(Family) Bound

(Family) Bound
Gara-gara Tawuran



Luna berjalan perlahan dengan membawa keranjang yang berisi dagangannya. Hari ini Edo tidak datang karena harus mengerjakan tugas kelompok, sehingga Luna merasa leluasa untuk berkeliling lebih lama dan lebih jauh dari biasanya. Sesekali Luna berhenti dan menyeka keringatnya. Meski waktu menunjukkan jam 14.30 tapi panas matahari masih sangat terik.


Setelah beristirahat sejenak Luna kembali melangkahkan kakinya menuju lapangan perumahan tempat dia biasa berjualan. Luna telah berjalan sejak siang tadi dan dagangannya masih tersisa setengah, dia berharap setelah sampai ke lapangan dagangannya akan semakin berkurang. Gadis itu terus berjalan, tidak lupa dia terus menawarkan dagangannya di sepanjang perjalanan. Saat dia hampir sampai gerbang perumahan, dilihatnya jalanan cukup macet dan ricuh. Rupanya terjadi tawuran antar pelajar SMA. Beberapa pengguna jalan tampak mengumpat dan memaki para remaja yang seenaknya membuat macet jalanan. Luna berhenti sejenak dan menggelengkan kepala melihat tingkah anak-anak yang tidak ada manfaatnya itu, kemudian berlalu meninggalkan jalanan yang masih saja ricuh.


Luna masih sibuk berjalan dan menawarkan dagangannya saat mendengar derap langkah yang mendekat ke arahnya dengan begitu cepat. Saat dia menengok ke belakang tampak dua remaja pria berlari tanpa melihat ke depan hingga menabraknya sampai terjatuh.


“Aaaaah..!!” Teriak Luna yang terjengkang ke tanah.


Perlahan Luna duduk dan mengecek dagangannya dengan panik. Beruntung keranjang itu tidak terbuka saat terjatuh. Dua remaja yang tadi menabraknya tampak berhenti sejenak untuk membantunya berdiri.


“Maaf, kak. Tadi ga sengaja nabrak.” Kata salah satu remaja itu sambil membantunya berdiri, sementara remaja satunya membantu membenahi dagangannya.


Tiba-tiba terdengar teriakan dari kejauhan, dua petugas berseragam polisi tampak berlari ke arah mereka.


“Waduh..!! Gawat, Dit..!! Kalo ketangkep abis nich kita..??” Kata remaja yang masih memegang keranjangnya.


“Sembunyi..!! Cepetan..!!” Perintah anak yang membantu Luna sambil berlari dengan masih menggenggam tangan Luna, sedangkan remaja satunya membawa keranjang dagangan Luna.


“Eeeeeh..!! Kalian mau ngapain..??!! Lepaaasss..!!” Seru Luna pada dua remaja itu, tapi tidak digubris. Sepertinya mereka terlalu panik sampai tidak sadar telah membawa Luna bersama mereka.


Kedua remaja itu terus menyeret Luna menjauh dari kejaran polisi lalu bersembunyi di salah satu rumah kosong yang tampak belum selesai dibangun. Luna yang tidak mengerti ada masalah apa dengan dua bocah itu hanya bisa ikut diam dan bersembunyi meski dengan perasaan was-was. Dari kejauhan dia melihat petugas yang tadi mengejar mereka tampak kebingungan mencari keberadaan dua remaja yang tengah bersembunyi bersamanya. Perlahan Luna mengerti kalau kedua anak itu pasti ikut terlibat tawuran tadi sehingga dikejar oleh petugas yang datang untuk membubarkan kericuhan tanpa faedah itu. Saat petugas itu pergi dan menghilang dari pandangan mereka, tampak dua anak itu menghela napas lega. Luna mengangkat kedua alisnya melihat kedua anak itu yang tampak tidak merasa bersalah karena sudah membuat kekacauan.


“Aduuuuuuhh.. Aduuuuuuhh..!! Sakiiiiitt..!!” Teriak dua anak bersamaan saat Luna menarik telinga mereka.


“Jadi kalian ikut tawuran tadi..??!!” Seru Luna galak.


“I... iiyaaa... kaaaakk... ampuuunn.. ampuuuunn.. lepaaaass..!!” Seru salah satu anak.


