(Family) Bound

(Family) Bound
Jalan Tengah



Shaka berangkat ke kantor dengan wajah dingin. Tidak ada sapaan dan senyum ramah yang setiap hari Shaka lontarkan untuk setiap karyawan kantornya. Bawahan Shaka hanya diam dan tidak berani menyapa Shaka. Mereka dapat melihat perasaan Shaka sedang tidak baik, apalagi hari ini Shaka datang siang. Ini benar-benar diluar kebiasaan Shaka yang selalu tepat waktu. Fahri tampak mengimbangi Shaka yang berjalan cepat dengan langkah lebar. Selama 13 tahun bekerja bersama Shaka telah membuatnya hapal dengan suasana hati bos kecilnya.


“Fahri, bagaimana pertemuanmu dengan Simon kemarin. Apa semua sudah beres..??” Tanya Shaka.


“Saya dan pak Simon sudah menyelesaikan semuanya kemarin, pak Shaka. Pak Simon juga sudah mengirimkannya pada pak Herman dan beliau sudah menyetujui seluruh isi draft perjanjian kerjasama antara perusahaan kita.” Kata Fahri.


“Tolong sampaikan pada pihak Scarlett Group, sebelum menandatangani perjanjian itu aku mau berbicara dengan pak Herman.” Kata Shaka.


“Baik, pak.” Sahut Fahri. Dia tidak tahu sebenarnya apa yang akan dibicarakan Shaka dan Herman. Tapi apapun itu Fahri yakin pastilah penting.


“Pak, saya sudah menghubungi pak Simon. Scarlett Group akan tiba setengah jam lebih awal untuk berbicara terlebih dulu dengan anda.” Kata Fahri.


“Baik. Terima kasih.” Sahut Shaka singkat.


Acara penandatanganan perjanjian diadakan di salah satu restoran mewah. Fahri sudah memesan ruangan VIP untuk acara tersebut. Seperti yang dijanjikan, rombongan Scarlett Group datang 30 menit sebelum waktu yang ditentukan untuk tanda tangan perjanjian kerjasama. Herman datang bersama Johan, asistennya yang juga ayah Simon, Kate, dan juga Simon. Kate bersikap biasa seolah tidak terjadi sesuatu, sedangkan Simon raut wajahnya dingin dan tidak terbaca.


“Selamat siang, pak Shaka.” Sapa Herman mengulurkan tangannya.


“Selamat siang, pak Herman.” Balas Shaka menyambut uluran tangan Herman.


“Ada masalah penting apa yang perlu pak Shaka bicarakan..??” Tanya Herman tanpa basa-basi.


“Mengenai nona Kate.” Jawab Shaka. Herman tampak menarik napas panjang, sepertinya dia sudah tahu arah pembicaraan Shaka.


“Saya sudah mendengar dari Simon mengenai apa yang dilakukan oleh Kate. Saya benar-benar minta maaf atas apa yang dilakukan oleh adik saya.” Kata Herman lalu melirik tajam pada Kate yang terlihat tanpa rasa bersalah.


“Untuk melanjutkan kerjasama ini, saya ingin penanggungjawab dari pihak Scarlett diganti. Maaf, pak Herman. Tapi saya tidak ingin nona Kate untuk terlibat dalam kerjasama ini dan dan bahkan setelah ini saya tidak mengijinkan dia untuk datang ke kantor kami.” Kata Shaka tegas.


Kate tampak terkejut. Tadinya dia mengira dengan ditandatanganinya perjanjian ini akan memberinya lebih banyak kesempatan untuk mendapatkan Shaka.


“Tapi sejak awal Kate yang sudah menangani proyek ini, pak Shaka. Saya takut menggantinya justru akan menimbulkan masalah di kemudian hari.” Kata Herman.


“Maaf, pak. Tapi saya tidak bisa melanjutkan kerjasama kita kalau nona Kate tidak diganti. Lebih baik saya menghentikan kerjasama di antara perusahaan kita daripada harus mempertaruhkan keluarga saya.” Sahut Shaka tegas.


