
Shaka menatap Kira yang tengah memegang sebotol susu untuk Dara. Karena kondisi kesehatan dan juga obat-obatan yang dikonsumsinya Kira memang tidak disarankan untuk menyusui kedua bayinya. Shaka sendiri saat ini tengah menggendong Bara yang tertidur pulas.
"Hei.. sayang, pelan-pelan minumnya. Tenanglah. Tidak akan ada yang meminta susumu." Kira terkekeh melihat Dara yang minum dengan rakus dan tampak tergesa.
"Dara kenapa..??" Tanya Shaka sambil berjalan mendekati ranjang Kira.
"Lihatlah cara dia minum, Bie. Dia minum dengan rakus seolah takut akan ada yang mengambil susunya." Jawab Kira sambil tertawa geli.
"Hei, cantik.. papa masih bisa membeli banyak susu untuk kalian. Jadi tenang saja minumnya. Tidak usah takut kehabisan." Kata Shaka sombong.
"Iiiiiish.. apaan sich, Bie..??" Sungut Kira.
Terdengar suara ketukan pintu. Ternyata Kate dan Simon datang untuk menjenguk Kira dan kedua anaknya. Kira tersenyum melihat perut Kate yang terlihat buncit di usia kehamilan 25 minggu. Pasangan pengantin yang bisa dibilang masih baru itu terlihat bahagia.
Dua bulan sebelumnya Kate dan Simon menikah. Meski sempat diwarnai drama karena Arian yang masih belum bisa menerima pernikahan itu. Laki-laki itu bahkan sempat menghadang mobil yang membawa Kate menuju tempat pemberkatan pernikahan. Beruntung keluarga Janssen sudah mengantisipasi kemungkinan itu hingga mereka dapat mengagalkan aksi Arian.
Pernikahan itu sendiri tetap berjalan dengan lancar. Arian pada akhirnya menyerah dan memilih berdamai dengan keluarganya. Dia hanya berharap agar kelak tetap boleh menemui anaknya meski tidak diakui sebagai ayah dari darah dagingnya sendiri.
"Kak Kira, bagaimana kabarmu dan si kembar..??" Tanya Kate sambil menggenggam tangan kurus Kira.
"Alhamdulillah kami baik, Kate. Bagaimana denganmu..?? Apa kamu sudah tahu jenis kelamin bayimu..??" Kira balik bertanya.
"Bayi kami perempuan, kak." Jawab Kate dengan wajah berbinar saat berbicara tentang bayinya.
"Apa Kate mengalami ngidam..??" Tanya Shaka pada Simon yang dijawab tawa pelan oleh laki-laki itu.
"Selama hamil Kate ingin memelihara ikan gurame hidup dan tidak boleh dimakan. Asal kalian tahu saja. Sekarang di rumah kami ada kolam ikan besar yang penuh dengan ikan gurame." Jawab Simon yang seketika membuat Kate cemberut.
"Tapi ikan-ikan itu terlihat lucu, honey." Kata Kate dengan bibir maju 5 senti.
"Iyaaa.. lucu.. gemesin.. kayak kamu kalo lagi ngambek." Goda Simon dan membuat istrinya semakin merajuk.
"Tapi itu masih belum seberapa. Pernah suatu malam Kate minta dibelikan Nanas Bogor yang dibeli langsung dari Bogor. Bisa kalian bayangkan tengah malam aku dan kak Herman harus ke Bogor untuk membeli nanas tapi sesampainya di rumah dia malah menangis karena katanya aku tega meninggalkan dia sendirian tengah malam." Kata Simon tanpa terlihat kesal.
Tampaknya Simon sangat menikmati perannya sebagai seorang suami dan calon ayah. Shaka dan Kira tertawa mendengar curahan hati Simon.
"Siapa nama mereka..??" Tanya Kate mengalihkan pembicaraan.
"Gadis cantik ini Adara Alethea Rahardian, dia dipanggil Dara. Dan pria tampan yang sedang digendong papanya Aldhebaran Althaf Rahardian, dipanggilnya Bara." Jawab Kira.
"Kenapa Bara..?? Bukannya lebih baik AL..??" Tanya Kate keheranan.
"Aku tidak mau anakku disamakan dengan tokoh sinetron yang sedang viral itu. Lagipula kan sesuai buat mereka. Dara dan Bara. Seperti kakak mereka, Radit dan Adit." Jawab Kira. Shaka hanya terkekeh mendengar celotehan istrinya.
"Lalu bagaimana kondisi kesehatan kak Kira sekarang..??" Tanya Kate dengan wajah cemas karena dilihatnya wajah Kira yang selalu terlihat pucat dan terasa dingin.
"Kondisiku memang sempat drop hingga akhirnya anak-anak harus lahir lebih cepat. Tapi sekarang kondisiku sudah kembali stabil. Yudha dan tim dokter yang menangani aku sedang mengatur jadwal untuk kemoterapi juga cangkok sumsum tulang belakang." Jawab Kira terlihat begitu optimis.
