
Edo berjalan cepat menuju rumah Luna. Dia sudah sangat merindukan gadis itu meski tiap hari mereka bertemu. Saat sampai di depan rumah Luna, Edo berhenti dan terpaku di tempatnya. Dilihatnya pintu rumah Luna terbuka lebar dan dia mendengar gadis itu tengah berbicara akrab dengan seorang laki-laki. Edo kesal karena selama sebulan lebih mendekati Luna, dia bahkan tidak pernah diijinkan untuk sekedar duduk di dalam. Dan sekarang ada seorang lelaki yang tengah berbincang akrab bersama Luna di dalam rumah itu.
“Eeeeehm..” Edo berdehem hingga membuat Luna dan tamunya menoleh.
Kedua orang itu tengah duduk lesehan di lantai ruangan yang dialasi tikar.
“Edo, kamu sudah datang..??” Tanya Luna.
Edo mendekat dan sengaja duduk di antara Luna dan lelaki itu untuk menjauhkan mereka.
“Dia siapa, Na..??” Tanya lelaki itu dengan menatap Edo yang duduk di sampingnya.
“Kak, dia Edo.” Kata Luna memperkenalkan Edo.
“Edo, dia dokter Lingga. Dia dokter spesialis penyakit dalam.” Kata Luna lagi.
“Edward Henry Tanzil. Panggil saja Edo. Aku pacar Aluna.” Kata Edo memperkenalkan diri. Mengabaikan Luna yang melotot ke arahnya.
Edo memperkenalkan diri sambil menyalami dokter Lingga dengan sangat kencang hingga membuat dokter itu meringis.
“Ciiiih.. laki-laki lemah. Baru gitu aja udah kesakitan. Jelas dia ga pantas buat Aluna.” Gumam Edo dalam hati.
“Ooooh.. Jadi ini Edo, Na..??” Lingga memandang Luna dan Edo bergantian sambil mengelus tangannya yang masih sakit. Dahi Edo berkerut mendengar Lingga memanggil Aluna dengan begitu akrab.
“Iya, kak Lingga. Dia satu kampus denganku waktu kuliah dulu. Hanya beda fakultas.” Membuat dahi Edo semakin berkerut mendengar paggilan Luna untuk Lingga.
“Kak Lingga..?? Bukan Dok atau Pak Lingga. Tapi kak Lingga..?? Astagaaaa.. Apa mereka memang sudah sedekat itu..??” Rutuk Edo dalam hatinya.
“Praktek dimana, dok..??” Tanya Edo ingin tahu.
“Praktek pribadi di rumah dan di Orchid, Ed.” Jawab Lingga ramah.
Edo menaikkan satu alisnya saat mendengar dimana tempat praktek dokter Lingga.
“Hebat juga dia bisa praktek di Orchid. Semua dokter disana adalah yang terbaik dibidangnya. Tapi baguslah. Lebih mudah bagiku untuk mengerjainya.” Gumam Edo dan tanpa sadar mengembangkan senyum miring.
“Kamu kenapa..??” Tanya Luna keheranan.
“Gapapa.” Sahut Edo cepat.
“Sebenarnya aku tidak bisa tinggal lama, Na. Setelah ini aku masih ada acara di tempat lain.” Jelas Lingga yang disambut “Oooh” oleh Luna.
“Baguslah.. kebetulan Aluna juga sangat sibuk untuk bersiap jualan.” Sahut Edo santai.
Luna langsung menatap galak ke arah Edo, seakan ingin mencekik leher Edo saat itu juga. Sedangkan Lingga yang sempat tercengang karena merasa diusir Edo akhirnya justru tertawa melihat tingkah Edo dan Luna.
“Baiklah aku pergi dulu. Kapan-kapan aku datang lagi ya, Na.” Kata Lingga sambil mengelus lembut kepala Luna.
Edo yang melihat itu merasa kesal dan langsung menepis tangan Lingga dari kepala Luna. Lingga hanya terkekeh pelan melihat sikap Edo sedangkan Luna langsung memukul pelan tangan pemuda itu.
“Oke.. salam buat kak Alissa dan Dion ya, kak.” Sahut Luna sambil tersenyum
“Siaaaapp... kapan-kapan kamu harus datang ke rumah dan bertemu mereka, oke..!!” Kata Lingga kembali mengacak rambut Luna dan membuat Edo mendengus kesal melihatnya.
Luna mengantar dokter Lingga sampai depan pintu dan Edo mengekorinya seakan takut Lingga akan membawa Luna pergi. Setelah dokter Lingga menghilang dari pandangan mereka, Luna memandang galak ke arah Edo dan hendak masuk ke dalam rumah. Tapi Edo menahan tangan Luna.
“Siapa lagi Alissa dan Dion..??” Tanya Edo penasaran. Dia benar-benar tidak mau kecolongan.
“Istri dan anak dokter Lingga. Kenapa..??!!” Jawab Luna ketus dengan tatapan galak.
“Oooh.. jadi dia sudah menikah.” Edo meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena menyadari kebodohannya.