Herman terdiam dan tampak berpikir. Dia sangat mengharapkan kerjasama dengan perusahaan Shaka. Karena meski terlihat kecil, tapi Raven Adventure telah menjadi perusahaan travel paling dicari terutama oleh kalangan muda dan petualang. Usaha mereka bisa dibilang stabil dan meningkat. Sedangkan usaha perhotelan keluarganya, meski masih bisa bertahan tapi semakin di ujung tanduk. Saat ini semakin banyak aplikasi yang memudahkan pemilik property untuk menyewakan dalam jangka waktu pendek dengan harga terjangkau. Tidak sedikit fasilitas di property tersebut hampir menyamai kamar president suite hotel dengan harga jauh lebih rendah. Herman berharap kerjasama dengan Raven Adventure akan membantu meningkatkan pendapatan perusahaan keluarganya. Di sisi lain dia juga tidak bisa begitu saja membuang Kate. Selain Kate adalah adiknya, gadis itu cerdas dan memang membawa kemajuan untuk perusahaan mereka. Meski sejak kedatangan Kate dia justru semakin sibuk menutupi skandal yang terus dibuat adiknya dengan para karyawan dan staff pria di kantor.


“Bagaimana kalau PIC Raven Adventure diganti..?? Kita bisa tetap menjalankan kerjasama, Kate juga tidak perlu diganti. Tapi anda bisa menunjuk pak Fahri untuk menggantikan anda. Sejak awal bukankah pak Fahri sudah mendampingi anda untuk persiapan kerjasama kita..?? Saya yakin pak Fahri bisa mengatasinya. Kalau suatu saat ada sesuatu hal yang memerlukan kehadiran anda, maka saya sendiri yang akan menemui pak Shaka. Dengan begitu pak Shaka tidak perlu berinteraksi dengan Kate, adik saya.” Kata Herman memberikan jalan tengah. Shaka berpikir sejenak.


“Baiklah. Saya setuju pak Herman. Tapi bukan Fahri, melainkan Rosi yang akan menggantikan saya sebagai PIC dari Raven Adventure. Rosi sekretaris saya dan dia juga ikut mendampingi sejak awal persiapan kerjasama ini.” Sahut Shaka. Herman kembali berpikir.


“Baiklah. Saya yakin pak Shaka pasti sudah mempertimbangkannya.” Jawab Herman.


Sekilas Shaka bisa melihat Kate tampak kesal. Tapi tidak lama gadis itu terlihat kembali tersenyum penuh arti. Shaka berusaha mengabaikan Kate meski sebenarnya perasaannya tidak enak. Toh setelah ini dia tidak perlu berurusan dengan Kate dan kerjasama tetap berjalan. Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya Shaka dan Herman menandatangani perjanjian kerjasama lalu masing-masing pihak saling berjabat tangan. Saat berjabat tangan dengan Kate gadis itu tersenyum dan sedikit mendekatkan wajahnya.


“Kelak kamu yang akan datang padaku, Shaka. Aku akan pastikan itu.” Bisik Kate dengan senyum liciknya.


“Tidak akan, nona.” Sahut Shaka dingin.


Setelah tanda tangan selesai acara dilanjutkan dengan makan bersama. Kate tanpa canggung terus memperhatikan Shaka meski laki-laki itu terus mengabaikannya. Rombongan Scarlett Group berpamitan dan meninggalkan restoran tempat pertemuan mereka.


“Rosi, mulai sekarang persiapkan semuanya dengan baik. Aku percaya padamu.” Kata Shaka setelah rombongan Scarlett Group pergi.


“Baik, pak Shaka. Terima kasih untuk kepercayaan yang pak Shaka berikan.” Sahut Rosi. Dia senang karena diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.


“Meski kamu PIC untuk proyek ini. Kamu tetap harus melaporkan setiap perkembangan pada Fahri. Pesanku tetaplah berhati-hati. Jangan sampai lengah atau mudah percaya paada mereka. Kalau kamu menemui kesulitan atau merasa ada yang tidak beres, jangan ragu untuk mengatakan pada Fahri maupun aku. Mengerti..??” Kata Shaka tegas.


“Mengerti, pak Shaka.” Jawab Rosi.


Dalam perjalanan pulang Shaka terus terdiam. Tidak dipungkiri dia masih merasa ada sesuatu yang mengganjal dan aneh dengan Kate. Shaka yakin Kate pasti mempunyai rencana tapi dia tidak bisa membayangkan apa itu.


