
Cahaya matahari menyapa pagi, menemani seorang pemuda tampan yang tampak sibuk berolahraga di taman belakang rumah mewah milik keluarganya. Meski ada fasilitas gym di rumah itu, tapi dia lebih suka berolahraga di luar sambil menghirup udara segar.
“Kak Edo, mama memanggilmu.” Seru seorang gadis kecil sambil berlari menghampirinya.
Senyum Edo mengembang saat melihat kedatangan Rania yang sudah tampak rapi dalam seragam putih merahnya. Rambut hitamnya yang panjang dikuncir ekor kuda tampak berayun mengikuti gerak tubuhnya. Kirania Syafira Putri Rahardian, gadis kecil berusia 10 tahun itu semakin mirip dengan Kirana, ibunya. Hanya saja dia berkulit putih seperti Shaka ayahnya.
“Ada apa mommy memanggil..??” Tanya Edo sambil menunduk dan menatap wajah Rania.
“Sarapan sudah hampir siap.” Jawab Rania sambil mengulurkan tangan meminta Edo menggendongnya.
“Rania, kak Edo baru selesai olahraga. Badan kak Edo berkeringat dan bau.” Kata Edo sambil dengan lembut.
“Pokoknya gendong..!!” Seru Rania sambil cemberut.
Edo menghela napas panjang lalu mengangkat tubuh kecil Rania dan berjalan masuk rumah mereka. Di meja makan sudah nampak Shaka duduk bersama Satria yang juga sudah tampak rapi dengan seragam putih merahnya dan Kinara dengan seragam TK-nya. Kira tampak sibuk mondar-mandir antara meja makan dan dapur untuk menyajikan sarapan dengan dibantu bi Lastri. Satria Aaron Rahardian, pria kecil berusia 7 tahun yang telah duduk dibangku kelas 1 SD. Dan Kinara Fresya Rahardian, gadis kecil berusia 5 tahun yang sekarang duduk di bangku TK A. Mereka adalah adik Rania, anak-anak Shaka Rahardian dan Kirana Hardisiswo.
“Rania..!! Kamu ini sudah besar, kenapa masih saja minta gendong..??!!” Seru Kira kesal karena putrinya masih saja bersikap manja.
“Tidak apa-apa, mom. Rania belum begitu berat.” Sahut Edo sambil meletakkan Rania ke salah satu kursi makan. Rania yang merasa dibela langsung tertawa kesenangan.
“Edo, jangan terlalu memanjakan adik-adikmu. Sudah cukup mommy pusing karena daddy-mu selalu memanjakan mereka. Kamu jangan ikut-ikutan..!!” Kira mulai mengomeli Edo.
“Aku dan Edo tidak memanjakan mereka, sayang. Kami hanya menyayangi mereka.” Bela Shaka sambil memeluk dan mengecup pipi Kira.
“Dimana Radit dan Adit..??” Tanya Edo mengalihkan pembicaraan orangtuanya sebelum Kira semakin mengomel.
“Tolong panggilkan mereka, Ed. Mommy sudah memanggil Dit-dit sejak tadi tapi mereka belum turun juga. Kamu juga sekalian mandi. Hari ini ada kuliah pagi kan..??” Kata Kira.
“Jam 10, mom. Jadi aku tidak terlalu terburu-buru.” Jawab Edo sambil beranjak menuju kamar si kembar.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali dan tidak mendapat jawaban Edo membuka pintu kamar. Dilihatnya Dit-dit yang sudah memakai seragam putih abu-abu sedang sibuk bermain game console yang ada di kamar mereka.
“Dit-dit.” Panggil Edo. Tidak ada sahutan.
“Dit-dit..!!” Seru Edo tapi masih tidak ada sahutan.
Edo berjalan ke arah stop kontak dan mencabut kabel yang menancap. Dit-dit yang sedang asik bermain game melongo karena tiba-tiba layar berubah hitam. Serempak mereka menoleh ke arah Edo yang masih memegang kabel kontak dan tersenyum devil ke arah mereka.
“Kak Edo..!! Kenapa dicabut..??!! Lagi seru ini..!!” Seru Radit.
“Salah sendiri dari tadi dipanggil ga ada yang jawab.” Sahut Edo santai sambil meletakkan kabel yang dia pegang.
“Tapi kan ini lagi seru, kak.” Adit ikut menimpali.
“Kalian beruntung aku cuma mencabut kabelnya. Kalau mommy sampai datang kesini, pasti kabel ini akan dipotong dan juga menahan uang jajan kalian selama sebulan. Mau..??” kata Edo mengingatkan kejadian beberapa bulan sebelumnya saat Kira kelewat kesal dengan Dit-dit yang terlalu asik bermain game.
GLEEEEEKK..!!
Mendengar itu Dit-dit bergegas membereskan permainan mereka dan berlari keluar kamar sebelum Kira datang dan mengamuk. Edo yang melihat tingkah si kembar tertawa kecil lalu beranjak menuju kamarnya untuk mandi. Sesampai di kamar Edo melepas kaos yang dikenakannya, memperlihatkan tubuhnya yang tinggi tegap berotot. Edo memandang bayangan dirinya di kaca yang tergantung di atas wastafel kamar mandi. Wajahnya tampan, rambut hitam dan sorot matanya tajam dengan warna biru gelap yang dia dapat dari mendiang ibunya. Edo melihat bekas luka memanjang di dadanya yang bidang. Luka yang melintang dari dada hingga perut sixpack-nya.
Setiap melihat bekas luka itu perasaan Edo selalu berkecamuk. Ada rasa bahagia dan juga rasa bersalah yang terselip dalam hatinya. Edward Henry Tanzil, keluarga itu memanggilnya Edo agar lebih mudah. Dia lahir dengan penyakit jantung bawaan yang dia warisi dari mendiang ibunya. Selama 12 tahun masa awal hidupnya dia lebih banyak melewatkannya di rumah sakit dan setiap hari kondisinya terus melemah.