Luna melepas tarikan di telinga mereka dan kedua anak itu tampak meringis sambil mengelus telinga mereka yang baru saja dijewer oleh Luna. Gadis itu terkesiap karena baru menyadari ternyata dua remaja itu kembar dan benar-benar terlihat mirip satu sama lain. Hanya model rambut mereka yang tampak membedakan. Satu anak memiliki model rambut yang lebih kekinian dan agak panjang, sedang satunya dipotong cepak dan rapi. Luna memperhatikan mereka bergantian, dilihat dari rambut yang berwarna coklat gelap dan kulit putih mereka yang tidak terlihat pucat dia cukup yakin kalau kedua anak itu blasteran.


“Kalian ini, ngapain ikut-ikut tawuran yang ga ada gunanya kayak tadi..??!! Apa tidak kasian sama orangtua yang kerja keras banting tulang untuk kalian..??!!” Seru Luna sambil mencubit lengan mereka bergantian.


“Aduuuuuuhh.. Aduuuuuuhh..!! Apaan sich, kak..??!!” Sahut anak berambut cepak.


“Lagian juga namanya anak cowok. Ya wajarlah ikut tawuran biar jadi jagoan.” Sahut anak berambut agak panjang bersungut-sungut.


“Apanya yang jagoan..??!! Yang ada kalian terlihat bodoh dan bahkan bisa mati konyol..!! Apa kalian pikir punya nyawa cadangan sampai ikut tawuran ga guna macam tadi haaah..!!” Semprot Luna tanpa ampun.


“Bawel amat sich..?? Kirain cuma mama doank yang bawel.” Anak berambut agak panjang kembali bersungut-sungut.


“Apa kamu bilang..??!!” Seru Luna kembali menarik kuping anak itu sampai merah.


“Aaaaaaah..!! astaga.. lama-lama kupingku bisa putus ditarik terus..!! Lagian itu tangan apa capit kepiting sich..??” Anak berambut agak panjang terus bersungut-sungut sembari mengelus telinganya yang memerah.


“Mau rasain lagi ini capit kepiting..??” Luna mengambil ancang-ancang untuk mencubit anak itu.


“Ga mau. Ampun..!!” Sahut anak itu sambil menghindar.


“Lagian kalian itu sudah bikin susah hidup banyak orang tau ga..?? Trus tadi kalian nabrak aku, untung saja daganganku ga rusak..!!” Kali ini Luna melayangkan protes.


“Maaf, kak. Tadi kita ga sengaja nabrak.” Kata anak berambut cepak.


“Ga cukup kalau cuma minta maaf. Kalian harus bantuin aku jualan..!! Gara-gara kalian aku jadi terjebak disini.” Kata Luna dengan tatapan tajam.


“Haaaaaahh..!! Jualan..??!!” Seru kedua anak itu bersamaan.


“Kenapa..?? Tidak mau..?? Baiklah, besok aku akan ke sekolah untuk mengadukan kelakuan kalian, biar sekalian mereka memanggil orangtua kalian.” Ancam Luna.


Luna tahu dimana kedua anak itu bersekolah dari badge lokasi yang terpasang di seragam mereka. Kedua anak itu mendadak pucat mendengar ancaman Luna.


“Okeee.. okeee.. kita bantuin lo jualan.” Sahut anak berambut agak panjang cepat meski dengan sewot.


“Panggil kakak. Jangan pake lo gue kalo omong sama orang yang lebih tua..!!” Luna kembali mencubit lengan anak itu.


“Iyaaa.. iyaaa... kaaaak..!!” Jerit anak itu minta ampun.


“Baguslah.” Kata Luna dengan senyum liciknya.


“Ngomong-ngomong siapa nama kalian..??” Tanya Luna.


“Aku Adit.” Kata anak yang berambut agak panjang.


“Aku Radit, dan aku yang lebih tua dari Adit.” Kata anak berambut cepak.


“Aku Luna. Lagian, sekolah kalian begitu jauh. Bagaimana ceritanya bisa tawuran disini..??” Tanya Luna penasaran.


