
"Tapi hasilnya tetap sama. Aku mandul. Anak itu bukan anakku." Anindya mulai terisak saat mengungkapkan luka hati yang selama ini dia tutupi.
"Diam-diam aku meminta orang kepercayaanku untuk mencari bukti perselingkuhan Soraya. Aku memang marah tapi aku terlalu mencintainya. Aku hanya berpikir, kalau memang dia bahagia dengan laki-laki itu, maka aku akan melepaskannya. Ternyata ayah dari anak yang dikandungnya adalah Kevin, yang saat itu aku tugaskan sebagai pengawal Soraya. Dia memang mencintai Soraya, tapi dia sangat tahu kalau Soraya hanya mencintaiku. hubungan mereka terjadi karena sebuah kekhilafan. Saat itu Soraya begitu bersedih karena lagi-lagi dia mendapatkan tamu bulanan setelah sempat terlambat selama seminggu. Sedangkan aku saat itu begitu sibuk dengan pekerjaanku dan tidak ada untuknya. Hingga terjadilah hubungan itu. Kevin memilih pergi dan melepaskan Soraya. Bukan karena tidak ingin bertanggungjawab, tapi karena dia tahu Soraya sangat mencintaiku dan hanya akan bahagia bersamaku. Akhirnya aku dan Kevin sepakat untuk tutup mulut, demi kebahagiaan Soraya. Kami membiarkan dia berpikir bahwa aku tidak tahu apa-apa tentang anak dalam kandungannya. Aku tetap menerima anak itu karena dia adalah anak dari wanita yang aku cintai. Meski menyakitkan, perlahan aku mulai bisa menerima anak dalam kandungan Soraya. Harusnya kalian lihat betapa bahagianya Soraya. Wajahnya terus berbinar, membuatku mampu menepis rasa sakitku setiap kali luka itu kembali berdarah." Kata Anindya dalam tangisnya yang begitu memilukan. Tiba-tiba Anindya menatap ke arah Fabian dengan tatapan penuh kemarahan.
"Dan kamu..!! Kamu membunuh Soraya..!! Kamu membunuh wanita yang sangat aku cintai..!! Harusnya sejak awal aku menolakmu..!! Kamu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku..!!" Seru Anindya sambil mendorong tubuh Fabian.
Fabian yang begitu terkejut tampak terhuyung. Dia hampir saja terjatuh kalau tubuhnya tidak ditangkap oleh salah satu anak buahnya.
"Kalau memang benar yang ayah katakan. Lalu apa bedanya aku dengan anak itu..?? Kenapa ayah bisa menyayangi dan menerima anak dalam kandungan Soraya, tapi tidak bisa menerimaku. Aku menyayangimu, ayah. Yang aku inginkan hanya mendapatkan kasih sayangmu lagi seperti dulu." Kata Fabian mulai terisak. Laki-laki itu terus berdiri dan menundukkan kepala untuk menyembunyikan hatinya yang terluka.
"Lebih baik aku menerima anak Soraya daripada anak dari wanita ja**ng seperti ibumu..!! Setidaknya Soraya wanita terhormat. Dan yang terpenting, aku mencintai Soraya..!!" Seru Anindya tanpa mempedulikan kesedihan Fabian.
"Lalu disebut apa wanita bersuami yang memiliki anak dari laki-laki lain..?? Bukankah mereka sama saja..?? Ja**ng." Balas Fabian dengan tatapan penuh luka.
"Tutup mulutmu..!!" Seru Anindya tidak terima.
"Keduanya sama memiliki anak dari laki-laki lain. Keduanya juga mengatakan anak yang mereka kandung adalah anakmu. Lalu apa bedanya ibuku dan istrimu itu..!!" Seru Fabian membalas Anindya yang terpaku di tempatnya.
"Ayah bisa menerima anak Soraya, meski dia mengandung anak laki-laki lain. Juga menyayangi Justin meskipun ibunya membuatmu diabaikan oleh ayahmu. Tapi kenapa ayah tidak pernah bisa menyayangiku..??!! Dulu ayah pernah menyayangiku. Kenapa ayah tidak bisa menyayangiku lagi..?? Kenapa ayah tidak pernah bisa melihat semua yang aku lakukan demi mendapat perhatian dan kasih sayangmu..??!! Kenapa, ayah..??" Fabian menangis tersedu-sedu.
Pria 35 tahun itu seolah tidak peduli akan penilaian dari semua orang yang ada di ruangan itu, bahkan anak buahnya.
