anak kesayangannya.


“Tentu saja tidak, sayang. Mommy sangat senang karena kamu memutuskan untuk tetap tinggal bersama kami. Dan mommy tidak mau egois dengan melarangmu untuk membantu opa.” Kata Kira.


“Terima kasih, mom.” Kata Edo.


Shaka tampak menghembuskan napas lega saat mendengar keputusan Edo. Karena sama seperti Kira, dia juga takut kehilangan Edo. Meski perbedaan usia mereka hanya 12 tahun, tapi Shaka sangat menyayangi Edo seperti putranya sendiri. Shaka lega karena artinya keluarganya akan tetap utuh dan tidak terpisah lagi.


“Kalau begitu papa akan segera membicarakan ini dengan opa mu. Papa tidak ingin menggantungkannya terlalu lama.” Kata Shaka.


“Jangan, pa. Biar Edo sendiri yang menyampaikannya pada opa. Sekalian Edo ingin minta maaf karena tidak bisa sepenuhnya membantu opa.” Kata Edo.


“Baiklah. Kalau begitu kamu harus segera menghubungi opa mu. Kasian beliau kalau sampai lama menunggu.” Sahut Shaka.


“Tentu, pa. Besok Edo akan segera menghubungi opa.” Kata Edo.


Shaka tersenyum mendengar jawaban Edo. Seperti yang dia duga, Edo memang sudah bisa mengambil keputusan dengan baik. Tak lama tiba-tiba dahi Shaka tampak berkerut. Dia terdiam dan memiringkan kepala seolah tengah menajamkan pendengarannya.


“Ada apa, Bie..??” Tanya Kira keheranan melihat perubahan wajah Shaka.


“Sssssttt..” Bisik Shaka sambil melintangkan telunjuknya di depan bibir.


Kira dan Edo semakin heran melihat tingkah Shaka. Tak lama Shaka tampak menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala. Dia lalu berdiri dan membuka pintu ruang kerja dengan cepat. Mata Kira dan Edo terbelalak saat melihat kelima adik Edo jatuh dan tumpang tindih di ambang pintu yang terbuka.


“Kalian menguping pembicaraan kami..??” Tanya Shaka sambil menatap kelima anaknya.


Dit-dit berdiri sambil nyengir dan menggaruk kepala mereka, Satria memeluk kaki Shaka seolah sedang membujuk ayahnya agar tidak marah, sedang Rania dan Nara berlari menghambur ke arah Edo lalu memeluknya.


“Kak Edo beneran ga akan pergi kan..??” Tanya Rania penuh harap.


“Jadi kalian tahu..??” Tanya Edo.


“Dit-dit..!!” Panggil Kira sambil menatap kedua anaknya.


“Waktu itu kami ga sengaja denger, ma.” Jawab Adit cepat.


“Ngaku saja kalau waktu itu kalian sengaja menguping.” Kata Shaka. Dit-dit kembali nyengir mendengar perkataan Shaka.


“Habisnya penasaran, pa. Mana yang diajakin ngobrol cuma kak Edo.” Jawab Radit.


“Kenapa kalian ga nanya langsung saja..??” Tanya Kira.


“Soalnya waktu itu kita juga bingung, ma. Takut kalo kak Edo bakal pergi.” Sahut Radit.


“Tapi untungnya kak Edo memutuskan tinggal, jadi sekarang udah lega.” Sambung Adit.


“Kak Edo beneran ga pergi kan..??” Tanya Rania lagi.


“Kak Edo ga akan kemana-mana, sayang. Memang nantinya sesekali kak Edo pergi cukup lama buat temenin opa. Tapi pasti kak Edo bakal balik lagi.” Jawab Edo sambil mengelus lembut rambut Rania.


“Kalau kak Edo pergi Nara boleh ikut..??” Tanya Nara.


“Tentu saja boleh kalau diijinkaan mommy sama daddy. Memang kenapa Nara mau ikut..?? Ga takut kangen sama mommy dan daddy..??” Tanya Edo.


“Soalnya kalau ga ada kak Edo nanti pasti kak Dit-dit gangguin terus.” Jawab Nara dengan wajah cemberut.


Edo terkekeh mendengar jawaban Nara. Dia menggelengkan kepala pelan melihat tingkah kelima adiknya. Edo merasa semakin yakin telah mengambil keputusan yang tepat. Karena Edo pun merasa berat berpisah dari keluarga yang sangat dia sayangi.


************************************************


Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.


Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^


Terima kasih..!!


Hug,


Cheerieza