(Family) Bound

(Family) Bound
Buronan



Setelah memastikan Justin baik-baik saja dan Fabian tidak akan membuat masalah, Shaka mengikuti perawat yang akan mengantarnya ke ruang tindakan. Suasana tegang sejak di rumah keluarga Wongsonegoro membuatnya melupakan rasa sakit di kepalanya. Shaka pun baru sadar dan kembali merasakan nyeri yang berasal dari lukanya setelah perawat tadi menegurnya.


Tapi sebelum itu, Shaka harus menelpon keluarganya. Dia tidak akan tenang kalau belum memastikan bahwa mereka baik-baik saja.


"Ini telponnya, pak." Kata perawat itu sambil menunjukkan pesawat telpon.


"Terima kasih." Kata Shaka.


"Setelah anda selesai tolong segera ke ruang tindakan yang berada disana." Sahut perawat itu sambil menunjukkan arah menuju ruang tindakan yang dimaksud.


"Baik, sus." Jawab Shaka.


Shaka tampak berpikir sejenak sebelum mengangkat gagang telpon. Dia mencoba mengingat nomor siapa yang dia hapal dan sekiranya bisa segera dihubungi. Dia juga tidak bisa bertanya pada Justin karena HP-nya tertinggal saat bergegas membawa Anindya kenrumah sakit. Shaka lalu menekan beberapa tombol di pesawat telpon.


"Halooo.. Selamat malam. Dengan rumah keluarga Rahardian." Sapa suara di seberang sana.


"Ed..??" Sahut Shaka. Hening sejenak.


"Daddy..?? Ini benar daddy..??!!" Seru Edo di seberang telpon untuk memastikan.


"Kak Edo..!! Itu papa..??!! Beneran papa..??!!"


"Papa..!! Papa dimana..??!! Nara kangen..!!"


"Kak, siniin telponnya..!! Aku mau bicara sama papa..!!"


Shaka tertawa kecil mendengar keributan diantara anak-anaknya yang ternyata begitu kawatir dan merindukan dia. Dari yang dia dengar, keenam anaknya tengah berebut telpon karena ingin berbicara dengannya. Shaka merasa lega karena itu artinya mereka baik-baik saja.


"Kalian diam semua..!! Aku mau bicara sama daddy dulu..!!" Perintah Edo tegas. Suasana yang tadinya ramai tiba-tiba berubah hening.


"Dad.. daddy masih disana..??" Tanya Edo.


"Ya, Ed. Bagaimana kabar kalian..?? Bagaimana mommy..??" Tanya Shaka.


"Kami semua baik, Dad. Pengamanan diperketat jadi kami baik-baik saja. Kondisi mommy juga baik dan stabil. Besok mommy akan mulai menjalani kemoterapi. Tapi bagaimana denganmu, Dad..?? Daddy dimana sekarang..?? Daddy baik-baik saja..?? Kenapa bisa menelpon..??" Cecar Edo. Shaka tersenyum mendengar Edo yang terus berbicara tanpa henti.


"Daddy baik-baik saja, Ed. Tolong hubungi oom Adam atau oom Adrian. Daddy ada di rumah sakit kusuma harapan." Jawab Shaka.


"Apa..??!! Rumah sakit..??!! Apa daddy terluka..?? Kenapa bisa ada di rumah sakit..??!!" Edo kembali memberondong Shaka dengan pertanyaan.


"Daddy baik-baik saja. Hanya luka kecil." Jawab Shaka sambil mengelus pelan lukanya yang kembali terasa nyeri.


"Walaupun luka kecil tetap saja namanya terluka, Dad..!! Aku akan ikut oom Adam kesana untuk jemput daddy..!!" Kata Edo.


"Tidak perlu. Kamu jaga saja adik-adikmu dirumah. Daddy akan pulang untuk melihat keadaan kalian, setelah itu ke Orchid untuk menemui mommy-mu." Kata Shaka. Di seberang telpon terdengar suara Edo menghela napas panjang.


"Baiklah. Daddy tunggulah disana." Sahut Edo.


"Terima kasih, Ed. jaga dirimu dan juga adik-adikmu." Pesan Shaka.


"Tentu, dad. Aku akan menjaga mereka." Jawab Edo sebelum Shaka menutup telpon.


Shaka berjalan ke arah yang ditunjukkan perawat tadi. Sesampainya di ruang tindakan ternyata seorang dokter dan perawat sudah menunggunya. Shaka duduk lalu dokter segera memeriksa luka Shaka dengan dibantu perawat.


"Dilihat dari bekas luka anda sepertinya ini bukan luka baru. Sejak kapan anda terluka, pak..??" Tanya dokter yang mengenakan name tag Farid.


"Dua hari lalu." Jawab Shaka sambil meringis.


"Kenapa anda baru datang sekarang..??" Tanya dokter itu lagi.


"Tadinya terlihat baik-baik saja. Lagipula saya baru sempat." Jawab Shaka berbohong karena tidak ingin ada masalah baru.


"Kalau anda begitu sibuk seharusnya anda menjaga diri agar tidak sampai terluka..!!" Tegur dokter Farid yang hanya dijawab cengiran oleh Shaka.


"Satu lagi. Kapan terakhir anda mandi..?? Anda yakin baik-baik saja..??" Tanya dokter Farid penuh selidik.


