
Kira memandang ke arah pintu ruang kerja Shaka dan menggelengkan kepalanya. Leo dan Alex baru saja berpamitan, tapi rupanya Shaka dan Justin merasa masih belum cukup untuk berbincang. Meski Shaka dekat dengan Leo dan Alex sejak kecil. Tapi sejak mengenal Justin dia justru paling dekat dengan laki-laki itu.
Kira berjalan mendekati ruang kerja Shaka. Dia juga ingin bertemu dan berbincang dengan Justin. Kira mengerutkan dahinya saat sayup-sayup dia mendengar teriakan Shaka. Dia cukup yakin saat ini suaminya tengah bertengkar dengan Justin entah untuk alasan apa. Hal ini tentu saja sangat mengejutkan Kira karena selama ini kedua pria itu selalu akur dan tidak pernah berselisih. Gesekan diantara kedua sahabat itu hanya sebatas perdebatan yang seringkali terjadi.
"Denger. Gue akui lo udah berkorban banyak demi gue sama Kira. Tapi bukan berarti lo bisa seenaknya bales ke anak gue..!!" Seru Shaka hingga membuat langkah Kira terhenti tepat saat dia meraih handle pintu ruang kerja Shaka.
"Seburuk itukah pemikiranmu tentang aku, Shaka..?? Karena aku mencintai gadis kecilmu..?? Aku sama sekali tidak ada niat ke arah itu, Ka." Terdengar suara Justin menimpali.
"Aku tidak tahu sejak kapan perasaanku itu mulai tumbuh. Bahkan tadinya aku mengira itu hanya perasaan seorang paman pada keponakannya. Tapi setiap kali beredar gosip kedekatanku dengan seorang wanita, pikiranku selalu melayang pada Rania. Takut dia akan salah mengira kedekatan itu sebagai sebuah hubungan kekasih. Akhirnya aku sadar itu perasaan yang berbeda. Aku mencintai Rania. Dan aku benar-benar tulus." Lanjut Justin.
DEG..!!
Jantung Kira rasanya berhenti berdetak. Pria yang selama ini begitu dia sayangi layaknya seorang adik. Pria yang selama ini juga dia anggap sebagai paman dari anak-anaknya. Pria itu mencintai gadis kecilnya. Gadis kecil yang bulan lalu baru saja menginjak usia 12 tahun.
Meski Rania selalu mengoceh tentang keinginannya untuk menikahi Justin setelah dia dewasa, tapi dia dan Shaka tidak pernah menanggapi dengan serius mengingat Rania masih terlalu muda. Tapi mendengar pria yang sudah dewasa dan matang mengungkapkan keinginan yang sama membuat Kira terkejut.
"SHIIITT..!!" Umpat Shaka saat mendengar pengakuan Justin..
"Apa maksudmu, Justin..??" Tanya Kira sambil membuka lebar pintu ruang kerja Shaka.
Baik Justin maupun Shaka tampak terkejut melihat kehadirannya. Shaka bergegas menghampiri Kira karena kawatir dengan kondisi kesehatan wanita itu.
"Sayang." Panggil Shaka sambil berusaha meraih tubuh istrinya.
Kira terus menatap lekat wajah Justin. Dia menepis tangan Shaka yang mencoba meraihnya lalu berjalan mendekati Justin.
"Apa maksud perkataanmu tadi..?? JAWAB..!!" Kira memaksa Justin untuk menjawab pertanyaannya karena pria itu tetap diam.
"Kak, aku mencintai Rania." Jawab Justin sambil menatap Kira dengan penuh kesungguhan.
PLAAAAAKK..!!
Tiba-tiba tangan Kira melayang keras ke wajah tampan Justin. Shaka yang terkejut menghampiri Kira dan berusaha menenangkannya.
"Kira..!! Aku mohon tenangkan dirimu." Kata Shaka sambil mengelus lembut punggung Kira untuk menenangkannya.
"Apa bahkan kamu sadar dengan yang kamu ucapkan, Justin..!!" Seru Kira dengan napas terengah.
"Aku sadar. Sangat sadar, kak. Siapapun yang mendengar pasti akan mengatakan bahwa ini salah. Tapi masalah hati siapa yang bisa mencegah, kak..??" Sahut Justin.
"Putriku masih terlalu kecil Justin. Dia bahkan baru saja berusia 12 tahun. Bagaimana bisa kamu dengan mudahnya mengatakan kalau kamu mencintai Rania..??!!" Geram Kira.
"Aku tahu. Dan aku sangat menyadari hal itu. Tapi aku serius dan tulus dengan perasaanku. Aku menyayangi kak Kira dan Shaka. Juga menghormati dan menghargai kalian. Karena itu aku disini untuk membicarakan dengan kalian secara baik-baik." Sahut Justin.
"Apa kamu bahkan memikirkan perbedaan usia kalian..??!!" Kata Kira lagi.
"Apa kak Kira dan Shaka dulu juga memikirkan hal itu saat menikah..??" Pertanyaan Justin membungkam Shaka dan Kira.
"Perbedaan kita adalah Shaka yang lebih muda darimu, kak. Usia kak Julian dan Nancy juga berbeda 15 tahun. Mereka memulai hubungan saat Nancy masih berusia 16 tahun. Tapi bukankah kalian semua bisa hidup bahagia dan saling mencintai..?? Lalu apa bedanya dengan aku yang mencintai Rania dan ingin menikahinya saat dia dewasa nanti..??!!" Lanjut Justin.