"Aku menyayangimu. Bukankah tadi aku katakan untuk sempat terpikir untuk membawamu hidup bersamaku dan Soraya..??Kamu boleh tidak mempercayaiku tapi pikiran itu datang karena aku memang menyayangimu. Tapi semuanya hilang saat aku mengetahui pengkhianatan Soraya. Meski perlahan bisa menerima anak itu, tapi awalnya menyakitkan saat harus menerimanya. Dan aku juga harus menerimamu yang juga anak laki-laki lain..?? Kalian pikir aku ini apa..??!! Laki-laki bodoh tanpa perasaan yang harus mau menerima akibat dari semua kesalahan kalian..??!! Haaaaahh..!!" Raung Anindya sambil menunjuk ke arah semua orang.
Shaka, Alex, dan Leo terdiam mendengar drama keluarga Wongsonegoro yang ternyata begitu rumit. Mereka menyadari satu hal. Terlepas dari siapa yang benar dan salah. Setiap orang di keluarga itu terluka.
"Selama ini kamu begitu membenciku yang bahkan tidak pernah menyadari apa yang terjadi. Kamu berusaha menghancurkan hidupku dan orang-orang di sekitarku karena drama konyol diantara kamu dan oom Anin. Pernahkah terpikir olehmu bagaimana beratnya hidupku bahkan tanpa campur tanganmu..??!!" Kata Justin yang sejak tadi lebih banyak diam.
"Aku mengerti perasaanmu karena aku sendiri tumbuh tanpa seorang ayah sejak usiaku 11 tahun. Tapi aku tetap tidak bisa menerima perbuatanmu yang merugikan orang-orang di sekitarku..!!" Cecar Justin.
"Kamu pikir aku peduli..??" Tanya Fabian sinis.
"Selama itu membuatmu menderita, aku akan merasa puas. Karena itu aku disini sekarang. Dengan membawa ketiga temanmu. Kalau memang ayah tetap tidak menginginkanku, aku akan membuat dia melihatmu hancur di tanganku." Lanjut Fabian lalu memberikan tanda pada salah satu anak buahnya. Seorang pria berjalan mendekati Justin sembari menyodorkan sebuah map.
Sejenak Justin menoleh ke arah ketiga temannya. Tubuhnya menegang saat melihat beberapa orang tengah menodongkan senjata pada mereka.
"Aku tidak akan mengampunimu kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka." Ancam Justin sambil meraih map yang diberikan anak buah Fabian.
"Jangan banyak bicara. Cepat tanda tangani semua dokumen itu." Perintah Fabian.
"Apa ini..??" Tanya Justin sambil menerima map itu lalu membuka dan membaca tumpukan kertas di dalamnya.
"Dokumen peralihan harta. Aku tahu diam-diam kakek dan ayah telah mengalihkan seluruh harta Wongsonegoro atas namamu. Mereka sengaja menyisakan sedikit untuk ibumu dan ayahku. Aku ingin kamu menandatangani dokumen itu untuk mengalihkan harta Wongsonegoro yang kamu terima menjadi atas namaku. Juga seluruh harta pribadimu. Intinya, begitu kamu menandatangani seluruh dokumen itu, kamu akan menjadi gelandangan. Tapi tidak perlu kawatir. Aku kenal banyak orang yang pasti berminat padamu. Dengan wajah tampanmu, aku yakin kamu tidak akan butuh waktu lama untuk mendapatkan banyak uang." Jawab Fabian.
PLAAAAAKK..!!
Anindhita tiba-tiba telah berada di dekat Fabian dan menampar wajah laki-laki itu.
"Ba**ngan..!! Kamu anggap apa putraku..!!" Maki Anindhita geram.
Seorang pria langsung menarik tubuh Anindhita menjauh dari Fabian. laki-laki itu hanya tersenyum sinis sembari mengelus pipinya yang memerah karena tamparan Anindhita.
"Hei..!! Lepaskan tante Dita..!!" Raung Shaka yang tidak terima anak buah Fabian memperlakukan Anindhita dengan buruk.
Shaka, Leo, dan Alex telah berdiri dan berusaha melawan meski dengan tangan yang masih terikat. Rupanya ketiga laki-laki itu cukup membuat kewalahan anak buah Fabian.
"Pengecut..!! Kalo emang lo laki-laki, lawan gue..!! Jangan cuma berani sama perempuan..!!" Seru Leo sambil terus melawan.
Tiba-tiba terdengar suara Justin tertawa. Semua orang menoleh ke arahnya dengan tatapan kebingungan.