Dokter muda itu terus menatap penampilan lusuh Shaka dari atas ke bawah. Sedangkan Shaka yang mendapat pertanyaan langsung mengendus aroma tubuhnya sendiri. Dia baru ingat kalau sejak disekap dia sama sekali tidak mandi. Artinya sudah hampir tiga hari dia tidak mandi. Belum lagi kondisi sel tempat dia disekap cukup kotor dan lembab. Pantas saja dokter Farid mengeluh. Bau badannya seperti campuran cuka, tanah, dan air comberan menjadi satu. Rambutnya Kotor dan kusut. Belum lagi bakal kumis dan jambang yang mulai tumbuh diwajahnya. Penampilannya benar-benar berantakan.


"Setelah sampai rumah aku harus bercukur dan mandi berendam air sabun selama dua jam sebelum bertemu Kira. Kalau perlu berendam air kembang sekalian. Kalau tidak, bisa-bisa dia mengusirku lagi dari kamarnya." Keluh Shaka dalam hati.


Shaka teringat saat awal-awal kehamilan Kira dia sering diusir dari ranjang karena istrinya mengeluh tubuhnya bau.


"Saya tidak apa-apa, dok. Bagaimana dengan luka saya..??" Tanya Shaka berusaha mengalihkan pembicaraan tentang bau badannya.


"Anda bukan buronan yang sedang melarikan diri kan..??" Tanya dokter itu masih curiga. Mata Shaka terbelalak mendengar pertanyaan dokter Farid.


"Astagfirullah, dok. Memang tampang saya mirip buronan..??!! Tidak, dok. Beneran. Saya orang baik-baik yang kebetulan saja lagi apes. Kalau tidak percaya tunggu saja sampai keluarga saya datang untuk konfirmasi kebenarannya." Sungut Shaka.


Dokter Farid masih terlihat menyelidik lalu berdehem dan menghela napas panjang sebelum mulai berbicara.


"Saya lihat sepertinya ada sedikit retakan di kepala anda. Tapi untuk memastikan lebih baik di CT-Scan." Kata dokter Farid.


"Baik, dok." Kata Shaka sembari menerima surat rujukan dari dokter Farid untuk melakukan CT-Scan.


Shaka berjalan menuju ruang radiologi. Dia singgah sejenak untuk menanyakan tentang perkembangan kondisi Anindya. Shaka lega saat mendengar Anindya selamat dan sedang menunggu siuman. Pria paruh baya itu bahkan sudah dipindahkan ke kamar VVIP.


Setelah memastikan keadaan aman, Alex dan Leo berpamitan pada keluarga Wongsonegoro lalu memilih menemani Shaka untuk menangani luka di kepalanya. Shaka baru akan menyerahkan hasil CT-Scan saat melihat Adam, Rendra, dan Adrian berlari menuju ke arahnya.


"Shaka..!!" Panggil Adam dengan suara menggema memenuhi lorong rumah sakit yang begitu sunyi di malam hari.


"Kamu tidak apa-apa..?? Kata Edo kamu terluka. Dimana lukamu..??" Cecar Adrian sambil terus memutar tubuh adik bungsunya untuk memastikan apakah Shaka terluka.


"Aku tidak apa-apa, kak. Hanya luka di kepala dan aku sudah mendapatkan hasil CT-Scan. Ini mau ketemu dokter untuk konsultasi hasilnya." Kata Shaka sambil memperlihatkan amplop berwarna coklat yang berisi hasil CT-Scan kepalanya.


Adrian langsung merebut amplop itu dan melihat isinya. Dahinya berkerut sambil membolak-balik foto film yang memperlihatkan gambar kepala Shaka. Adam yang gemas melihat tingkah Adrian langsung merebut film itu dan mengembalikannya pada Shaka.


"Kalau ga tahu ga usah sok-sok an ngerti." Sungut Adam kesal.


Adam dan Adrian lalu menemani Shaka untuk konsultasi dengan dokter Farid. Sedangkan Rendra menunggu diluar bersama Alex dan Leo .


Dokter Farid membaca analisa hasil CT-Scan kepala Shaka lalu melihat bergantian pada Shaka, Adam, dan Adrian dengan tatapan aneh. Shaka langsung mengerti kalau dokter itu masih curiga kalau dia memang seorang buronan.


"Kak, tolong kalian sampaikan pada dokter Farid kalau aku orang baik-baik dan bukan buronan polisi." Kata Shaka sewot.


"Apa..??" Seru Adam dan Adrian bersamaan dengan wajah kebingungan.


Adam dan Adrian baru menyadari penampilan Shaka sekarang. Benar-benar berantakan. Dan apakah bau tidak sedap itu berasal dari tubuh Shaka..??" Seketika Adam dan Adrian menutup hidung mereka.


"Woooooiii..!! Gue ga mandi tiga hari, makanya bau..!! Sekarang cepat konfirmasi ke dokter kalau emang gue bukan buronan..!! Seru Shaka semakin kesal.


"Iya, dok. Dia memang adik bungsu saya, juga adik ipar dari pak Adam yang duduk di samping saya." Terang Adrian sambil menunjuk Adam. Dokter Farid tampak berpikir sejenak.


"Baiklah. Saya percaya dengan anda." Kata dokter Farid.


"Hasil CT-Scan memperlihatkan ada sedikit retakan. Memang tidak parah, tapi akan berbahaya kalau tidak segera ditangani. Setelah ini luka anda akan dibersihkan dan dibalut. Saya juga akan memberikan resep obat." Kata dokter Farid.


"Terima kasih, dok." Kata Shaka yang masih terlihat kesal.


Shaka semakin kesal saat melirik pada Adam dan Adrian, dia melihat keduanya tengah berjuang menahan tawa. Dia yakin pengalamannya yang tidak menyenangkan akan terus mereka bahas setiap kali mereka bertemu. Terutama kakak iparnya, Adam yang selalu senang melihatnya tersiksa.