"Aku yakin kak Kira akan baik-baik saja dan segera sembuh. Kak Kira adalah wanita yang kuat dan tangguh." Kata Kate memberi semangat.
"Terima kasih, Kate." Sahut Kira.
Shaka yang duduk di samping Kira mencium kening istrinya.
"Kamu pasti bisa, sayang. Aku mencintaimu." Kata Shaka sambil mencium pipi Kira.
Bara yang merasa terusik terlihat menggeliat dan perlahan membuka matanya. Bayi mungil itu tampak mengerutkan dahinya seolah mencoba mengenali siapa saja orang yang berada di ruangan itu.
"Lucu sekali. Boleh aku menggendongnya..??" Pinta Kate.
"Tentu." Jawab Shaka lalu memberikan Bara pada Kate.
Kate terlihat begitu antusias saat menggendong Bara. Dia membayangkan bagaimana rasanya nanti saat menggendong bayinya sendiri. Kate sudah tidak sabar menunggu anaknya lahir.
"Hai, tampan. Tunggu dulu. Kenapa Bara justru mirip dengan oom Darius, kak..??" Tanya Kate keheranan.
Shaka mendengus kesal. Kate adalah orang kesekian yang mengatakan kalau Bara sangat mirip Darius alih-alih dirinya. Bahkan Dara memiliki garis wajah seperti Darius meski mata dan bibirnya mirip Kira. Hanya hidung Shaka yang tercetak jelas di wajah Dara. Kira hanya terkikik melihat wajah kesal suaminya.
Tiba-tiba HP Shaka berbunyi. Kedua alis Shaka bertaut saat melihat nomor asing menghubunginya. Shaka lebih memilih untuk menolak panggilan itu. Tak berapa sama nomor yang sama kembali menghubunginya.
"Angkat saja, Bie. Siapa tahu penting." Kata Kira.
"Aku akan keluar sebentar untuk mengangkat panggilan ini. Kalian lanjutkan saja ngobrolnya." Pamit Shaka.
Shaka keluar dari kamar president suite tempat Kira dirawat. Dia mengangkat telpon itu sambil berjalan ke arah ruang tunggu yang ada di lantai itu.
"Halo.. Selamat siang." Sapa Shaka.
"Pergilah ke bagian belakang cafe yang ada di seberang rumah sakit." Perintah suara di seberang telpon. Suara bariton seorang laki-laki yang terdengar begitu dingin.
"Lakukan saja perintahku kalau kamu ingin teman-temanmu selamat." Perintah suara itu lagi.
"Bre**sek..!! Jangan main-main denganku..!!" Umpat Shaka.
"Aku sudah terlalu lama bermain denganmu, Shaka. Apa kamu tidak ingin tahu siapa orang yang terus mengirim teror padamu..??" Tanya orang itu.
"Jadi kamu orangnya..??!! Jangan jadi pengecut. Datang hadapi aku sekarang juga kalau memang kamu punya masalah denganku..!!" Seru Shaka.
"Ada pesan yang baru masuk. Bacalah..!!" Perintah orang itu lagi.
Shaka bergegas membuka pesan yang masuk tanpa menutup telponnya. Matanya terbelalak saat melihat foto Alex dan Leo yang tidak sadarkan diri dengan tangan dan kaki terikat. Kedua sahabatnya itu tampak terluka di beberapa bagian tubuh mereka.
"Lepaskan teman-temanku..!!" Geram Shaka.
"Datanglah ke bagian belakang cafe yang ada di seberang rumah sakit sekarang juga." Sahut laki-laki itu.
Shaka bergegas menuju lift yang membawanya turun ke lantai dasar. Dia berlari keluar dari kompleks rumah sakit lalu menyeberang menuju cafe yang dimaksud. Shaka berdiri di depan cafe itu dan tampak melihat sekitar. Dilihatnya ada sebuah lorong tepat di samping cafe itu. Dia melewati lorong itu untuk mencapai bagian belakang bangunan tempat cafe yang ternyata sebuah lahan parkir. Sesampainya disana dia tidak melihat siapapun, tempat itu begitu sepi. Hanya ada jajaran mobil dan 3 petugas parkir yang di kejauhan tampak tengah sibuk berbincang.
"Shaka." Terdengar suara seseorang memanggil. Shaka segera menoleh ke asal suara.
BUUUUG..!!
Tiba-tiba orang itu menghantam keras kepala Shaka. Shaka yang tidak siap langsung jatuh tersungkur tidak sadarkan diri. Kepalanya terluka dan berdarah. Tampak beberapa orang yang ternyata juga ada disana. Mereka bergegas memasukkan tubuh Shaka ke dalam mobil yang mereka siapkan.