“Udah sepakat sama pihak lawan. Kita sengaja cari lokasi tawuran yang jauh dari dua sekolah biar ga ketahuan guru.” Sahut Radit.


“Bisa-bisanya kalian berpikir sampai kesana..??” Gumam Luna dengan menggelengkan kepalanya pelan.


“Itu namanya taktik.” Sahut Adit sok. Luna memutar matanya jengah mendengar Adit.


“Sekarang kalian bawa dua keranjang itu, kita jalan sekarang.” Perintah Luna.


“Trus kakak..??” Tanya Adit. Luna berhenti dan menatap tajam ke arah Radit dan Adit.


“Okeee.. No comment.” Kata Adit cepat.


Selama perjalanan baik Radit maupun Adit terus cemberut. Karena harus membawa keranjang dagangan Luna yang lumayan berat sementara gadis itu melenggang dengan santainya di depan mereka tanpa membawa apapun. Luna tampak terus berteriak menawarkan dagangannya di lingkungan perumahan itu.


“Jajannya, kak. Ada gorengan dan aneka kue..!!” Teriak Luna berulang-ulang.


“Kalian gantiin aku tawarin dagangan. Aku capek.” Kata Luna pada Dit-dit.


“Kak Luna, kita kan udah bawa keranjangnya.” Protes Adit. Sejak tadi pemuda inilah yang lebih sering melayangkan protes.


“Dan setiap hari aku harus membawa dua keranjang itu sambil terus teriak menawarkan dagangan. Kalian belum ada sehari saja sudah ngeluh.” Sungut Luna.


Dit-dit yang mendengar itu hanya bisa mendengus kesal lalu mulai bergantian berteriak menawarkan dagangan Luna. Mereka berhenti beberapa kali saat ada warga perumahan yang membeli kue. Sesampainya di lapangan, mereka kembali berkeliling dengan menawarkan kue. Beberapa gadis remaja yang juga ada di sana terlihat tertarik karena melihat Dit-dit yang tampan meski masih memakai seragam putih abu-abu yang terlihat lusuh karena tawuran tadi. Adit yang justru menuruni sifat playboy Rendra tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia mulai tebar pesona dan merayu setiap gadis yang menarik minatnya. Sedangkan Radit seperti biasa, dia terlihat cuek dan dingin tanpa menanggapi gadis-gadis yang mencoba berkenalan dengannya.


Dit-dit tampak duduk kelelahan setelah membantu Luna berjualan. Meski tidak habis, tapi dagangan Luna hanya tersisa sedikit dan mereka sangat bersyukur karena setidaknya itu meringankan rasa bersalah mereka.


“Minum ini.” Kata Luna sambil menyodorkan botol minuman pada Dit-dit yang tampak kelelahan. Dengan cepat dua remaja itu menyambar botol dan meneguk habis minuman mereka.


“Kalau kalian lapar, makan saja sisa kue nya.” Tawar Luna.


“Eeeh.. tapi kan ini daganganmu, kak.” Tanya Radit.


“Ga, kak. Makan sini aja. Keburu laper.” Sahut Adit cepat.


Dit-dit pun buru-buru mengambil sisa kue dalam keranjang Luna dan memakannya dengan lahap.


“Eeeeh.. ini..” Kata Adit lalu tampak saling memandang dengan Radit.


“Kenapa..??” Tanya Luna heran.


“Gapapa, kak.” Sahut Adit cepat.


“Kenapa rasanya mirip dengan kue yang selalu dibawa kak Edo ya..??” Gumam Adit dalam hati.


“Ini upah kalian untuk pekerjaan hari ini.” Kata Luna sembari menyodorkan beberapa lembar uang ribuan.


“Apa..?? Ga usah, kak. Bukannya kita tadi lagi dihukum..??” Tanya Radit.


“Apa tadi aku bilang kalau ini hukuman buat kalian..??” Tanya Luna dengan tersenyum hangat. Dit-dit terdiam sejenak dan tampak mengingat-ingat, lalu menggelengkan kepala.


