
Shaka dan Kira menyusul ke ruang tamu dan terlihat makanan yang dipesan Edo sudah datang. Adam tampak masih memandang kedua sejoli itu dengan wajah kesal sedangkan Rendra masih belum bisa berhenti tertawa. Edo terus terdiam karena merasa canggung setelah memergoki orangtuanya.
“Sekarang jelaskan kenapa kalian bisa ada disini..?? Tadi Edo menelponku dan Rendra karena kalian tidak pulang semalaman dan tidak bisa dihubungi. Edo juga bilang Kira pergi untuk menolong Shaka yang sedang dalam masalah. Apa kalian tidak tahu sudah membuat semua orang kawatir..??!!” Cecar Adam tanpa ampun.
“Maaf, kak. Tapi memang benar semalam aku dapat masalah. Dan aku meminta bantuan Kira untuk menolongku.” Kata Shaka menjelaskan.
“Masalah apa..?? Kenapa kamu minta bantuan Kira bukannya aku atau yang lain..??” Tanya Adam masih belum puas dengan jawaban Shaka.
Lalu Shaka dan Kira pun menjelaskan permasalahan mereka dengan Kate sejak awal pertemuannya dengan Shaka sampai kejadian semalam.
“Jadi gadis gila itu memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu..??” Tanya Rendra.
“Begitulah.” Jawab Shaka.
“Kenapa kamu tidak pergi saja dari sini dan justru mengurung diri di kamar mandi..??” Tanya Rendra lagi.
“Waktu itu aku sudah tidak bisa mengendalikan diriku lagi, kak. Aku takut akan kembali tertangkap dan pertahananku akan runtuh hingga akhirnya mengkhianati Kira. Seandainya aku bisa keluar dari kamar ini pun aku takut akan menyerang wanita lain untuk mendapatkan pelepasan. Jadi aku mengurung diriku di kamar mandi dan menelpon Kira untuk meminta bantuan.” Kata Shaka sambil tersenyum penuh arti.
“Jadi maksudmu meminta bantuan Kira sebenarnya adalah untuk..” Kata Adam tidak melanjutkan kata-katanya sambil melirik Edo yang ikut mendengarkan.
“Singkirkan wajah mesummu itu, sialan..!!” Lanjut Adam kembali kesal karena melihat Shaka terus tersenyum-senyum kesenangan. Tawa Rendra semakin keras melihat tingkah Adam dan Shaka.
“Lalu apa rencanamu sekarang..??” Tanya Rendra setelah berhenti tertawa.
“Tanda tangan kerjasama akan dilakukan hari ini jam 2 siang. Aku akan melihat bagaimana reaksi mereka setelah kejadian ini. Kalau mereka tetap meminta Kate untuk handle kerjasama ini dan bahkan membiarkan kejadian semalam, aku akan membatalkan kerjasama kami. Aku tidak mau ambil resiko Kate menghancurkan keluargaku. Aku masih bisa mencari rekanan lain untuk memajukan usahaku. Tapi aku tidak bisa mengganti keluargaku dengan apapun.” Kata Shaka tanpa ragu.
Adam dan Rendra terus menatap Shaka, dalam benak mereka terbersit rasa kagum akan kesetiaan Shaka pada Kira dan kecintaannya pada keluarga mereka. Keluarga itu adalah kekuatan Shaka, tapi juga kelemahannya. Dan itulah yang sangat ditakutkan Adam selama ini.
“Kalau terjadi sesuatu katakan padaku. Aku akan membantumu. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengusik keluargaku.” Kata Adam.
“Terima kasih, kak. Tapi untuk sekarang, aku akan mengatasinya sendiri. Aku hanya minta tolong untuk membantu menjaga keluargaku. Karena aku tidak tahu apa yang akan Kate lakukan setelah ini.” Kata Shaka.
“Jangan kawatir soal itu, dad. Aku akan menjaga mommy dan adik-adikku.” Kata Edo.
“Terima kasih, Ed.” Kata Shaka sambil menepuk pelan bahu Edo yang duduk disampingnya.
“Lebih baik kalian segera pulang, Shaka juga harus bersiap menemui CEO Scarlett Group untuk tanda tangan perjanjian kerjasama.” Kata Rendra.
“Aku berangkat dari sini saja.” Kata Shaka sambil terus menggenggam erat tangan Kira.
Kira menatap Shaka dengan perasaan was-was. Sedangkan Adam memicingkan matanya menatap tangan Shaka dan Kira.
“Jangan katakan kalau kalian akan melanjutkan kegiatan kalian tadi..!! Apa kalian tidak takut kalau sampai punya anak lagi..??” Seru Adam.
“Selama Kira bersedia, aku tidak keberatan. Bagaimana menurutmu, sayang..??” Tanya Shaka manja, sedangkan Kira hanya diam dengan wajah semerah tomat.
