(Family) Bound

(Family) Bound
Kakak dan Adik



Malam itu keluarga Shaka tengah berkumpul di ruang keluarga dan menonton TV bersama. Rania tampak menyuapi ibunya puding buah yang dia buat siang tadi. Kira sendiri tampak berusaha tetap tersenyum dan ikut berkumpul bersama keluarganya meski terlihat pucat dan lemah diusia kandungan yang sudah masuk 35 minggu.


"Waaaah.. lihat, Dad. Ada berita tentang oom Justin..!!" Seru Edo. Rania langsung menoleh ke arah TV saat mendengar nama Justin.


"Hmmm.. Dia memang sudah berbaikan dengan keluarga ibunya." Kata Shaka saat melihat berita yang membahas tentang Justin dan keluarga Wongsonegoro.


"Jadi keluarga Wongsonegoro sudah mengumumkan Justin sebagai penerus mereka setelah Anindya..??" Tanya Kira.


"Iya. Dan untuk menghindari banyak pertanyaan. Mereka mengatakan bahwa selama hilang ibu Justin mengalami amnesia dan hidup dengan nama Wahyuni." Jawab Shaka sambil tertawa pelan mengingat alasan konyol yang diberikan keluarga Wongsonegoro.


"Apa Justin dan ibunya akan pindah ke rumah Wongsonegoro..??" Tanya Kira lagi.


"Ibu Justin yang akan pindah. Kakeknya sudah terlalu tua untuk hidup sendiri, karena Anin sangat sibuk jadi jarang bisa menemani pak Hendra. Meskipun ada banyak pelayan di rumah itu, tetap saja tidak sama kan." Jawab Shaka.


"Baguslah. Artinya sekarang Justin dan ibunya sudah bisa berkumpul lagi dengan keluarga mereka." Sahut Kira.


"Satria, kamu mau kemana..??" Tanya Adit saat melihat Satria beranjak pergi.


"Cari angin." Jawab Satria dingin dan singkat.


Keluarganya hanya melihat Satria yang berjalan menjauh dengan tatapan penuh tanya. Kira tersenyum dan menatap ketiga putranya yang lain.


"Edo.. Dit-dit.. Sesekali kalian luangkan waktu untuk bicara dengan Satria." Pinta Kira.


"Satria kenapa, mom..?? Apa dia ada masalah..??" Tanya Edo.


"Apa kalian tidak memperhatikan..?? Sejak Dit-dit lulus dia menjadi sedikit pendiam..?? Apalagi saat Adit diterima di akademi militer dan Radit diterima masuk Universitas Charite di Berlin. Apa kalian juga tidak sadar Satria semakin menarik diri setelah Edo bertunangan..??" Jawab Kira menohok anak-anaknya.


"Kalian ini bagaimana..?? Bukankah selama ini kalian berempat selalu kompak dan banyak menghabiskan waktu bersama. Terutama dengan Dit-dit karena kalian sekamar." Lanjut Kira.


"Aku rasa Satria hanya takut berpisah dengan kak Edo dan kak Dit-dit." Sambung Rania.


Edo dan Dit-dit terdiam mendengar penjelasan Kira dan Rania. Mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing sampai tidak menyadari perubahan Satria. Sebagai seorang ibu yang terbiasa mengurus sendiri keluarganya, Kira menyadari setiap kali yang aneh dengan anak-anaknya, termasuk perubahan Satria.


Edo berdiri dan berjalan ke arah kamar Dit-dit, setelah mengetuk beberapa kali tetap tidak ada sahutan dari dalam kamar itu. Dibukanya pintu kamar dan Satria tidak ada di dalam kamar.


"Satria tidak ada di dalam kamar." Kata Edo saat dilihat Dit-dit menyusulnya mencari Satria.


"Mungkin dia di taman belakang atau malah taman bermain." Sahut Radit.


Tanpa mengatakan apapun Adit langsung berjalan meninggalkan Edo dan Radit. Kedua saudaranya mengikuti di belakangnya untuk mencari Satria. Mereka menemukan Satria tengah duduk di mangkuk putar yang ada di taman bermain. Pria kecil itu tampak termenung seorang diri di dalam kegelapan.


"Satria." Panggil Adit sambil menepuk pelan bahu adiknya.


Satria menoleh dan tampak terkejut melihat ketiga kakak lelakinya ada di sana.


"Kamu ngapain sendirian disini..?? Ga takut di datengin kuntilanak..??" Canda Adit.


"Emangnya lo..?? Takut banget sama hantu." Radit mengejek Adit yang memang mewarisi sifat ayah mereka yang begitu takut dengan hantu.


"Sialan lo..!! Gini-gini diluar sana orang mikir 10 kali kalo mau cari perkara sama gue." Seru Adit tidak terima.


"Iyaaaa.. coba aja mereka tahu kalo lo takut sama hantu." Goda Radit lagi.


"Awas aja kalo sampe ada yang tahu dari lo..!!" Ancam Adit.