"Karena itu aku datang pada kalian. Karena aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Hanya bisa mencintai dalam diam karena sikapku yang terlalu pengecut." Sahut Justin.
Kira mengerutkan dahinya karena baru tahu kalau Justin ternyata pernah memendam perasaan pada seorang gadis, sedangkan Shaka memilih untuk diam.
"Aku tahu Rania masih terlalu muda untuk memahami semua ini. Tapi sebagai orang dewasa yang juga orangtua Rania, kalian pasti bisa mempertimbangkan permintaanku dengan baik. Jadi tolong, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya terlebih dulu." Pinta Justin tetap tenang dan sabar menghadapi dua orang yang sepertinya sudah siap untuk merebusnya hidup-hidup.
Kira dan Shaka tampak saling memandang sejenak. Lalu mereka berdua memilih duduk di sofa ruangan itu.
"Bicaralah..!!" Kata Kira tegas dan dingin.
Justin menghela napas lega lalu duduk di sofa tunggal yang ada di hadapan Kira dan Shaka.
"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, aku mencintai Rania. Dan aku berniat menikahi dia setelah berusia 20 tahun." Kata Justin.
Wajah Kira dan Shaka langsung menegang tapi mereka tetap diam, menunggu Justin melanjutkan penjelasannya.
"Aku berjanji untuk tidak memaksa atau mempengaruhi pikiran Rania agar kelak dia mau menikah denganku. Aku juga tidak akan melewati batasku dan menyentuh dia sebelum dia sah menjadi istriku, kalau itu yang kalian takutkan. Kalian bisa memegang kata-kataku." Lanjut Justin. Pria itu terdiam sejenak sambil bergantian menatap Kira dan Shaka dengan penuh kesungguhan.
"Aku mencintai Rania dan menyayangi dia. Apapun yang aku lakukan untuknya adalah untuk menjaga dan melindungi Rania. Meski aku memiliki keinginan untuk menikahi Rania, aku tidak ingin merenggut masa mudanya. Aku ingin dia tetap menjalani hidupnya seperti layaknya remaja seusianya. Bahkan bila itu artinya dia juga akan jatuh cinta pada pria lain. Setelah waktunya tiba dan Rania tidak mencintai pria lain. Selama dia dan juga kalian tidak keberatan. Aku akan menikahi Rania. Kalau ternyata dia bertemu pria yang lebih baik dariku, aku akan melepaskannya. Tapi sebelum itu terjadi, aku sendiri yang akan memastikan apakah pria itu akan benar-benar membuat dia bahagia atau tidak." Lanjut Justin lagi.
"Apa gue bisa pegang kata-kata lo..??" Tanya Shaka penuh selidik. Justin tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya.
"Kamu dan Kira yang bisa menilai, apakah kalian bisa mempercayaiku atau tidak." Jawab Justin sambil tersenyum.
"Tapi aku punya satu permintaan." Kata Justin. Kira yang masih terdiam mengangkat sebelah alisnya.
"Tolong biarkan aku tetap bertemu Rania seperti biasanya. Dan jangan menjodohkan Rania dengan pria lain. Biarkan dia memilih siapa pria yang menjadi tujuan hidupnya. Meski bisa jadi bukan aku pria yang akan dia pilih." Pinta Justin.
Kira masih tetap diam. Lalu berjalan keluar dari ruangan itu tanpa mengatakan apapun. Kira membanting pintu sangat keras saat menutupnya.
"Untuk sekarang gue ga bisa mengatakan apapun. Gue harus bicara sama Kira sebelum mengambil keputusan." Kata Shaka.
"Aku mengerti." Sahut Justin sambil tersenyum hangat.
"Gue pribadi percaya kalo lo ga bakal mengkhianati kepercayaan gue sama Kira. Dan gue peringatkan, kalo lo sampe menyakiti anak gue apalagi sampai bertindak diluar batas. Gue ga akan mengampuni lo. Walopun lo sahabat baik gue, gue tetep bakal bikin hidup lo hancur sampe ga bersisa. Camkan itu..!!" Ancam Shaka.
"Terima kasih." Sahut Justin sambil tersenyum penuh kelegaan. Shaka tampak mendengus kesal sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Sementara itu, dibalik pintu ruangan. Gadis kecil yang mereka bicarakan tengah tersenyum bahagia. Rupanya saat dia datang untuk memanggil ketiga orang dewasa itu untuk makan malam bersama, dia mendengar percakapan Justin dengan orangtuanya.
Rania sangat bahagia karena perasaannya berbalas, meski dia sendiri tidak tahu apakah perasaannya akan bertahan atau tidak. Tapi seperti yang dikatakan Justin. Biarlah semua berjalan apa adanya. Justin dengan kehidupannya dan dia dengan kehidupannya. Rania akan melihat apakah nantinya Justin bertahan dengan perasaannya saat ini lalu kemudian bersatu dengannya. Atau akhirnya terpisah.
"Biarlah.. Biarkan waktu yang akan menjawabnya." Pikir gadis kecil itu.
"I LOVE YOU, OOM. DAN AKU JANJI AKAN MENUNGGUMU." Janji Rania dalam hati.