“Fahri, tolong tetap pantau jalannya proyek kita dengan Scarlett Group. Awasi mereka dan jaga Rosi dari jauh. Kalau terjadi sesuatu yang aneh atau mengancam keselamatan kalian jangan segan untuk memutuskan kerjasama meski tanpa persetujuanku.” Kata Shaka tegas.


“Baik, pak Shaka. Tapi kalau boleh saya tahu, kenapa Anda memilih Rosi..??” Tanya Fahri.


“Dia cerdas, percaya diri, dan juga sudah mengetahui seluk beluk kerjasama kita dengan Scarlett group. Selain itu karena dia perempuan. Kamu pasti tahu permasalahanku dengan Kate. Aku hanya takut kalau memintamu menggantikan aku, Kate akan mengganggumu dan keluargamu. Jadi tetaplah waspada. Mengerti..??!!” Jawab Shaka.


“Mengerti, pak Shaka.” Sahut Fahri.


****


Kate tampak tengah duduk berhadapan dengan Herman di ruang kerja kakaknya. Simon dan Johan, ayahnya, tampak duduk tidak jauh dari mereka. Herman menatap tajam adik perempuannya sedangkan Kate tampak tak acuh.


"Hentikan kegilaanmu, Kate. Berhenti mengejar Shaka." Geram Herman dengan tatapan penuh ancaman. Tapi sayangnya tidak membuat Kate gentar.


"Dasar gadis bodoh..!! Kamu hampir saja menghancurkan kita..!!" Seru Herman.


"Aku tidak peduli." Sahut Kate keras kepala.


"Istri Shaka mengancam akan menghancurkan keluarga kita kan..?? Asal kamu tahu, dia benar-benar bisa melakukannya saat itu juga kalau dia mau..!!" Raung Herman.


"Memangnya siapa dia..??!! Dia hanya wanita tua yang kebetulan dinikahi Shaka..!! Bukan dia yang akan menghancurkan kita, tapi aku yang akan menghancurkan dia..!!" Seru Kate.


"Jangan bermain api. Kamu tidak tahu dengan siapa kamu menabuh bendera perang, Kate." Kata Herman.


" Sudah kubilang aku tidak peduli..!!" Seru Kate.


"KATE..!! Apa kamu tega mengorbankan keluargamu demi menuruti kecanduanmu itu..??!!" Kata Herman tidak percaya.


"Kak, kamu ini bicara apa..??!! Tentu saja tidak. Aku tidak mungkin mengorbankan kalian..!!" Seru Kate lagi.


"Kalau begitu hentikan kegilaanmu. Karena kalau kamu mengusik mereka, bukan hanya keluarga Rahardian. Tapi keluarga Tanzil dan Hardisiswo akan turun tangan langsung. Kamu tahu meski kita memiliki kekuasaan, tapi tetap tidak bisa menghadapi 3 keluarga itu, Kate." Kata Herman melunak demi membujuk adiknya yang keras kepala.


"Apa..?? Bagaimana bisa keluarga Hardisiswo dan Tanzil berada dibelakang mereka..??" Tanya Kate tidak percaya.


"Karena Kirana adalah putri satu-satunya keluarga Hardisiswo. Sebelum menikah dengan Shaka dia menikah dengan putra sulung keluarga Tanzil dan memiliki 2 anak. Tapi suami pertamanya seorang tentara dan tewas dalam tugas. Sampai sekarang hubungannya dengan keluarga mendiang suaminya tetap baik. Apalagi Shaka dan Kirana yang merawat keponakan mendiang suaminya. Karena itu mereka akan dapat menghancurkan kita dengan mudahnya, Kate. Dan ingatlah.. bisnis keluarga saat ini berada di ujung tanduk. Akan sangat mudah untuk mereka menghancurkan kita, Kate. Jadi aku mohon berhentilah." Herman berusaha menjelaskan.


"Tidak mungkin. Wanita itu tidak terlihat seperti sosialita. Lagipula dia bukan hanya lebih tua dari Shaka, tapi juga seorang janda 2 anak..?? Mereka pasti dijodohkan..!!" Seru Kate.