"Sudah.. ga usah ribut terus." Edo menghentikan perdebatan kedua adiknya sebelum semakin panjang.


Mereka bertiga lalu menoleh ke arah Satria yang hanya diam melihat perdebatan Dit-dit. Adit lalu duduk di mangkuk putar bersama Satria, sementara Radit dan Edo bersandar di bagian luar permainan itu.


"Kamu kenapa akhir-akhir ini banyakan diem..??" Tanya Radit.


"Gapapa. Jawab Satria.


"Yakin gapapa..?? Bukan karena takut kangen sama kita..??" Goda Edo.


"Apaan sich, kak..!!" Seru Satria sambil memutar tubuhnya, menghindari tatapan ketiga kakaknya.


"Kamu kenapa sedih..?? Bukannya kamu sering protes pingin punya kamar sendiri seperti kak Edo..??" Tanya Adit.


"Ga jadi. Udah ga pingin punya kamar sendiri." Jawab Satria dengan bibir cemberut.


"Idiiiiih.. ni anak ngambek. Kayak anak cewek aja hobi ngambek." Kata Adit mengolok Satria yang disambut tawa Edo dan Radit.


Tawa mereka berhenti saat mendengar suara isakan tangis Satria. Bocah 9 tahun itu tampak mengusap kasar wajahnya untuk menghapus airmatanya.


"Sat, Walaupun nantinya kak Edo menikah. Aku pasti akan sering datang menjenguk kalian. Aku juga yakin kak Dit-dit akan sering berkunjung." Kata Edo mencoba menghibur Satria.


"Ga usah bohong apalagi kasi janji yang ga pasti. Cuma bikin sakit hati." Sahut Satria ketus.


"Aku memang masih kecil, tapi aku ga bodoh. Akademi militer ada di Magelang dan disana kak Adit ga akan bisa keluar masuk seenaknya. Kak Adit harus punya ijin untuk bisa keluar dari akademi, kembali pun harus sesuai waktu yang ditentukan. Apalagi kak Radit. Semua juga tahu jarak Jerman - Indonesia ga kayak Jakarta - Bandung. Dan kak Edo, setelah menikah pasti bakalan sibuk sama keluarga kak Edo sendiri. Apalagi kalo ternyata kak Edo memutuskan untuk ikut oom Hans dan Opa Peter ke Jerman. Masih bilang kalo bakalan sering dateng nengokin..??!!" Seru Satria sambil menangis sesenggukan.


Edo merangkul erat bahu Satria. Hatinya trenyuh melihat bocah itu menangis. Meski masih kecil Satria sangat jarang menangis, bahkan Edo tidak ingat kapan terakhir kali dia melihat adik kecilnya itu menangis.


"Hei.. Bukankah kita bisa sering video call..??" Kata Radit menghibur Satria.


"Kapan..??!! Perbedaan waktu Jerman dan Indonesia itu jauh. Kalo disini malam, disana siang. Kak Radit pasti sibuk. Kalo disana malam disini siang, aku pasti sekolah dan kegiatan lainnya." Bantah Satria.


Radit meringis dan menggaruk tengkuknya. Adik kecilnya cukup cerdas untuk tahu kalau ada perbedaan waktu yang cukup besar antara 2 negara itu.


"Kan bisa pas weekend, Sat." Bujuk Edo.


"Sama aja. Kalo entar kalo Edo dan kak Dit-dit pergi, siapa yang temenin aku main game..?? Siapa yang bantuin papa jagain mama, kak Rania, sama Nara..?? Aku kan masih kecil. Masih belum bisa jaga diri dengan benar, makanya dulu sampai sempat diculik. Bahkan sampai sekarang aku suka takut kalo ketemu laki-laki pake baju hitam. Aku juga selalu merasa takut saat di tempat asing atau bertemu orang asing. Bagaimana bisa aku bantuin papa jagain mama dan yang lain..!!" Teriak Satria hingga tanpa sengaja menyampaikan tentang traumanya saat diculik oleh Arian.


Edo dan Dit-dit terkejut karena selama ini keluarga mereka selalu mengira Satria baik-baik saja. Bocah itu tetap bersikap seperti sebelumnya. Mereka tidak pernah menyangka adik mereka menyimpan semua ketakutannya sendiri.


"Kenapa kamu ga pernah bilang, Sat..??" Tanya Edo terkejut.


"Aku takut merepotkan. Mama sakit, kak Edo belakangan sibuk bantu kak Luna, sedangkan kak Dit-dit sibuk sama persiapan ke akademi dan kuliah, Kak Rania juga sibuk bantuin papa rawat mama. Aku ga tahu harus ngadu sama siapa..!!" Seru Satria yang menangis semakin keras. Pria kecil itu menenggelamkan wajahnya ke dada Edo yang memeluknya erat.


"Yaa Tuhan.. Maafkan kak Edo, Sat. Kak Edo terlalu sibuk dengan urusanku sendiri sampai-sampai kamu merasa diabaikan. Maafin kak Edo yaaa.." Kata Edo penuh penyesalan.