“Aku meminta kalian membantuku berjualan biar tahu bagaimana susah dan repotnya bekerja demi sesuap nasi. Biar selalu ingat bagaimana orangtua bekerja keras demi hidup kalian. Jadi kalian ga akan gegabah kalau mau ikutan kegiatan ga bermanfaat macam tawuran tadi. Sekarang aku ga mau tahu. Kalian terima ini. Uang ini adalah hasil jerih payah dan kerja keras kalian hari ini.” Kata Luna kembali menyodorkan lembaran uang kepada Dit-dit. Meski awalnya tampak ragu, tapi akhirnya Dit-dit menerima uang yang diberikan Luna.


“Sekarang kalian segera pulang. Jangan sampai membuat orangtua kalian kawatir.” Kata Luna lagi.


“Baik, kak.” Sahut Radit.


“Kalian pulang naik apa..??” Tanya Luna.


“Naik bis, kak.” Jawab Adit.


“Kalau begitu kalian ikut aku, nanti aku tunjukkan halte bis terdekat.” Kata Luna.


Luna berjalan beriringan bersama Dit-dit menuju gerbang perumahan. Sepanjang perjalanan mereka bertiga terus berbincang dan melempar candaan. Sesekali Luna kembali menunjukkan taringnya saat Adit bertingkah konyol atau mengajaknya berdebat. Luna dapat melihat sifat Radit dan Adit yang berbeda 180 derajat. Meski mereka memang terlihat sangat kompak tapi Adit adalah anak yang ceria, banyak bicara, konyol, pemberontak, dan berjiwa bebas. Beda dengan Radit yang terlihat lebih tenang, sabar, cuek, bahkan terkesan dingin, dia juga terlihat bukan tipe orang yang buru-buru dalam mengambil keputusan.


“Kalian tunggulah disini. Sebentar lagi bis akan datang.” Kata Luna setelah mereka sampai di halte.


“Kakak gimana..??” Tanya Adit.


“Aku akan pulang. Hanya perlu berjalan kaki sekitar 30 menit dari sini.” Jawab Luna dengan mengulas senyum manis.


“Jauh sekali, kak.” Kata Radit terkejut.


“Kalau tidak berjalan jauh aku tidak bisa menjual daganganku sampai habis, Dit.” Jawab Luna dengan terkekeh pelan.


“Ya sudah, kalian hati-hati ya. Aku pulang dulu. Terima kasih sudah membantuku berjualan hari ini.” Kata Luna tulus.


“Ga mau kita anter dulu, kak..?? Sebentar lagi maghrib.” Tanya Adit terlihat kawatir.


“Ga usah. Nanti kalian semakin telat pulangnya. Tapi terima kasih tawarannya.” Jawab Luna.


“Hati-hati, kak Luna.” Kata Radit.


Luna mulai berjalan menjauh meninggalkan Dit-dit di halte bis. Kedua remaja itu terus menatap Luna hingga gadis itu hilang dari pandangan mereka. Tak lama bis yang mereka tunggu pun datang. Tidak seperti biasanya, selama perjalanan Dit-dit hanya diam dan tampak sibuk dengan pikiran masing-masing.


Diam-diam Dit-dit merenungkan perkataan Luna. Meski berasal dari keluarga terpandang, selama ini orangtua mereka tidak pernah memberikan fasilitas berlebih, tapi tetap saja hidup mereka selalu berkecukupan tanpa kekurangan suatu apapun. Tiba-tiba pikiran mereka melayang pada Shaka yang selalu bekerja seharian demi memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Meski bukan ayah kandung, Shaka begitu menyayangi mereka. Dia tidak pernah mengeluh dan selalu tampak ceria dihadapan keluarganya, tapi mereka yakin pasti Shaka merasa lelah setiap kali pulang kerja. Karena itu ibu mereka selalu menyambut kepulangan Shaka dengan senyuman dan terus melayani ayah mereka sebaik mungkin untuk meredakan penatnya. Dan Kira, ibu mereka. Walaupun ibu rumah tangga, tidak bisa dipungkiri keluarga mereka akan benar-benar kacau kalau Kira tidak sigap dalam mengurus keluarga mereka. Mengurus suami dan 6 orang anak pastinya juga bukan perkara mudah, pastinya sangat melelahkan. Apalagi Kira selalu mengurus keperluan keluarganya sendiri. Ibu mereka bahkan tidak mengijinkan bi Lastri untuk membersihkan kamar mereka. Kebersihan dan kerapian kamar adalah tanggung jawab masing-masing penghuni. Bi Lastri dan Pak Tarno hanya membantu saat Kira memasak, membersihkan rumah, atau berkebun, ibu mereka hanya menyerahkan pekerjaan sepenuhnya pada bi Lastri bila berkaitan dengan cucian dan setrikaan. Meski begitu mereka tidak pernah mendengar ibu mereka mengeluh. Sedangkan mereka, baru tiga jam membantu Luna berjualan sudah mengeluh capek. Apa kabar orangtua mereka yang bekerja seharian..??