Luna mendengus kesal dan meninggalkan Edo yang terlihat kelabakan.
“Siaaaaall..!! Ternyata dia sudah menikah. Tidak mungkin kan Aluna mau merusak rumah tangga mereka..?? Pantesan tadi Al langsung sewot waktu gue usir Lingga. Gawaaaatt..!! Jangan-jangan dia marah besar.” Rutuk Edo dalam hati sambil menggaruk kepalanya.
Setelah itu Luna mendiamkan Edo karena masih kesal melihat pemuda itu terang-terangan mengusir dokter Lingga. Beberapa kali Edo berusaha mendekat untuk mengajaknya bicara tapi Luna selalu berhasil menghindar. Saat Luna selesai berjualan dan berjalan pulang, dia masih mengabaikan Edo. Bahkan saat dia akan masuk ke rumahnya, Luna sama sekali tidak menoleh ke arah Edo. Edo yang tidak tahan melihat sikap Luna langsung membopong tubuh gadis itu dan membawanya masuk rumah.
“Edo.. apa yang kamu lakukan..?? Turunkan aku..!!” Seru Luna yang terkejut dengan tindakan Edo. tapi pemuda itu hanya diam.
“Edo..!! Lepaskan aku..!!” Seru Luna tidak terima.
“Ssssstt.. Diamlah atau kamu akan membangunkannya. Kamu harus bertanggung jawab kalau itu sampai terjadi.” Bisik Edo di telinga Luna.
Gadis itu langsung terdiam memahami maksud perkataan Edo. Pemuda itu tersenyum puas melihat Luna langsung menurut.
“Edo, lepaskan aku. Bagaimana kalau ada yang melihat..!!” Protes Luna.
“Biarkan saja. Paling kita disuruh langsung menikah.” Jawab Edo santai.
“Kamu bicara apa sich..?? Cepat lepaskan aku. Ini sudah malam dan kamu harus segera pulang.” Rengek Luna.
“Maafkan aku.” Bisik Edo.
“Tidak mau..!!” jawab Luna ketus.
“Aku salah mengira dia lelaki yang sedang mencoba mendekatimu. Terus terang aku cemburu.” Kata Edo lagi.
“Bukan urusanmu aku dekat dengan siapa..!!” Sahut Luna dengan cepat.
“Bukankah tadi sudah kubilang kalau aku pacarmu. Tentu saja itu menjadi urusanku.” Kata Edo dengan meletakkan dagunya di puncak kepala Luna.
“Aku tidak pernah mengatakan mau jadi pacarmu. Lagipula dulu kamu sendiri yang menyuruhku pergi.” Sungut Luna.
“Maafkan aku, Al. Untuk semuanya. Tapi sekarang pilihanmu hanya ada 2, sayang. Memaafkan aku dan menerimaku menjadi pacarmu atau aku akan terus memelukmu seperti ini semalaman. Jangan lupa, warga bisa datang kapan saja dan mempergoki kita.” Bisik Edo lalu menyusupkan hidungnya ke rambut Luna.
Edo menghirup aroma wangi rambut Luna yang dia sukai. Luna lama terdiam dan sesekali masih berusaha melepaskan diri dari pelukan Edo, tapi usahanya sia-sia.
“Baiklah aku memaafkanmu dan menerimamu menjadi pacarku.” Kata Luna pasrah.
Edo tertawa senang sambil mengeratkan pelukannya.
“Terima kasih, Al.” Kata Edo.
“Sekarang lepaskan aku..!! Aku ingin segera mandi dan beristirahat.” Rengek Luna karena Edo masih tidak melepaskannya.
“Nanti. Biarkan seperti ini dulu. Sebentar saja.” Kata Edo sambil mengusuk-usuk gemas rambut Luna dengan hidungnya. Luna hanya bisa menghela napas panjang.
“Omong-omong, kamu harus makan lebih banyak.” Kata Edo
“Kenapa..??” tanya Luna bingung.
“Kamu kurus sekali. Bahkan setiap kali melihatmu rasanya kamu semakin kurus. Tadi saat aku mengangkatmu rasanya seperti mengangkat guling. Nyaris tanpa beban.” Protes Edo yang diam-diam kawatir melihat tubuh Luna semakin kurus.
“Hmmmm.. Tapi aku makin jelek kalau gemuk.” Jawab Luna sekenanya.
“Biar.. Karena aku akan tetap mencintaimu.” Kata Edo.
Luna terkejut mendengar perkataan Edo. Dia hanya terdiam tidak tahu bagaimana harus bereaksi.
“Aluna Pratiwi Huda, Aku mencintaimu.” Bisik Edo di telinga Luna lalu kembali membenamkan wajahnya di rambut Luna.
Edo tidak peduli apakah Luna akan membalas perasaannya seperti dulu atau tidak. Dia sudah cukup senang bisa mengungkapkan perasaannya meski Luna tidak mengatakan apapun.
************************************************
Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.
Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^
Terima kasih..!!
Hug,
Cheerieza