"Sejak tadi kamu selalu membicarakan tentang sakit hati dan keinginanmu agar disayangi oleh oom Anin. Tapi kertas-kertas ini membuktikan kalau oom Anin melakukan tindakan yang benar dengan meninggalkanmu. Kamu sama saja dengan ibumu." Kata Justin dengan seringai menakutkan.
"Gila.. harta.." Desis Justin tepat di depan wajah Fabian hingga membuat wajah laki-laki itu memerah karena marah.
BUUUUG..!!
Fabian mulai memukul Justin tapi Justin dengan mudah menangkis setiap serangan yang ditujukan padanya. Suasana di rumah itu semakin riuh karena Shaka yang berhasil melumpuhkan salah satu anak buah Fabian menggunakan belati yang dia dapatkan untuk membebaskan salah satu petugas security yang akhirnya membantu membuka ikatan di tangannya. Shaka membantu Alex dan Leo yang mulai kewalahan. Ikatan tangan mereka akhirnya dilepas oleh petugas security tadi.
Perkelahian antara kubu Wongsonegoro dan Fabian membuat celah untuk para pelayan wanita untuk melarikan diri. Mereka menarik Anindhita dan Hendra untuk membawa keduanya pergi dari arena pertarungan. Anindya sendiri berusaha membantu Justin untuk mengalihkan perhatian Fabian dan anak buahnya dari para pelayan, Hendra, dan Anindhita. Hendra yang awalnya tidak mau meninggalkan anak dan cucunya akhirnya hanya bisa pasrah saat seorang petugas security menariknya dengan paksa untuk menjauh.
Fabian yang akhirnya tersungkur oleh pukulan Justin melihat belati yang dijatuhkan salah satu anak buahnya. Dia mengambil belati itu dan berdiri. Dilihatnya Justin yang tengah sibuk berkelahi tidak menyadari kedatangannya.
"JUSTIN, AWAS..!!" Teriak Alex saat melihat Fabian mendekati Justin dengan membawa belati. Fabian sudah terlalu dekat saat Justin menyadari keberadaannya.
JLEEB..!!
"Oom Anin..!!" Teriak Justin saat melihat Anindya menerima tusukan dari Fabian.
"Ayah..??" Panggil Fabian lirih saat menyadari bahwa Anindya yang menerima tusukannya.
"AYAH..!!" Seru Fabian sambil memeluk tubuh Anindya yang mulai luruh.
Suasana mendadak hening. Perkelahian berhenti karena seluruh perhatian terpusat pada Anindya yang terluka.
"ANINDYA..!!" Panggil Hendra yang dari kejauhan melihat putranya terluka. Dia langsung berlari berusaha mendekati tubuh Anindya.
"JANGAN MENDEKAT..!!" Teriak Fabian saat melihat lawannya mencoba mendekati dia dan Anindya.
Fabian mengangkat tubuh Anindya dan bergegas keluar dari rumah itu. Rumah Sakit. Anindya harus segera mendapat pertolongan. Hanya itu yang ada dalam pikirannya. Fabian masuk ke kursi belakang salah satu mobil dengan diikuti seorang pria.
Justin dan Shaka mengikuti Fabian. Shaka mendorong anak buah Fabian dan masuk ke bagian kemudi mobil, sedangkan Justin duduk di sampingnya. Shaka melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Dibelakang mereka Alex, Leo, Hendra, dan Anindhita mengikuti dengan mobil lainnya.
"Ayah, apa yang telah aku lakukan..?? Maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku mohon bertahanlah ayah." Fabian memeluk erat tubuh lemah Anindya dan terus terisak. Dia tidak lagi peduli bahwa Shaka dan Justin yang saat ini duduk di kursi depan mobil.
"Ayah harus bertahan. Aku akan melakukan apapun permintaan ayah. Aku tidak pernah peduli dengan harta ataupun nama Wongsonegoro. Yang aku inginkan hanya ayah. Aku mohon bertahanlah." Fabian terus berbicara seolah tengah membujuk anak kecil yang merajuk.
Fabian terus menangis dan memeluk tubuh Anindya. Seolah takut jika dia melepaskan pelukannya sedikit saja maka Anindya akan benar-benar pergi.
Justin menengok ke belakang untuk melihat keadaan Anindya. Hatinya trenyuh melihat bagaimana Fabian menyayangi Anindya dan begitu mengharapkan kasih sayang dari laki-laki yang selalu dia panggil ayah.