(Family) Bound

(Family) Bound
Permintaan Maaf



Kate memandang gerbang rumah Shaka dengan gugup. Gerbang rumah yang tampak sederhana, tapi entah kenapa baginya terlihat begitu mengintimidasi. Apalagi tampak beberapa pengawal yang ditempatkan Adam dan Darius untuk menjaga rumah itu. Hari ini dia datang bersama Simon untuk berbicara dengan Shaka dan Kira. Sejak mendengar kesehatan Kira sempat drop karena ulahnya, Kate terus dirundung rasa bersalah. Belum lagi amarah yang dia terima dari keluarganya karena telah menyebabkan perusahaan mereka berada diujung tanduk karena insiden dengan Shaka. Ditambah serangan dari ketiga keluarga yang jelas sangat berpengaruh. Membuat keadaan keluarganya semakin sulit dan terpojok.


Kate semakin gugup saat gerbang rumah itu terbuka dan dia masuk ke halaman rumah. Simon menggenggam erat tangan Kate yang dingin karena takut dan gugup. Saat mendengar beberapa hari lalu kesehatan Kira kembali menurun, Kate semakin membulatkan tekatnya untuk melihat keadaan Kira.


"Jangan takut. Kamu tidak sendirian. Aku akan selalu ada disini bersamamu." Kata Simon.


"Apakah mereka akan mau menerimaku..?? Bagaimana kalau mereka justru marah melihat kedatanganku..??" Tanya Kate kawatir.


"Aku akan melindungimu." Jawab Simon dengan senyumnya yang menenangkan.


"Berjanjilah kamu tidak akan meninggalkanku." Pinta Kate.


"Aku janji." Sahut Simon.


Kate menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu berjalan ke arah pintu masuk rumah Shaka. Simon berjalan di samping Kate tanpa melepas genggaman tangannya.


Rupanya hari itu Adam dan Yudhi datang bersama keluarga mereka hingga rumah Shaka tampak lebih ramai dari biasanya. Belum lagi Hans yang setiap hari datang untuk bertemu Edo. Suasana rumah Shaka di hari minggu itu benar-benar riuh. Saat mendengar kedatangan Kate dari pengawal yang berjaga, mereka meminta para istri dan pelayan untuk membawa anak-anak pergi dari ruang keluarga.


Kate dan Simon berdiri dihadapan Shaka dan Kira yang telah duduk di ruang keluarga. Adam tampak duduk tidak jauh dari mereka. Hans, Darius, dan Yudhi tampak mengawasi dari kejauhan


"Duduklah, Kate.. Simon.." Kata Kira mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk. Tidak lupa senyum ramah mengembang di wajah cantiknya yang terlihat tirus dan pucat.


"Katakan apa maumu..??" Tanya Shaka tegas dan langsung pada intinya.


Entah kenapa saat ini aura Shaka terasa berat dan menakutkan. Membuat Kate kembali teringat saat Shaka mengamuk di gedung perusahaannya. Kate yang ketakutan melihat ke arah Simon. Dilihatnya lelaki itu tersenyum dan mengangguk kepadanya.


"Aku datang untuk minta maaf." Kata Kate dengan suara bergetar.


"Maafkan aku karena telah mengusik ketenangan kalian. Bahkan keegoisanku sempat membuat kesehatan Kirana menurun. Aku benar-benar menyesal." Kata Kate dengan airmata yang mulai mengalir. Kate mengusap wajahnya kasar untuk menghapus airmata nya.


"Apa kamu bersungguh-sungguh dengan apa yang kamu katakan..??" Tanya Kira.


"Aku bersungguh-sungguh. Aku tahu kalau aku adalah wanita ja**ng, tapi aku bukan pembunuh. Karena itu saat mengetahui kamu sempat sakit karena ulahku, aku terus dikejar perasaan bersalah." Jawab Kate dengan terisak.


"Baguslah kalau kamu menyadarinya." Kata Adam sinis.


"Tapi tetap saja, kamu telah menyebabkan masalah dalam keluargaku." Kata Kira kali ini dengan wajah dingin.


"Aku tahu. Aku sadar telah menjadi wanita egois. Dan aku sangat menyesal telah menyebabkan masalah pada kalian." Sahut Kate.