Belakangan dia selalu sibuk menjaga Luna sampai-sampai mengabaikan adik-adiknya yang juga butuh perhatian selama Kira sakit.


"Maafkan kak Dit-dit juga, Satria. Karena kita ga sengaja mengabaikan kamu. Tapi Kakak beneran sayang sama kamu." Kata Radit sambil menggenggam erat tangan Satria.


"Iya, Sat. Kami semua sayang sama kamu. Maafkan kami yaaa.." Kata Adit yang juga merasa bersalah. Satria masih menangis dalam pelukan Edo.


"Satria, kalau kamu memang butuh bantuan bicaralah pada kami. Kami pasti akan selalu membantumu. Bukankah itu arti sebuah keluarga..??" Kata Edo.


"Tapi sekarang kalian akan pergi. Siapa yang akan membantuku..?? Siapa yang akan menemani aku..??" Tanya Satria di tengah isakannya.


"Satria, kak Dit-dit baru berangkat sekitar 1 sampai 2 bulan lagi. Sampai saat itu tiba kami akan selalu menemani dan membantumu." Kata Radit meyakinkan.


"Lagipula setelah kak Dit-dit berangkat, kan aku masih disini, Sat. Pernikahanku tidak akan diadakan dalam waktu dekat karena menunggu sampai aku lulus. Dan sekarang sudah ada papa Hans, kak Edo tidak harus datang ke Jerman saat libur semester." Kata Edo menimpali.


"Dengar, Sat. Aku yakin kamu pasti bisa mengatasi semuanya. Dan kelak setelah dewasa kamu pasti bisa meraih cita-citamu untuk menjadi seorang jurnalis. Aku yakin nantinya kamu akan jadi jurnalis yang hebat dan bahkan meraih Pulitzer." Sambung Adit.


"Jangan sampai ketakutanmu menjadi penghalang untuk mewujudkan impianmu, Sat. Dan kalau kamu memang merasa kesulitan, ingat kami semua disini siap untuk membantumu." Kata Edo menimpali.


"Beneran, kak..?? Kalian ga akan biarin aku kesepian dan ketakutan sendiri kan..??" Tanya Satria meyakinkan.


"Beneran, Sat. Walopun kita jauh, ga akan ada yang berubah. Kamu ga percaya sama kita..??" Tanya Adit.


"Percaya, kak." Jawab Satria.


"Ya udah kalo gitu jangan nangis lagi. Itu entar kamar kita jadi milik kamu sepenuhnya. Tapi kalo aku sama Radit pulang, siap-siap aja kamu tidur diluar." Kata Adit lagi.


"Enak aja..!! Kalian yang tidur diluar..!! Kalo kak Dit-dit pergi kan itu jadi kamar aku." Seru Satria tidak terima.


"Dasar adik ga ada sopan. Dimana-mana tu adik nurut sama kakaknya." Seru Adit tidak mau dibantah.


"Kak Adit juga inget..!! Dimana-mana tu kakak harus ngalah sama adiknya." Seru Satria tidak mau kalah.


Edo dan Radit memutar mata sebal karena mendengar perdebatan Adit dan Satria. Mereka berdua saling memandang dengan seringai jahil lalu tanpa aba-aba Edo dan Radit bergerak cepat memutar mangkuk putar hingga kecepatan tinggi.


"Woooooiii.. apa-apaan..!! STOP..!! Gue pusing..!!" Teriak Adit memohon.


Edo dan Radit justru semakin semangat memutar permainan itu saat mendengar teriakan Adit yang meminta mereka untuk berhenti.


"Terus, kak..!! Terus..!!" Seru Satria sambil tertawa senang.


"GA MAUUU..!! UDAAAAH..!! STOOOPP..!!" Teriak Adit putus asa yang justru membuat Edo dan Radit justru tertawa semakin keras.


Napas Edo dan Radit tersengal saat mereka berhenti sementara Satria dan Adit tampak sempoyongan saat berusaha berdiri.


"Gila kalian..!! Mau bikin gue mati gara-gara mabok..??!!" Protes Adit yang menahan mual.


"Cccckk.. yang katanya mau masuk militer. Baru segitu aja udah protes. Jangan-jangan entar baru sehari di akademi udah minta pulang." Cibir Radit.


"Enak aja..!! Ga mungkinlah Aditya Permana nyerah gitu aja..!!" Sungut Adit kesal.


"Ya udah ga usah ribut lagi. Udah malem, buruan masuk rumah. Sebelum kalian beneran disamperin kuntilanak." Kata Edo menakuti adik-adiknya.


Adit yang mendengar perkataan Edo langsung terdiam dan memandang sekeliling dengan wajah ketakutan. Pepohonan yang ada di halaman rumah mereka mendadak terlihat begitu menyeramkan.


"Gue duluan." Kata Adit sambil bergegas masuk ke dalam rumah. Meninggalkan ketiga saudaranya yang tengah tertawa keras di belakangnya.