*****
Kira begitu gelisah. Sudah hampir 1 jam Shaka keluar dari ruangannya untuk mengangkat telpon. Biasanya saat menerima telpon mengenai pekerjaan Shaka memang bisa menghabiskan waktu bahkan sampai berjam-jam. Tapi entah kenapa perasaannya tidak enak. Dia merasa ada yang tidak beres.
"Simon, bisa kamu membantuku..?? Tolong panggilkan Shaka." Pinta Kira.
"Baiklah. Aku akan keluar mencarinya. Kalian tunggulah disini." Sahut Simon.
"Hati-hati, honey." Kata Kate.
"Sayang, aku hanya keluar dari ruangan ini untuk mencari Shaka." Sahut Simon sambil memutar matanya.
"Tetap saja. Hati-hati..!!" Kata Kate lagi.
"Iyaaa.. iyaaa.." Sahut Simon sambil mencium pipi Kate lalu keluar dari kamar Kira.
Simon mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Shaka, tapi dia tidak melihat laki-laki itu dimanapun. Dia berjalan mengelilingi lantai itu untuk mencari Shaka, tapi tetap tidak menemukannya. Simon mencoba bertanya pada seorang petugas cleaning service. Tidak begitu sulit baginya karena ternyata orang itu mengenali Shaka sebagai suami Kira, anak dari pemilik rumah sakit sekaligus kakak dari direktur utama Orchid Hospital.
Simon mengikuti petunjuk petugas cleaning service tadi yang mengatakan Shaka tampak memasuki lift dengan terburu-buru. Dia juga mengatakan bahwa Shaka sempat berdebat dengan orang yang berbicara dengannya di telpon. Perasaan Simon was-was mendengar penuturan orang itu.
Sesampainya di lantai satu Simon kembali bertanya pada petugas keamanan yang ternyata melihat Shaka keluar dari rumah sakit dan tampak menyeberang jalan. Simon kembali mengikuti jejak Shaka sesuai petunjuk dari petugas keamanan.
Simon berdiri di depan sebuah cafe. Sejenak dia tampak ragu lalu memutuskan untuk memasuki cafe tersebut. Dia mengedarkan pandangannya untuk menemukan Shaka, tapi laki-laki itu juga tidak ada disana.
Simon mengambil HP disakunya dan menelpon Shaka. Dia mendengar suara ringtone Shaka dari salah satu meja pengunjung, tapi mengabaikannya karena bisa saja orang itu juga menggunakan ringtone yang sama. Simon mengakhiri panggilan itu karena tidak kunjung diangkat. Dia curiga karena di saat yang sama HP yang tadi berbunyi juga berhenti mengeluarkan suara. Simon mencoba menelpon kembali dan lagi-lagi mendengar suara ringtone HP Shaka dari arah yang sama.
Simon mengikuti asal suara. Dilihatnya serombongan remaja berseragam putih abu-abu tengah asik berbincang. Dia menatap salah seorang remaja laki-laki yang tampak pucat dan gelisah. Simon bergegas menghampiri saat dilihatnya pemuda itu berdiri dan beranjak pergi meninggalkan teman-temannya.
"HEI..!! KAMU..!!" Seru Simon memanggil pemuda itu.
Orang yang dimaksud terlihat semakin gugup dan mulai berlari. Simon memutari ruangan itu untuk menghadangnya. Dia langsung menarik lengan pemuda itu hingga jatuh tersungkur. Simon menarik keras kerah bajunya hingga pemuda itu berdiri dari jatuhnya.
"Dimana Shaka..??" Tanya Simon.
"Sa.. saya tidak mengenal Shaka, oom." Jawab remaja itu ketakutan.
"Jangan bohong kamu..??" Kata Simon sambil menggeledah pemuda itu. Dia menemukan HP Shaka ada di salah satu saku celananya.
"Apa ini..?? HP siapa yang kamu bawa..?? JAWAB..!!" Bentak Simon membuat pemuda itu semakin ketakutan.
Simon tidak peduli meski mereka telah menjadi pusat perhatian di cafe itu. Bahkan teman-teman pemuda itu dan 2 pegawai cafe tampak mulai mendekati mereka.
"Saya.. ti.. tidak tahu, oom." Jawab pemuda itu semakin ketakutan.
"Sekarang katakan dimana pemilik HP ini..??!!" Seru Simon.
"Saya tidak tahu, oom. Saya nemu HP ini tadi di tempat parkir. HP ini tergeletak di sana dan tidak ada siapa-siapa di tempat parkir." Jawab pemuda itu dengan suara bergetar.
Simon melepaskan pemuda itu lalu berlari ke arah tempat parkir, dia tetap tidak menemukan Shaka. Dia memandang HP Shaka ditangannya dan baru menyadari ada retakan di HP mahal itu seolah jatuh dengan keras.
"Sial..!! Dimana dia..??!!" Umpat Simon saat menyadari sesuatu yang buruk terjadi pada Shaka.