"Dengar, Kate. Aku tidak tahu apakah kamu memang sungguh-sungguh dengan perkataanmu. Dan apa sebenarnya maksudmu datang kemari. Satu yang perlu kamu perlu tahu, meski saat ini aku sedang tidak sehat. Tapi aku tidak selemah itu. Aku masih bisa memberi pelajaran pada siapapun yang mengusik keluargaku. Aku lebih dari mampu untuk melakukan itu." Kata Kira dingin. Dia menatap langsung ke mata Kate dengan tatapan tajam.


Kate tertegun. Dia teringat saat mengirimkan foto-fotonya bersama Shaka. Bukannya marah atau meninggalkan Shaka. Kira justru mengirim video rekaman CCTV yang entah dia dapat darimana. Dan itu dia lakukan bahkan saat kondisinya tengah menurun. Hal itu cukup bagi Kate untuk menyadari, meski terlihat lemah tapi Kira memang mampu untuk menghancurkan siapapun yang dia mau.


"Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak akan mengusik kalian lagi." Sahut Kate dengan suara bergetar ketakutan. Kira tetap diam dengan wajah dingin dan menatap tajam pada Kate.


"Aku janji. Aku berjanji tidak akan mengganggu kalian lagi." Kata Kate semakin ketakutan.


"Aku pegang kata-katamu." Sahut Kira dengan senyum miring.


"Aku.. Apakah masih memungkinkan untuk melanjutkan kerjasama diantara perusahaan kita..??" Tanya Kate ragu.


"Aku sudah memutuskan kerjasama kita. Aku bahkan sudah membayar penuh kepada kalian denda yang harus kami tanggung." Jawab Shaka dingin.


"Kami akan mengembalikan seluruh uang itu 100 persen." Kata Kate mantap.


"Apa jaminannya kalau kamu atau keluargamu tidak akan mengacau lagi..??" Tanya Shaka dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Kita bisa mengubah isi kontrak. Kalau sampai kami mengacau, kamilah yang akan membayar denda 2 kali lipat dari yang ditentukan." Kata Kate memberanikan diri.


"Kate..!!" Seru Simon yang sejak tadi diam. Simon terkejut karena Kate mengambil keputusan tanpa berpikir panjang.


Shaka menatap lekat mata Kate dengan pandangan yang tidak bisa ditebak. Wajahnya begitu dingin tanpa ekspresi, membuat siapapun tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran lelaki itu.


"Aku akan pertimbangkan. Tapi ingat. Kalau kalian berani mengusik keluargaku lagi. Bukan hanya denda yang aku minta. Tapi juga nyawa kalian. Mengerti..!!" Kata Shaka dengan suara yang berat dan dingin.


"Sebenarnya bagaimana sifat keluarga ini..?? Mereka selalu bersikap begitu baik dan ramah. Tapi dalam sekejap mereka juga bisa berubah menjadi sosok yang menakutkan." Gumam Simon dalam hati. Benaknya mulai dipenuhi kekawatiran.


Adam dan Kira terkejut dengan perubahan Shaka saat ini. Pria yang selalu bersikap konyol dan hampir tidak pernah marah seolah berubah menjadi sosok bengis. Tiba-tiba Kira teringat saat pertama kali bertemu Shaka. Raut wajah Shaka saat itu hampir sama seperti sekarang. Saat itupun Kira telah mendengar dari Justin tentang sepak terjang Shaka dan kedua temannya.


"Bie." Panggil Kira sambil menggenggam erat tangan Shaka dan menyadarkan lelaki itu, hingga perlahan wajahnya sedikit melunak.


"Apa kamu bekerjasama dengan Arian..??" Tanya Shaka dingin setelah berhasil mengendalikan dirinya.


"Ya. Untuk foto-foto itu. Tapi setelah aku mendengar Kirana sakit karena ulahku, aku menyerah untuk mengejarmu dan tidak lagi bekerjasama dengan oom Arian." Jawab Kate.


"Maksudmu sekarang Arian bekerja sendiri..??" Tanya Shaka.


"Apa maksudmu..??" Kate balik bertanya.


"Selama beberapa bulan terakhir aku terus menerima ancaman untukku dan keluargaku." Jawab Shaka.


"Aku tidak tahu soal itu." Jawab Kate terkejut.


"Maksudmu kamu tidak tahu Arian kemungkinan mengirim ancaman kepada kami setiap hari..??" Tanya Shaka.


"Aku tidak tahu. Tapi yang aku tahu. Mengirimkan ancaman selama berbulan-bulan tanpa melakukan apapun menurutku bukanlah sifat oom Arian. Dia bukan tipe orang yang akan begitu sabar. Mungkin dia akan mengirimkan ancaman beberapa kali. Tapi kalau tidak membuahkan hasil, dia akan langsung membunuhmu atau langsung menyerbu kemari untuk mendapatkan istrimu." Jawab Kate.