"Tidak, Kate. Semua yang mengenal ketiga keluarga itu tahu pasti bahwa Shaka dan Kirana memang saling mencintai." Jawab Herman, dilihatnya Kate tampak terdiam.


"Kamu tahu keluarga Miller dan bagaimana nasib mereka sekarang..??" Tanya Herman lagi dan dijawab anggukan oleh Kate.


"Keluarga itu benar-benar hancur. Mereka bukan hanya kehilangan perusahaan dan seluruh kekayaan mereka. Keluarga itu sekarang tercerai-berai dan tidak ada yang tahu bagaimana nasib mereka. Semua itu terjadi karena Lucas, putra sulung keluarga itu mengusik Kirana dan Shaka. Bahkan Lucas pada akhirnya tewas mengenaskan. Apa kamu ingin keluarga kita bernasib seperti itu..??" Tanya Herman dengan wajah memohon.


Kate tersentak. Dia tidak menyangka selama ini telah mengibarkan bendera perang dengan orang yang salah. Tapi dia juga masih belum bisa melepaskan Shaka begitu saja


"Siaaaall..!! Wanita tua itu ternyata sangat berkuasa." Geram Kate dalam hati.


Simon yang melihat Kate sudah bisa menebak apa yang dipikirkan atasannya itu. Meski belum lama kenal, tapi Simon sudah tau hampir seluruh kehidupan Kate.


"Sepertinya gadis ini tidak akan menyerah begitu saja. Aku harus memperingatkan Shaka dan Kira." Gumam Simon dalam hatinya.


****


Kira menatap Shaka yang tengah duduk di balkon kamar mereka. Meski terlihat baik-baik saja, Kira tahu ada yang mengganggu pikiran suaminya. Perlahan Kira berjalan mendekati Shaka dan meletakkan teh hijau hangat yang dia buatkan di meja lalu duduk dipangkuan Shaka.


“Apa yang kamu pikirkan, Bie..?? Apakah mengenai Kate dan kerjasama itu..??” Tanya Kira sambil mengelus lembut kepala Shaka.


“Kami akhirnya menandatangani perjanjian itu. Herman keberatan mengganti Kate karena tidak bisa mempercayakan proyek itu pada orang lain. Tapi dia menyarankan untuk mengganti PIC dari Raven Adventure dan selama kerjasama aku hanya akan berkomunikasi dengan Herman atu Simon agar aku tidak perlu berinteraksi dengan Kate. Akhirnya aku menunjuk Rosi lalu meminta Fahri untuk mengawasi dari jauh.” Jawab Shaka.


“Itu bagus, Bie. Kamu sudah bekerja keras untuk mendapatkan kerjasama ini. Sekarang kamu bisa bebas dari gangguan Kate tanpa kehilangan kesempatan bagus. Lalu apa yang menjadi beban pikiranmu..??” Tanya Kira lagi.


“Kate. Aku merasa dia mempunyai rencana lain, apapun itu.” Kata Shaka dengan wajah kawatir. Kira menyentuh wajah Shaka lembut dan menatapnya lekat.


“Tidak perlu kawatir, Bie. Aku akan selalu mendukungmu. Dulu Lucas yang begitu berbahaya bisa kita atasi bersama. Aku yakin kita juga bisa mengatasi Kate.” Kata Kira.


“Aku takut dia akan melukaimu.” Kata Shaka kawatir. Kira tertawa pelan.


“Harusnya kamu melihat saat aku semalam datang ke hotelnya. Dia sangat ketakutan dan merengek pada Simon untuk menolongnya.” Kata Kira terkekeh.


“Aku membayangkan Rita Repulsa sedang berhadapan dengan Ranger Pink.” Sahut Shaka tertawa karena teringat julukan yang diberikan Edna pada anak-anaknya.


“Haaaaah.. aku tidak suka warna pink tapi mama terus menjuluki aku ranger pink hanya karena aku wanita.” Sungut Kira kesal membuat Shaka kembali tertawa lepas.


************************************************


Jangan lupa like, comment, & vote ya, kak.


Tolong dukung author biar lebih semangat up-nya.. ^_^


Terima kasih..!!


Hug,


Cheerieza