“Apa kalian tidak memikirkan Edo..?? Anak kalian ini beberapa tahun lagi pasti akan menemukan wanita yang dia cintai dan menikah. Bisa kalian bayangkan anaknya akan bermain dengan paman atau bibi yang sebaya dengan mereka..??” Sungut Adam.
Edo yang namanya disebut hanya diam dan meraih gelas dihadapannya.
“Aku rasa tidak perlu menunggu selama itu. Edo sudah punya pacar dan dia cantik sekali, sepertinya juga dia gadis yang baik.” Kata Rendra santai membuat Edo nyaris tersedak minumannya sendiri.
“Eeehh.. mom, aku bisa jelaskan. Itu... tunggu dulu. Kenapa Oom Rendra begitu yakin kalau aku sudah punya pacar..??” Tanya Edo tidak terima.
“Dua minggu lalu aku mengajak istri dan anak-anakku ke taman hiburan. Disana aku melihatmu bersama seorang gadis. Kalian berdua terlihat begitu mesra, sampai tidak menyadari aku hanya berjarak 2 orang dihadapanmu saat antri untuk membeli tiket roller coaster. Dan putra kalian ini benar-benar romantis. Saat gadisnya kelelahan mengelilingi taman hiburan, dia menggendong gadis itu di punggungnya untuk melanjutkan kencan mereka. Terus terang saja, aku bahkan tidak pernah melakukan itu pada Maudy, istriku.” Kata Rendra sambil tergelak melihat Edo yang semakin salah tingkah. Wajah Edo langsung pucat karena dua minggu lalu dia memang pergi bersama Luna ke taman hiburan.
“Aku ada ujian siang ini. Edo pergi dulu, mom.. dad..” Kata Edo sambil bergegas pergi keluar dari ruangan itu.
Karena terburu-buru Edo bahkan hampir terjatuh tersandung barang-barang yang masih berserakan karena perkelahian Kira semalam.
“Bie, apa Edo benar-benar sudah punya pacar..??” Tanya Kira.
“Sepertinya begitu.” Jawab Shaka.
“Apa menurutmu hubungan mereka serius..?? Edo masih terlalu muda untuk menikah.” Kata Kira.
“Sayang, apa kamu lupa berapa usiaku saat menikahimu..??” Tanya Shaka mencubit gemas pipi Kira.
“Itu karena kamu yang terlalu keras kepala dan tidak sabaran.” Kata Kira sewot.
“Itu karena aku terlalu mencintaimu.” Kata Shaka sambil mendusel-dusel rambut Kira dengan hidungnya. Kira memukul pelan lengan Shaka karena masih ada Adam dan Rendra disana.
“Yaa Tuhan... sejak pagi mata dan pikiranku benar-benar dicemari oleh dua orang tidak tahu malu ini.” Keluh Adam sambil memijit kepalanya.
“Kita pergi, Ren..!!” Seru Adam karena merasa protesnya diabaikan oleh Shaka dan Kira.
“Aku mau pulang saja.” Kata Rendra.
“Kamu tidak ada tugas..??” Tanya Adam.
“Aku langsung mengajukan cuti setelah Edo menelponku. Lagian melihat mereka berdua aku jadi kangen sama Maudy.” Kata Rendra yang tiba-tiba merindukan istrinya.
“Terserah kamu saja.” Sahut Adam sambil memutar matanya jengah.
Sementara itu, Edo yang saat ini dalam perjalanan pulang dengan menggunakan taxy online tidak bisa berhenti tersenyum. Dia memang malu karena telah memergoki kedua orangtuanya yang tengah bermesraan. Tapi dia juga mengagumi cinta diantara Shaka dan Kira yang justru terlihat semakin kuat setiap harinya. Meski ada begitu banyak perbedaan diantara mereka. Tapi Shaka dan Kira selalu mampu mengatasinya. Mereka bahkan tampak selalu saling mendukung dan menguatkan. Edo benar-benar berharap saat menemukan gadis yang tepat, mereka akan bisa saling mencintai seperti Shaka dan Kira.
Senyum Edo menghilang saat teringat Aluna. Entah kenapa saat memikirkan masa depan, bayangan Luna justru muncul dibenaknya. Gadis itu benar-benar menepati janjinya. Dia berhenti menemui Edo setelah kesepakatan mereka untuk berkencan selama sehari berakhir. Dan sekarang Edo justru merindukan Luna. Dia begitu merindukan perhatian dan tingkah konyol Luna untuk menarik perhatiannya. Edo merindukan omelan dan sikap posesif Luna. Dia sangat merindukan makan siang bersama Luna, merindukan bekal makanan yang dibuat Luna, merindukan wajah cantik Luna yang selalu dihiasi senyum manis. Dua minggu terakhir pikirannya dipenuhi sosok Luna.
“Sepertinya aku sudah tidak waras. Kenapa aku justru terus memikirkan gadis gila itu..??” Rutuk Edo dalam hati.
************************************************
Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.
Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^
Terima kasih..!!
Hug,
Cheerieza