"Jadi bukan dia pelakunya...??" Tanya Adam.


"Aku tidak tahu. Aku tidak dapat memastikan." Jawab Kate.


Shaka menatap tajam wajah Kate seolah menelisik benak wanita itu. Tapi entah memang Kate berkata jujur atau wanita itu pandai bersandiwara, Shaka melihat kejujuran dan keputusasaan.


****


Kate merasa lebih tenang. Setidaknya dia sudah berusaha untuk menyelamatkan keluarganya. Dia benar-benar berharap Shaka bersedia bekerjasama kembali dengan mereka dan 3 keluarga itu akan berhenti menekan keluarganya.


Dia tahu, meski perusahaan Shaka juga terancam. Tapi dengan kerja kerasnya perlahan perusahaan milik Shaka mulai stabil kembali meski tanpa campur tangan keluarganya maupun keluarga Kira. Tapi berbeda dengan perusahaan keluarganya. Mereka justru semakin berada di ujung tanduk. Selain dampak dari insiden dengan Shaka, ketiga keluarga besar Shaka dan Kira terus menekan mereka karena tidak terima dengan masalah yang dia timbulkan. Saat ini bahkan orangtuanya terancam terusir dari rumah mereka karena nyaris kehabisan uang dan tidak mampu membayar pinjaman dari pihak bank. Properti dan harta mereka yang lain telah habis hanya dalam waktu singkat.


"Kate, kamu yakin dengan keputusanmu untuk mengembalikan uang denda yang telah dibayarkan Raven Adventure..?? Itu adalah jumlah yang sangat besar, kita sudah tidak punya dana sebesar itu. Bahkan kita belum lunas membayar gaji karyawan kita bulan lalu." Tanya Simon.


"Aku masih punya 2 apartment pribadi dan 3 mobil mewah atas namaku sendiri. Semua akan aku jual untuk mengembalikan denda Shaka dan mencicil gaji karyawan kita." Kata Kate lalu menghela napas panjang.


"Lalu kamu akan tinggal dimana..??" Tanya Simon terkejut.


"Untuk sementara aku akan tinggal di hotel kita. Setidaknya sampai keadaan perusahaan kita stabil. Lagipula kalau tinggal disana, aku bisa bekerja kapan pun diperlukan." Jawab Kate.


"Apa kamu yakin..??" Tanya Simon masih ragu.


"Ini semua terjadi karena ulahku, jadi aku yang harus bekerja keras untuk memperbaiki semuanya. Kak Herman sendiri sudah kepayahan. Dia bahkan mengungsikan istri dan anak-anaknya ke rumah mertuanya agar tetap bisa hidup dengan baik." Jawab Kate dengan suara tercekat.


"Apa kamu yakin keluarga mereka akan melepas kita begitu saja..??" Tanya Simon.


"Aku yakin. Aku sudah banyak mendengar tentang keluarga Rahardian dan Hardisiswo. Mereka keluarga yang baik dan tidak pernah menilai orang lain dari status dan kekayaan orang itu. Tapi mereka pun bisa berbalik menjadi orang yang keji saat ada yang mengusik. Dan aku adalah orang bodoh yang berani mengusik mereka. Harusnya dulu aku mendengarmu dan kak Herman." Jawab Kate penuh penyesalan.


Simon menghela napas panjang. Dia tahu Kate memang melakukan kesalahan besar. Tapi Simon juga tidak sampai hati melihat keadaan keluarga Herlambang saat ini. Dia dan ayahnya yang sudah lama mengabdi pada keluarga itupun bertekat membantu keluarga itu meski tanpa digaji. Beruntung cafe milik Simon saat ini sudah berkembang, hingga dia tidak terlalu kesulitan untuk masalah keuangan.


"Aku harap keadaan akan segera membaik. Aku juga yakin keluarga Rahardian dan Hardisiswo bukan tipe pendendam. Tapi aku tidak yakin dengan keluarga Tanzil. Meski tidak banyak berita tentang mereka, tapi aku dengar keluarga mereka tidak pernah segan untuk bertindak diluar batas." Gumam Simon dalam hati penuh kekawatiran.


Sepanjang sisa perjalanan mereka hanya tersisa keheningan. Baik Kate maupun Simon sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.