“Radit..!! Adit..!! Kalian kemana saja..??!! Kenapa jam segini baru pulang..??!! Kenapa juga tidak membalas pesan dan telpon mama..!!” Teriak Kira begitu kedua anaknya terlihat memasuki gerbang rumah.


Sejak tadi Kira mondar-mandir di depan pintu rumah menunggu kedua anaknya pulang dengan perasaan cemas. Sedangkan Shaka yang mendengar Dit-dit belum pulang langsung mencari kedua anaknya ke sekolah setelah pulang kerja.


“Maaf, ma. Tadi ada urusan bentar bantuin temen. Keasikan sampe lupa kasi kabar ke mama.” Kata Radit sambil nyengir.


“Kalian ini bikin takut mama sama papa tahu ga..??!!” Seru Kira kesal, tapi tak lama kemudian memeluk kedua anaknya erat sambil terisak.


“Ma, maafin Dit-dit. Mama jangan nangis lagi.” Kata Adit panik melihat Kira menangis.


“Sekarang kalian mandi terus sholat, habis itu makan malam. Mama telpon papa biar cepat pulang.” Kata Kira sambil mengangkat tangannya untuk bergantian mengelus kepala Dit-dit. Meski usia mereka masih 16 tahun tapi tubuh Kira tampak tenggelam diantara kedua anaknya yang menjulang tinggi.


Tak lama Shaka pulang. Wajahnya penuh kelegaan mendapati kedua putranya sudah sampai di rumah dengan selamat. Tanpa mengatakan apapun Shaka bergegas membersihkan diri lalu makan malam bersama keluarganya setelah menunaikan sholat Isya’.


Setelah makan malam Shaka asik menonton pertandingan basket di TV. Dia tampak duduk santai di sofa panjang dengan satu tangan menumpu di salah satu sandaran. Shaka tampak terkejut ketika tiba-tiba Radit menghampiri lalu duduk di sofa tunggal yang ada di dekatnya. Remaja itu tersenyum penuh arti lalu meraih kaki Shaka dan memijatnya pelan, sementara Adit memijat kedua pundaknya.


“Capek ya, pa..?? Biar Dit-dit pijitin dulu sini.” Kata Adit sambil menekan pundak Shaka.


“Eeeeeh.. ada apa ini..?? Tumben kalian pijitin papa..??” Tanya Shaka penuh selidik.


“Gapapa, pa..?? Papa kan pasti capek abis kerja seharian. Apalagi tadi keliling cariin kita.” Sahut Radit sambil tersenyum hangat.


“Kalian pijitin papa biar bebas hukuman..??” Tuduh Shaka curiga.


“Papa iiiiihh.. anaknya beneran sayang kok dituduh yang bukan-bukan sich.” Protes Adit cemberut.


“Habisnya, kalian ga biasanya gini. Kemarin-kemarin kemana aja..??” Gelak Shaka melihat tingkah Dit-dit yang berubah ajaib.


“Iya dech.. maafin ya, pa. Abis ini pasti Dit-dit sering pijitin papa kalo capek.” Rayu Adit.


“Tapi jangan harap uang jajan langsung naik yaaa..” Goda Shaka lagi. Dia tampak memejamkan mata menikmati pijatan kedua putranya.


“Iiiish.. Suudzon mulu sama anak.” Sungut Adit.


“Udah ga usah protes. Lanjutin aja mijitnya.” Kata Shaka.


“Siap, boss..!!” Seru Dit-dit bersamaan.


********************************************


Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.


Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^


Terima kasih..!!


Hug,


Cheerieza