Edo bersyukur Kira dan Shaka berbesar hati menerimanya. Kedua orang itu telah merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Bahkan Dit-dit yang hampir tewas demi menyelamatkan nyawanya telah menganggap dia seperti kakak mereka sendiri, meski memang mereka sebenarnya adalah sepupu. Meski 3 tahun lebih muda darinya, mereka berdua turut andil dalam menjaga Edo selama sakit. Edo masih ingat dengan jelas, bagaimana bahagianya keluarga itu saat akhirnya Edo mendapatkan donor jantung diusia 12 tahun. Dan selama dia dirawat, Kira yang saat itu mengandung Satria terus menjaga dan merawatnya dengan penuh kasih sayang meski tengah hamil tua. Dari mereka Edo tetap merasakan bagaimana hidup dalam sebuah keluarga dan tumbuh dengan limpahan kasih sayang orangtua.
Edo memejamkan mata dan menghembuskan napas perlahan mencoba menyingkirkan rasa bersalah yang diam-diam terus membebani pikirannya selama ini. Setelah selesai mandi Edo kembali bergabung untuk sarapan bersama keluarganya. Shaka yang berusia 31 tahun terlihat semakin matang dan dewasa. Mereka yang belum mengenal Shaka tidak akan pernah menyangka pria ini telah menikah dan memiliki 6 anak. Jarak usia yang tidak terlalu jauh dengan Edo dan Dit-dit membuat Shaka selalu kompak dengan ketiga remaja itu. Sedangkan Kira yang 10 tahun lebih tua dari Shaka masih terlihat muda dan cantik di usianya yang menginjak 41 tahun. Kira yang pandai merawat diri bahkan terlihat hampir seusia Shaka.
“Edo, kamu kuliah jam 10 kan. Bisa tolong bantu mommy mengantar Rania dan Satria ke sekolah..?? Jam 8 ada pertemuan orangtua murid di TK Nara. Mommy takut terlambat kalau harus mengantar mereka juga.” Pinta Kira pada Edo.
“Baik, mom.” Jawab Edo setelah menelan makanannya.
“Coba mama sama papa kasi mobil ke aku sama Radit, pasti ga bakalan repot gini. Papa juga ga perlu berangkat pagian buat anter kita ke sekolah dulu tiap harinya.” Kata Adit.
“Umur kalian bahkan belum genap 17 tahun. Belum punya KTP apalagi SIM, jangan harap dapat mobil.” Sahut Kira tegas.
“Tapi papa bilang kelas 2 SMP papa sudah bisa setir mobil, bahkan sudah ikut balapan.” Radit ikut menimpali. Shaka hampir tersedak saat mendengar namanya ikut dibawa.
“Hei, kenapa bawa papa segala..??” Protes Shaka yang panik saat melihat Kira menatap tajam padanya.
“Tapi memang benar. Kan papa sendiri yang cerita.” Sergah Radit.
“Bie.” Panggil Kira sambil menatap tajam pada Shaka, sedangkan suaminya hanya bisa nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ma, nanti tante Angel ke sekolah. Rania sama Satria boleh ikut main ke rumah tante..??” Tanya Rania.
“Untuk apa tante Angel ke sekolah..??” Tanya Kira heran karena selama ini biasanya Farel akan ikut Kira saat menjemput Rania dan Satria lalu menghabiskan waktu di rumahnya sampai sore. Adam dan Angel akan menjemputnya sepulang kerja.
“Apa mama lupa kemarin kak Farel berantem sama teman sekelasnya..??” Kata Rania mengingatkan.
Kira menghembuskan napas kasar. Dia baru teringat kemarin saat menjemput anak dan keponakannya dia mendapat aduan dari wali kelas Farel. Memang anak itu tidak terluka sama sekali, tapi dia sudah membuat lawannya benar-benar babak belur.
Sifat keponakannya memang sangat mirip ayahnya, Adam. Anak itu suka menganggu teman dan saudara-saudaranya, juga mengerikan saat sudah emosi. Entah berapa kali Angel harus berurusan dengan pihak sekolah karena ulah Farel. Beruntung anak itu cerdas dan berprestasi, hingga pihak sekolah berpikir ulang kalau harus mengeluarkan Farel. Apalagi saat ini Farel duduk di kelas 6 dan akan menjalani ujian akhir. Pihak sekolah berharap nilai Farel akan bisa semakin mengharumkan nama sekolah.
“Baiklah. Nanti mama telpon tante Angel. Ingat..!! Selama disana kalian tidak boleh nakal dan merepotkan tante Angel. Mama akan menjemput kalian nanti sore sebelum papa pulang.” Kata Kira.
“Siap, ma..!!” Seru Rania dan Satria bersamaan.
Edo tersenyum melihat interaksi keluarga besar yang telah merawatnya selama 10 tahun terakhir. Sebenarnya kegundahan terus mengisi hati Edo. Mengingat cepat atau lambat ayahnya akan bebas. Di satu sisi dia sangat berat meninggalkan keluarga itu. Tapi dia cukup tahu diri karena menyadari bahwa bagaimanapun dia bukanlah bagian dari mereka. Dan Hans juga berhak untuk mendapatkan waktu dan kasih sayangnya, terlebih mereka telah terpisah begitu lama. Edo menghembuskan napas perlahan. Dia tidak tahu harus mengambil keputusan apa. Biarlah nanti waktu yang memberi jawaban.
************************************************
Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.
Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^
Terima kasih..!!
Hug,
Cheerieza